NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah di Rumah Danmer

Aku tahu tindakanku gegabah bahkan sebelum rumah Danmer terlihat di antara pagar-pagar kebun. Napasku telah pecah, rusukku terasa seperti diremas dari dalam, dan langkah Marlow terus mengejar beberapa puluh kaki di belakang. Namun semua peringatan yang diteriakkannya tenggelam ketika suara Ishar menembus udara desa.

Jeritannya terdengar dari balik rumah.

Bukan teriakan marah seperti ketika ia mengusirku dari depan kamarnya. Bukan pula pekikan terkejut akibat benda pecah atau pintu dibanting. Suara itu panjang, serak, dan begitu memilukan hingga tubuhku bergerak lebih cepat sebelum pikiranku memahami apa yang kudengar.

Aku menerobos celah pada pagar kebun. Bahuku menghantam papan, membuatnya bergetar keras, lalu kakiku menginjak petak tanah yang baru disiram. Lumpur memercik sampai betis. Di halaman belakang, pintu rumah Danmer terbuka separuh. Salah satu engselnya terlepas dan menggantung miring, seolah seseorang telah menendangnya dari dalam.

Jeritan Ishar terdengar lagi.

Aku mencabut pedang sambil berlari.

“Ishar!”

Tidak ada jawaban selain suara benda jatuh dan teriakan laki-laki dari dalam rumah.

Aku menghantam pintu belakang dengan bahu. Kayunya membentur dinding, memuntahkan serpihan dari engsel yang sudah rusak. Udara di dalam rumah dipenuhi bau darah, asap perapian, keringat, dan sesuatu yang masam dari teh yang tumpah di lantai.

Rosh terbaring di ruang utama.

Tubuh tuanya tersungkur di samping meja makan. Tongkatnya patah menjadi dua tidak jauh dari tangan. Darah telah menggenang di bawah kepala dan bahunya, mengalir melalui celah-celah papan lantai dalam garis gelap. Salah satu kursi roboh menindih kakinya. Matanya tertutup. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi aku tidak melihat dadanya bergerak dari tempatku berdiri.

Aku tidak tahu apakah ia masih hidup.

Tidak ada waktu untuk mendekatinya.

Seorang tentara Izengard berdiri beberapa langkah di depan tubuh Rosh, membelakangiku. Ia sedang menarik sebuah peti kecil dari bawah meja dan membuang isinya ke lantai. Piring tanah liat pecah di dekat sepatu botnya. Pedangnya masih berada di sarung, mungkin karena ia menganggap tidak ada seorang pun di rumah itu yang mampu melawan.

Ia berbalik ketika mendengar pintu menghantam dinding.

Wajahnya sempat menunjukkan kebingungan. Mata kami bertemu. Pandangannya turun pada pedang di tanganku, lalu kembali naik ke wajahku yang tidak lagi tertutup tudung.

Aku melihat saat pengenalan muncul.

“Pange—”

Aku tidak membiarkannya menyelesaikan kata itu.

Jarak di antara kami hanya beberapa langkah. Aku menerjang sebelum ia sempat menarik pedang. Bilahku masuk ke bagian bawah perutnya dengan hentakan yang terasa sampai ke bahu. Ujung baja menembus kain seragam, kulit, dan sesuatu yang lebih padat di dalam tubuhnya.

Napasnya berhenti.

Wajah kami begitu dekat hingga aku mencium bawang pada napasnya dan keringat lama di kerah seragam. Tangannya meraih lenganku. Kukunya menekan kain kemeja, tetapi kekuatan pada jari-jarinya tidak bertahan lama.

Matanya terbuka lebar.

Kehidupan di dalamnya tidak padam sekaligus. Ia surut perlahan, seperti cahaya lampu minyak yang kehabisan bahan bakar. Kebingungan berubah menjadi ketakutan, lalu ketakutan itu kehilangan bentuk. Mulutnya bergerak tanpa suara. Darah hangat mengalir ke tanganku dan menetes dari gagang pedang.

