Refan tega mecampakkan Maira yang sudah lama bersamanya demi orang baru yang bernama Reya. Akhirnya Maira menikah dengan Hendra yaitu temannya Refan sendiri. Akhirnya Maira bahagia bersama Hendra. Refan yang begitu terpuruk dan menyesali keputusannya akhirnya Refan bersimpuh di kaki mantan istrinya untuk mengajaknya kembali rujuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weta anjelina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29 Pov Reya
Hari ini aku sangat bahagia sekali, Mas Refan ternyata sangat mencintaiku.
Aku pikir Mas Refan akan menceraikan ku dan lebih memilih wanita tua itu, ternyata tidak Mas Refan lebih memilihku.
Tentu aku sangat bahagia sekali, rasa kebahagian ini tak terbendung lagi.
"ahk, kira-kira gimana reaksi wanita tua itu saat neninggalkan rumah ini" Gumamku sembari tersenyum lebar.
Aku segera keluar kamar dan melihat keadaan sekitar, ku lihat wanita tua itu tertunduk di lantai sambil menangis sesegukkan, aku mengintip dari pintu kamar utama kulihat Mas Refan menghampirinya.
"Mas apa ini benar Mas, apa aku yang mimpi, Mas jawab Mas,jangan diam,, hik,, hik."
"Dek kalau bisa, tolong lah dek pergi dari rumah ini kasian Reya tidak tenang gara-gara kamu terus saja menangis, kasian kan Reya tidak mau tidur gara-gara tangisan mu!"
"Mas, aku mohon Mas, apa yang harus aku katakan pada Raihan anak kita dan keluarga ku di bandung Mas, kalau kita bercerai,, hik,, hik." Aku ketawa cekikikan melihat wanita tua itu bersimpuh di kaki mas refan akhirnya aku mendapatkan apa yang harus menjadi milikku.
"Aku bahagia melihat kamu menderita mbak." Gumamku pelan, sembari tersenyum lebar.
"Dek masalah Raihan, jelaskan pada dia dengan jujur, Mas yakin pasti Raihan akan mengerti, kalau masalah keluarga mu, itu urusan mu dek, berpandailah kau menjelaskannya nanti!"
Kulihat Mas Refan berusaha melepaskan tangan wanita tua itu dari gengaman kakinya, dan berlalu menuju kekamar ku.
Kulihat wanita tua itu terus menangis dan memanggil nama Mas Refan.
Aku bergegas pergi ke tempat tidur, dan berpura-pura tidak bisa tidur aku mengunakan akal itu agar Mas Refan segera mengusir wanita tua itu.
"Sayang belum tidur." Ucap Mas Refan lembut kepadaku.
"Eum belum Mas, abis di luar suara mbak Maira brisik Mas,mana bisa Rey tidur mas kalo suara itu sampai pagi masih ada." jawabku kepada mas refan, aku menyunggingkan sedikit bibirku, berpura-pura terganggu dengan suara wanita tua itu.
Walaupun aku sangat senang mendengar tangisan itu, namun aku tetap berpura-pura terganggu.
Kulihat Mas Refan sedikit mendengus kesal mendengar tangisan wanita tua itu. Kulihat Mas Refan membantingkan pintu kamar lalu bergegas keluar.
"Dek udah berapa kali Mas bilang, kalo ngak mau pergi dari rumah ini tolong diam, jangan brisik bawel bener di bilangin,jangan nyuruh mas kasar ya dek."
"Mas,, hik,, hik."
"Mas ngak mau lagi lihat kamu di sini besok!" Kulihat Mas Refan sangat marah sekali,aku bergegas menyusul Mas Refan.
"Tu kan Mas, bandel bner di bilangin." Aku berusaha menghasut Mas Refan.
"Diam kau pelakor." Wanita tua itu mengertakku
"Mbak kalo emang udah ngak di pilih kenapa harus histeris gitu, lagian mbak masih punya harga dirikan, masa istri sahnya Mas Refan harus bersimpuh di lantai." Enjekanku kepada wanita tua itu sembari melihat sinis ke arahnya.
"Heh, kalian berdua sama saja, sama-sama bajingan." Dia menujuk ke arahku dan juga Mas Refan, aku tidak ingin membalas ocehan yang tidak berguna itu, tiba-tiba saja Mas Refan mendekapku dan mencium lembut keningku.
"Mbak lihatkan, apa masih kurang. Buka dong mbak mata dan pikirannya, udah jelas-jelas Mas Refan lebih memilihku, sementara kau mbak,ku terlalu percaya diri untuk memiliki suamiku." Aku mencaci makinya,keangkuhan yang di perlihatkan padaku kini telah hancur sudah, ya aku sudah berhasil merobek hatinya hingga berkeping-keping.
Aku bahagia mbak, aku sangat bahagia melihat mu menderita.