Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Ketenangan Isabella
"Kak, kenapa?" suara Lyra terdengar serak, saat bertanya pada Isabella yang begitu asing.
"Kamu yang kenapa? Apa maksud kamu berani menjebak pelayan seperti itu?" suara Isabella meninggi dan itu cukup mengejutkan bagi Lyra.
"Ka—kak aku tidak menjebak, mu—mungkin CCTV itu sudah di edit!" elak Lyra, melihat mata Isabella yang dingin Lyra merasa wanita itu asing.
Isabella mendengus dingin. Dia tak bisa mengungkap kejahatan Lyra sekarang dan menumbuhkan kecurigaan di hati wanita itu.
"Lyra," panggil Isabella, dia memanggil dengan nada lnjt. Seperti biasa. Walaupun mual tapi dia harus menahannya.
"Iya, Kak, apa kamu marah?" tanya Lyra takut-takut.
"Tidak marah, aku hanya khawatir, bagaimana kalau kamu terluka? Papa dan Mama akan khawatir juga, kan?" kata Isabella.
"Aku tahu, maafkan aku. Kak!" ujarnya mengalah.
Isabella mengangguk, dia memeluk Lyra demi meyakinkan kalau dirinya masih berpihak pada Lyra untuk saat ini.
Sedangkan Lyra, dia membalas pelukan itu. Masih sama seperti pelukan Isabella yang bodoh itu. Dia jadi bisa bernapas lega dan akhirnya tak lagi menaruh rasa curiga.
Malam harinya.
"Kamu makanlah lebih banyak, lihat badanmu itu! Kecil," kata Melody.
"Kali ini aku dengarkan Mama!" ucapnya, memeluk lengan sang Mama dengan erat.
"Kamu juga makan yang benar Lyra! Jangan diet lagi!" tegasnya, memberikan peringatan pada sang putri angkat.
Tak ada perbedaan antara Lyra dan Isabella, semua sama. Keduanya di anggap putri dan diperlakukan adil tanpa pilih kasih walaupun Lyra bukan asli bagian dari Davis.
"Permisi. Non Isa," seorang pelayan datang, dengan langkah tergesa-gesa.
"Iya, katakan! Ada apa?" tanya Isabella, dulu dia tak suka saat makan di ganggu. Namun, kali ini dirinya akan lebih manusiawi.
"Di luar dari Tuan Muda Darel!" katanya, wajahnya menunjukkan dalam takut secara langsung menatap pada mata Isabella.
DEGH!
Tubuh Isabella menegang sedikit saat nama itu kembali seperti mimpi buruk. Darel pria yang ia tolong dan selamatkan ternyata hanya ular yang siap mematuk tuannya bersama Lyra adik angkat yang tak tahu diri.
Perlahan tubuh Isabella rileks, dia menarik napas pelan dan dengan gerakan tenang menikmati makan malamnya tanpa peduli pada kedatangan Darel.
Jika tak salah ingat. Darel datang malam ini karena dia memiliki urusan bukan untuk menemui dia sebagai kekasih melainkan kartu bank yang ia miliki.
"Kak, itu Kak Darel menunggu kenapa Kakak diam saja?" tsnya Lyra, merasa aneh dengan ketenangan Isabella yang tak biasa.
"Aku sedang makan, katakan dia harus menunggu jika mau bertemu!" suara dingin Isabella membuat Matthew dan Melody merasa heran.
Namun, tak ada lagi yang membuka suara semua diam termasuk Lyra yang akhirnya ikut bungkam.
Sedangkan di ruang tamu.
"Mana Isabella?" tanya Darel, pria yang menjadi penyebab rasa sakit dan trauma di kehidupan pertama Isabella.
"Maaf, tuan. Kata Nona Isabella anda di minta menunggu jika ingin bertemu karena Nona sedang makan malam!" jelas pelayan itu.
"Hah? Dia mementingkan makan dari pada aku?" sembur Darel, wataknya yang keras memng membuat dia tak begitu di sukai oleh keluarga Marco. Apalagi ada kisah kelam di baliknya.
"Maaf, saya hanya menjalankan perintah!" kata pelayan itu menunduk takut.
Darel mengepalkan tangannya, jika bukan karena butuh pada Isabella maka dia tak akan menunggu seperti pengemis seperti ini.
Setengah jam kemudian.
"Kamu di sini? Apa lama menunggu?" suara Isabella membuat Darel langsung mendongak.
Matanya memicing tajam saat menatap Isabella, dia mendengus kesal. Namun, wajah Isabella tetap tenang dan tak terpengaruh sama sekali.
