NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 – Petualang Peringkat D

Kereta berhenti total. Bunyi decit rem kayu yang beradu dengan roda besi bergema panjang, diikuti suara derap kuda yang tiba-tiba terhenti. Dua ekor kuda berwarna cokelat kemerahan itu kini meringkik gelisah, kaki depan mereka menghentak tanah berpasir, mata bulat mereka menatap tajam ke arah tiga sosok yang tiba-tiba muncul dari balik semak belukar dan memblokir jalan tanah yang berkelok itu. Cabang-cabang pohon ek tua di sekitar mereka bergoyang pelan tertiup angin sore, membawa bau tanah lembap dan aroma daun kering yang mulai membusuk.

Haruto menekan jendela kereta yang terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang hingga rasanya mau melompat keluar dari kerongkongan. Ia menelan ludah dengan susah payah, kerongkongannya terasa kering seketika.

"Bandit..." bisiknya, suaranya hampir tenggelam oleh suara angin. "Benar-benar ada bandit di sini. Padahal katanya jalan menuju Kota Lumin sudah diamankan."

Ia melirik ke arah pria paruh baya yang sejak tadi mengantarnya. Daichi, begitu namanya disebutkan saat mereka berangkat dari desa pagi tadi. Pria itu mengenakan mantel cokelat lusuh yang penuh tambalan di bagian siku dan bahu, rambutnya memutih di pelipis, dan wajahnya penuh garis-garis halus yang terbentuk oleh matahari dan angin sepanjang bertahun-tahun. Anehnya, tangan Daichi yang memegang kendali kuda tidak bergetar sedikit pun. Matanya yang berwarna cokelat tua menatap tenang ke arah tiga orang yang memblokir jalan itu, tidak ada jejak ketakutan di wajahnya—hanya kelelahan yang dalam, seolah-olah ia baru saja melihat hal yang sama berulang kali setiap minggu.

Pemimpin kelompok itu melangkah maju. Ia mengenakan kain perca yang melilit menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata yang tajam dan jahat. Di tangannya tergenggam pedang panjang yang berkarat di ujungnya, namun tetap terlihat cukup tajam untuk melukai. Ia mengangkat pedang itu tinggi-tinggi lalu mengayunkannya ke arah kereta dengan senyum sinis yang mengerikan.

"Turun!" suaranya kasar dan penuh ancaman, bergema di antara pepohonan. "Serahkan semua barang berharga, uang, perhiasan, apa saja yang kalian punya. Kami sedang tidak ingin membunuh siapa pun... kalau kalian menurut dengan tenang."

Dua orang di belakangnya ikut tertawa, suara tawa mereka terdengar kasar dan menakutkan. Salah satu dari mereka memukul-mukul batang pohon di dekatnya dengan tongkat kayu besar, sementara yang lain memutar-mutar belati kecil di jari tangannya dengan gerakan yang tidak tergesa-gesa.

Haruto menatap Daichi dengan mata terbelalak. "Pak... Anda tidak takut? Mereka ada tiga, dan semuanya bersenjata lengkap!"

Daichi menghela napas panjang, lalu melepaskan kendali kuda yang kini sudah mulai tenang karena sentuhan tangannya yang lembut namun tegas. Ia menyandarkan punggungnya di tiang kereta, lalu menatap ketiga bandit itu dengan tatapan datar.

"Dasar..." gumamnya pelan, nadanya lebih mirip keluhan daripada ketakutan. "Kenapa setiap minggu selalu ada saja yang menutup jalan ini? Apakah penjaga kota sudah lupa memperbaiki pos pengawalan di perbatasan hutan ini?"

Ia kemudian menoleh ke arah Haruto, senyum tipis muncul di sudut bibirnya saat melihat wajah pemuda itu yang pucat pasi.

"Takut? Sudah bertahun-tahun aku tidak merasa takut menghadapi orang-orang seperti ini, Nak. Aku memang kusir sekarang, menghabiskan hari-hariku dengan memegang kendali kuda daripada memegang pedang. Tapi sebelum aku memakai seragam kusir ini..."

