Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.
Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.
Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.
Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.
Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 : Tempat Persembunyian
"Tianyi, kenapa kau duduk di sana, masuklah ke dalam , kau suka sekali duduk di udara dingin?" tegur Raja Shen Tianyi lembut. Tangan kekarnya menepuk pelan bahu istrinya.
"Aku tidak bisa berada di dalam terus, Tianyi," sahut Ratu Bai Luoxue, matanya tak berkedip menatap ufuk selatan yang tertutup awan gelap. "seakan aku ingin menatap ke arah sana terus, rasanya aku memikirkan putra-putraku terus."
"Aku sudah katakan padamu, kau hanya terlalu cemas, Istriku. Yuan dan Rui berada di Perguruan Cang Yue. Para Tetua menjaga mereka—"
"Tidak, Tianyi! Akh!" Ratu Luoxue mendadak terhuyung mundur. Tangan kanannya mencengkeram dada kirinya dengan kuat, wajah pualamnya berubah sepucat kertas.
"Luoxue! Kau kenapa?!" Raja Tianyi dengan sigap menangkap tubuh istrinya sebelum wanita itu ambruk.
"Tianyi... Rui... Anakku!" Suara sang Ratu bergetar hebat. Air mata seketika tumpah membasahi pipinya. Napasnya tersengal seolah baru saja tercekik. "Sesuatu yang sangat buruk baru saja terjadi padanya! Dadaku sesak sekali, Tianyi! Firasatku mengatakan Rui sedang dalam bahaya besar! Dia ketakutan... aku bisa merasakan ketakutannya!"
Raja Tianyi memeluk istrinya erat-erat, menyalurkan kehangatan Qi miliknya. Rahangnya mengeras menahan kepanikan yang ikut menjalar. "Tenanglah, Istriku. Mereka pewaris darah murni Naga Surgawi. Yuan ada bersamanya. Mungkin ini hanya kecemasanmu karena laporan perampok di perbatasan tadi sore."
"Bukan! Ini ikatan seorang ibu, Suamiku!" tangis Ratu Luoxue pecah. Tangannya meremas jubah naga sang Raja dengan putus asa. "Kau tidak mengerti! Bawa aku ke sana malam ini juga! Aku harus melihat putra-putraku! Aku harus menyelamatkan Rui!"
"Kita tidak bisa bertindak gegabah meninggalkan istana dalam keadaan darurat," bujuk Raja Tianyi. Nada suaranya berubah tegas, namun penuh permohonan. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah kegelapan malam di luar balkon. "Panglima Jenderal Lei!"
Sesosok pria berotot besar berbalut zirah emas berat melompat dari balik bayangan pilar, berlutut dengan satu kaki hingga lantai pualam bergetar. "Hamba siap menerima perintah, Yang Mulia Raja!"
"Dengarkan baik-baik. Segel kuil telah hancur. Kerahkan Sepuluh Ribu Pasukan Zirah Emas dan Para Ksatria Penunggang Singa Api sekarang juga!" perintah Raja Tianyi dengan suara yang menggema penuh murka. "Pergilah ke perbatasan Timur! Hancurkan setiap iblis atau aliran sesat yang berani menginjakkan kaki di tanah Kekaisaran Shen! Dan kirimkan regu bayangan elit ke Perguruan Cang Yue. Pastikan keamanan kedua pangeran tanpa membuka identitas mereka!"
"Perintah Yang Mulia adalah nyawa hamba!" Panglima Lei menunduk hormat, sebelum tubuhnya melesat pergi menjadi kilatan cahaya emas.
Di saat ketegangan memuncak di aula utama, suasana di lorong Keputren Istana justru dipenuhi bisik-bisik beracun. Dua orang dayang istana, Dayang Lian dan Dayang Chun, berjalan tergesa-gesa membawa nampan berisi kain sutra.
"Kau lihat wajah panik Ratu tadi?" bisik Dayang Lian dengan senyum miring. "Pasti menangisi putra-putranya yang dibuang ke gunung itu."
"Tentu saja," kekeh Dayang Chun pelan. "Huh, apa hebatnya wanita itu? Kalau bukan karena dia yang beraninya ke ranjang raja dan hamil anak dari Raja , Raja pasti sudah menaikkan tahta Selir Agung Yao."
"Benar sekali! Selir Agung Yao jauh lebih cantik dan anggun. Kulitnya seperti porselen murni, dan cintanya pada Yang Mulia Raja sangat tulus sejak mereka masih muda."
Dayang Chun mendengus kasar. "Tapi Ratu Luoxue terlalu rakus! Dia memonopoli perhatian Raja setiap malam. Kasihan Selir Yao, dia hanya bisa menatap bulan sendirian di paviliunnya sambil menangis."
"Orang-orang di dapur bilang Ratu menggunakan ilmu sihir aliran sesat untuk menundukkan Yang Mulia," timpal Dayang Lian dengan nada keji, melirik ke kiri dan kanan. "Coba saja pangeran-pangeran nakal itu dimakan siluman dan tidak pernah kembali dari sekte. Pasti Selir Yao yang akan menjadi penguasa Keputren yang sesungguhnya. Istana ini pasti akan jauh lebih damai tanpa teriakan Pangeran Rui."
Jauh dari intrik kotor istana, di kedalaman Hutan Terlarang belakang gunung Perguruan Cang Yue, udara dipenuhi oleh suara ratapan yang sangat menyayat hati.