'Permainannya akan di mulai!' batin Isabella tak sabar.
***
Isabella duduk, gerakannya tenang dan sorot mata yang tak pernah Darel lihat sebelumnya.
Wanita itu terlalu tenang, bagi orang yang biasanya begitu bahagia saat melihat dirinya datang. Isabella akan selalu menempel dan bergelayut manja seperti anak kera pada induknya dan itu cukup membuat ia risih.
Namun, tatapan Darel terpaku pada Lyra yang berjalan menaiki anak tangga. Wanita itu juga tengah melirik kearahnya dengan senyum tipis.
Ekor mata Isabella melirik pada Darel, dan melihat bagaimana pria itu terpaku pada sosok Lyra yang tengah berjalan menaiki anak tangga.
'Bodohnya aku kenapa tidak bisa melihat apa yang sebenarnya padahal sudah sejelas ini?' rutuk Isabella, mengumpati kebodohan di masa lampau.
Namun, kali ini ia tak akan lagi bodoh, akan dia balas pria dan wanita itu dengan kejam, setiap tetes air mata dan darah yang ia dan semua orang yang ia sayang harus di bayar dengan mahal.
Isabella berdehem keras, hingga membuat Darel terkejut. Dia sampai menoleh dan matanya memicing tajam saat melihat Isabella sedang memandang dengan dingin.
"Kamu mau bertemu dengan ku atau Adikku?" suara rendah dan dingin Isabella membuat Darel agak merinding.
Namun, alih-alih takut dia justru bergantian memandang Isabella seperti biasa. Datar dan dingin.
"Tentu saja kamu, memang sejak kapan aku memiliki hubungan dengan adikmu?" suara dingin Darel membuat Isabella tersenyum remeh.
Dia memandang Darel, rasanya jika bukan karena mau membalas sakit hatinya. Sudah dia hancurkan pria itu saat ini juga.
Menyusahkan! Jerit hati Isabella yang lagi-lagi harus ia tahan dengan cepat.
"Aku datang mau meminta bantuan!" suara dingin Darel membuat alis Isabella terangkat sebelah.
"Sepertinya kamu datang hanya saat butuh bantuan ya? Apakah keluarga Marco tidak menopang anak kandungnya sendiri?" perkataan itu menancap langsung keulu hati Darel.
BRAK!
"Apa maksudmu? Apakah sekarang kamu mau bilang aku juga tidak berguna?" intonasi suara Darel naik satu oktaf dengan rahang mengeras marah.
"Apa salah? Aku hanya bertanya Darel, lagian juga Marco itu kaya, kan? Lalu kenapa membantu putranya sendiri saja mereka tidak mampu?" jawaban Isabella menginjak harga diri Darel.
"Jika kamu tidak mau membantu jangan harap aku mau bertunangan atau pun menikah denganmu!" ancaman yang dulu sering membuat Isabella ketakutan, karena terlalu mencintai Darel. Isabella jadi bodoh dan tak berguna.
"Memang kamu butuh bantuan apa?" tanyanya, meniup kukunya yang indah seolah enggan memandang Darel.
Darel menarik napas pelan, dia tak bisa menunjukkan secara jelas ketidaksukaan itu. Sebab Isabella masih sangat penting untuk kepentingannya merebut kekuasaan Marco dari Putra sah keluarga itu.
"Aku mau pinjam dana, bisnis ku sedang membutuhkan suntikan dana dan hanya kamu yang bisa menolong aku kali ini," suara Darel melembut, tidak sedingin tadi.
Sedangkan Isabella yang mendengar suara lembut itu sudah paham betul, dulu dia akan tergoda. Dan kasihan pada akhirnya menggelontorkan Dana yang tak sedikit untuk Darel dan bisnis barunya.
"Berapa yang kamu butuhkan?" pertanyaan yang Darel tunggu sejak tadi.
"Tujuh miliar!" jawaban Darel dengan angka fantastis itu membuat Isabella menoleh cepat.
"Hah? Berapa?" ulangnya.
"Tujuh miliar Isabella, aku butuh uang itu!" kata Darel, mengulang jawabannya sekali lagi.
"Gila? Apa kamu tidak waras?" pekik Isabella, dia sampai mendelik tak percaya.
"Kenapa? Itu uang sedikit untuk keluarga mu. Isabella, bisakah tolong aku!" pinta Darel.
Isabella menarik napas pelan, dia menatap Darel dengan sendu,"Aku harus bertanya pada Papa dan Mamaku lebih dulu!" putus Isabella, dan itu membuat Darel kesal.