NovelToon NovelToon
Dekapan Atasan Suamiku

Dekapan Atasan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Delapan tahun tanpa anak, Rahayu dikhianati. Suaminya membawa pulang Sari, perempuan yang dia sebut madu: licik, manis di depan, dan haus kuasa. Mereka berperang di bawah satu atap, tanpa tahu mertua serakah menyimpan rahasia kelam dan mengincar nyawa Sari dan anaknya. Saat tak ada yang mau menolong, Rahayu justru pasang badan dan membayarnya dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BATAS

Senja turun perlahan di halaman rumah orang tua Nayla.

Langit berwarna kelabu keunguan. Sisa hujan sore masih menggantung di daun-daun tanaman, memantulkan cahaya lampu teras yang baru saja dinyalakan Bu Ratih. Udara terasa dingin, tetapi Nayla tetap duduk di kursi rotan dekat jendela ruang tamu.

Ponselnya berada di pangkuan.

Sejak percakapan terakhir dengan Arga, benda itu terus bergetar.

Tiga panggilan tidak terjawab.

Lima pesan baru.

Nayla tidak membuka semuanya. Ia sudah tahu isinya tidak akan jauh berbeda: permintaan maaf, ketakutan, atau usaha Arga membuatnya merasa bersalah karena tidak segera datang menolong.

Namun kali ini, Nayla tidak ingin kembali terjebak.

Ia membuka satu pesan paling baru.

**Arga:* Aku benar-benar sendirian sekarang.**

**Arga:** Siska tidak mau angkat telepon.

**Arga:** Kantor menyuruh aku menyerahkan perangkat kerja.

**Arga:** Kamu satu-satunya orang yang bisa aku percaya.***

Nayla membaca kalimat terakhir itu cukup lama.

*Orang yang bisa dipercaya.*

Ironis.

Selama ini Nayla memang selalu menjadi orang yang bisa dipercaya. Ia menunggu Arga pulang. Ia menjaga rahasia suaminya. Ia mempercayai alasan lembur dan tidak pernah menuntut banyak hal.

Namun ketika Nayla membutuhkan kejujuran, Arga memilih memberikan kebohongan.

Ketika Nayla membutuhkan perlindungan, Arga justru membuatnya takut.

Bu Ratih datang membawa dua cangkir teh hangat. Beliau duduk di kursi sebelah Nayla dan meletakkan satu cangkir di meja kecil.

“Kamu belum makan banyak hari ini,” katanya.

“Nanti saja, Ma.”

Bu Ratih tidak memaksa. Beliau hanya memandangi putrinya dengan tenang.

“Arga menghubungi lagi?”

Nayla mengangguk.

“Dia bilang sendirian.”

Bu Ratih menghela napas pelan.

“Kadang orang baru merasa sendirian setelah mereka menjauhkan semua orang yang benar-benar peduli.”

Nayla menunduk.

“Aku kasihan sama dia,” katanya lirih. “Aku tahu dia salah. Aku tahu semua ini akibat pilihannya. Tapi dengar suaranya tadi… dia benar-benar takut.”

“Kasihan itu manusiawi.” Bu Ratih menggenggam tangan Nayla. “Tapi rasa kasihan jangan membuat kamu kembali ke tempat yang menyakiti kamu.”

Nayla memejamkan mata.

“Mama takut aku kejam?”

“Mama tidak pernah menganggap kamu kejam.” Bu Ratih tersenyum tipis. “Memaafkan dan kembali itu dua hal yang berbeda. Membantu dan menyelamatkan diri kamu sendiri juga dua hal yang berbeda.”

Kalimat itu terasa menenangkan.

Nayla selalu mengira jika ia tidak kembali kepada Arga, berarti ia adalah istri yang tidak setia. Jika ia tidak langsung menolong Arga, berarti ia tidak punya hati.

Namun mungkin, mencintai diri sendiri juga bentuk tanggung jawab.

Ponselnya bergetar lagi.

Kali ini, panggilan video dari Arga.

Nayla menatap layar beberapa saat.

“Mama, kalau aku angkat, Mama temani aku di sini?” tanyanya.

