"Suamimu mengalami kecelakaan Nak!"
Tubuh Arini bergetar hebat, dia baru menikah seminggu namun Tuhan telah menakdirkannya menjadi janda di usia sangat muda.
Menjadi janda muda membuat Arini mendapatkan cibiran, hinaan.
Hingga dua tahun berlalu, ia harus kembali menikah lagi namun Arini tercengang seakan tak percaya, ia akan menikah dengan Dilan Magika artis idola nomor satu yang di gilain banya orang.
Ya, dua insan ini harus terjebak dalam pernikahan tanpa mereka inginkan semua demi keluarga.
Sungguh takdir yang lucu bagi Arini, ia yang janda menikah dengan pemuda yang memiliki kesempuraan, ketampanan, kekayaan...
Bagaimanakah pernikahan ke dua Arini? dapatkan ia bahagia dengan suami ke duannya?
Dapatkan suami artisnya menerima keadaan Arini?
Cus cekidot
Jangan lupa baca juga
JODOH PILIHAN KAKAKKU
CEO JUTEK ITU SUAMIKU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Adi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lokasi syuting
Tirta duduk bersama dengan seorang artis cantik yaitu Marsya Ayunda. Mereka duduk berhadapan menunggu giliran pengambilan gambar, sambil membahasa adegan yang akan mereka lakukan nanti.
Arini telah berada di lokasi syuting melangkah penuh semangat dan senyum yang terus mengembang. Tangan kanannya menjinjing paper bag.
Arini seakan ingin berteriak kencang saat manik matanya menangkap tubuh Tirta dan Marsya bersama. Dia pun mendekat.
“Kak Dilan,” sapa Arini dengan suara pelan berjalan mendekat ke arah Tirta. Ia mencoba menahan rasa senangnya bertemu langsung Marsya Ayunda.
Tirta mengarahkan pandangan pada Arini yang telah berdiri di sampingnya, sedang tersenyum pada Marsya.
“Kenapa kamu baru datang!” sentak Tirta memasang wajah malas melihat senyum Arini pada artis yang ada di hadapannya.
Arini jongkok menyamakan tinggi badan Tirta lalu menunjukkan paperbag yang ia bawa.
“Maaf kak, tadi saya singgah beli ini dulu, buat di tanda tangani sama kak Marsya.” Arini menunjukkan isi di dalam paperbag. Netra hitam matanya menatap Marsya yang menatap lekat mereka berdua.
“Kenapa banyak sekali!” decak Tirta saat melihat barang yang di bawah Arini berupa peralatan makan serta pakaian yang akan di tanda tangani.
“Buat koleksi!” ucap Arini dengan cengiran pada Marsya.
“Jangan membuatku malu! Jangan norak. Cukup tanda tangan saja di buku. Setelah itu pulang!”
Gadis ini memasang wajah memelas setelah mendengar ucapan Tirta yang membatasinya.
“Ya kak, jangan di buku saja. Baiklah di tumbler dan mug saja,” tawar Arini menaikkan dua jarinya.
“Siapa Lan?” tanya Marsya yang dari tadi penasaran melihat interaksi dari keduanya.
Tirta menghentikan perdebatannya, menatap Marsya. “Sya kenali, ini Arini sepupu aku dari kampung. Dia ngefans sama kamu dan minta tanda tangan,” ujar Tirta.
Arini berdiri seraya mengembangkan senyumannya, tersipu malu.
“Hai. Arini,” sapa Marsya melambaikan tangan.
Rasanya Arini ingin berteriak saat sang artis menyapa.
“Kak Marsya. Saya suka sekali sama akting kakak. Kakak sangat cantik sekali,” puji Arini. Tirta yang mendengar memutar bola mata melihat kehebohan Arini.
“Kamu bisa aja Arini. Kamu juga cantik sekali,” balas Marsya membuat Arini semakin mengembangkan senyumannya.
“Lan, sepupu kamu cantik,” tambah Marsya menatap Tirta yang mendengus dan tersenyum miring mendengar pendapat artis ini tentang Arini.
“Kak, saya boleh minta tanda tangan?” Arini maju semakin mendekat, berdiri di hadapan Marsya menyodorkan buku dan spidol permanen yang telah ia siapkan.
“Boleh. Berapa pun,” Marsya menerima buku dan spidol kemudian mulai membubuhi dengan tanda tangan.
