Lyra tak pernah menyangka akan masuk ke dalam sebuah drama pernikahan bersama seorang laki-laki bernama Wira. Impian Lyra hancur ketika statusnya berubah menjadi seorang istri. Karena suatu kejadian, Wira dan Lyra terpaksa menikah.
Lyra merasa aneh saat lelaki itu tidak pernah mengungkapkan cinta padanya, namun berkata tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 29
...Jangan lupa dukungannya dong untuk Mamas Wira dan Dek Lyra. Kasih like, juga votenya ya terimakasih. ...
Menikah itu memang asyik-asyik mengerikan. Di satu sisi, Lyra mulai menikmati statusnya sebagai istri. Di sisi lain, ia harus sadar akan posisinya. Tapi dia selalu berdoa semoga pernikahan ini selamanya, Lyra mengabaikan bagaimana masa lalu suaminya, yang penting masa depannya. Apalagi ada ibu mertua dan kakak ipar yang sama sekali tidak menganggapnya. Kalau di pikir-pikir bisa bikin semangat jadi down, tapi setiap keberadaannya di dekat Wira, lelaki itu selalu membuatnya nyaman dan tentram meski sesekali dia harus tersiksa karena kemesumannya yang akut.
Semenjak kejadian baju lingerie chiffon di robek, dan lelaki itu mengatakan akan merobek lagi jika Lyra mengenakannya, wanita itu memilih untuk tak lagi mengenakan, dari pada mubazir. Suaminya itu memang rada aneh, karena menurut Lyra di beli untuk di pakai, bukan di robek.
Hari ini, mereka pindah rumah. Sesuai permintaan Lyra. Tiba disana, Lyra begitu kagum, bukan karena kemewahan rumah itu tapi justru lokasi dan suasananya yang adem dan menyegarkan mata. Ada halaman, ada banyak tanaman juga. Nah, begini kan dia bisa mengembangkan hobinya menanam bunga. Kalau tinggal di apartemen, nggak ada halaman, tumbuhan juga nggak akan bertahan lama jika tak terkena sinar matahari langsung.
Apalagi, rumahnya juga nggak terlalu besar, hanya ada empat kamar. Cocok lah kalau mereka nantinya punya dua anak. Lyra memukul kepalanya, merasa berpikir terlalu jauh.
“Kenapa? sakit kepala?” Wira yang tengah memandang sisi dinding-dinding ruang tengah rumah itu, mendapati istrinya yang tengah bengong lalu tiba-tiba memukul kepalanya sendiri.
“Nggak Mas, kayak ada yang lewat aja gitu.” sahut Lyra.
“Kamu lihat penampakan? mahluk halus maksud kamu?”
Ya bisa saja, karena rumah ini begitu lama kosong mungkin lebih dari enam bulan Wira tak pernah kesini lagi.
“Nggak, kayak ada yang lewat tapi di dalam pikiranku.” Lyra meralat, otaknya perlu di tata kembali.
“Ini kamar kita,” Wira membuka pintu kamar utama di rumah itu yang jendelanya langsung terhubung ke taman samping rumah, Lyra langsung menghayal jika ia menanam banyak bunga disana, pasti akan menjadi pemandangan indah ketika ia membuka gorden di pagi hari.
“Iya Mas.” Lyra duduk di tepi ranjang, kamar sudah lengkap dengan perabotan serta dua buah lemari empat pintu, meja rias, juga meja kerja. Ada nakas di sisi kiri dan kanan ranjang.
“Kamu udah lama beli rumah ini?” tentu penasaran, Lyra pun bertanya.
“Setahun yang lalu. Buat investasi aja dari pada duitnya kemana-mana.” Ya, jawaban Wira memang masuk akal.
“Kalau kita punya dua anak kamar-kamarnya cukup kayaknya, tapi kalau lebih, kita harus pindah.” Eh ternyata bukan hanya Lyra yang berpikir soal anak, Wira juga?
“Dua aja cukup,” sahut Lyra.
Obrolan mereka persis layaknya pasutri normal, pasutri yang tidak menikah karena keterpaksaan. Seketika mereka saling pandang saat Lyra menjawab dengan mantap, Wira langsung menoleh ke arahnya.
“Satu cewek, satu cowok.” lanjut Wira.
Lyra hanya mengangguk saja, ada yang membuncah di dalam dadanya. Tentang status pernikahan mereka, Lyra harus memastikan sekali lagi sebelum ia terjerumus dalam terlalu jauh, sebab benih-benih sayang sudah mulai tumbuh di hati Lyra meski sikapnya masih sering bodo amat terhadap Wira.
