Warning!!! 🚫 Bagi yang tidak suka adegan kekejaman dan penyiksaan, sebaiknya TIDAK USAH DIBACA!!! OK?! 🚫
Agar tidak meninggalkan komentar jelek diawal ❌❌❌
Cerita HAPPY ENDING 😍 jadi usahakan apabila ingin membaca, jangan dikasih komentar jelek sebelumnya!!! 🚫🚫🚫
Cerita penderitaan seorang gadis yang bernama Naina. Yang setiap hari disiksa oleh seorang Tuan Muda kejam (Arjuna Wijaya Kusuma).
Saran Author: Cukup baca season 1 & 2 saja.
Terimakasih 😍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naina melarikan diri
Dokter Romi memasukan tubuh Naina ke dalam mobilnya, di ikuti oleh Bu Lastri yang masih menggendong bayi mungil itu.
Dokter Romi melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit. Setelah sampai ia kembali menggendong wanita itu hingga ke dalam ruangan Rumah Sakit.
Sejumlah perawat segera membantu Dokter itu. Mereka segera membawa Naina masuk kedalam sebuah Ruangan. Saat Dokter Romi ingin ikut memasuki ruangan itu tiba tiba seorang perawat mendekatinya.
" Dokter, Sebaiknya anda membersihkan tubuh anda terlebih dahulu." Perintah perawat itu sambil melihat kearah Dokter Romi.
Dokter Romi melihat pakaiannya penuh dengan bercak darah bahkan Ia tak sadar tangannya penuh dengan darah Naina.
" Baiklah... "
Dokter Romi segera berjalan menuju kamar mandi. Ia melepaskan pakaiannya dan mencuci tangan serta tubuhnya hingga bersih. Dia meminta bantuan seorang perawat untuk mengambilkan pakaian baru untuknya.
Setelah itu Romi bergegas menuju Ruangan Naina dirawat. Dokter yang sedang merawatnya mengatakan kalau kondisi Naina masih kritis, Ia belum sadarkan diri karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
Dokter Romi berjalan gontai menuju Ruangan Bayi, Ia melihat bayi Naina sedang terlelap. Ternyata tuhan masih sayang sama Naina, Bayi itu lahir dengan sehat dan sempurna tanpa kurang apapun. Walaupun saat hamil Naina tidak mendapatkan gizi yang mencukupi dan tak pernah memeriksakan kehamilannya.
Dokter itu mendekati tempat tidur bayinya Naina, Ia mengangkat bayi itu dan menciumi pipi mungilnya.
" Kasihan sekali nasib mu nak..." Terlihat buliran airmata disudut mata Dokter itu.
Bu Lastri ingin memberikan susu untuk bayi itu tapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat Dokter itu sedang asik menciumi pipi mungil yang masih kemerahan itu.
Dokter Romi melihat bu Lastri sedang duduk dikursi depan sambil memegang botol susu bayi. Romi segera menghampirinya dan duduk di samping wanita tua itu.
" Bu dia sangat tampan ya..." tersenyum pada bu Lastri.
" Ya dia sangat tampan, Wajahnya begitu mirip dengan ayahnya... " Bu Lastri langsung terdiam
Keheningan terjadi diantara mereka. Wajah bayi mungil itu begitu mirip dengan Tuan Muda Arjuna Wijaya Kusuma, Ayah kandungnya.
Pagi itu Dokter yang sedang merawat Naina mengatakan kondisi Naina sudah mulai stabil. Romi dengan wajah bahagia nya menghampiri Naina yang masih terlihat lemah. Naina tersenyum melihat lelaki itu.
" Naina... Bagaimana keadaanmu? " Mata lelaki itu berbinar, Ia meraih tangannya yang masih terbalut perban akibat luka terkena pisau yang dibawa Celline.
" Aku sudah mulai membaik, Dok! Terimakasih atas semua bantuannya..."
Romi hanya tersenyum sambil mencium tangan Naina. Bu Lastri masuk ke ruangan Naina, Ia menggendong bayi mungil itu.
Naina dan Romi tersenyum bahagia melihat si bayi mungil , Naina menyambutnya dan menciumi bayi tampannya itu. Romi terpana melihat Naina yang tersenyum bahagia sambil memainkan jari dipipi bayinya yang kemerahan.
" Terimakasih Dokter, Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa... " Naina menyentuh tangan Dokter itu.
Dokter itu hanya terdiam mematung, Baru sentuhan tangan dari Naina saja sudah membuatnya serasa terbang kelangit ketujuh apalagi jika wanita itu Menciumnya bisa mati berdiri dokter itu.
Naina dan bu Lastri tersenyum melihat wajah tegang sang dokter. Setelah sadar dokter itu menggaruk lehernya terlihat ia sedang menutupi rasa malunya.
Sementara itu dirumah besar,
Celline mencoba mencari cara supaya Juna tidak mengetahui tentang kejadian yang sebenarnya. Ia mengumpulkan semua pelayan dan mengancam mereka untuk tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya.
Celline mengontrol rekaman kamera cctv yang terjadi di rumah itu dan menghapus beberapa video yang berhubungan dengan kejadian itu.
Juna yang masih berada di luar negeri tidak mengetahui tentang kejadian itu.
......................
Hari ini adalah hari yang menegangkan bagi Celline, Juna akan kembali ketanah air.
Celline duduk di ruang utama, tiba tiba terdengar suara sepatu yang berjalan kearah ruangan itu. Celline berbalik ia melihat suaminya sudah tiba sepagi ini. Lelaki itu nampak sangat lelah. Celline mendekatinya dan memeluk lengan kekar lelaki itu.