Aku menarik bilah keluar.

Tubuhnya terlipat mengikuti gerakan itu. Lututnya menghantam lantai terlebih dahulu, kemudian bahu dan wajahnya jatuh di antara pecahan piring.

Jeritan Ishar kembali terdengar dari lorong kamar.

Aku menoleh.

Pintu kamarnya terbuka lebar. Sebuah lampu minyak tergeletak pecah di ambang, membasahi papan dengan minyak yang belum terbakar. Seorang tentara lainnya berada di dalam, membungkuk di atas Ishar dekat sisi ranjang. Ia telah merobek bagian bahu gaunnya dan menekan salah satu pergelangan tangan Ishar ke kasur. Lututnya menahan tubuh gadis itu agar tidak bisa bangkit.

Ishar menendang dan mencakar dengan tangan bebas. Rambut pirangnya telah terlepas dari sebagian ikatan, menutupi wajah dan menempel pada pipi yang basah. Salah satu sisi bibirnya berdarah.

Aku berlari menuju kamar.

“Hei!”

Tentara itu menoleh.

Kesalahan.

Perhatiannya terlepas dari Ishar hanya sesaat, tetapi sesaat itu cukup.

Ishar menarik tangannya dari bawah tubuhnya. Sebuah belati pendek muncul di antara jemarinya. Aku tidak tahu dari mana ia mendapatkannya. Mungkin dari pinggang tentara itu, mungkin dari bawah kasur, mungkin Rosh menyimpannya di kamar untuk perlindungan. Yang kulihat hanya kilatan baja sebelum Ishar menghantamkannya ke sisi tubuh pria tersebut.

Tentara itu menegang.

Ishar menikam lagi.

Belatinya masuk lebih tinggi, di bawah tulang rusuk. Pria itu mencoba menangkap pergelangannya, tetapi Ishar menarik senjata dan menghantamkannya kembali. Ia menjerit setiap kali tangannya turun. Bukan kata-kata, hanya suara pecah yang keluar dari tenggorokan.

Tikaman ketiga mengenai punggung.

Tikaman keempat menghantam bahu.

Tentara itu berusaha bangkit dari ranjang, namun kakinya tersangkut kaki meja kecil yang sudah terbalik. Ia jatuh ke samping. Ishar mengikutinya sampai ke lantai, duduk di atas pinggangnya dan terus menusuk.

Darah memercik ke wajah, leher, dan gaunnya.

Pria itu sudah tidak lagi melawan dengan teratur. Tangannya memukul lantai, lalu meraih udara. Ishar masih berteriak dan menurunkan belati berkali-kali, seolah setiap gerakan yang berhenti akan memberinya kesempatan bangkit kembali.

Aku membeku di ambang pintu.

Aku belum pernah melihat seseorang membunuh dengan kemarahan seperti itu. Bukan latihan, bukan pertarungan, bukan satu gerakan impulsif seperti yang kulakukan di Mitenn Highroad. Ishar terus menusuk karena takut, jijik, marah, dan karena tubuh di bawahnya telah merampas seluruh ruang berpikir yang tersisa.

Aku tidak mendengar langkah tentara ketiga.

Sebuah bayangan bergerak dari sisi ruang utama. Ada desis baja ditarik dari sarung, disusul bunyi sepatu menghantam papan lantai. Aku baru menyadarinya ketika Ishar melihat ke arah bahuku dan jeritannya berubah.

Aku berbalik terlambat.

Tentara ketiga sudah mengangkat pedang.

Bilahnya turun menuju leherku.

Sesuatu menghantam tubuhku dari samping. Aku terlempar ke dinding lorong. Ujung pedang tentara itu hanya menyapu rambut di dekat pelipis, lalu menghantam kusen kamar dan menancap sesaat pada kayu.

Marlow berada di antara kami.