Tapi diam-diam Lyra menginginkan setiap sentuhan lelaki itu, bukan hanya dalam artian di atas ranjang. Tapi sentuhan-sentuhan kecil misalnya sebelum berangkat kerja, mengusap kepalanya. Atau pelukan setiap malam saat mereka terlelap, hal-hal kecil seperti itu seolah menjadi candu tersendiri untuk Lyra.
“Mas.”
Suara Lyra menghentikan langkah lelaki itu yang hendak keluar kamar.
“Iya?”
Sejujurnya Wira juga bingung, pindah kesini kan atas permintaan Lyra tapi mengapa istrinya itu tidak menampilkan wajah yang ceria, riang gembira seperti yang ada dalam ekspektasinya. Lyra justru tampak kebingungan, seperti orang linglung.
“Sebenanrnya, mau di bawa kemana hubungan kita?”
Wira berkerut kening, pertanyaan Lyra yang persis seperti lagu yang pernah trend beberapa tahun lalu.
“Ke surga.” sahut Wira enteng.
“Aku belum mau mati muda, Mas.” Lyra mendengkus kesal.
“Lah yang ngajak mati siapa?”
“Tadi katanya ke surga, untuk masuk surga kan harus mati dulu.”
Mendesah pelan, Wira berlutut dihadapan Lyra.
“Gini loh, emang susah ya ngomong sama mahasiswi tingkat akhir yang sebentar lagi mau sidang.”
Lyra hanya diam, dengan membalas tatapan suaminya tanpa berkedip, tatapan maut yang sering menghanyutkan Lyra untuk ikut ke dalam permainan gulatnya, dan karena tatapan itu Lyra jarang bisa menolak kecuali untuk hal-hal mendesak, kondisi yang tidak memungkinkan seperti saat mereka sedang di rumah Ibu.
“l’ll give you my whole life,” ucap Wira yang seharusnya Lyra mengerti, berarti Wira memberikan seluruh hidupnya untuk Lyra. Apalagi yang harus dia khawatirkan?
Lyra tersenyum tersipu, kata-katanya cukup jelas. Seluruh hidup Wira akan di berikan untuknya. Tapi tunggu dulu, Lyra tidak boleh percaya begitu saja.
“All I wanna hear is, you say you love me.” Lyra menantang, menurutnya semuanya harus jelas. Jika tanpa cinta? untuk apa? paling nggak harus di ungkapkan walaupun hanya satu kali.
“Orang dewasa nggak perlu ungkapan, tapi cukup melakukan, dan memberikan semuanya yang dia bisa ke orang yang benar-benar dia sayang. Beda dengan abege yang padahal nggak ngerti sama sekali apa itu cinta tapi sering mengumbar-umbar, so... kita bukan abege yang baru kenal cinta kan?”
Mungkin bagi Wira seperti itulah seharusnya, tapi dia lupa bahwa istrinya ini masih tergolong anak labil. Yang belum pernah merasakan cinta pula kecuali untuk kedua orang tuanya, atau selama dua puluh satu tahun hidup di dunia, belum pernah mendengar seseoang mengungkapkan cinta padanya, apalagi seorang cowok. Jadi, Lyra butuh pengakuan.
Padahal ungkapan Wira sudah cukup mewakili semuanya, apalagi? dia memang benar-benar merasa bukan anak remaja lagi, dulu... bahkan Wira sering bilang I love you untuk cewek-cewek yang sudah berhasil dia curi ciuman pertamanya, saat SMA. Atau saat awal-awal kuliah, juga sering mengumbar kata cinta demi bisa kencan sama cewek paling cantik sekampus kedokteran.
Tapi sungguh Wira tak paham, tak mengerti arti kata cinta yang sebenarnya saat itu, beda dengan sekarang yang ia rasakan dengan Lyra. Apapun akan ia lakukan demi Lyra, termasuk menjauh dari segala hal yang tidak Lyra sukai. Meski Lyra sering curiga dengan perempuan yang bernama Sarah, tapi sejak beberapa hari lalu, Wira sudah tidak lagi menggunakan wanita itu sebagai asistennya. Hati Wira pun mulai tersentuh saat Lyra terus mengingatkannya untuk mendekatkan diri kepadaNya. Mengendalikan hidupnya untuk lebih baik lagi.
“Mungkin pengalaman Mas Wira soal cinta-cintaan udah banyak banget, secara Mas juga udah tua pasti pengalamannya banyak.”