“Satu lagi kak,” ucap Arini tangannya membantu membalikkan kertas di buku.
Marsya mengikuti keinginan Arini, melihat artis sangat ramah membuat Arini terbuai, ia merogoh paperbag yang ia bawa mengeluarkan beberapa isinya.
“Kak yang ini juga tolong di tanda tanganin. Biar kalau lihat ini ingat kakak,” Arini menyodorkan mug dan tumbler sambil berbalik tersenyum kaku pada pemuda yang telah menatapnya tajam.
“Emmm.” Tirta berdehem saat tangan Arini merogoh isi paper bag lagi akan mengeluarkan barang untuk di tandan tangani.
Gadis ini menghentikan niatnya. Saat berbalik menatap yang Tirta telah melototkan mata padanya.
“Sudah Arini, ada lagi?” tanya Marsya.
“Tidak ada kak. terima kasih,” ucap Arini.
Gadis cantik ini terdiam sejenak seperti melupakan sesuatu, lalu meraih ponsel yang berada di tas.
“Kak boleh minta foto ngak?” tanya Arini menunjukkan ponselnya, kembali menatap Tirta yang memasang wajah datar dengan banyaknya permintaan Arini.
“Boleh dong.” Marsya bangun dari duduknya.
Senyum gadis cantik ini semakin merekah saat mendengar jawaban si artis. Arini berjalan mendekat berdiri di samping Marsya. Arini mulai membidik kamera ponselnya, mengambil beberapa gambar dengan Marya.
Tirta menarik sudut bibirnya saat melihat Arini yang berpose dengan senyum kebahagiaan. Rasa hangat menyelimuti relung hatinya. Gadis ini dengan mudah tersenyum seolah melupakan masalah yang telah lama ia hadapi.
Arini dan Marsya terus berpose. Arini juga mengikuti gaya yang di arahkan si artis dalam berfoto, membuatnya semakin terlihat mengemaskan.
Pose mereka terhenti ketika dan senyum Tirta seketika sirna saat pemuda tampan lain menghampiri mereka.
“Wah ada Arini, kamu main ke sini lagi,” ucap Kenzi berdiri di samping Arini.
“Hai, kak Kenzi,” sapa Arini melambaikan tangan, sebelah tangannya lagi menyimpan ponselnya ke dalam tas.
“Kamu udah ketemu Arini Ken?” tanya Marsya menautkan alisnya.
“Ia, kemarin.”
Kenzi menatap lekat penampilan Arini yang sangat jauh berbeda dari kemarin, rambut tergerai dengan make up mahal yang masih menempel hasil karya Tirta. Sorot Matanya menyiratkan kekaguman.
“Wah kamu cantik sekali. Penampilan kamu berubah,” pujinya tanpa berkedip sedikit pun.
“Makasih kak.” Mendengar pujian cantik dari artis. Arini tersipu malu, tangannya menyelipkan anak rambut ke belakang telinga membuat Tirta yang melihatnya memutar mata jengah melihat keakraban mereka.
“Ia, Lan kenapa kamu ngak ajak sepupu kamu untuk casting juga. Ajak main siapa tahu bisa terkenal juga,” cetus Kenzi menatap Arini dengan tatapan menilai.
“Dia ngak bisa akting!” ketus Tirta.
“Ajari dong Lan,” sahut Marsya.
“Atau biar Arini belajar sama aku aja,” tawar Kenzi. “Mau ya Arini?”
“Maaf kak saya ngak bakat di dunia akting.” Arini menolak.
Obrolan mereka terhenti saat salah satu kru menghampiri mereka.
“Sya, Lan. Siap-siap ini giliran kalian!” panggilnya.
“Oke.”
Tirta bangun dari duduknya mendekat pada Arini.
“Kamu udah ketemu masa Marsya, sekarang kamu pulang sana,” ujar Tirta tidak suka Arini berlama-lama lagi melayani Kenzi.
“Baik kak.”
“Arini kamu mau pulang, aku antar ya,” tawar Kenzi.
Mata Tirta membulat sempurna dan seketika menghentikan langkahnya saat mendengar keinginan Kenzi.
“Jangan, ntar ngerepotin kamu.” Sambar Tirta.
“Ngak kok, aku udah selesai,” ucap Kenzi entah mengapa arah matanya terus menatap Arini.
