ig : tri.ani.5249
Hidup ini berjalan sering kali tak sesuai dengan harapan dan keinginan kita, Allah lah yang paling tahu tentang kita dan akhir cerita kita. Aisyah Ratna, seorang agdis belia yang memimpikan bisa menikah dengan seorang pria yang sholeh yang akn membimbingnya, tapi sebuah takdir malah mempertemukan dengan pria arrogant yang jauh dari mengenal agama.
Hatinya begitu hancur saat seseorang yang bernama Kevin Alexander tiba-tiba hadir dalam hidupnya dan meminangnya. Apakah hidupnya akan bahagia setelah menjadi istri seorang Kevin Alexsander? Bisakah ia melupakan cintanya pada seorang pria anak ustad bernama Fahmi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesanggupan Aisyah
Mereka saling diam sesaat, Aisyah
melangkah kakinya kembali hingga mereka berdiri berjejer, walaupun sebenarnya
aisyah begitu gugup menghadapi pria arrogant itu tapi tidak boleh mundur.
“Bagaimana?" tanya Alex pada
Aisyah.
“Apa yang bisa saya dapat jika
saya menikah dengan tuan Alex?” tanya Aisyah di buat setegas mungkin walaupun
sebenarnya ia begitu gugup, ia tidak menyangka pernikahannya akan menjadi
sebuah perjanjian.
Dia ternyata pandai juga memanfaatkan keadaan? Menarik ….
Alex tersenyum semirnya, ia cukup kagum dengan wanita di hadapannya itu, walaupun terlihat sekali jika ia sedang takut tapi tidak terdengar getaran dalam setiap ucapannya.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya
Alex mengerti maksud dari ucapan gadis di sampingnya itu.
Aisyah menghela nafasnya, mencoba menegarkan hatinya bahwa semua akan baik-baik saja.
“Kesembuhan Nino!"
"Maksudnya?"
"Bukan cuma operasi Nino tapi saya juga meminta anda menjamin hingga Nino benar-benar selesai dengan pengobatannya!”
Ya Allah …, maafkan hamba-Mu ini yang sangat tidak tahu diri, hamba kurang pasrah
dengan keadaan hamba …, hamba tahu itu …
Walaupun dalam hati ia tahu apa yang di lakukan sekarang adalah sebuah dosa besar karena melandasi sebuah pernikahan dengan berbagai syarat, ia tahu semuanya akan tidak baik.
Pintar juga dia ......
“Hanya itu?” tanya Alex lagi. Alex kembali menatap Aisyah mencoba menemukan keraguan di matanya, tapi gadis itu tetap menunduk, tak membiarkan mata mereka saling bertemu.
“Ada lagi!”
“katakan?”
“Anda tidak berhak menuntut saya
melakukan tugas saya sebagai seorang istri sebelum anda benar-benar menerima
saya sebagai istri anda!”
“Mudah saja, lagi pula kamu bukan
termasuk tipe saya!”
“Apakah ucapan anda bisa saya
percaya?”
“Surat perjanjiannya akan saya
kirimkan nanti sore ke rumah kamu dan lusa kita bisa melakukan akad nikah baru
adik kamu akan di operasi!”
"Saya tunggu!"
"Kalau sudah tidak ada yang di bicarakan, saya pergi!" Alex memakai kembali kaca matanya dan berlalu begitu saja meninggalkan Aisyah.
Setelah pria arrogant itu tidak terlihat lagi, tubuh Aisyah seperti kehilangan kekuatannya, kakinya mendadak lemas, ia menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas rumput. Air matanya mengalir begitu saja tanpa terbendung hingga punggungnya bergetar.
"Ya Allah kuatkan hati hamba-Mu ini, ya Allah ....!"
Aisyah menghabiskan air matanya di taman itu, menumpahkan semuanya di sana dan akan kembali ke rumah dengan keadaan yang lebih baik.
Cukup lama Aisyah menangis, setengah jam sudah cukup untuknya meluapkan kekesalan pada dirinya sendiri.
Ia segera menghapus air matanya dan mencari kamar mandi, mencuci wajahnya di sana agar terlihat lebih segar dan tak ada bekas air mata, ia tidak mau sampai ibunya tahu jika dia sedang menangis.
****
Setelah melakukan pertemuan itu,
Alex segera memberitahukan neneknya bahwa Aisyah setuju menikah dengannya,
nenek widya begitu senang hingga ia tidak sabar untuk memberitahukan pada Kyai
Hamid.
“Telpon dari siapa bi?" tanya
Nyai Sarah ketika Kyai Hamid selesai menerima telponnya.
“Dari ibu Widya!” jawab Kya Hamid dengan begitu tidak bersemangat, ada yang sedang Kyai Hamid pikirkan.
“Ada apa Bi, kenapa wajah Abi jadi
murung seperti itu?” tanya Nyai Sarah, ia pun ikut duduk di samping Kyai Hamid menunggu jawaban darinya.
“Tidak pa pa Umi, hanya saja Abi kok
ngerasa kurang srek dengan cucu ibu Widya, bukan maksud abi menghakimi sesama makluk Allah, tapi jika untuk Aisyah ....!”
“Maksudnya abi apa, umi kok jadi bingung?”
“Kata bu Widya, Aisyah sudah
menerima khitbah dari cucunya dan tiga hari lagi mereka akan melangsungkan
pernikahan!”
“Umi juga begitu, bi. Tapi mau
bagaimana lagi kalau mereka sudah jodoh! Umi sebenarnya lebih suka kalau Aisyah
jadi mantu kita, tapi Fahmi …!”
“Abi juga begitu, umi! Tapi putra
kita itu entah kapan dia siap untuk menikah! Mungkin memang Aisyah tidak di
takdirkan oleh Allah untuk jadi menantu kita, semoga nanti Allah mengirimkan
yang lebih baik dari Aisyah untuk putra kita!”
“Amin!”
***
Kedatangan kembali Aisyah
langsung di sambut oleh bu Santi, bu Santi benar-benar tidak sabar menunggu
berita dari putri sulungnya itu.
“bagaimana, Sya?” tanya bu Santi
sebelum Aisyah sempat mengucapkan salam.
“Assalamualaikum bu?”
“Waalaikum salam!”
Aisyah pun mengajak ibunya untuk
masuk ke dalam rumah, ia tidak mau pembicaraan mereka sampai di dengar oleh
para tetangga. Aisyah segera duduk di kursi rumahnya di susul oleh ibunya, bu
Santi segera menggenggam tangannya, mencoba mencari tahu jawabannya.
“Alhamdulillah ibu!”
“maksudnya?”
“Tuan Alex menyetujui persyaratan
dari Ais!”
“Jadi?”
“Kita akan menikah tiga hari lagi!”
“Alhamdulillah ….!” Bu santi
begitu lega, “Lalu bagiamana dengan operasinya?”
“Tuan Alex berjanji akan
melaksanakan opersi tepat saat kita melaksanakan akad nikah!”
“Jadi maksudnya ibu tidak bisa
melihatmu menikah?”
“yang terpenting kesembuhan Nino,
bu! Tidak pa pa jika ibu tidak bisa menemani Ais, yang penting Nino, ada ibu di
sisinya di saat ia harus berjuang!”
Perjuangan Aisyah tidak akan lebih besar di bandingkan dengan perjuangan Nino ...., semoga ini yang terbaik untuk semuanya ....
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Happy Reading 🥰🥰😘❤️