NovelToon NovelToon
Menantu yang Dihinakan

Menantu yang Dihinakan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Steele

Evan Wibawa sudah terbiasa menjadi bahan hinaan keluarga Halim. Di mata mereka, ia hanya menantu miskin yang menumpang nama istrinya, Gracia. Namun satu malam di Kediaman Halim mengubah semuanya: hadiah yang dihancurkan, kebohongan yang terbongkar, dan cincin hitam yang selama ini mereka abaikan mulai menarik perhatian orang-orang yang jauh lebih berbahaya.
Di balik diamnya Evan, ada warisan keluarga Wibawa, jalur modal Apex Meridian Holdings, dan seorang ibu yang kembali dari bayang-bayang membawa bukti serta perang lama. Saat Kaleb Halim mencoba menjeratnya di HaleWorks, Evan justru menemukan pintu menuju pembalasan yang bersih, legal, dan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Steele, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Lampu rumah menyala satu tingkat demi satu.

Bukan lampu teras. Bukan lampu keamanan.

Ruangan.

Jendela di seluruh rumah utama menghangat dari hitam menjadi emas ketika sedan Evan menyusuri jalan panjang. Lampu rendah menelusuri kedua sisi jalan. Air mancur bangun tanpa suara. Estate itu tidak terlihat seperti venue yang membuka diri untuk tamu.

Terlihat seperti rumah yang mengenali seseorang.

Di dashboard, sistem kecil melapor satu per satu.

Perimeter: secure.

Driveway: lit.

Front court: active.

Interior arrival path: ready.

Gracia membaca setiap baris dan kehilangan satu alasan lagi.

Ia memegang folder presentasi dengan kedua tangan.

"Hentikan mobil."

Evan tetap mengemudi.

"Evan, hentikan mobil."

"Kita di drive."

"Persis. Kita berada di dalam estate seseorang."

"Ya."

"Itu bagian yang bermasalah bagiku."

Ia melambat dekat tikungan tetapi tidak berhenti. "Kalau ini bukan kesalahan, apa kamu akan percaya kamu pantas berada di ruangan yang lebih baik daripada yang diberikan keluarga Halim?"

Gracia berbalik kepadanya. "Jangan ubah ini menjadi kalimat motivasi."

"Itu pertanyaan."

"Ini bukan tentang aku."

"Sebagian tentang kamu."

"Gerbang memanggilmu owner."

"Gerbang mencatatmu aman."

Itu menghentikannya.

Ia melihat kembali dashboard. Namanya tetap di sana di bawah guest-safe access.

"Kamu menambahkanku sebelum malam ini."

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena ruangan seperti ini punya protokol keamanan. Aku ingin milikmu selesai sebelum siapa pun mencoba memakaimu sebagai tuas."

Genggamannya mengencang pada folder.

Akan lebih mudah jika Evan membual.

Bualan bisa ia benci.

Ini lebih buruk. Perlindungan diam lebih sulit dilempar kembali.

Di belakang mereka, feed gerbang luar muncul lagi di layar tengah. Blake sudah menelepon sekarang, mondar-mandir di holding bay. Riley berdiri di sampingnya, tidak lagi merekam. Supervisor keamanan tetap diam, tablet di tangan.

Suara Blake terdengar terpotong dan marah.

"Aku tidak peduli apa yang layar katakan. Aku ingin kepala security properti di telepon ini."

Supervisor menjawab, "Anda sedang berbicara dengannya."

"Kalau begitu override."

"Tidak."

"Kalian baru saja membiarkan Evan Wibawa masuk dengan sedan rusak."

"Kendaraan itu lolos protokol owner return."

"Itu mustahil."

"Itu telah terjadi."

Riley menarik lengan Blake. "Bilang dia meretasnya."

Gracia menutup mata sedetik.

"Mereka akan menuduhmu meretas."

"Mungkin."

"Bisakah mereka membuat masalah?"

"Mereka bisa membuat suara."

"Bisakah suara melukai review Apex?"

"Hanya jika kita menjawabnya dengan buruk."

Sedan mencapai front court.

Pintu utama Gate Eight berdiri setelah beberapa anak tangga batu dangkal. Pintunya dari oak hitam dengan panel kaca vertikal sempit. Di atasnya, kamera diam-diam berputar ke arah mobil.