Wajah Wira langsung berubah saat mendengar kata tua dari bibir Lyra, enak saja. Tua tua gini masih perkasa cukup bisa membuatnya teriak-teriak tidak karuan di malam hari. Batin Wira.
“Sementara bagi aku, kamu adalah orang pertama.”
“Pertama?”
“Ya, pertama melakukan semua-semuanya padaku. first kiss, dan... cowok pertama yang ngeliat aurat aku. cowok pertama yang melihat aku tanpa jilbab, walaupun waktu itu Mas Wira membukannya tanpa izin.” uneg-uneg Lyra terungkap, dia mengatakan apa adanya.
“Ya bagus dong, aku kan suami kamu. cowok pertama dan terakhir yang melakukan itu ke kamu. Apa salahnya?”
“Nggak ada yang salah sih, cuma...”
Entah gimana Lyra harus mengungkapkan keraguannya, Lyra takut ini semua hanya sementara. Lyra takut jika suatu saat Wira berubah dan meninggalkannya, atau mungkin kembali pada mantan.
“I love you,” satu kecupan mendarat di bibirnya, Wira mengecupnya setelah mengatakan itu.
“Aku sayang kamu, Lyra Mahayu Anjani.” satu tangan Wira terlurur untuk mengusap kapala istrinya yang masih terlapisi hijab, lalu turun ke pipi. Rona merah semakin bertambah di pipi wanita itu, lantas ia menundukkan kepalanya sedikit, untuk membalas kecupan Wira.
“Maybe, I love you too, Mas Wira.” ucapnya setelah beberapa detik kecupan mendarat.
“Maybe? masih mungkin? kamu ragu sama perasaan kamu sendiri?”
Jelas Wira tidak terima, istrinya menggunakan kata ‘mungkin’ dalam ungkapan perasaannya. Masih ragu?
“Ehm... nggak tau sih, gimana ya aku bingung. Pokoknya aku senang banget kalau Mas Wira ada dirumah, aku kesepian kalau kamu tinggal kerja. Terus aku senang kamu sering ngingatin aku makan siang walaupun kita lagi di tempat yang berbeda, aku nggak nyangka jadinya akan begini, aku takut Mas Wira ninggalin aku, apalagi keadaanku yang udah...”
“... ehm, apalagi Mas Wira pasti banyak banget di kelilingin sama cewek-cewek cantik di rumah sakit, pernikahan kita juga awalnya keterpaksaan dan salah paham. Intinya, aku takut berharap terlalu jauh.”
Wira berpindah, duduk tepat di samping Lyra, merengkuh pinggangnya, memeluknya cukup erat.
“Hidup ini memang penuh misteri, aku nggak nyangka ketemu jodoh dalam keadaan seperti itu, tapi rasanya kita memang di takdirkan bersama, Ayahku cukup senang dengan kamu sampai kini dia sembuh setelah melihat kita menikah, sama halnya dengan kamu, aku juga nyaman kalau ada di dekat kamu. Jujur, nggak ngeliat kamu dan nggak dengar omelan kamu satu jam aja, kayak ada yang kurang rasanya. Di tempat kerja aku sering kepikiran kamu, apalagi kalau malamnya kita habis ehm... ehm...”
Pelukan Wira yang begitu erat, di balas cubitan kecil di perutnya. “Auhh sakit, sayang.”
“Habisnya pasti nggak jauh-jauh dari situ sih pembahasannya.” Lyra mencebik.
“Coba deh sini, lihat aku.” titah Wira.
“Kenapa?”
“Ikuti aku ya.” saat ini mereka saling beradu pandang.
“Sayang.” Wira memberi instruksi.
“Sayang?” Lyra mengikuti apa yang di ucapkan suaminya.
“Ya sayangku, nah gitu, coba dibiasain manggil suami dengan sebutan itu, okey?”
Lyra terjebak, terjebak dalam permainan suaminya. “Yah Mas Wira, bilang aja pingin di panggil sayang gitu, pake kode-kode segala.” Lyra terkekeh, meledek.
“Susah emang punya bini kurang peka, harus di kode-kode dulu.”
Ya menurut Wira, Lyra adalah perempuan yang paling tidak peka yang pernah ia temui, sepanjang perjalanan cintanya, Lyra ini cuek-cuek tapi perhatian, jadi sikapnya sulit di artikan. Beda dengan perempuan-perempuan yang sempat singgah di hidupnya dulu, bukan cuma peka, malah agresif. Wira mengelus dada, harus banyak bersabar, dan terus mengajarkan atau terus menerus memberi kode?
Author kasih hiburan, kalian kasih dukungan. Biar adil gitu. Hihihi