Bu Ratih mengangguk. “Tentu.”

Nayla menerima panggilan tersebut.

Wajah Arga muncul di layar.

Pria itu berada di dalam apartemen mereka. Ruang tamu tampak berantakan. Ada beberapa berkas di meja, tas kerja di lantai, dan lampu hanya menyala dari satu sudut.

Arga tampak sangat lelah.

Mata merah.

Rambut tidak rapi.

Wajah yang biasanya ia jaga tetap percaya diri kini terlihat benar-benar jatuh.

“Nay,” panggilnya.

“Ada apa?”

“Kamu bisa datang?”

Nayla menarik napas.

“Untuk apa?”

“Aku tidak sanggup sendirian.” Arga mengusap wajahnya. “Aku baru pulang dari kantor. Mereka mengambil laptop, kartu akses, semuanya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok.”

“Kamu sudah bicara dengan pengacara?”

“Belum.”

“Kamu harus bicara dengan pengacara.”

“Aku tidak butuh pengacara sekarang. Aku butuh kamu.”

Kalimat itu membuat Nayla diam.

Arga menatap layar dengan mata berkaca-kaca.

“Dulu kalau aku punya masalah, kamu selalu ada,” lanjutnya. “Kamu selalu bilang kita bisa menghadapi apa pun bersama.”

Nayla merasa tenggorokannya tercekat.

Memang benar.

Dulu ia selalu berkata seperti itu.

Namun dulu Nayla mengira Arga juga akan menghadapi masalah bersama dirinya, bukan menciptakan masalah lalu menyembunyikannya.

“Dulu aku juga percaya kita saling jujur,” jawab Nayla pelan. “Tapi kamu memilih membohongi aku.”

“Aku tahu. Aku menyesal.”

“Menyesal tidak selalu cukup untuk mengembalikan semuanya.”

“Aku akan berubah.”

Nayla menatap wajah Arga di layar.

“Berubah untuk siapa? Untuk aku, atau karena kamu takut kehilangan semuanya?”

Arga terdiam.

Pertanyaan itu membuat Nayla sadar bahwa ia tidak lagi membutuhkan jawaban manis. Ia hanya ingin Arga benar-benar memikirkan dirinya sendiri dan pilihan-pilihannya, tanpa menjadikan Nayla alasan.

“Aku tidak tahu,” kata Arga akhirnya. Suaranya pecah. “Aku cuma tahu aku tidak mau hidup tanpa kamu.”

Nayla memejamkan mata.

Untuk beberapa detik, ia kembali teringat Arga yang dulu. Arga yang menjemputnya sepulang kerja. Arga yang membawa bubur ketika ia demam. Arga yang memeluknya saat mereka baru pindah ke apartemen kecil itu.

Kenangan-kenangan itu masih ada.

Namun kenangan tidak bisa menghapus kenyataan.

“Arga,” katanya perlahan, “aku tidak datang malam ini.”

Wajah Arga berubah.

“Nay…”

“Aku juga tidak akan membahas rumah tangga kita sekarang. Kamu sedang panik. Aku juga masih terluka. Kalau kita bicara dalam keadaan seperti ini, kita hanya akan saling menyakiti lagi.”

“Kamu mau meninggalkan aku?”

“Aku sedang menjaga diriku.”

Arga terdiam.

Nayla melanjutkan, “Kalau kamu benar-benar ingin berubah, lakukan itu bukan karena aku menunggu. Lakukan karena kamu harus bertanggung jawab atas hidup kamu sendiri.”

“Nayla, tolong…”

“Aku akan bicara lagi ketika aku siap. Tapi jangan menelepon terus-menerus, jangan datang ke rumah Mama, dan jangan melibatkan orang tua aku.”

Arga menatapnya dengan wajah hancur.

“Baik,” katanya akhirnya.

Nayla mengakhiri panggilan.

Begitu layar kembali gelap, ia menundukkan kepala. Air mata jatuh tanpa suara.

Bu Ratih memeluknya.

“Tidak apa-apa menangis,” bisiknya. “Kamu baru saja melakukan sesuatu yang sulit.”

