Dulu ia hanyalah seorang tentara elit yang dikhianati sahabatnya sendiri dan mati di tengah misi berbahaya. Namun takdir justru membawanya terlahir kembali sebagai seorang Putri Kekaisaran.
Sayangnya, status putri bukan berarti hidupnya aman. Intrik istana, bayangan pengkhianatan, hingga malapetaka yang mengintai, semua sudah menunggu.
Tapi Ariana Calista Castello bukan putri biasa. Di balik wajah manisnya, ia menyimpan jiwa seorang prajurit yang terbiasa menghadapi hujan peluru.
Akankah pengalaman hidupnya di masa lalu menjadi senjata terkuat untuk bertahan di dunia baru ini? Atau justru menjadi kelemahan yang menyeretnya ke jurang yang sama?
Mari temani perjalanan sang Putri Reinkarnasi dalam menghadapi dunia penuh sihir, intrik, dan rahasia kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rajeng Tia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah
...✾ Happy Reading Readers ✾...
Silvia dan Elena duduk di samping tempat tidur Putri Ariana, mereka saling berpandangan dan tersenyum.
"Selamat siang, Putri Ariana" Ucap Silvia dengan lembut.
"Selamat siang, Tuan Putriku yang manis" Ucap Elena dengan riang.
Selamat siang juga, kakak-kakak cantikku.
Makin hari kalian makin cantik deh~
Ariana memasang senyum yang menggemaskan.
Silvia dan Elena yang melihat senyum yang dikeluarkan oleh Putri Ariana merasa terpesona. Mereka tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum balik melihat keceriaan yang terpancar dari wajah Putri Ariana. Senyum itu seolah-olah menyinari ruangan dan menghangatkan hati mereka.
"Lihatlah Tuan Putri kita ini, bukankah Tuan Putri sudah kelewat imut?" Ucap Elena yang menahan rasa gemasnya.
"Ah, Tuan Putri, mengapa anda begitu menggemaskan?" Tanya Silvia dengan rasa ingin memeluk Putri Ariana.
"Ah, benar juga" Ucap Elena sembari mengeluarkan sesuatu dari tas sihirnya.
...Sriingg~~...
"Lihatlah, Tuan Putri, saya membawakan bunga untuk Anda sebagai ucapan selamat ulang tahun" Ucap Elena yang kini memegang buket bunga yang indah di tangannya.
Ariana memandang buket bunga itu dengan mata berbinar-binar.
Uwaahhh.... Itu sekuntum bunga, cantiknya~~
Sini-sini, berikan padaku, Elena~~~
Tangan mungil Ariana mencoba meraih bunga-bunga itu, lalu diarahkannya buket bunga itu kearah wajah Ariana. Ariana merasa senang, ia menghirup aroma dari bunga dengan wajah yang gembira.
"Elena, jangan terlalu dekat, bisa-bisa Tuan Putri bersin karena menghirup terlalu banyak serbuk bunga" Ucap Silvia mengingatkan Elena.
"Ah, baik"
"Kalau begitu, aku akan menaruh bunga-bunga ini di vas" Ucap Elena yang kemudian kembali mengeluarkan sihirnya untuk menaruh bunga-bunga yang ada di buket ke dalam vas.
Silvia pun tidak mau kalah, dia mengeluarkan sebuah boneka beruang dari dalam tasnya.
"Tuan Putri, ini adalah teman baru untuk Anda" Kata Silvia sambil memberikan boneka beruang itu kepada Ariana.
Ariana mencoba memegang boneka beruang dengan gemas. Dan ajaibnya, boneka beruang yang diberikan oleh Silvia sangat ringan!
Hal ini membuat Ariana bisa memegangnya dengan mudah. Ariana tersenyum lebar ke arah boneka beruang itu dan mencium pipinya.
Ah boneka beruang dari Silvia si ahli pedang, lucunya~~~
Terima kasih, Silvia.
Aku akan menjaga boneka beruang ini dengan baik.
Batin Ariana sembari menatap Silvia dengan wajah tersenyum senang.
Silvia dan Elena melihat kebahagiaan di wajah Putri Ariana.
"Ah, lucunya~~~" Ucap Elena dengan gemas melihat wajah Putri Ariana.
"Sepertinya Tuan Putri suka dengan boneka beruang ini, syukurlah, tidak sia-sia aku menjahitnya siang dan malam" Ucap Silvia sembari tersenyum lembut ke arah Putri Ariana.
Ariana yang mendengar hal ini langsung terharu.
Ternyata boneka beruang ini adalah hasil jahitan tangan buatan Silvia.
Aku harus menjaga dan merawatnya dengan baik, tidak boleh ada noda apalagi robek sedikitpun.
