NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 LUBANG DIBAWAH KAKI

Setelah mengalahkan froz, akhirnya kami memutuskan meninggalkan rumah Eldan menjelang senja, dengan kristal merah terbungkus beludru di balik jubahku dan batu akik tersimpan di kantung sabuk.

Berita sudah menyebar lebih cepat dari langkah kami. Di bawah Pohon Elemen, penduduk Artheria berkumpul membentuk lingkaran, menyalakan lentera-lentera kecil, dan menunduk hormat saat kami lewat. Seorang nenek menyelipkan sekantung buah kering ke tangan Iyan. Anak laki-laki yang tadi menunjuk padaku berlari menghampiri dan menyerahkan selembar daun bertuliskan "terima kasih" dengan huruf miring-miring.

"Jangan lupa simpan pemberian itu baik-baik," bisik Vivi dari bahuku. "Itu bakal jadi penghargaan pertamamu."

"Sepertinya aku belum pernah mendapat penghargaan," kataku.

"Nah, Makanya aku suruh kamu buat simpan."

Aku menyelipkan daun itu ke dalam saku jubah. Rasanya lebih berharga dari lencana mana pun.

Di gerbang kayu, Anna berhenti dan menoleh sekali lagi ke kota yang selama tujuh bulan ia jaga sendirian. Matanya basah, tapi ia tersenyum.

"Oke, Karena tugas patroliku selesai," katanya. "Batu akiknya sudah di tangan kalian, dan entitasnya sudah mati. Aku akan ikut pulang ke Sendira dan melapor pada Kak Cecilia."

"Yosh....Baguslah," kata Iyan. "Kita jalan bersama lagi."

Aku mengangguk, tapi sebuah pikiran muncul dan membuat bahuku lemas. "Ah, tapi masa kita harus berjalan tiga hari lagi."

"Eh...iya juga kita kemarin jalan sampai tiga hari," Iyan mengerang, memegangi betisnya. "Duh, kakiku baru aja memaafkanku."

Anna terkekeh. "hehehe Siapa bilang kita bakal berjalan kaki?"

Kami menatapnya serempak.

"Aku punya kok cara yang lebih cepat." Ia melangkah ke tengah jalan setapak yang sepi, lalu menoleh.

"Kita pakai aja Teknik teleportasi."

"Tele...apa?" Iyan mengerutkan dahi.

"Teleportasi, yaitu berpindah tempat dalam sekejap," jelas Anna. "Kita pakai teknik gerbang aja. Hana pernah mengajarkannya pada ranger senior supaya bisa melapor cepat dari tempat tugas yang jauh. Aku sudah menguasainya sebulan lalu, tapi belum pernah ada alasan memakainya."

Aku mengerjap. "Emangnya kita bisa berpindah tempat? Dari sini sampai Sendira?"

"Yah.... Itu juga kalau kekuatanku cukup, tapi sepertinya sih cukup kalo buat teleportasi sekali" Ia mengangkat bahu. "Aku juga hanya pernah mencoba untuk jarak dekat."

"Kamu yakin cukup?" Vivi menjerit pelan.

"Aku yakin sembilan puluh persen."

"Terus sepuluh persennya apa?" tanya Iyan.

"i dont know."

Sebelum kami sempat protes, Anna membuka telapak tangan kanannya. Cahaya keperakan berkumpul di sana, mulanya setitik, lalu membesar seperti bintang kecil yang berdenyut. Udara di sekitarnya bergetar halus, dan rambut cokelatnya terangkat melayang.

"Harap mundur sedikit," katanya.

Ia menghentakkan telapak tangannya ke bawah. Cahaya itu meluncur ke tanah dan meledak tanpa suara, membentuk lingkaran putih berpendar. Lalu tanah di tengahnya ambles, lingkaran itu melebar menjadi lubang bulat yang dalamnya tak terlihat, hanya pusaran terang yang berputar pelan, mengeluarkan dengung rendah seperti angin dari gua.