Ia tidak menghunus pedangnya. Tidak ada cukup waktu. Tangannya meraih pergelangan tentara yang masih memegang gagang, memutarnya ke arah yang tidak wajar, lalu menghantamkan siku ke wajah pria itu. Tulang hidung pecah dengan bunyi basah. Darah langsung mengalir sampai bibir.

Tentara itu tetap mencoba menarik pedangnya dari kusen.

Marlow menendang bagian belakang lututnya. Pria tersebut jatuh sebelah kaki, tetapi tangan bebasnya berhasil menarik pisau dari sabuk. Ia menusukkannya ke arah perut Marlow.

Marlow memiringkan tubuh. Ujung pisau hanya merobek sisi mantelnya.

Tangannya bergerak ke pinggang.

Pedang Marlow keluar tanpa suara panjang atau gerakan berlebihan. Hanya satu kilatan pendek, lalu bilahnya menembus sisi leher tentara itu dan keluar di bawah rahang.

Tubuh pria itu tersentak.

Marlow menarik pedangnya dengan gerakan memutar. Darah menyembur ke dinding lorong. Tentara tersebut jatuh menelungkup di dekat kakiku, satu tangannya masih menggenggam pisau yang tak pernah mencapai sasaran.

Aku menatap mayat itu, lalu Marlow.

Napasnya berat akibat berlari mengejarku, tetapi wajahnya tetap terkendali. Satu goresan merah muncul di sisi leher, mungkin akibat ujung pedang yang nyaris mengenainya ketika ia mendorongku. Tatapannya turun ke kepalaku, seolah memastikan aku tidak terluka.

“Berdiri.”

Suaranya rendah dan kasar.

Aku baru menyadari lututku menyentuh lantai. Aku mendorong tubuh naik dengan bantuan dinding. Tangan yang memegang pedang terasa licin oleh darah tentara pertama.

Marlow melihat ke arah kamar.

Ishar masih menikam.

Pria di bawah tubuhnya sudah tidak bergerak. Darah telah menyebar dari punggung dan sisinya, meresap ke karpet kecil di dekat ranjang. Namun tangan Ishar terus naik dan turun. Gerakannya mulai tidak terarah. Kadang belati hanya menghantam kain, kadang lantai, kadang tubuh yang sudah tidak memberi reaksi.

Marlow melangkah masuk, menangkap pergelangan tangannya sebelum tikaman berikutnya jatuh.

Ishar menjerit dan memutar tubuh, mencoba menusuknya.

Marlow menahan tangan itu tanpa menyakitinya. Belati terlepas dari jari Ishar dan jatuh di lantai dengan bunyi nyaring.

“Sudah mati.”

Ishar tidak mendengar, atau tidak mampu memahami. Ia memukul lengan Marlow dengan tangan kosong dan mencoba mengambil kembali belati. Tubuhnya gemetar hebat. Napasnya keluar sebagai isakan pendek yang menyakitkan untuk didengar.

Marlow menariknya menjauh dari mayat, lalu melepaskan ketika Ishar jatuh ke samping ranjang. Gadis itu segera merapatkan bagian gaunnya yang robek ke tubuh. Tangannya berlumuran darah sampai pergelangan. Sebagian bukan darahnya sendiri.

Aku hendak mendekat, tetapi pandanganku tertarik kembali kepada Rosh.

Pria tua itu masih terbaring di ruang utama.

Aku berlari menghampirinya.

Kursi yang menindih kaki kuangkat dan kulemparkan ke samping. Lututku jatuh ke lantai di dekat tubuhnya. Darah di bawah Rosh telah menjadi hangat-lengket, membasahi celana dan telapak tanganku ketika aku menyentuh bahunya.

“Rosh.”

Tidak ada jawaban.

Aku memiringkan tubuhnya dengan hati-hati. Luka terbuka terlihat pada sisi kepala, tepat di atas telinga. Kulitnya pecah dan rambut putih tipisnya penuh darah. Ada bekas hantaman lain di pelipis. Mungkin gagang pedang, mungkin kaki meja, mungkin tongkatnya sendiri setelah direbut.