Perlahan ia membuka mantel cokelat lusuhnya, menyingkap kain itu ke samping. Di balik kemeja katun putih yang sudah kusut dan celana kulit yang usang, tergantung sebuah lencana logam berwarna perunggu yang digantung di leher dengan tali kulit. Permukaannya tidak mengkilap, penuh goresan dan noda hitam bekas terbakar, namun bentuk lambang perisai yang dihiasi pedang bersilang di tengahnya masih terlihat jelas—lencana resmi yang hanya diberikan kepada petualang terdaftar di Persekutuan Petualang Kerajaan.

Sebelum Haruto sempat bertanya atau melihat lencana itu lebih lama, Daichi sudah melompat turun dari kereta dengan gerakan ringan yang tidak cocok dengan tubuhnya yang tampak kaku dan tua. Ia mendarat di tanah tanpa menimbulkan suara apa pun, seolah-olah kakinya sama sekali tidak membebani bumi.

"Kalian bertiga," serunya, suaranya tenang namun penuh wibawa, membuat ketiga bandit itu berhenti tertawa seketika. "Aku sedang membawa penumpang yang ingin segera sampai di Kota Lumin. Jangan membuat masalah yang tidak perlu, dan pergi dari sini sebelum hal buruk terjadi pada kalian."

Pemimpin bandit itu tertegun sejenak, lalu ia mendongak dan tertawa keras sekali hingga air mata menetes di sudut matanya. Teman-temannya di belakangnya ikut tertawa terbahak-bahak, menunjuk-nunjuk ke arah Daichi seolah-olah baru saja mendengar lelucon paling lucu sedunia.

"Hahaha! Lihat teman-teman!" teriak pemimpin itu di sela tawa. "Pak tua ini mengancam kita! Apakah dia pikir dia masih jaya seperti dua puluh tahun yang lalu?"

Daichi tidak menjawab. Ia hanya mengangkat lencana perunggu itu sedikit lebih tinggi, membiarkan sinar matahari sore menyinari permukaannya yang penuh goresan.

"Namaku Daichi," ujarnya perlahan. "Dulu aku petualang, dan meskipun sekarang lebih sering duduk di kursi kusir daripada tidur di tenda di tengah hutan... aku masih petualang resmi yang terdaftar di Guild. Peringkat D."

Mata Haruto berbinar seketika. Ia mencondongkan tubuhnya keluar dari jendela kereta, melupakan rasa takutnya sesaat. "Petualang sungguhan! Seperti yang ada di buku cerita!"

Pemimpin bandit itu berhenti tertawa tiba-tiba. Ia meludah ke tanah, air liurnya jatuh tepat di atas akar pohon yang menonjol keluar. Wajahnya berubah menjadi gelap dan penuh penghinaan.

"Peringkat D?" katanya dingin. "Itu bukan apa-apa! Hanya pemula yang belum pernah melihat darah atau bahaya sama sekali! Kalau begitu lencana itu hanya sampah di tangan orang tua sepertimu! Habisi dia!"

Ketiga bandit itu langsung berlari maju bersamaan. Pemimpinnya menyerang dari depan dengan pedang terangkat tinggi, sementara dua temannya bergerak menyamping untuk memotong jalan pelarian Daichi.

Daichi menghela napas lagi, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan anak nakal yang mencuri buah di kebun daripada tiga orang yang ingin mencelakainya. "Kalian terlalu gegabah. Tidak ada rencana, tidak ada koordinasi, hanya mengandalkan kekuatan fisik semata."

Dalam sekejap, tangannya bergerak ke pinggang. Sret! Sebuah pedang pendek dengan sarung kayu polos tercabut dari tempatnya. Bilahnya tidak panjang, hanya seukuran lengan orang dewasa, namun warnanya perak bersih dan tajam tanpa satu pun goresan karat.