Dashboard berbunyi.

Audio system active.

Suara rumah yang tenang mengisi kabin.

"Selamat datang kembali, Evan Wibawa."

Gracia diam total.

Suara itu melanjutkan.

"Owner return confirmed. Guest-safe access active for Gracia Halim. Security profile: protected guest, non-transferable, non-public."

Mobil berhenti sendiri.

Untuk waktu lama, Gracia tidak bergerak.

Evan mematikan mesin.

Di tangga depan, dua staf muncul tanpa terburu-buru. Satu memakai earpiece keamanan. Tidak ada yang membawa daftar tamu. Mereka menunggu Evan memutuskan apakah akan masuk.

"Kalau aku tetap di mobil," kata Gracia, "apakah ini menjadi kurang gila?"

"Tidak."

"Sudah kuduga."

Keheningan kembali, tetapi kata-kata tadi tinggal di mobil.

Welcome back.

Owner return.

Evan Wibawa.

Gracia menatapnya seolah belum pernah melihat wajahnya dengan benar.

"Seberapa lama?"

"Estate ini?"

"Jangan menghindar."

Ia melihat rumah. "Cukup lama hingga aku seharusnya menjelaskan sebelum gerbang yang melakukannya."

Itu hal terdekat dengan permintaan maaf yang bisa ia berikan tanpa membongkar sepuluh tahun di jalan masuk.

Gracia membuka mulut.

Lalu kanal security luar memotong dari dashboard.

Suara Blake, kini keras.

"Ini trespass. Kalau sistem kalian membiarkan dia masuk, sistem kalian sudah compromised. Aku ingin police liaison di tempat."

Supervisor keamanan menjawab, "Anda boleh mengajukan keluhan. Laporan palsu membawa konsekuensi."

"Ajukan," bentak Blake. "Evan Wibawa meretas akses properti privat dan memasuki estate dengan kredensial palsu."

Riley menambahkan, "Gracia bersamanya. Dia mungkin bahkan tidak tahu apa yang dia lakukan."

Supervisor tidak buru-buru menjawab. Di feed, ia memutar tabletnya ke arah body camera di rompinya dan mengulang tuduhan itu bersih, kata demi kata. Petugas kedua menandai waktu. Blake tidak memperhatikan. Riley memperhatikan, dan tangannya turun dari lengan Blake.

Jawaban supervisor lebih dingin daripada sebelumnya. "Untuk catatan, Anda menuduh intrusi sistem setelah diberi tahu bahwa protokol owner return memvalidasi kendaraan, pengemudi, dan profil guest-safe."

"Ya," kata Blake. "Untuk catatan."

Evan mendengar frasa itu dan hampir kasihan kepadanya.

Keterkejutan Gracia berubah bentuk.

Itu dia. Riley mencoba mengubah Gracia menjadi korban karena ia tidak bisa menjelaskan kenapa Gracia punya clearance.

Evan melepas sabuk pengaman.

"Tetap di mobil kalau kamu mau."

Gracia melihat pintu masuk, dashboard, baris owner yang masih terlihat.

Lalu ia juga melepas sabuk.

"Tidak."

Jika Riley akan mengatakan Gracia tertipu, Gracia akan berdiri dengan kakinya sendiri ketika kebohongan itu lahir.

Evan menatapnya.

Gracia membuka pintu sebelum keberaniannya mendingin.

Udara dingin ridge masuk ke kabin.

Staf security sudah mencapai front court. Dua petugas berdiri dekat tangga, tidak menghalangi Evan. Menunggu Evan.

Suara supervisor masuk melalui ponsel Evan kali ini.

"Tuan Wibawa, Blake Rowe meminta police liaison dan menuduh akses tidak sah. Anda ingin kami menolak dan mengeluarkannya?"

Evan menatap Gracia.

Ia pucat, tetapi berdiri.

"Tidak," katanya. "Bawa liaison. Tarik owner registry, access log, kontak purchase counsel, dan catatan asuransi."

Gracia menatap tajam.

Suara Evan tetap tenang.

"Kalau dia ingin catatan, beri dia catatan."

Di gerbang luar, Blake menandatangani baris pertama keluhan formal di tablet keamanan.

Ia pikir ia memaksa Evan menjawab.

Ia baru saja meminta Gate Eight membuka berkasnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!