NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mau Putus

"Kak Gala!" panggil Rea dari arah kamar.

Gala yang sedang berkutat dengan alat dapur, pun berhenti sejenak untuk menyahuti gadis itu.

"Apaan?"

Tak lama, Rea keluar dengan cengiran khasnya. Ia sudah rapi dengan hoddie hitam milik Gala dan celana hot pants setengah paha.

"Gue minta izin, ya?"

Gala menatap Rea dengan kedua alis terangkat. "Kemana?" tanyanya sembari memperhatikan penampilan gadisnya.

Rea bergumam sejenak, sebelum menjawab, "Mau ketemu Gara."

Gala mengerutkan keningnya. "Untuk?"

Rea berdehem singkat. "Mau meluruskan hubungan."

Gala terdiam, lalu beralih fokus pada masakannya. "Meluruskan hubungan?"

Rea mengangguk. "Gue ... mau putus."

Gala sontak menoleh pada Rea, menatapnya dalam. "Yakin?"

Rea mengangguk dengan penuh keyakinan.

Gala memajukan bibir bawahnya, seraya mengangguk. "Nanti gak nyesel?"

Rea berdecak, seraya memukul pelan pundak Gala. "Lo jangan bikin gue ragu, kek!"

Gala mendengus pelan. "Kalau memang sudah yakin, gue ngomong apapun gak akan ngaruh. Kalau omongan gue bikin lo ragu, berarti memang lo nya sudah ragu dari awal."

Rea terdiam mendengar ucapan Gala, sebelum ia menatap cowok itu dalam.

"Gue yakin!"

Gala mengangguk percaya. "Mau diantar?" tanyanya kemudian.

Rea menggeleng. "Enggak, sendiri aja bisa."

Rea mengulurkan tangannya pada Gala, berniat salam.

Gala menerima uluran tangan itu, seraya menepuk puncak kepala Rea.

"Gak mau cium?" tanya Rea saat dirasa Gala tidak berniat menciumnya.

Gala menyipitkan matanya, lalu menggeleng tegas. "Enggak sebelum lo ganti celana. Apaan mau keluar pakai celana dalam doang."

Rea melebarkan matanya. "Mana ada celana dalam doang, ini celana!" Rea memperlihatkan celana pendek putihnya pada Gala.

Gala kembali menggeleng tegas. "Ganti celananya atau gak boleh keluar?"

Rea mendesis kesal, lalu berjalan kembali ke kamar dengan kaki dihentakkan.

Gala yang melihat hal tersebut, hanya menggelengkan kepalanya. Beginilah jika ia menikah dengan gadis remaja yang masih anak-anak.

Selesai memasak, Gala memasukan satu porsi nasi goreng ke dalam piring, selebihnya ia biarkan tetap di dalam wajan.

Saat Gala hendak memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya, Rea kembali dengan celana putih panjang lengkap dengan sepatunya.

Bukan bergegas pergi, Rea justru duduk di samping Gala. "Mau."

Gala menoleh singkat, sebelum memasukkan nasi ke dalam mulutnya.

"Memang ketemunya dimana? Gak mau makan sama Gara?" tanyanya seraya menyuapkan nasi goreng untuk Rea, menggunakan sendok miliknya.

"Enggak, orang mau ketemu sebentar doang."

Gala mengangguk mengerti, terus menyuapi Rea dan dirinya bergantian.

"Hati-hati, kalau ada apa-apa telepon. Jangan merusak kepercayaan gue," kata Gala mewanti-wanti.

Rea hanya mengangguk pelan, seraya menelan suapan terakhir dari Gala, sebelum meminum air putih yang juga sisa Gala minum.

Rea kembali menarik tangan Gala untuk mencium punggung dan telapak tangannya, sebelum menyodorkan kepalanya di depan Gala.

Gala yang mengerti, segera maju dan mencium dahi gadis itu.

Rea tersenyum, lalu melambaikan tangan pada Gala. "Daah, Kak!"

"Hm, bawa mobil, kan?"

Rea mengangguk, seraya mengacungkan jempol ke arah Gala.

"Jangan ragu-ragu, yakin aja kalau gue lebih ganteng."

Rea mendelik, namun juga terkekeh mendengar ucapan Gala yang penuh percaya diri.

Belum lama hidup bersama, namun Rea merasakan kenyamanan jika dengan Gala.

Cowok itu selalu bisa membuatnya tenang dalam situasi apapun.

Gala menghela nafas setelah Rea berlalu dari apartemen. Ia duduk di kursi meja makan, menatap kosong ke arah depan.