"Nah ok," kata Anna dengan wajah puas. "Ayo silahkan masuk."

Aku menatap lubang itu. Lalu menatap Iyan. Iyan menatapku.

"Arka, Kamu duluan deh," bisiknya.

"Kamu aja dulu lah, kamu kan yang lebih bernyali."

"Aku cuma bernyali dalam pertarungan, bukan dalam lubang misterius."

"Hei, Kalian aja pernah memenggal entitas," potong Anna sambil menyilangkan tangan. "Tapi kok malah takut melompat?"

"Itu beda definisi, memenggal itu bisa dilihat," gumamku. "Kalo Ini tidak bisa."

"Hei ayolah!" Vivi terbang berputar di atas lubang. "Aku aja berani mendekat!"

"Ya iyalah, Kamu kan punya sayap."

Anna menghela napas, lalu tanpa peringatan menempelkan telapak tangannya di punggungku dan mendorong sekuat tenaga.

"Hei, tu...tunggu...!"

Tanah menghilang dari bawah kakiku. Aku terjatuh dengan teriakan yang nyaris tak kukenali sebagai suaraku sendiri. Dari belakang, kudengar Iyan menjerit lebih keras: "ANNA, KAU CURANG!" disusul gedebuk dan jeritan yang lebih panjang. Pusaran cahaya menelan segalanya. Dunia berputar, warna-warna menyatu menjadi garis putih panjang, dan perutku serasa dipelintir seperti handuk basah.

Lalu, seketika, semuanya berhenti.

Aku jatuh terduduk di atas paving batu yang rata, berkedip-kedip. Napasku tersengal, lututku lemas. Di sebelahku, Iyan terkapar telentang dengan mata terpejam rapat.

"Huh, aku... sudah mati?" tanyanya lirih.

"Belum, kamu masih hidup kok" sahut Anna, mendarat ringan di samping kami. "Tapi tadi hampir loh, kalau kalian terus berteriak seperti itu."

"Aku tidak berteriak kok!"

"Tapi Kamu menjerit tiga kali loh"

Vivi mendarat di kepalaku dengan rambut berantakan. "Duh, rasanya aku mau muntah dua kali,"

Aku mendongak, dan napasku tertahan.

Di depan kami menjulang sebuah bangunan putih dengan dinding kaca dan atap melengkung, dikelilingi taman rapi dan lampu-lampu biru yang menyala redup. Di gerbangnya terpampang lambang delapan sudut. Aku mengenalinya. Itu markas korps ranger, rumah singgah tempat aku tidur dua malam sebelum berangkat.

"Hah! Ini serius, Kita... sudah sampai?" Iyan bangkit dengan mata membelalak. "hanya sekejap aja?"

"Tadinya aku berencana mau mendarat lebih halus," kata Anna sambil menepuk-nepuk debu. "Tapi udah cukup dekat."

Aku tak bisa menahan tawa. Tawa itu keluar begitu saja, bercampur lega dan takjub. Tiga hari perjalanan, dan kami tiba dalam waktu yang lebih singkat dari menghabiskan semangkuk sup.

Pintu depan terbuka sebelum kami sempat mengetuk. Aroma teh melati menyeruak keluar, hangat dan akrab.

"Oh, selamat datang semuanya, aku sudah merasakan energi teleportasi di halaman tadi," terdengar suara jernih dari dalam. "Kupikir itu Anna. Ternyata kalian bertiga."

Cecilia berdiri di ambang pintu, rambut peraknya terurai, secangkir teh mengepul di tangannya. Ia mengenakan jubah rumah sederhana, tanpa busur, dan baru sekarang kusadari betapa jarang aku melihatnya tanpa senjata. Sorot matanya menyapu kami dari kepala sampai kaki, memeriksa luka dan memar, lalu melembut.

"Kamu udah selesai patrolinya anna?" katanya pelan.

"Ya kak," jawab Anna sambil menyentuh dadanya dengan salam kota.