Aku menempelkan dua jari ke lehernya.

Tidak ada denyut.

Aku tidak yakin karena tanganku sendiri gemetar. Aku memindahkan jari, menekan lebih dalam, lalu menundukkan wajah dekat hidung dan mulutnya. Tidak ada udara menyentuh pipiku. Dadanya tidak bergerak. Kulitnya mulai kehilangan kehangatan.

Marlow berlutut di sisi lain. Ia menyentuh leher Rosh hanya beberapa detik, kemudian menarik tangan.

Tatapannya cukup.

Aku tetap memegang bahu pria tua itu.

Ishar muncul dari lorong.

Langkahnya tidak stabil. Satu tangan masih menahan gaun pada bahu, sedangkan tangan lain menggantung di sisi tubuh, merah oleh darah. Rambutnya menutupi sebagian wajah. Ia melihat tubuh kakeknya, lalu berhenti begitu mendadak hingga seluruh tubuhnya hampir terjatuh.

Tidak ada suara yang keluar pada awalnya.

Mulutnya terbuka, tetapi napasnya tersangkut. Wajahnya perlahan berubah seperti seseorang yang baru menyadari tanah di bawah kakinya lenyap. Kemudian ia menjatuhkan diri di sisi Rosh.

“Kakek.”

Tangannya menyentuh pipi Rosh.

“Kakek, bangun.”

Ia mengguncang bahunya. Tubuh tua itu bergerak lemah mengikuti dorongan, tetapi tidak ada respons lain. Ishar mencoba mengangkat kepala Rosh ke pangkuannya, tidak peduli darah yang langsung meresap ke gaun.

“Kakek, mereka sudah mati. Mereka tidak akan menyakitimu lagi.”

Suaranya pecah.

Ia mengusap wajah Rosh dengan telapak tangan yang penuh darah, meninggalkan garis merah pada kulit pucat. Napasnya mulai semakin cepat. Setiap kata berikutnya berubah menjadi tangis yang tidak lagi dapat dibentuk dengan jelas.

Aku mengulurkan tangan ke bahunya.

Ishar menepisnya begitu keras hingga lenganku terlempar ke samping.

“Jangan sentuh aku.”

Aku menarik tangan.

“Ishar—”

“Pergi.”

Ia membungkuk di atas tubuh Rosh, memeluknya erat seolah masih bisa memberikan kehangatan pada tubuh yang telah dingin.

“Ini semua karena kau.”

Kata-kata itu tidak diteriakkan. Justru karena keluar pelan, tertahan di antara isakan, rasanya lebih berat daripada bentakan.

Aku melihat sekeliling rumah. Tiga mayat tentara Izengard tergeletak di lantai. Darah memenuhi lorong, kamar, dan ruang utama. Pintu belakang rusak. Barang-barang terlempar dari lemari. Setiap bagian rumah yang semalam terasa hangat kini menyimpan jejak kekerasan yang datang bersama nama kami.

Ia tidak sepenuhnya salah.

Marlow berdiri dan membersihkan pedangnya pada mantel salah satu tentara.

“Kita harus pergi.”

Aku menatapnya.

“Ishar tidak bisa ditinggalkan.”

Marlow memasukkan pedang ke sarung. “Tentara lain akan datang ketika tiga orang ini tidak kembali. Kita punya waktu beberapa menit, mungkin kurang.”

Ishar tidak memandang kami. Jarinya menyisir rambut putih Rosh yang lengket oleh darah, berulang kali mengembalikan helai-helai tipis ke tempatnya seperti kebiasaan kecil itu masih berarti.

Aku bergeser mendekat, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya lagi.

“Ishar, dengarkan aku. Kau harus ikut.”

Ia menutup tubuh Rosh dengan kedua lengan.

“Aku tidak pergi meninggalkan Kakek.”