Clang! Suara benturan logam yang tajam terdengar saat Daichi menepis serangan pedang pemimpin bandit itu dengan gerakan yang begitu ringan, seolah-olah ia hanya mengibaskan debu dari bajunya. Kekuatan serangan bandit itu terbuang sia-sia, tubuhnya terhuyung ke samping karena momentumnya sendiri.

Sebelum orang itu sempat menyeimbangkan tubuhnya, Daichi sudah melangkah maju. Siku kirinya menghantam perut bandit kedua yang baru saja mendekat. Brak! Bunyi benturan yang pekat terdengar, dan tubuh orang itu terlempar mundur hingga menabrak batang pohon besar sebelum jatuh ke tanah tanpa bergerak lagi.

Bandit ketiga yang masih berdiri melotot kaget, namun ia tetap nekat. Ia mengangkat belatinya dan berusaha menusuk punggung Daichi dari jarak dekat. Haruto berteriak kaget, "Hati-hati Pak!"

Daichi tidak perlu menoleh. Ia hanya memutar tubuhnya sedikit, menghindari tusukan itu dengan satu sentimeter saja, lalu mengayunkan gagang pedangnya ke belakang. Duk! Gagang kayu yang keras itu menghantam tepat di dagu bandit tersebut. Matanya memutar ke atas, tubuhnya lemas seketika, dan ia jatuh terjerembap ke tanah dengan wajah menabrak rumput kering.

Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, dua orang bandit sudah roboh tak sadarkan diri. Haruto membuka mulutnya lebar-lebar, matanya tidak berkedip sedikit pun. Ia bahkan tidak sempat melihat gerakan Daichi dengan jelas.

"Cepat sekali..." bisiknya dengan takjub. "Itu bukan sekadar cepat... itu seolah-olah Pak Daichi sudah tahu apa yang akan mereka lakukan sebelum mereka sendiri melakukannya."

Daichi membersihkan debu halus yang menempel di bilah pedangnya sebelum menyimpannya kembali ke sarungnya. Ia menoleh ke arah kereta dan tersenyum tipis melihat ekspresi Haruto yang ternganga.

"Banyak orang salah paham soal peringkat di Guild, Nak," ujarnya pelan. "Menjadi petualang peringkat D bukan berarti lemah, atau tidak berharga. Peringkat itu hanya menunjukkan seberapa banyak pengalaman yang sudah kau kumpulkan, seberapa jauh kau sudah melangkah di dunia ini, dan seberapa besar kontribusi yang sudah kau berikan untuk orang lain. Aku dulu juga pernah di posisi ini, baru mendaftar, tidak tahu apa-apa, dan berharap bisa mengalahkan setiap musuh dengan satu pukulan saja."

Pemimpin bandit yang masih berdiri kini menggeram marah. Ia bangkit kembali, wajahnya merah padam karena malu dan amarah. Ia mundur beberapa langkah, lalu mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Cahaya ungu samar mulai memancar dari telapak tangannya, dan udara di sekitarnya berubah menjadi hangat.

"Kurang ajar!" teriaknya. "Kalian meremehkan kekuatan sihir! Aku akan membakar kalian berdua sampai menjadi abu!"

Lingkaran sihir kecil berukuran telapak tangan muncul di udara di depan telapak tangannya, garis-garisnya berputar cepat. Sebuah bola api berwarna merah menyala terbentuk di tengah lingkaran itu, memancarkan panas yang terasa hingga ke tempat Haruto berdiri.

"Bola Api!" teriak penyihir bandit itu.

Bola api melesat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak asap hitam di udara, langsung menuju ke arah Daichi. Haruto membelalakkan matanya sekuat tenaga, kakinya lemas seketika.

"Sihir! Dia bisa menggunakan sihir!" teriaknya panik.

Daichi tidak berteriak, tidak berlari mundur, dan tidak mencoba menangkis serangan itu dengan pedangnya. Ia hanya menggeser kakinya ke kiri dengan satu langkah kecil dan tenang. Bola api itu melesat melewati bahunya dengan jarak yang sangat dekat, lalu menghantam batu besar setinggi orang dewasa di belakangnya.