Batin Ariana dengan semangat yang membara.
Silvia dan Elena duduk di samping tempat tidur Putri Ariana, bermain dan bercanda dengan penuh keceriaan. Elena menyanyikan lagu-lagu yang lembut dan menenangkan, membuat Ariana tertawa dan merasa nyaman bersama Silvia dan Elena.
Setelah bermain dengan sangat menyenangkan, Ariana tertidur lelap di tempat tidurnya. Saat Ariana mulai tertidur, Silvia dan Elena menatap Ariana yang semakin hari semakin tumbuh besar.
Padahal baru rasanya kemarin mereka diminta untuk menjaga seorang Putri Kekaisaran yang masih bayi dan mungil, sekarang bayi mungil itu telah berumur enam bulan.
Rasanya waktu berlalu dengan cepat.
"Bahkan saat tertidur pun Tuan Putri terlihat sangan lucu ya" Ucap Elena sambil memandangi wajah lucu Putri Ariana.
Silvia hanya bisa mengangguk setuju.
...Ceklek~...
Terdengar suara pintu yang terbuka, seketika Elena dan Silvia dengan cepat melihat ke arah pintu yang baru saja terbuka itu.
Ternyata yang datang adalah Sir Lucius.
Sir Lucius berjalan mendekat ke arah Silvia dan Elena, ia mengatakan, "Selamat malam, Dame Whitley dan Lady Elena."
"Saya datang karena ingin memberitahu bahwa sudah saatnya giliran saya yang menjaga Tuan Putri" Lanjut Sir Lucius.
"Karena ini sudah malam, Dame Whitley dan Lady Elena bisa pulang dan datang kembali besok pagi" Tambahnya.
"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini" Ucap Sir Lucius dengan hormat.
"Ah, sudah waktunya untuk pulang ya?" Ucap Elena sedih.
"Baiklah, saya akan datang kembali besok pagi bersama Nona Elena"
"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, Sir Lucius"
"Kalau begitu, kami pamit, Sir Lucius"
Ucap Silvia yang sudah bersiap untuk pergi.
Ucapan Silvia dibalas anggukan oleh Sir Lucius.
Setelah Silvia dan Elena mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan kepada Sir Lucius, mereka pun pergi.
Setelah meninggalkan istana, Elena dan Silvia berjalan pulang dengan menaiki kereta kuda yang sama. Mereka berbicara tentang betapa cepatnya waktu berlalu sejak mereka mulai bekerja sebagai pengasuh Putri Ariana. Mereka merasa bangga dan bahagia bisa menjadi bagian dari perjalanan pertumbuhan Sang Putri Kecil.
Kereta kuda itu tiba di rumah Viscount Cameron, Elena turun dari kereta. Silvia memberi salam perpisahan kepada Elena melewati jendela kereta, lalu kereta kuda itupun lanjut pergi menuju kediaman Marquess Whitley.
Sesampainya di gerbang pintu masuk kediaman Marquess Whitley, terlihat Silvia yang turun dari kereta kuda. Ia mengucapkan terima kasih kepada Supir yang mengantarkan mereka pulang malam ini.
Silvia bergegas masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar untuk beristirahat, Silvia membersihkan diri dan berbaring di atas tempat tidurnya.
Silvia memejamkan mata dan membiarkan pikirannya melayang. Silvia mengingat senyum manis Putri Ariana dan suara tawanya yang menggemaskan. Silvia merasa terharu dan bersyukur bisa menjadi bagian dari kehidupan Putri Ariana.
Apa yang sedang dipikirkan oleh Silvia juga terpikirkan di benak Elena. Terlihat Elena yang sedang duduk di depan meja riasnya dan menatap cermin. Dia merenung tentang betapa cepatnya waktu berlalu dan bagaimana Putri Ariana telah tumbuh menjadi bayi yang sehat dan ceria.
...Sementara itu, di Alam Nirwana....
Terlihat Ariana yang kini telah berdiri di hamparan bunga-bunga yang indah nan berwarna cantik. Hamparan bunga-bunga itu bernama Padang Bunga.
Padang Bunga di tempat ini dipenuhi dengan beragam jenis bunga yang berwarna-warni dan menakjubkan. Setiap bunga memiliki keunikan dan kecantikan tersendiri, menciptakan kombinasi warna yang memukau mata.
Suara angin yang berhembus lembut dan dedaunan yang bergerak memberikan sentuhan alami pada suasana. Cahaya matahari yang menerobos di antara bunga-bunga menciptakan bayangan yang menarik, memberikan kesan dramatis pada pemandangan.
Ada bunga mawar yang anggun dengan kelopak berlapis, bunga matahari yang besar dan bersinar, bunga tulip yang elegan dengan beragam warna, dan masih banyak lagi.