“Kalau kau tetap di sini, mereka akan membunuhmu.”

“Pergi dari rumahku.”

Marlow berjalan menuju jendela depan dan mengintip melalui celah tirai. Jalan masih kosong, tetapi suara desa bergerak di luar: langkah kaki, teriakan jauh, roda gerobak. Cepat atau lambat seseorang akan melihat pintu belakang rusak atau mendengar perkelahian.

Aku menahan rasa sakit di rusuk ketika berlutut lebih dekat kepada Ishar.

“Mereka akan menemukan tiga tentara Dann mati di rumahmu. Tidak ada yang akan percaya kau hanya membela diri. Reiss akan mengatakan kau menyembunyikan kami. Mereka akan menyeretmu ke alun-alun sebelum tubuh kakekmu sempat dikuburkan.”

Ishar mengangkat wajah.

Matanya merah dan liar. Darah mengering pada pipi, bercampur air mata hingga membentuk garis gelap. Ada kebencian di sana, tetapi di bawahnya terdapat ketakutan yang belum sempat ia akui.

“Aku tidak peduli.”

“Kakekmu peduli.”

Tangannya menegang pada pakaian Rosh.

Aku menelan rasa bersalah sebelum melanjutkan. “Dia mengusir kami karena ingin kau tetap hidup. Kalau kau tinggal di sini dan membiarkan mereka menggantungmu, semua yang dilakukannya tidak akan berarti.”

Wajah Ishar berkerut.

“Jangan pakai dia untuk memaksaku.”

“Aku tidak sedang memaksamu melupakan dia. Aku sedang mencoba mencegah kematian berikutnya.”

Marlow menoleh dari jendela. Ketidaksabaran mulai terlihat dalam sikap tubuhnya, tetapi ia tidak menyela. Ia tahu bila mencoba menyeret Ishar sekarang, gadis itu akan melawan sampai kami harus membawanya dalam keadaan terikat.

Aku menurunkan suara.

“Tidak ada waktu untuk menguburkannya. Tidak ada waktu untuk berdoa. Aku tahu itu kejam, tetapi tentara akan segera datang dan mereka tidak akan memberimu kesempatan melakukan keduanya.”

Ishar memandang tubuh Rosh.

Tangannya bergerak ke wajah kakeknya, menutup mata yang sudah tertutup, lalu merapikan kerah pakaiannya yang berlumuran darah. Gerakannya lambat dan sangat hati-hati, seolah pria tua itu hanya tertidur dan dapat terbangun bila disentuh terlalu kasar.

“Aku membencimu,” katanya tanpa menatapku.

Aku menerima kalimat itu tanpa mencoba membela diri.

“Aku tahu.”

“Jangan katakan kau tahu.”

Suaranya menegang, tetapi tidak berubah menjadi pertengkaran. Ia menundukkan wajah sampai dahinya menyentuh dada Rosh.

“Aku membencimu karena datang ke sini. Aku membencimu karena berbohong. Aku membencimu karena mereka mengikuti jejakmu ke rumah kami.”

Setiap kata memotong tanpa memberi ruang untuk balasan. Aku membiarkannya keluar.

Marlow meninggalkan jendela.

“Kita pergi sekarang.”

Ia meraih tasku yang tadi dibawanya kembali dan melemparkannya dekat kakiku. Tatapannya berhenti pada Ishar.

“Dia tidak ikut.”

Aku berdiri perlahan. “Dia ikut.”

“Kita menuju Dark Mountain, bukan mengantar pengungsi melintasi desa berikutnya. Dia tidak terlatih, tidak membawa persediaan, dan baru saja kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya.”

“Dan itu alasanmu meninggalkannya di antara tiga mayat tentara?”

“Itu alasan kenapa kau seharusnya tidak kembali.”

Nada Marlow tetap rendah, tetapi kemarahan yang ia tahan terasa jelas. Ia menatapku seperti sedang melihat akibat dari satu keputusan buruk bertumpuk di atas keputusan berikutnya.