Boom! Bunyi ledakan yang keras mengguncang tanah. Batu itu pecah berkeping-keping, serpihannya terlempar ke segala arah, dan lubang hitam hangus kini terlihat di tempat benturan itu. Asap hitam dan debu mengepul tinggi, menutupi pandangan sejenak.

Daichi melirik lubang hangus itu sekilas, lalu menoleh kembali ke arah penyihir bandit itu dengan wajah datar. "Jadi ada penyihir di antara kalian. Sayang sekali, kemampuan mengendalikan apimu lumayan... tapi waktunya merapal mantramu terlalu lama."

Penyihir bandit itu tertawa gugup, berusaha menyembunyikan rasa takutnya. "Takut sekarang? Kalau kau tidak mau menyerah, aku akan meluncurkan sepuluh bola api sekaligus dan menghancurkanmu!"

"Tidak," jawab Daichi tenang. "Aku tidak takut. Aku hanya sedikit kecewa. Kau memiliki bakat sihir, tapi kau membuangnya untuk hal yang salah. Dan yang lebih parah lagi... mantra sekelas itu terlalu lambat untuk digunakan dalam pertarungan sungguhan."

Wajah penyihir bandit itu berubah menjadi merah padam karena marah. Ia kembali mengangkat tangannya, mulutnya bergerak cepat merapal mantra yang lebih panjang. Cahaya ungu di telapak tangannya semakin terang, lingkaran sihir yang lebih besar mulai terbentuk. Namun sebelum ia sempat menyelesaikan satu kata pun...

Wussh!

Hanya terdengar suara angin yang bergerak cepat. Daichi sudah tidak ada di tempatnya berdiri sedetik yang lalu. Ia tiba-tiba sudah berada tepat di depan penyihir bandit itu, jaraknya hanya tinggal satu jengkal.

"Apa?!" seru penyihir itu kaget, matanya melotot tidak percaya. Ia bahkan tidak sempat menghentikan gerakan tangannya.

Daichi tidak memukulnya dengan pedang. Ia hanya mengepalkan tangan kanannya dan menghantam perut orang itu dengan tenaga yang cukup pas. Duk!

Penyihir bandit itu memuntahkan udara dari paru-parunya seolah ada sesuatu yang menarik seluruh napasnya keluar. Matanya terpejam rapat, tubuhnya melengkung ke depan seperti udang rebus, lalu perlahan ambruk ke tanah dan tidak bergerak lagi. Sihir yang sedang ia bentuk di tangannya lenyap seketika, seolah tidak pernah ada.

Keheningan kembali menyelimuti hutan itu. Hanya suara napas kuda dan gemerisik daun yang terdengar. Haruto masih berdiri terpaku di tempatnya, mulutnya sedikit terbuka, dan ia bahkan lupa untuk berkedip.

"Luar biasa..." bisiknya pelan. "Benar-benar luar biasa. Pak Daichi bahkan tidak menggunakan kekuatan penuhnya."

Daichi menepuk-nepuk debu di lengan bajunya, lalu berjalan perlahan menuju kereta. Ia mengambil tali tebal yang biasanya digunakan untuk mengikat kotak barang di bagian belakang gerobak.

"Itu pelajaran pertamamu kalau kau benar-benar ingin menjadi petualang suatu hari nanti, Nak," katanya sambil mulai mengikat pergelangan tangan pemimpin bandit yang pingsan itu. "Jangan hanya mengandalkan satu hal saja, entah itu pedang, sihir, atau senjata apa pun. Kalau kau hanya mengandalkan sihir tapi tidak tahu cara bergerak dan menghindar, kau tidak akan sempat merapal satu kata pun sebelum musuh berada di depanmu. Dan sebaliknya, kalau kau hanya mengandalkan kekuatan fisik tapi tidak tahu cara membaca gerakan musuh, kau akan kalah bahkan sebelum pertarungan dimulai."