"Baiklah silahkan Masuklah. Kalian pasti lelah."

Ruang tengah mansion hangat dan tenang. Kami duduk mengelilingi meja rendah, dan Cecilia menuangkan teh untuk kami semua, bahkan menyediakan cangkir kecil seukuran dadu untuk Vivi. Aku menyesapnya perlahan, membiarkan hangatnya mengalir ke tulang-tulangku.

"Coba dong ceritakan bagaimana petualangan kalian," kata Cecilia, bersandar di kursinya.

Aku menarik napas, lalu bercerita. Tentang perjalanan menuju Artheria, desa yang diserang kroco berbadan besar, kota yang sunyi, dan Anna yang menyelamatkan kami dari jalan buntu. Aku menceritakan basement, tawa dingin dari langit-langit, dan sosok bersisik kelabu dengan pistol hitam di tangannya. Iyan menyela dengan antusias tiap kali ada bagian yang menurutnya perlu dibesar-besarkan, dan Anna menambahkan detail tentang Pohon Elemen.

Ketika aku sampai pada bagian kristal merah, aku merogoh jubahku dan meletakkan bungkusan beludru di atas meja. Kubuka perlahan.

Cahaya merah berdenyut lembut di antara kami. Cecilia terdiam. Teh di cangkirnya bergoyang halus, dan jemarinya yang memegang gagang cangkir mengencang.

"Wah, kalian benar-benar mendapatkannya ya...." bisiknya

"Ya, sekalian dengan batu akiknya." Aku menaruh batu merah itu di sampingnya. "Ternyata batu akiknya dari seorang tukang kayu bernama Pak Eldan."

Cecilia mengangkat tangan, menyentuh permukaan kristal dengan ujung jari, lalu menariknya seolah tersengat. Matanya berkaca-kaca. "Akhirnya selama seribu tahun, akhirnya ada yang berhasil mengambilnya kembali."

Hening sesaat. Kemudian Anna menarik napas panjang dan menegakkan punggung. "Oh ya, tadi juga kita melawan entitas?

"Namanya itu Froz," kata Anna. "Tingkat bawah empat."

Cangkir di tangan Cecilia berhenti di udara.

"Oh, Froz?" ulangnya perlahan. "Si penguasa bayangan itu ya?"

"Kami tadi hampir mati di basement." gerutu iyan

"lalu kalian... Bisa mengalahkannya?"

Aku mengangguk. "Ya, Si Arka memenggal kepalanya."

Cecilia meletakkan cangkirnya dengan sangat hati-hati. Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya benar-benar terkejut, bukan senyum tipis atau alis terangkat, tapi keterkejutan yang jujur.

"2 tahun yang lalu Froz pernah membantai satu regu master kami," katanya, nyaris berbisik. "Tujuh orang, dalam satu malam. Tak seorang pun selamat." Ia menatapku, lalu Iyan, lalu Anna. "Dan aku bersyukur kalian bertiga, dua di antaranya baru tiga bulan di korps, berhasil membunuhnya."

"Oh ya, Kami juga tadi memakan buah dari Pohon Elemen," kata Iyan malu-malu. "Buah Itu yang menolong kami dan memberikan kekuatan elemen."

"Tapi tetap saja." Cecilia menggeleng, dan sudut bibirnya naik, lalu berubah menjadi senyum lebar, tulus dan hangat. "Aku tak menyangka kalian secepat ini. Kalian para pemula membuatku bangga."

Ada sesuatu yang menghangat di dadaku, lebih panas dari teh mana pun.

"Sekarang kalian boleh beristirahat," lanjut Cecilia. "boleh Mandi, makan, dan tidur. Besok kita bicarakan batu akik berikutnya." Ia berdiri dan menatap kami satu per satu.

"Siap, Kak," jawab kami bertiga serempak.

...****************...

Di balik retakan langit, tak ada yang beristirahat.