Jika boleh jujur, Gala sedikit tidak enak hati pada Gara. Ia terkesan merebut Rea dari cowok itu. Tapi, semua kembali pada kenyataan jika takdir yang sudah menyatukan mereka dengan caranya.

*****

Rea sampai di sebuah taman yang terdapat danau buatan. Ia mendudukkan diri di kursi di bawah pohon rindang, yang menghadap langsung ke arah danau.

"Sudah lama?"

Rea menoleh, mendapati Gara yang sudah duduk di sampingnya dengan senyum manis.

Rea menggeleng pelan, tanpa membuka suaranya.

"Kenapa diam?" tanya Gara merasa heran, karena Rea tidak sepeti dulu.

Rea yang dulu selalu cerewet dan banyak bicara jika bersamanya, tapi sekarang tampak berubah. Rea lebih cuek dan pendiam.

Rea menatap Gara lekat, menimbulkan kernyitan di dahi cowok itu.

"Gue mau putus," ucap Rea to the point.

Hening, mereka sama-sama diam dengan mata yang saling menatap.

Tak lama, Gara terkekeh pelan, seraya menatap lurus ke arah depan.

"Kenapa?"

Rea mengikuti pergerakan Gara, menatap air danau yang jernih dan tenang.

"Ada alasan yang gak bisa gue ceritain ke lo."

Gara mengangguk pelan, sebelum menoleh ke arah Rea dan menghela nafas.

Ia bergerak mengusap puncak kepala gadis itu, membuat Rea ikut menatapnya.

Bukan marah, Gara justru tampak tersenyum lembut. "Makasih, ya?"

Rea mengerutkan keningnya, lalu menepis pelan tangan Gara agar tidak lagi mengusap kepalanya.

"Untuk?"

Lagi, Gara menatap lurus ke depan tanpa melunturkan senyumnya.

"Makasih karena sudah pernah menjadi seseorang istimewa di hidup aku," katanya.

Rea diam, ia tidak menjawab. Ia biarkan Gara mengeluarkan semua unek-uneknya.

"Aku gak pernah nyesal kenal sama kamu. Aku bersyukur, pernah menjadi teman di saat kamu sendiri. Aku bersyukur, pernah menjadi seseorang yang kamu butuhkan."

Gara bergerak menggenggam tangan Rea, menatap teduh netra gadis itu.

"Mungkin, sekarang ada yang lebih pantas untuk kamu. Maaf karena aku sempat menghilang dari kehidupan kamu. Yang harus kamu ingat, bersama siapapun kamu nanti, aku selalu berharap semoga kamu bahagia."

Gara mengusap pipi Rea yang masih diam tak berkutik.

"Aku sayang sama kamu. Untuk permintaan kamu, aku turuti. Mulai sekarang, kita putus."

Rea menatap Gara dengan mata menyipit. "Lo sudah ada yang lain?"

Alis Gara terangkat, saat Rea menepis tangannya sedikit kasar.

"Pantesan ngilang, gak taunya sudah ada yang lain."

Gara mengerutkan kening. "Kenapa bisa mikir kayak gitu?"

Rea mendengus. "Ya iya, lah! Gue minta putus lo iyain, berarti lo sudah punya pengganti, kan?"

Gara sontak terkekeh. "Tadi, kan kamu yang minta putus," katanya.

Rea mendelik sebal. "Iya, tapi ekspresi lo di luar ekspektasi gue. Gue sudah mikir kalau lo bakal nolak permintaan gue, mohon-mohon biar gak putus sama gue. Tapi ternyata?"

Rea terkekeh sinis. "Sudah lah, memang lo sudah ada yang lain, bilang aja!"

Gara lagi-lagi menjawab dengan kekehan. "Bukannya kamu juga sudah ada yang lain?" tanya Gara yang membuat Rea sontak menatapnya dengan mata melebar.

"Sok tau!"

Gara mengedikkan bahunya. "Kemarin aku lihat kamu ke supermarket sama cowok."

Tubuh Rea menegang, kemarin ia sempat berbelanja ke supermarket yang tidak jauh dari komplek apartemennya bersama Gala.

Melihat Rea terdiam tegang, membuat Gara mengusap puncak kepalanya.

"Gak apa-apa, santai aja. Nanti kenalin ke aku, ya?"

Rea menatap Gara tak enak hati, sedangkan Gara hanya tersenyum lembut.

"Mau pulang sekarang? Aku antar."

Gara bangkit dari duduknya, lalu mengulurkan tangan pada Rea.