Aku tidak mundur.

“Kau boleh menyalahkanku nanti. Sekarang dia ikut.”

Marlow memandang Ishar yang masih memeluk Rosh. Rahangnya mengeras. Aku tahu ia ingin menolak lebih tegas, mungkin menyeretku keluar dan membiarkan gadis itu menentukan nasib sendiri. Namun suara tapak kuda mulai terdengar samar dari arah jalan utama.

Waktu kami habis.

Aku berlutut lagi di sisi Ishar.

“Kita harus bergerak sebelum mereka menutup jalan keluar desa.”

Ishar tidak menjawab.

Aku mengambil mantel Rosh yang tergantung dekat perapian. Kainnya tua, berwarna cokelat gelap, dan berbau asap kayu. Aku meletakkannya dekat Ishar tanpa menyentuh tubuhnya.

“Tutupi gaunmu. Darah itu akan terlihat dari jauh.”

Ia menatap mantel tersebut. Untuk beberapa detik, kupikir ia akan melemparkannya ke wajahku. Namun suara kuda semakin jelas. Teriakan seorang lelaki terdengar dari jalan, lalu disusul seseorang memanggil nama keluarga Danmer.

Ishar tersentak.

Marlow bergerak ke pintu belakang.

“Mereka datang.”

Kata-kata itu akhirnya menembus kesedihan Ishar. Ia memandang Rosh untuk terakhir kali, lalu membungkuk dan mencium keningnya. Bibirnya menempel cukup lama pada kulit yang sudah tidak membalas kehangatan.

Ketika bangkit, kedua kakinya hampir runtuh.

Aku menangkap lengannya secara refleks.

Tubuhnya menegang dan ia menepis tanganku lagi, tetapi kali ini tidak menyuruhku pergi. Ia meraih mantel Rosh dan membungkuskannya pada bahu, menutup kain gaun yang robek dan sebagian besar noda darah.

Marlow melihatnya dengan tatapan keras.

“Aku tidak menyetujui ini.”

“Tidak ada yang memintamu menyukainya,” kataku.

Ia menatapku satu detik lebih lama, lalu membuka pintu belakang.

Udara dingin masuk ke dalam rumah yang berbau darah.

Ishar berhenti di ambang ruang utama. Matanya kembali kepada tubuh Rosh. Aku melihat seluruh tubuhnya condong sedikit, seolah sesuatu masih menariknya untuk berlari kembali dan menolak meninggalkan kakeknya sendirian.

Suara pukulan terdengar dari pintu depan.

“Rosh Danmer! Buka atas nama Raja Dann!”

Ishar menutup mata.

Pukulan kedua mengguncang daun pintu.

Marlow keluar lebih dahulu dan memeriksa kebun. Aku berdiri di samping Ishar, tidak menyentuhnya. Setelah beberapa detik, ia melangkah melewati ambang pintu belakang dengan tangannya sendiri.

Aku mengikutinya.

Saat kami mencapai pagar kebun, suara pintu depan rumah Danmer dihantam sampai kayunya retak. Ishar menoleh sekali. Wajahnya kehilangan seluruh warna, tetapi kakinya tetap bergerak.

Marlow memimpin kami menuju sungai dengan kecepatan yang hampir terlalu tinggi bagi Ishar. Ia tidak menunggu, tidak menawarkan bantuan, dan tidak menyembunyikan ketidaksetujuannya. Namun ia juga tidak lagi menyuruh gadis itu kembali.

Aku berjalan beberapa langkah di belakang Ishar.

Darah kakeknya masih menodai kedua tangannya. Mantel tua Rosh berkibar di sekitar tubuhnya. Ia tidak menangis lagi. Keheningan yang menggantikan tangis itu terasa jauh lebih mengkhawatirkan.

Di belakang kami, teriakan para tentara pecah dari rumah Danmer.

Kami bertiga mulai berlari meninggalkan Arlenville.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!