Shen Yuan, sang jenius yang selalu bersikap dingin, kaku, dan penuh wibawa, kini hancur berkeping-keping. Pemuda itu berlutut di atas tanah berlumpur, kepalanya tertunduk dalam-dalam.
"Ini salahku... Ini semua salahku!" ratap Yuan dengan suara serak yang memilukan. Ia memukul-mukul tanah dengan kedua kepalan tangannya hingga buku-buku jarinya robek berdarah.
"Kak Yuan, kumohon berhentilah!" Lin Yue menjatuhkan dirinya di lumpur. Gadis berjubah kuning itu memeluk lengan Yuan erat-erat, ikut menangis tersedu-sedu. "Tanganmu berdarah! Tolong jangan salahkan dirimu sendiri!"
"Aku berada di sana, Lin Yue!" teriak Yuan menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar. "Aku memegang tangannya, tapi aku membiarkan monster jahanam itu merenggutnya! Kakak macam apa aku ini?! Ayah dan Ibu memintaku menjaganya, tapi aku gagal! Aku membiarkan adikku dibawa pergi!"
"Monster itu terlalu besar, Kak!" isak Lin Yue, air matanya membasahi pundak Yuan. "Bahkan Guru Wu dan Tetua Pertama tidak bisa menahannya! Kau sudah berusaha sekuat tenaga, pedangmu sampai hancur! Rui... Yui pasti masih hidup! Iblis itu bilang dia mencarinya untuk tuannya, kan? Dia tidak membunuhnya di tempat!"
"Tapi iblis itu akan menyiksanya!" Yuan mengusap wajahnya dengan kasar, matanya memerah penuh urat amarah dan keputusasaan. "Rui itu sangat bodoh, dia terlalu berani dan tidak pernah mau mengalah! Bagaimana kalau dia melawan dan membuat iblis itu marah?! Tidak, aku harus mengejarnya malam ini juga! Aku harus membawa adikku pulang!"
Yuan berusaha bangkit, namun Guru Wu yang memegangi bahunya yang bersimbah darah segera melangkah maju, menekan pundak pemuda itu dengan kuat.
"Tahan dirimu, Shen Yuan!" tegur Guru Wu dengan suara berat. "Kau mau mati konyol?!"
"Guru, biarkan aku pergi! Adikku ada di tangan makhluk itu!"
"Emosimu hanya akan mengantarkanmu pada kematian! Kekuatan elemen anginmu belum matang, sama sekali tidak sebanding dengan Iblis Serigala Primordial itu! Tetua Pertama sedang sekarat akibat Formasi Pengunci Langit yang hancur. Jika kau pergi sendiri dan mati, pengorbanan adikmu sia-sia! Kita harus melaporkan kejadian ini ke Perguruan Pusat dan Ibukota segera!"
"Guru Wu benar, Kak Yuan," sela Mei Lin, ikut terisak di belakang Lin Yue. "Tolong tenangkan dirimu. Tolong tetaplah hidup. Jika kau mati, siapa yang akan menyelamatkan Yui nanti?"
Namun, di tengah duka yang menyelimuti kelompok itu, tiga sosok murid laki-laki justru bersembunyi di balik pohon beringin raksasa, menjaga jarak dari yang lain. Senyum licik dan tawa tertahan terlihat di bibir Wang Jian, Li Mo, dan Zhao Qi.
"Hahaha, kau dengar tangisannya, Kak Wang?" bisik Li Mo nyaris tak bersuara, matanya berbinar penuh kelicikan. "Bocah sombong itu dibawa iblis! Dewa Langit benar-benar mengabulkan doa kita malam ini!"
Wang Jian mengusap bekas luka di wajahnya. Ia mendengus puas. "Memang sudah sepantasnya anak sialan itu mati! Gaya bicaranya sangat tengil, selalu merendahkan kita. Sekarang, tanpa Shen Rui, Shen Yuan pasti akan gila dan kehilangan fokus kultivasinya!"
"Benar sekali," kekeh Zhao Qi jahat. "Sekte ini akan kembali menjadi milik kita. Tidak ada lagi yang akan menyaingi pamor klan kita. Kuharap iblis itu mengunyah tulang-tulang si Rui perlahan-lahan agar anak desa itu tahu rasa sakit yang sesungguhnya. Biar saja dia jadi kotoran serigala!"
Ketiga pemuda itu terkikik pelan, menertawakan penderitaan Yuan.
Namun, mereka lupa satu hal. Angin malam di gunung itu adalah wilayah kekuasaan Shen Yuan. Hembusan angin membawa setiap silabel bisikan keji mereka, menyuapkannya langsung ke telinga pemuda yang sedang hancur tersebut.
Di tengah tangisannya, telinga Yuan berkedut.
Angin spiritual di sekitarnya mendadak berhenti berhembus. Udara berubah sangat berat, setajam ribuan silet tak kasat mata. Kesedihan dan air mata di wajah Yuan perlahan membeku mutlak, digantikan oleh aura membunuh yang jauh lebih pekat dan mematikan dari Iblis Serigala tadi.
"Kotoran serigala... katamu?" bisik Yuan. Suaranya tidak lagi serak karena tangis, melainkan sedingin dasar neraka es.
Yuan perlahan mengangkat kepalanya. Ia melepaskan pelukan Lin Yue, lalu menoleh menembus kegelapan, menatap lurus dengan mata malaikat maut ke arah pohon beringin tempat ketiga tuan muda arogan itu bersembunyi.
***
Like woy