Warna-warni bunga tersebut menciptakan kontras yang menakjubkan dengan latar belakang hijau dari rumput atau tanaman lainnya.
Saat menikmati semua pandangan yang ada di depan mata, Nisrina muncul, dan berdiri tepat di samping Ariana.
"Sudah lama kita tidak bertemu, Ria" Ucap Nisrina.
"Semenjak waktu itu, kamu pergi tanpa kabar, aku jadi kesepian, tahu?" Kata Ariana dengan nada kesal.
"Ah, maafkan aku, lainkali aku akan memberitahumu terlebih dahulu" Ucap Nisrina menenangkan Ariana.
"Yah, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan hal itu sih"
"Omong-omong Rina, kenapa kamu membawaku ke tempat ini?" Tanya Ariana penasaran.
"Aku membawamu ke sini karena sudah waktunya"
"Sudah waktunya??" Tanya Ariana tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Nisrina.
"Iya"
"Malam ini adalah waktu yang pas untuk melatih 'Mana' mu" Ucap Nisrina dengan bersemangat.
"Ah, aku sudah lama tidak melatih itu"
"Tapi entah kenapa rasanya malas sekali ya"
"Apa lebih baik aku pergi tidur aja ya?" Gumam Ariana.
"Maaf, aku bisa dengar, loh"
Nisrina menghela nafasnya.
"Hah.... mau bagaimana lagi jika kamu sudah berkata seperti itu"
"Aku tidak akan menyuruhmu lagi" Ucap Nisrina yang kini pergi ke tengah padang bunga.
Ariana yang melihat hal itu langsung menyusul Nisrina dari belakang.
Ketika berjalan di tengah padang bunga, Ariana disambut oleh aroma harum yang menyegarkan. Bunga-bunga yang mekar dengan sempurna menyebar keindahan dan aroma harum di sekitarnya, membuatnya seperti benar-benar hidup di dunia aslinya.
"Hei, kamu belum memberitahuku" Teriak Ariana dari kejauhan.
"Tentang apa?" Balas Nisrina.
"Kenapa kamu malah bertanya balik padaku?"
"Kamu belum menceritakan tentang atasanmu pergi begitu lama tanpa kabar"
Ucap Ariana yang kini sudah mendekat ke arah Nisrina.
Nisrina memberhentikan langkah kakinya, ia berbalik, lalu menatap Ariana. Ariana yang melihat hal itu langsung mempercepat laju jalannya, dan kini ia sudah berhadapan dengan Nisrina.
"Ariana" Ucap Nisrina dengan serius.
Ariana menelan ludahnya, tiba-tiba saja atmosfer di sekitarnya menjadi aneh. Nisrina mengambil nafas dalam-dalam sebelum berbicara.
"Aku menghilang tanpa kabar bukan karna aku malas bertemu denganmu, atau pergi untuk bersenang-senang"
"Aku pergi begitu lama karena mendapat panggilan misi baru dari Dewi Naga"
"Hanya karena satu misi itu, membuatku berpikir selama tiga bulan ini"
"Misi penting apa yang sampai membuatmu pergi selama itu?" Tanya Ariana penasaran.
"Misi ini sebenarnya bukan untukku, tetapi untuk dirimu" Ucap Nisrina dengan ekspresi wajahnya yang serius.
...✾ B E R S A M B U N G ✾...
Jadi bagus, Good Job 👍🏻/Coffee/
Halo, Readers yang luar biasa! 🙌🏻
Terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan, waktu, serta apresiasi yang telah kalian berikan untuk karya Becoming A Princess in Ancient Times.
Dengan ini, saya ingin menyampaikan bahwa seluruh chapter (episode) dalam novel ini sedang mengalami proses revisi dan perombakan cerita secara menyeluruh. Langkah ini saya ambil agar alur kisah, karakter, serta latar dunia dalam novel ini dapat tersusun dengan lebih matang, konsisten, dan memikat.
Selama proses revisi berlangsung, beberapa bagian mungkin akan diubah, diperbaiki, atau disesuaikan agar lebih selaras dengan arah cerita yang baru. Mohon pengertiannya apabila terdapat perbedaan antara versi sebelumnya dan versi yang akan datang.
Saya sangat menghargai setiap pembaca yang setia mengikuti perjalanan Ariana. Dukungan dan masukan dari kalian adalah motivasi terbesar bagi saya untuk terus berkarya dengan sepenuh hati.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan cerita ini.
Mari nantikan versi terbaru Becoming A Princess in Ancient Times dengan semangat baru dan petualangan yang lebih menakjubkan! ✨
Salam hangat,
Rajeng Tia
Penulis
Ah, sebentar lagi air mataku akan menitik deras TwT