Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Atau Rumah...
"Dari mana kamu Varren baru pulang jam segini???" tanya Shena pada Varren yang baru pulang ke mansion.
Varren tersenyum lebar melihat ibunya yang mendatanginya yang hendak naik tangga. "Wah sudah bisa bangun rupanya mama?" tanya Varren terkekeh pelan menatap ibunya mengejek.
"Siapa yang mengajarkan kamu bersikap buruk terhadap orang tuanya?" tanya Shena pada Varren dingin. Shena mendekati Varren yang baru saja hendak menaiki lift.
Varren menatap Shena dengan heran. "Mama masih nanya Varren belajar dari mana? Mama lupa apa? Mama juga pernah kan racunin Varren gara-gara Varren rangking dua?" tanya Varren dengan kesal kepada Shena.
"Itu untuk pelajaran buat kamu supaya kamu tidak melakukan kesalahan lagi..!!!" tegas Shena pada Varren.
"ITU JUGA PERINGATAN DAN PELAJARAN BUAT MAMA SUPAYA NGGAK NGELAKUIN KESALAHAN LAGI..!" teriak Varren lebih keras.
"Wah sudah berani kamu membesarkan suara yah Varren?" Shena mengangguk kaget mendengar teriakan Varren yang sontak menggetarkan amarahnya.
"Dulu mama ngajarin Varren sambil teriak? Sekarang salah Varren atau salah mama??" tanya Varren dengan remeh.
Shena mendekati Varren dan menampar kuat wajah Varren. Varren belum sempat bergerak tapi Shena sudah menampar lagi wajah Varren bagian lain. Varren merasa kebas bagian pipi kanan dan kirinya usai ditampar, hanya menatap lantai hampa. Padahal yang ia katakan adalah kebenarannya!
"Melawan lagi kamu?" tanya Shena dengan napas naik turun.
Varren mendongak menatap Shena dengan tatapan tajam dan tak suka. Ingin rasanya tangan Varren melayangkan pukulan ke kepala ibunya, tapi dirinya sebagai seorang anak diajarkan untuk tidak memukul atau menyakiti orang tuanya.
Shena menunjuk wajah Varren dengan telunjuknya penuh peringatan. "Sekali lagi kamu melakukan hal itu kepada saya, saya pecat Ivana, saya usir kalian semua menjadi gelandangan." tekan Shena kepada Varren tegas.
"Pecat saja. Anda pikir kami tidak mampu hidup layak tanpa anda?" tanya Varren pada Shena tegas.
"VARREN.. APA YANG KAMU KATAKAN?!!" teriakan Ivana membuat Varren memejamkan mata, melirik Ivana yang datang. Ivana hendak meraih tangan Varren yang terluka, tapi Shena sudah lebih dulu melangkah.
"BERANI KAMU SENTUH DIA!" bentak Shena pada Ivana. "KALIAN BERDUA CUMA PEMBANTU RENDAHAN! JANGAN BERPIKIR KALIAN BISA BERPERAN SEBAGAI IBUNYA!"
Ivana mundur ketakutan, menunduk. Fina yang datang dari belakang juga ikut menunduk, tidak berani melawan.
"Varren," Shena menatap putranya dengan tatapan tajam. "Hanya mama yang mencintai kamu. Hanya mama yang peduli. Orang-orang rendahan itu tidak akan pernah bisa mencintai kamu seperti mama."
Varren menatap ibunya dan terkekeh sinis. "Mencintai? Heh..." Ia menggelengkan kepala perlahan. "Mama pukul saya, mama racunin saya, mama bakar tangan saya... itu yang mama sebut cinta?"
"MAMA MELAKUKAN SEMUA ITU KARENA MAMA SAYANG SAMA KAMU!" teriak Shena.
Varren tertawa pahit. "Sayang? Mama tidak pernah sayang sama Varren. Mama cuma sayang sama citra. Sama nama besar Kaelor. Sama obsesi mama punya anak laki-laki." Ia menatap ibunya dengan tatapan hampa. "Varren cuma boneka buat mama."
Shena mengepalkan tangannya. "KURANG AJAR—"
"Fine." Varren memotong. "Kalo mama mau di sini, yah nggak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri." ujarnya terkekeh.
"Dan kamu tidak akan pernah tau kematian mereka kapan datang." jelas Shena kepada Varren, menunjuk ke arah Ivana dan Fina.
"Varren... tolong paham sama ibu sayang.." ujar Ivana menatap putranya nanar. "Jangan membuat keputusan yang salah seperti ini, Ren."
Varren menatap Ivana dengan tatapan sendu dan lirih. Ia tahu Ivana tidak bisa pergi. Semua pembantu di mansion ini terikat kontrak. Jika mereka pergi sebelum kontrak habis, Shena akan memastikan mereka tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan lagi di kota ini. Atau lebih buruk—mereka akan menghilang seperti beberapa pembantu sebelumnya. Ivana dan Fina tahu itu. Itu sebabnya mereka bertahan. Bukan karena cinta pada Shena, tapi karena takut.
Sejenak Varren menatap Ivana dengan tatapan terluka.
Varren menatap ke atas dan berdehem melangkah menjauh. Meninggalkan keduanya sembari memegang pipinya. Ivana menatap Varren menjauh. "Ren.. tolong maafin ibu." ujar Ivana nanar.