Haruto mengangguk cepat sekali, matanya bersinar penuh semangat. Ia melompat turun dari kereta dengan hati-hati, lalu bergegas membantu Daichi mengangkat tubuh bandit yang berat itu ke bagian belakang kereta. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengingat setiap kata yang baru saja diucapkan pria itu, menyimpannya rapat di dalam hatinya.

Saat mereka sedang berusaha mengangkat kaki bandit terakhir, terdengar suara kecil yang sangat samar dari dalam tas kain yang digendong Haruto di punggungnya.

"Pyoo..."

Suara itu terdengar lembut, sedikit bergetar, dan sangat menggemaskan. Tali tas yang tadinya diikat rapat kini sedikit terbuka, dan sepasang mata bulat berwarna kuning cerah mengintip keluar dari celah itu. Pochi, makhluk misterius yang ditemukan Haruto di reruntuhan kuil tua, sepertinya sudah terbangun dan penasaran dengan apa yang terjadi di luar.

Wajah Haruto langsung berubah menjadi pucat karena panik. Ia buru-buru berlutut dan menekan celah tas itu dengan tangannya, lalu berbisik pelan seolah takut didengar orang lain.

"Ssst! Diamlah Pochi! Belum waktunya kau keluar. Nanti orang lain melihatmu, dan aku belum tahu apa yang harus kukatakan soal dirimu."

Pochi mengeluarkan suara pelan "Pyuu" seolah merasa kecewa, lalu kembali masuk ke dalam tas dan tidak bergerak lagi.

Daichi sempat menoleh ke arahnya sekilas, alisnya sedikit terangkat. "Hm? Ada apa di dalam tasmu itu, Nak? Terdengar seperti suara hewan kecil."

Haruto tersenyum gugup, tangannya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bukan apa-apa Pak! Hanya... eh... batu ajaib yang aku temukan di jalan. Kadang berbunyi sendiri kalau ada sihir di sekitarnya." Ia berharap alasannya terdengar masuk akal.

Daichi menatapnya sejenak, lalu tersenyum tipis dan tidak bertanya lebih jauh lagi. Ia tahu betul bagaimana rasanya memiliki rahasia yang belum siap dibagikan kepada orang lain. "Baiklah kalau begitu. Cepat selesaikan ini, nanti matahari terbenam sebelum kita sampai di gerbang kota. Nanti kita serahkan mereka bertiga kepada penjaga Kota Lumin. Mereka pasti akan sangat senang mendapatkan kelompok bandit yang sudah lama mereka cari ini tanpa harus bersusah payah mengejar ke hutan."

Setelah semua bandit terikat rapi dan diletakkan di bagian belakang kereta, Haruto kembali naik ke kursi sebelah Daichi. Udara sore semakin sejuk, dan bayangan pohon semakin memanjang di jalan tanah itu. Kereta kembali bergerak pelan, roda besinya berputar melewati bebatuan dan akar pohon yang melintang.

Haruto menarik napas panjang, lalu memberanikan diri bertanya. "Pak Daichi... kalau boleh tahu, di atas peringkat D masih ada apa saja? Dan apa bedanya masing-masing?"

Daichi memegang kendali kuda dengan santai, matanya menatap lurus ke depan ke arah jalan yang terbentang di depan mereka.

"Urutannya dari yang terendah sampai tertinggi adalah D, C, B, A, dan yang tertinggi adalah peringkat S," jelasnya perlahan. "Semakin tinggi peringkatmu, semakin berat dan berbahaya misi yang bisa kau terima. Petualang peringkat D biasanya hanya mengerjakan hal-hal sederhana seperti mengantar barang, membersihkan hutan dari hewan liar yang mengganggu, atau membantu warga desa. Kalau sudah naik ke peringkat C, kau mungkin akan dikirim menjelajah ke gua yang belum dipetakan atau memburu monster yang lebih kuat. Peringkat B berarti kau sudah cukup terampil untuk memimpin kelompok sendiri, dan misimu mungkin berkaitan dengan harta karun kuno atau melindungi pejabat penting. Petualang peringkat A sangat sedikit jumlahnya, mereka biasanya menangani ancaman yang membahayakan satu wilayah atau bahkan satu kerajaan. Dan peringkat S? Itu adalah legenda. Hanya ada segelintir orang di seluruh benua yang memegang peringkat itu, dan setiap kali mereka bergerak, dunia akan memperhatikannya."

