"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Cinta
Ketika cinta sudah hadir di dalam hati, tak peduli seberapa lama aku mengenalnya, yang terpenting adalah aku mencintainya. (Nisa Almeira)
Selamat membaca!
Di dalam kamar, Nisa yang masih bimbang dengan pilihannya, coba menepikan sejenak segala pikiran atas tawaran yang diberikan oleh Ryan. Tawaran sebagai sekretaris di Troy Corporate.
"Aku saat ini sangat menyayangi Viona, tapi jika ditanya bagaimana perasaanku untuk Ryan, jujur aku masih sangat ragu tentang perasaanku kepada Tuan Ryan. Apa aku mencintainya atau tidak?" Nisa pun merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang, sambil memijat dahinya yang terasa pening.
Nisa mencoba untuk memejamkan kedua matanya. Melepaskan segala penat yang saat ini mulai memenuhi isi kepalanya. Namun, semakin ia coba terlelap, bayangan Ryan tetap tak mau pergi dari pikirannya. Bayangan pria itu kini semakin menari-nari di dalam benaknya, hingga membuatnya merasa tak tenang. Nisa pun kembali bangkit, lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang.
"Kenapa aku selalu memikirkan Tuan Ryan ya?" batin Nisa penuh tanya.
Beberapa kali pun Nisa coba untuk membuang semua bayangan tentang Ryan, namun tetap saja selalu berakhir dengan kegagalan, karena pria itu malah semakin bertahta di dalam pikirannya.
"Kenapa aku jadi ingin menemuinya? Apa aku memang sudah jatuh cinta padanya?" Gejolak dalam diri Nisa membuat tubuhnya tiba-tiba bergerak dengan sendirinya, menuruni ranjang. Ia kini melangkah menuju pintu kamar dan langsung membukanya dengan cepat.
Setelah pintu terbuka, Nisa keluar dari kamar untuk menuju ruang tamu, berharap Ryan masih berada di sana agar rasa rindu yang membuncah dalam hatinya dapat terobati dengan melihat wajah pria yang sudah berhasil mencuri hatinya.
"Apa yang aku lakukan? Kenapa aku ingin menemuinya lagi? Tidak, tidak, aku tidak mau membuat Tuan Ryan jadi kepedean. Lebih baik aku urungkan niatku." Nisa memutar tubuhnya untuk kembali ke kamar dengan langkah yang penuh keraguan.
Setibanya di depan pintu, ketika Nisa hendak membuka pintu, tiba-tiba suara deheman membuat gerakan tangan Nisa terhenti. Wanita berparas cantik itu pun menoleh ke belakang tubuhnya untuk melihat ke arah sumber suara.
"Tuan Ryan!" ucap Nisa dengan kedua mata yang saat ini telah membulat sempurna.
Ryan terlihat sedang bersandar di sebuah dinding yang tepat berada di seberang pintu kamar Nisa. Pria itu bersedekap dengan mengulas sebuah senyuman di wajahnya.
"Apa kamu sedang mencariku?" tanya Ryan dengan yakinnya, karena memang ia sudah melihat ketika Nisa saat kembali ke ruang tamu, seolah mencari dirinya.
Nisa pun menerbitkan sebuah senyuman di wajahnya. Manik matanya yang berwarna biru kini terlihat memancarkan binar kebahagiaan, saat melihat pria yang sejak tadi dicarinya kini sudah berada di hadapannya.
Ryan merentangkan kedua tangannya dengan lebar dan tetap terdiam pada tempatnya berdiri, pria itu seolah menyambut kedatangan Nisa untuk berlabuh dalam dekapannya.
"Kemarilah!" titah Ryan dengan senyum di wajahnya.
Wanita berparas cantik itu mulai melangkah dengan perlahan, kemudian langkahnya semakin cepat, hingga setengah berlari dan melabuhkan tubuhnya pada pelukan Ryan.
"Aku tahu ini terlalu cepat, tapi setelah aku bertemu denganmu dan juga Viona dalam beberapa hari ini. Aku semakin yakin jika rasa cinta ini sudah mulai tumbuh di dalam hatiku, hingga aku berani mengatakannya saat ini. Aku mencintaimu, Tuan," ucap Nisa sambil mendekap tubuh Ryan dengan erat.
"Aku juga mencintaimu, Nisa, sangat-sangat mencintaimu," jawab Ryan sambil mengusap surai panjang Nisa dengan lembut.
Mereka terus mencurahkan rasa cinta yang saat ini membuncah di hati keduanya. Tak ada lagi rasa malu dalam diri wanita itu, hingga dirinya terbuai dalam dekapan Ryan yang membuatnya menjadi sangat nyaman.
"Terima kasih, Nisa. Sekarang aku akan memperjuangkan hubungan kita di depan seluruh keluargaku dan aku akan menolak perjodohan itu!" batin Ryan meyakinkan dirinya atas apa yang sudah ia putuskan.
Ryan melepas pelukannya, lalu pria tampan itu menangkup kedua sisi wajah Nisa dengan saling menatap dalam.
Tak dapat terelakkan lagi, sebuah ciuman mendarat pada bibir Nisa, hingga membuat keduanya saling memagut mesra.
"Ya ampun, kenapa jantungku jadi berdebar tak beraturan seperti ini! Aku benar-benar gugup dengan ciuman ini," batin Nisa masih meladeni pagutan yang belum terselesaikan dari Ryan.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih banyak.