" Sayang apa kamu capek? Aku siapkan air hangat untuk kamu mandi ya... " Celline bergelayut manja untuk menutupi kebusukan nya.
" Nanti saja, Aku ingin menemui wanita itu..."
Celline kesal mendengarnya, Lelaki itu lebih memilih menemui wanita sia**n itu daripada menemani dirinya, istri sahnya. Celline mulai tersadar, kecemburuannya membuatnya lupa akan hal yang lebih penting dari itu. Juna akan kekamar itu, Itu artinya Nasib buruknya sudah didepan mata.
Celline mencoba mengalih perhatiannya dengan berbagai cara namun Lelaki itu tetap melangkahkan kakinya kekamar itu.
" Matilah Aku..." Celline
Juna membuka pintu kamar itu, ia melihat ruangan itu kosong dan tempat tidur itu terlihat rapih. Ia berjalan menuju kamar mandi berharap wanita itu sedang mandi atau apapun itu. Ia membuka pintunya namun wanita itu juga tidak ada.
Juna meradang ia menanyakan hal itu pada Celline, Celline malah berpura pura baru tahu sekarang saat juna bertanya padanya. Juna memerintahkan semua orang untuk memeriksa keseluruh ruangan dirumah itu namun hasilnya sama wanita itu tidak ada.
Juna pergi keruangan cctv ia mengontrol hasil rekaman dalam tiga hari yang lalu dibantu oleh Gabriel. Gabriel mengatakan ada beberapa part yang menghilang di rekaman itu.
Juna kembali ke ruang utama ia memerintahkan semua orang untuk berkumpul diruangan itu. Juna menanyakan tentang keberadaan wanita itu, namun tak ada yang berani menjawab.
" KATAKAN!!! KALAU TIDAK AKU AKAN MEMECAT KALIAN SEMUA!!! " Juna berteriak hingga menggema diseluruh ruangan itu.
Namun masih sama, tak ada yang berani berbicara. Juna menarik salah seorang pelayan wanita, Dia mencekik wanita itu sambil mengancamnya. Akhirnya wanita itu buka suara.
" I.. iya Tuan... Naina pergi di bawa oleh dokter Romi setelah dia melahirkan anaknya... " kata pelayan wanita itu sambil memegang lehernya yang terasa sakit.
Juna menjambak rambutnya sendiri dengan keras,
" AKHHHH!!!! " Ia kembali berteriak
" KAU KEMARI!!! " Menunjuk kearah Bu Juli.
Bu Juli ketakutan melihat wajah mengerikan itu.
" Apa yang sebenarnya terjadi sehingga Romi datang kemari dan membawa Naina pergi dari sini?!!! katakan yang sebenarnya, kalau kau berani berbohong, Aku yakinkan... polisi akan menjemput mu hari ini juga!!! "
Akhirnya Juli menceritakan kejadian yang sebenarnya. Ia takut melihat tatapan Celline tapi ia lebih takut pada lelaki didepannya, yang bisa membunuhnya kapan saja.
Juna berbalik kearah Celline yang berdiri dibelakangnya,
Plaakkkkk.... Celline jatuh tersungkur, Hidungnya mengeluarkan darah segar.
" Masalah kita belum selesai..." berkata pada Celline
Juna Langsung berlari menuju mobilnya dan melajukan mobil itu menuju rumah sakit. Gabriel dan para bodyguard mengikuti Juna dari belakang.
Romi yang baru tiba di Rumah Sakit itu tiba tiba mendapatkan sebuah serangan dari belakang. Ia berbalik dan melihat Juna dengan wajah memerahnya.
Juna ingin melayangkan kepalan tangannya sekali lagi namun Romi menghindar dan terjadilah perkelahian itu. Kedua lelaki itu benar benar bergulat di halaman rumah sakit ternama itu.
Semua orang mulai berdatangan termasuk Gabriel beserta para bodyguard tuan muda. Beberapa perawat wanita berlari ketakutan melihat perkelahian hebat itu. Gabriel dan para bodyguard juga beberapa orang lain melerai perkelahian itu.
Wajah Juna terlihat berdarah darah begitu pula dokter Romi, Pakaian khas Dokternya pun Penuh dengan bercak merah.
" Dimana kau sembunyikan wanita itu, Cuihhh!!! " Meludahkan air liur yang bercampur darah ketanah.
" Seharusnya Kau berterimakasih padaku " Tertawa sambil menghapus darah yang mengalir dihidungnya.
" Aku menyelamatkan wanitamu itu... Jika saja aku tidak datang waktu itu, Hari ini kau pasti hanya bisa melihat mayatnya bersama putramu. " Romi masih dengan tawa sinisnya.
" Dokter... Dokter.... Naina menghilang... Naina tidak ada diruangannya. Aku sudah mencarinya kemana mana... Dia membawa bayinya bersamanya..." Bu Lastri tiba tiba datang menghampiri dokter Romi sambil menangis cemas.
" Apa!!!... " Dokter Romi langsung berlari menuju ruangan Naina. Juna mengikuti Romi dari belakang diikuti Gabriel dan para bodyguard nya.
Romi memeriksa kesekeliling ruangan, Wanita itu memang sudah tidak ada. Romi dan Juna saling bersitatap penuh kebencian di mata mereka. Tapi sekarang bukan saatnya mementingkan ego mereka. Kini saatnya mereka bekerja sama menemukan wanita itu.
...****************...
kalau ikhlas
perasaan baru beberapakali hari Lo
ohy juna uda lht ankny blm y thor