“Hei! kau duduk saja dulu di sana tunggu aku, kita pulang bersama,” jelas Tirta menunjuk kursi yang tadi ia tempati.
Tirta mendekat ke arah Arini lalu berbisik pelan. “Jangan dekat-dekat dengannya, dia itu playboy.”
“Ayo.” Marsya menarik tangan Tirta yang terpaksa terhuyung mengikuti.
Arini menatap kepergian Tirta. Ia duduk di kursi yang di perintahkan suaminya. Kenzi pun mengangkat kursi lalu menaruhnya di samping Arini. Arini yang melihat sang artis duduk di sampingnya tidak membuang kesempatan. Ia kembali meraih paperbagnya menyodorkan beberapa barang yang disiapkan untuk beri tanda tangan oleh Marsya namun sebagai gantinya ia menyodorkan barang itu pada Kenzi.
“Kak Kenzi, boleh minta tanda tangan lagi ngak?” tanya Arini yang menyodorkan piring kaca. “Saya ingin memajangnya di dapur.”
Kenzi menarik sudut bibirnya melihat tingkah polos Arini.
“Boleh.” Pemuda berlesung pipi itu mulai menanda tangani barang-barang Arini.
“Kamu sangat cantik Arini. Gadis secantik kamu udah punya pacar belum?” goda Kenzi.
“Saya ngak pacaran kak, tapi langsung nikah,” jelas Arini berterus terang tentang hidupnya.
“Hahahaha.” Kenzi tertawa keras mendengar jawaban Arini. Ia mengira gadis polos ini bercanda.
“Kamu lucu Arini, kamu langsung mau nikah?” ucap Kenzi.
Di tempat yang tidak terlalu jauh, Tirta dan Marsya sedang berakting. Mendengarkan Marsya mengucapkan dialognya. namun samar-samar Tirta mendengar tawa keras Kenzi membuat arah pandangnya menatap ke arah mereka.
“Cut, Dilan apa yang kamu lihat! Fokus dong.” Teriak sang sutradara mengenakan pengeras suara.
Tirta kembali tersadar. “Ia, maaf.”
“Ayo mulai lagi.”
“Kamera rolling, action.” Untuk ke sekian kalinya kata itu terus berulang akibat Tirta yang tidak berakting dengan baik.
Mereka terus kembali mengulang adegan. Tirta mencoba untuk fokus namun ia tidak bisa.
“Cut.” Lagi teriakan itu terdengar.
Tirta tidak lagi menghiraukan lagi teriakan sutradara. Ia berdiri dengan Tangannya terkepal, matanya menyala marah, saat melihat Arini dan Kenzi duduk berdampingan, sebelah tangan Kenzi terulur di sandaran kursi Arini. Mereka sedang mengambil gambar menggunakan ponsel. Tubuh mereka hampir menempel dan jarak wajah mereka yang begitu dekat. Hati Tirta seketika menjadi panas melihat adegan di hadapannya.
“Apa-apaan mereka, gadis bodoh itu mau saja di sentuh laki-laki demi foto bersama artis, jangan sampai dia juga mau dicium,” batin Tirta kesal melihat tingkah keduanya.
“Maaf aku lagi ngak enak badan. Aku harus pulang,” ucap Tirta kemudian meninggalkan tempat pengambilan adegan.
“Dilan ... Dilan ...” panggil kru.
Dengan wajah yang mengeras penuh amarah Tirta berjalan ke arah mereka.
“Ayo kita pulang!” Tirta memasang wajah dingin, menarik tangan Arini dengan kasar membuat Arini tersentak dan bangun dari duduknya.
“Udah selesai Lan?” tanya Kenzi yang juga ikut berdiri.
Tirta hanya diam berlalu sambil menarik tangan Arini. Gadis ini membalikkan pandangannya ke arah Kenzi. Sedangkan Kenzi memautkan alisnya dengan sikap Tirta yang berubah dingin.
“Kak Kenzi terima kasih tanda tangannya,” ucap Arini mengeraskan suaranya.
“Iya. Besok main kemari lagi. Aku tunggu.” Balas Kenzi melambaikan tangan.
Bayangan Arini dan Tirta semakin menjauh meninggalkan Kenzi yang mematung.
LO GK PNY HAK APA2 SAMA ARINI, MSKI ARINI MNANTU LO, TIRTA YG LBH BRHAK, KRN TIRTA SUAMI SAH AGAMA & NEGARA UNTUK ARINI