Ruangan itu gelap dan lembap, dindingnya terbuat dari tulang yang dipahat menjadi lengkungan-lengkungan menyeramkan. Satu-satunya cahaya datang dari obor berapi ungu di sudut, memantulkan bayangan panjang di lantai. Anchor dan Hanzo berdiri berdampingan di tengah ruangan, menunduk dalam, menunggu.

Anchor, bermata cekung dengan wajah tirus yang selalu tampak lapar, menggenggam rantai berkarat di tangan kirinya. Hanzo yang bertubuh gempal berdiri kaku, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.

Mereka tidak bicara. Mereka sudah tahu kenapa dipanggil.

Lalu udara di belakang mereka menebal. Rasanya seperti ruangan itu tiba-tiba menyempit. Obor berapi ungu berkedip-kedip, dan hawa dingin menusuk dari belakang tengkuk mereka. Hanzo menahan napas. Rantai di tangan Anchor bergemerincing pelan, karena tangannya gemetar.

"Froz sudah mati ya?"

Suara itu berat dan dalam, merambat dari segala arah sekaligus. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat tulang-tulang di dinding berderak.

"Tuan Zaranos," bisik Anchor, bersujud tanpa menoleh.

Zaranos berjalan perlahan melewati mereka, langkahnya tak mengeluarkan suara. Ia mengenakan kemeja gelap yang kini berbercak noda merah kering, rambutnya acak, dan mata kucingnya berkilat dingin di bawah cahaya obor. Cakar di jemarinya terbuka, menggores udara kosong.

"Gorgom gagal mendapatkan batu akiknya, lalu Froz juga gagal mengambil batu akiknya," ucapnya pelan. "Tidak kusangka dalam waktu kurang dari seminggu, dua dari kalian dikalahkan manusia." Ia berhenti dan berbalik menatap mereka. "Tingkat bawah kini tinggal dua orang. Dan hanya kalian berdualah yang tersisa dari barisan lama."

"Kami janji, tidak akan mengecewakan Tuan kali ini," kata Hanzo dengan suara serak.

"Cih, omong kosong." Zaranos menyipitkan mata. "Gorgom juga mengatakan hal yang sama sepertimu."

Keheningan menekan. Anchor menelan ludah, lalu memberanikan diri mengangkat wajahnya sedikit.

"Tuan zaranos, izinkan saya bicara."

"Silahkan bicara."

"Aku mendengar kabar kalo para ranger bersarang di sebuah kota logam bernama Sendira," ujar Anchor cepat. "Mungkin saya dan Hanzo bisa menyerbu ke sana, menghancurkan benteng mereka, dan memburu semua yang mereka sebut pilar. Dengan kroco yang kami bawa, kota itu akan jatuh dalam semalam. Kami hanya butuh perintah Tuan."

"Betul, Tuan," timpal Hanzo. "Kami akan..."

"Tidak akan aku izinkan kalian pergi kesana."

Satu kata, dan Hanzo langsung terdiam.

Zaranos berjalan mengelilingi mereka dengan lambat, jemarinya mengetuk-ngetuk dagu. "Kalian janga bertindak gegabah, Kota itu tidak bodoh. Ada empat pilar yang menjaganya, dan aku dengar salah satu dari mereka bisa membaca pergerakan musuh dari jarak jauh. Kalau kalian menyerbu secara terbuka, kalian berdua akan mati sebelum menyentuh gerbangnya." Ia berhenti. "Aku tidak sudi kehilangan dua lagi untuk keberanian bodoh."

"Maafkan saya, Tuan," gumam Anchor.

Zaranos tidak menjawab. Ia berdiri diam beberapa saat, matanya menerawang, seolah sedang menghitung sesuatu di kepalanya. Obor berapi ungu bergoyang tertiup napasnya.

"Galvanax."

Cahaya di ruangan itu mendadak padam sesaat. Dari kegelapan di sudut, sesosok raksasa berzirah merah melangkah maju, helm tanpa wajahnya menunduk. Lantai bergetar di bawah setiap pijakannya.