“Aku merasa seperti meninggalkan dia saat dia jatuh.”

“Kamu tidak menjatuhkan dia, Nayla. Kamu hanya berhenti membiarkan dia menjadikan kamu penyangga dari semua akibat pilihannya.”

Nayla menggenggam tangan ibunya.

Kalimat itu terus tinggal di kepalanya.

***

Malam semakin larut ketika ponsel Nayla kembali menerima pesan.

Kali ini dari Dimas.

**Dimas:** Selamat malam, Bu Nayla. Mohon maaf mengganggu. Pak Raka meminta saya menyampaikan bahwa pemeriksaan internal akan berlangsung beberapa hari. Pak Arga dan Bu Siska sementara dinonaktifkan dari pekerjaan sampai proses selesai. Jika ada ancaman baru atau jika mereka mendatangi rumah, mohon segera beri tahu saya.

Nayla membaca pesan itu perlahan.

Ia membalas singkat.

**Nayla:** Baik. Terima kasih, Mas Dimas.

Beberapa menit kemudian, ada pesan lain.

Bukan dari Dimas.

Bukan dari Arga.

Nomor asing itu kembali mengirim pesan.

**Nomor tidak dikenal:** Kamu merasa menang karena Arga jatuh? Jangan terlalu cepat bahagia.

Nayla menatap pesan tersebut tanpa menjawab.

Pesan kedua masuk.

**Nomor tidak dikenal:** Besok aku akan membuat kamu kehilangan orang yang sekarang kamu percaya.

Nayla langsung berdiri.

Bu Ratih yang sedang merapikan cangkir teh menoleh.

“Ada apa?”

Nayla menunjukkan ponselnya.

Wajah Bu Ratih berubah tegang.

“Ini harus dilaporkan,” katanya.

Nayla mengangguk.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi ingin membalas pesan itu sendiri. Ancaman sudah terlalu jelas. Ini bukan sekadar perang kata-kata antara dirinya dan Siska.

Nayla meneruskan tangkapan layar tersebut kepada Dimas.

Tidak sampai satu menit, balasan masuk.

**Dimas:** Saya sudah menerima, Bu. Tolong jangan keluar sendirian besok pagi. Pak Raka dan Bu Laras akan mengatur langkah selanjutnya.

Nayla membaca pesan itu sambil menahan napas.

*Orang yang sekarang kamu percaya.*

Siapa yang dimaksud pengirim pesan?

Raka?

Mira?

Atau bahkan orang tuanya?

Nayla tidak tahu.

Namun malam itu, ia mengambil keputusan yang sejak awal seharusnya ia buat.

Ia tidak akan lagi menghadapi ancaman ini dengan diam.

Ia membuka aplikasi catatan di ponsel dan mulai membuat daftar:

- Pesan ancaman pertama.

- Foto dirinya dan Raka.

- Rekaman suara Siska.

- Pesan Arga.

- Foto Arga dan Siska.

- Bukti dari Mira.

- Foto lama Raka dan Alena.

- Pesan ancaman terbaru.

Semua bukti ia salin ke penyimpanan awan dan kirim ke alamat surel pribadinya.

Setelah selesai, Nayla menatap daftar itu.

Dulu, ia hanya seorang istri yang menunggu suaminya pulang.

Kini, ia sedang mengumpulkan bukti untuk melindungi hidupnya sendiri.

Ponselnya bergetar satu kali lagi.

Bukan pesan.

Sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.

Nayla menatap layar cukup lama.

Lalu ia menekan tombol terima.

“Halo?”

Tidak ada suara di seberang sana.

Hanya napas pelan.

Nayla menarik napas dan berkata dengan suara setenang mungkin, “Saya sudah menyimpan semua ancaman kamu.”

Terdengar tawa pendek.

Kemudian suara perempuan berbisik di seberang telepon.

“Kamu masih belum mengerti, Nayla. Besok, Raka akan membayar karena memilih membela kamu.”

Panggilan terputus.

Nayla berdiri membeku di tengah ruang tamu.

Untuk pertama kalinya, ia merasa ancaman itu bukan lagi hanya soal reputasi.

Seseorang mungkin sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!