Rea berdiri, tanpa menerima uluran tangan Gara yang sudah kembali turun.

"Gue bisa sendiri. Maaf dan makasih," katanya seraya tersenyum tipis.

Gara mengangguk. "Maaf dan kembali kasih."

Akhirnya, perjalanan mereka selesai sampai di sini. Rea pergi dengan membawa kelegaan di hatinya, dan Gara memperhatikan setiap langkah gadis itu dengan senyum sayu tercetak di bibirnya.

"Bahagia selalu, Rea."

*****

Swami📌

Dimana?

Tersenyum, Rea mengetikkan balasan pesan itu.

Me

Di hatimu

Swami📌

Jijik

Me

Otw pulang, syg

Menutup dan melempar ponselnya ke kursi di samping kemudi, sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan rata-rata.

Di sisi lain, Gala menatap pesan itu dengan mata menyipit.

Bocil💩

Otw pulang, syg

"Es ye ge apaan? Typo?" gumamnya seraya berpikir keras.

Gala menghela nafas, lalu melempar ponselnya ke sembarang arah, sebelum kemudian memainkan stik PS di tangannya, dengan mata fokus ke layar.

Gala menoleh saat merasakan kecupan singkat di pipinya, mendapati Rea tengah menyengir lebar ke arahnya.

"Ngapain?" tanya Gala tak acuh, kembali fokus pada game nya.

Rea mengerucutkan bibirnya, lalu bergerak merebahkan kepalanya di pangkuan Gala.

"Gue sudah putus," katanya seraya memeluk perut cowok itu.

"Oh."

Rea mendengus, lalu menggigit permukaan perut cowok itu yang tertutup kaos.

"Jangan digigit."

"Lo nya ngeselin."

Gala menghela nafas pelan, mengakhiri permainannya, lalu kemudian menunduk menatap Rea.

"Kenapa?"

Rea menggeleng pelan, menutup mata untuk menikmati usapan lembut di kepalanya.

"Lo jangan pergi ya, Kak?"

Rea kembali membuka mata, untuk menatap Gala yang tengah menunduk menatapnya.

"Kalau lo pergi, gue sama siapa?"

Gala masih diam tak kunjung menjawab, namun tangannya tak lepas mengusap kepala Rea.

"Ayah sudah gak peduli sama gue."

Gala berdecak pelan, sambil menyentil kening Rea.

"Sok tau."

Rea memajukan bibir bawahnya, lalu menyembunyikan wajahnya di perut Gala.

"Ayah selalu mementingkan Kak Bella dari pada gue, padahal gue anak kandungnya."

"Gak semua kasih sayang berbentuk kebahagiaan."

Rea mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Gala mengedikkan bahu. "Suatu saat lo bakal ngerti apa maksud ucapan gue."

Rea menghela nafas, mengambil posisi terlentang agar bisa menatap wajah Gala yang ada di atasnya, dengan leluasa.

"Gue gak tau, apa alasan Ayah lebih sayang sama Kak Bella dari pada gue. Dari dulu, yang gue tau Ayah itu peduli, Ayah sayang sama anak-anaknya. Tapi, sejak umur Kak Bella masuk usia remaja, Ayah perlahan berubah. Bahkan, sejak kepergian Bunda, Ayah semakin menjadi."

Gala mengusap lembut kening gadis itu, tanpa mengeluarkan suara.

"Ayah selalu memberikan apa yang Kak Bella mau, tapi Ayah gak pernah memberikan apa yang gue butuh. Dia selalu memaksakan apapun kehendaknya sama gue, tapi dia gak pernah sedikitpun memaksa Kak Bella."

"Kadang gue bingung, sebenarnya yang anak kandung itu gue atau Kak Bella."

"Lo nyesel nikah sama gue?" tanya Gala tiba-tiba, membuat Rea fokus menatap netranya.

"Kenapa nanya gitu?"

Gala mengedikan bahu. "Pernikahan kita ada karena paksaan Ayah ke lo, kan?"

Rea terdiam beberapa saat, sebelum menjawab, "Gue bersyukur karena ada lo."

"Kenapa?"

"Mungkin, kalau bukan lo gak akan sesabar itu untuk ngadepin tingkah gue yang keras kepala."

"Ini belum apa-apa, kehidupan baru dimulai. Gak ada yang bisa menjamin, gue akan selalu sabar ngadepin sikap lo."

Rea mengangguk mengerti. "Iya, gak ada yang bisa menjamin. Tapi gue percaya, lo gak akan pernah mundur, kan?"

.

.

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!