"laksana perintah, Tuan."

"Cobalah cari salah satu seorang pilar ranger selain di kota sendira Dengan kekuatan telepatimu."

"Dimengerti, tuan"

Galvanax mengangkat tangan besinya ke kening helm. Cahaya merah samar merembes dari sela-sela zirahnya, merambat ke lantai, menyebar seperti jaring laba-laba ke seluruh penjuru ruangan. Anchor dan Hanzo merasakan sesuatu mengusap pikiran mereka, dingin dan tak kasatmata, sebelum menjauh lagi.

Satu menit berlalu. Dua. Tiga.

"Saya menemukannya, tuan," kata Galvanax akhirnya, suaranya bergema dalam helm. "Ada seorang pria berpakaian gelap, bersenjata pedang besar. Ia sedang berada di wilayah timur, di sebuah lembah berembun."

"Hhm....Lembah Embun ya..," gumam Zaranos. Matanya menyipit. "Apakah ada hal yang lain?"

"Ada, Tuan. saya merasakan sesuatu di bawah tanahnya. Getarannya sama dengan batu di Artheria."

Senyum tipis merekah di bibir Zaranos, senyum yang membuat darah Anchor membeku.

"Hhmm..sebuah batu akik ya..," bisiknya. "Dan satu pilar yang menjaganya. Sempurna."

Ia menoleh pada kedua entitas yang masih berlutut. "Anchor, Hanzo. Aku perintahkan kalian berdua Berangkat ke Lembah Embun. Ambil batu itu dan bawa ke hadapanku. Kalau pilar itu menghalangi, bunuh dia."

"Baik, Tuan!" Keduanya serempak menunduk.

Anchor sudah setengah bangkit ketika ia ragu, lalu berkata dengan suara hati-hati. "Tuan zaranos, sebelum berangkat, bolehkah saya mohon satu hal."

"Apa?"

"Bolehkan kami meminta darah Tuan Setetes saja?" Anchor menunduk dalam. "Dengan darah itu, kekuatan kami pasti akan meningkat, dan kami tak akan gagal seperti mereka."

Hening.

Mata kucing Zaranos berkedip pelan. Ia melangkah mendekat, begitu dekat hingga Anchor bisa mencium bau besi dan hangus dari tubuhnya. Cakar-cakar panjangnya terangkat, lalu berhenti tepat di bawah dagu Anchor, menekan kulitnya hingga seulas garis merah tipis muncul.

"Kau mau meminta darahku," ujarnya lirih, "setelah dua rekanmu mati karena kelemahan mereka sendiri?"

"S-saya hanya..."

"Darahku bukan hadiah dan tidak gratis." Cakar itu menekan sedikit lebih dalam. "Tak ada yang pantas menerimanya sebelum membuktikan diri."

Anchor menahan napas. Hanzo di sampingnya tak berani bergerak.

Zaranos menarik tangannya perlahan, lalu berbalik, membelakangi mereka. "Kalo mau kalian bisa minum darah manusia sendiri di sana. Hisap sebanyak yang kalian mau, dari siapa pun yang kalian temui di lembah itu. Gunakan itu sebagai bahan bakar." Suaranya merendah menjadi bisikan dingin. "Kali ini jangan sampai kalian mengecewakanku lagi."

"Baik, Tuan," jawab keduanya hampir bersamaan, suara mereka nyaris tak terdengar.

"Silahkan pergi."

Anchor dan Hanzo bangkit, membungkuk dalam-dalam, lalu mundur menuju pintu. Rantai di tangan Anchor berdenting pelan di lantai tulang. Di ambang pintu, mereka berhenti sejenak. Bayangan retakan langit samar-samar terlihat di kejauhan, menganga seperti luka.

Tanpa kata, keduanya menghilang ke dalam kabut merah menuju timur, ke Lembah Embun, tempat sebuah batu akik dan seorang pilar ranger menunggu tanpa tahu apa yang datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!