Haruto mengepalkan tangannya di atas lututnya, matanya menatap jauh ke depan seolah-olah ia sudah bisa melihat gedung tinggi Guild Petualang di Kota Lumin. Dadanya terasa penuh dengan harapan dan semangat yang baru ditemukannya.

"Dengan kata lain..." katanya pelan namun mantap. "Kalau aku mendaftar di Guild nanti... aku juga bisa memulai dari bawah, belajar pelan-pelan, dan suatu hari nanti menjadi petualang yang hebat?"

"Tentu saja," jawab Daichi tegas. "Semua orang yang kau kagumi, semua legenda yang kau dengar... mereka semua memulainya dari bawah persis seperti dirimu. Tidak ada yang lahir langsung menjadi petualang hebat. Semuanya butuh waktu, usaha, keberanian, dan kemauan untuk belajar dari kesalahan."

Haruto tersenyum lebar, senyum yang paling tulus dan bahagia yang pernah ia miliki sejak ia meninggalkan desanya. Tujuannya yang tadinya samar-samar kini berdiri tegak dan jelas di hadapannya.

Pertama, masuk ke dalam Guild Petualang Kota Lumin dan mendaftar secara resmi. Kedua, mencari cara untuk mengetahui jenis dan kekuatan sihir yang tersembunyi di dalam dirinya—sihir yang entah kenapa selalu terasa panas dan berdenyut setiap kali ia melihat Pochi. Ketiga, mencari tahu asal-usul dan identitas asli Pochi, makhluk aneh yang entah bagaimana nasibnya terikat dengan dirinya. Dan yang terakhir... suatu hari nanti, ia akan melangkah sejauh mungkin, hingga menjadi petualang terkuat di dunia sihir yang luas ini. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak desa yang tidak tahu apa-apa.

Namun, tanpa disadari oleh Haruto maupun Daichi, sepasang mata yang dingin dan tajam sedang mengawasi mereka dari balik rimbunnya dedaunan pohon ek tua di lereng bukit yang menghadap ke jalan itu.

Sosok itu mengenakan jubah hitam panjang yang menutupi seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya pun tersembunyi di balik tudung jubah yang lebar. Tidak ada satu pun bagian kulitnya yang terlihat. Sosok itu berdiri diam tanpa bergerak sedikit pun, seolah-olah ia adalah bagian dari bayangan pohon itu sendiri.

Matanya tidak tertuju pada Daichi yang baru saja mengalahkan tiga orang bandit dengan mudah. Tidak juga pada kereta atau barang-barang di dalamnya. Pandangannya tertuju sepenuhnya pada tas kain lusuh di punggung Haruto, tepat di saat Pochi kembali mengintip sebentar dari celah tas itu sebelum menghilang lagi.

Sosok berjubah hitam itu mengangguk pelan, senyum tipis yang penuh makna tersungging di bibirnya yang tersembunyi di balik tudung.

"Menarik sekali..." bisiknya, suaranya berat dan bergema pelan seolah datang dari dalam tanah. "Itu sama sekali bukan slime biasa. Makhluk kuno yang sudah dianggap punah ratusan tahun lalu ternyata masih ada... dan berada di tangan anak muda yang belum tahu apa-apa."

Ia menatap kereta yang perlahan menjauh dan menghilang di tikungan jalan, lalu perlahan berbalik. Tubuhnya perlahan menyatu dengan bayangan pepohonan, seolah-olah ia terserap ke dalam kegelapan itu sendiri. Sesaat kemudian, tempatnya berdiri sudah kosong melompong, seolah-olah tidak pernah ada siapa pun di sana. Hanya angin sore yang tetap berhembus pelan, membawa rahasia besar yang baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!