Shena melihat perdebatan keduanya tersenyum miring. Melirik Ivana yang hendak mengejar Varren tapi langkah Varren begitu cepat sampai tidak bisa ia kejar kembali. Ivana mengusap kepalanya kasar dan menampar wajahnya sendiri tanpa Varren ketahui.
Sedangkan Varren sendiri menutup pintu kamarnya kuat, membuang semua barang di atas meja kasar, membanting lampu tidur dan memecahkan cermin dengan pukulan telak. Varren bisa merasakan tangannya dialiri darah tapi dia memilih menduduki diri di lantai dan menghela napas.
Varren memejamkan mata dengan nanar. Tidak, dirinya tidak boleh menangis, tapi air mata itu tetap jatuh.
Ivana... Ivana ibunya, perempuan itu terjebak di sini. Tidak ada pilihan. Kontrak. Ancaman. Semua pembantu di mansion ini tidak bisa pergi begitu saja. Varren tidak bisa keluar jika Ivana dan Fina tidak bisa ikut dengannya. Apa ia harus mati dulu baru mereka bisa bebas?
Tringtang....
Varren menatap HP-nya yang ada menelpon, menatap siapa yang menelponnya.
Alvino. Varren mengangkatnya dan berdehem pelan. "Varren.. loe dimana??? Tugas misi kedua loe udah ada ini. Ke markas sekarang." ujarnya kepada Varren tegas.
Varren berdehem dan mematikan HP-nya, segera bangkit dan keluar kamarnya keras. Di depan kamar ia bertemu dengan Ivana yang menangis menatap Varren nanar. Bahkan melihat luka di tangan Varren yang darahnya menetes semakin membuatnya takut dan bergetar.
"Varren. Kamu kenapa? Tangan kamu kenapa?" tanya Ivana bergetar hendak menyentuh tangan Varren yang terluka.
Varren mendorongnya pelan membuat Ivana terjatuh. "Ibu perhatikan saja majikan ibu..!! jangan pedulikan apapun tentang Varren..!" tegas Varren kepada Ivana.
Memalingkan wajah dan segera menjauh. Ivana segera merangkak berdiri. "VARREN KAMU TERLUKA NAK..!"
Teriak Ivana. Varren sama sekali tidak mendengar, menuruni tangga dengan cepat.
Ivana menangis memukul dadanya kuat. Pelan Fina memeluk Ivana erat. "Fina, Varren terluka." ujarnya nanar. "Ini semua aku lakukan yang terbaik untuk Varren, ini terbaik buat dia.." ujarnya lirih kepada Fina.
Fina mengangguk memeluk Ivana erat. Menyalurkan rasa ketenangan. "Varren cuma lagi emosi aja kok mbak." gumam Fina. Ivana menangis lirih di pelukan Fina.
Sebagai ibu, ia tidak tega melihat Varren diperlakukan buruk, tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ia tahu siapa Shena, dan jika Varren nekat untuk keluar dan pergi maka Shena tidak akan membiarkan Varren hidup. Varren satu-satunya kebanggaan Shena.
Varren mengusap pelan pipinya dan mengambil asal pembersih luka dan menyiramnya di luka tangan kanannya, menaburkan obat luka dan mengikat kain kasa secara acak. Tangan Varren seperti tidak bisa digerakkan karena terasa perih dan juga nyeri. Varren menatap kaca yang ada di dalam mobilnya, menatap wajahnya dengan tatapan sendu. Luka sudut bibirnya dan sudut matanya membuat dirinya terlihat jauh lebih tampan.
Varren menaruh plaster di sudut pelipisnya dan memaksa diri tersenyum lebar. "I'm fine." gumamnya terkehek lalu melaju mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Varren akan melampiaskan kemarahannya melalui mobil yang ia kendarai saja.
Sampai di markas tempat mereka berkumpul. Mereka sengaja membuat markas di lantai tiga, di mana lantai satu adalah lantai penjualan mobil, lantai dua untuk para staf dan untuk lantai tiga mereka memiliki ruangan yang kedap suara bahkan tidak sembarang orang yang masuk. Varren tahu ruangan ini usai bergabung dengan Alvino. Dulu mereka berada di markas biasa tempat usang penuh coretan.
"Belum ngelakuin misi udah luka-luka aja loe bro?" tanya Hiro menatap Varren yang datang dalam keadaan buruk, bahkan baju putihnya masih terkena noda darah miliknya sendiri.
Varren mendekat dan tersenyum. "Biasa, tikus." ujar Varren terkekeh.
"Buset. Gede bet tikus itu kayaknya yah Ren sampai luka di mana-mana." ujar Hiro kepada Varren mengejek.
Varren terkekeh mengambil rokok di atas meja yang entah milik siapa, menghidupkannya dengan korek api miliknya sendiri, menghisapnya pelan dan menatap mereka dengan tanya. "Lebih gede dari punya loe sih..!" ujar Varren mengedipkan mata.
"ASU..!!" ujar Hiro yang paham ucapan Varren. Varren tertawa keras mendengarnya.
Seakan apa yang ia lewatkan tadi hanya angin lalu.
Bersambung...