Zareena sungguh tidak menyangka jika kedatangannya ke rumah sang kakak malah bertemu sosok pria menyebalkan bernama Tristan. Lebih parahnya lagi, saudaranya malah menitipkan dirinya kepada pria itu. Lantas, apa yang terjadi? Tristan yang merupakan casanova dan Zareena yang ingin melepaskan kegadisannya. Siapa di antara mereka yang akan takluk lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puas
Zareena mengusap sesuatu yang tidak dapat disebutkan. Pastinya itu milik dari bagian paling penting bagi seorang pria. Harga, martabat bahkan ada di sana. Satu bagian dari tubuh yang melahirkan kehidupan baru untuk generasi selanjutnya.
Tristan telah membuka jas serta tali pinggang. Menaikkan kemeja agar wanita yang tengah berlutut di depannya ini leluasa menuntaskan rasa penasarannya.
"Semoga bibirmu muat," ucap Tristan.
"Kau mungkin akan merasa tidak nyaman. Gerakanku pasti kaku karena ini pengalaman pertamaku," kata Zareena seraya mengusap lembut.
"Aku akan mengajarimu. Kau hanya memainkan lidah dan jangan sampai menggigitnya. Nikmati dia seperti kau memakan satu batang es krim."
"Ya, aku pernah melihatnya dan penasaran akan rasanya. Bolehkan aku membukanya?" tanya Zareena.
Tristan mengangguk. "Tentu saja. Sesuai keinginanmu. Dia milikmu sekarang."
Perlahan Zareena melepas kait, menurunkan celana panjang Tristan sampai pada lutut. Ia menelan ludah. Melihat, begitu mendesak, seperti burung yang ingin lepas dari sangkarnya.
"Kau bisa berhenti sampai di sini," ucap Tristan.
Zareena menggeleng. "Aku tidak akan melepas kesempatan emas ini."
Penutup terakhir juga diturunkan. Zareena kaget ketika ujung itu menyentuh hidungnya. Terperangah akan bentuk yang menantangnya saat ini.
"Aku sudah bilang jangan kaget. Ya, aku memiliki sedikit kelebihan ini," ucap Tristan.
"Aku ingin menyentuhnya."
Zareena memberanikan diri. Hangat, lembut, keras ketika ia menggengamnya. Membuat Tristan mengeluarkan suara yang persis seperti saat ia dipuaskan oleh pria itu.
"Dia begitu sempurna. Jadi, ini yang namanya kekuatan pria? Ini yang membuatnya begitu berkuasa. Meluluhlantakkan wanita. Menghunjam dengan begitu kerasnya," ucap Zareena.
"Sial!" umpat Tristan yang malah berhasrat setelah mendengar perkataan Zareena.
Zareena mengecup ujungnya. Membasahi sepanjang ukuran itu dengan liur dari mulutnya. Menggelitik bersama indra pengecap yang memutar-mutar di lingkaran bulat yang menegang.
"Lahap dia, Sayang," pinta Tristan.
"Apa ini akan muat di bibirku?" tanya Zareena.
"Kau coba saja."
Dengan perlahan Zareena memasukkannya. Memperagakan hal yang tadi Tristan sebutkan. Menikmati seperti ia memakan sebatang es krim.
Suara geraman, berat dan serak terdengar. Zareena menatapnya. Merasa berhasil telah bisa membuat pria itu tidak berdaya.
Mulutnya terasa penuh, ia tersedak oleh dorongan yang Tristan berikan. Ukuran yang menakjubkan. Bibirnya terasa sobek, bahkan itu belum sepenuhnya masuk.
"Maaf, Sayang. Aku ingin kau merasakan rasa sakit ini," ucap Tristan seraya menangkup kepala Zareena kemudian menggerakannya maju mundur. "Seperti ini, Sayang."
Zareena terbatuk-batuk. "Cukup, aku tidak dapat menahannya."
"Nanti kau juga akan terbiasa. Ayo, lakukan lagi. Puaskan dia," pinta Tristan.
Zareena menuruti perintah itu. Kembali memberi sensasi nikmat tidak tertahan dan Tristan melakukan hal seperti tadi karena ia ingin mengeluarkan desakan dalam dirinya.
"Tahan, Zareena. Aku akan sebentar lagi sampai. Tetap buka bibir manis itu," kata Tristan.
Tatanan rambut Zareena sudah tidak karuan. Tristan terus menahan kepala untuk tetap diam di tempat, sedangkan tubuh pria itu bergerak maju menusuk.
"Aku sampai," ucapnya, lalu memuntahkan semua cairan itu ke wajah Zareena.
"Apa ini?" tanya Zareena.
Tristan tertawa. "Basuhkan ke wajahmu, Sayang. Itu akan membuat kulitmu halus."
"Kau berbohong!"
"Ayo, aku bantu kau mandi," kata Tristan dengan membantu Zareena berdiri. "Lain kali aku akan membuangnya di perutmu."
"Aku harus mandi."
"Ya, kita harus mandi."
Zareena melotot. "Aku mandi sendiri."
Tristan tertawa. "Iya, Sayang."
Bersambung