Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Sejak bertemu langsung dengan Sheila, Sana selalu menghindari Raksa, baik sengaja maupun tidak.
Tapi Satria sudah dipecat Raksa tanpa peringatan, dan Sana kini merangkap sekretaris pribadinya. Mau tidak mau, mereka harus tetap berhubungan.
"Saya butuh laporan ini untuk rapat siang ini. Tolong siapkan dan serahkan sebelum jam makan siang." Raksa menyerahkan setumpuk tebal analisis pasar pada Sana dengan nada yang sepenuhnya profesional.
"Baik, saya mengerti. Ada lagi? Kalau tidak, saya permisi." Sana mengulurkan tangan dan mengambil dokumen-dokumen itu. Nada suaranya tenang dan terkendali, tapi dia ingin segera keluar dari ruangan itu.
Dia sudah memutuskan untuk berhenti berharap dan berhenti membayangkan apa pun tentang Raksa. Walau Raksa bilang menyukainya, dan walau Raksa menciumnya dengan penuh gairah, dia akan pura-pura itu tidak pernah terjadi.
Tapi melepaskan orang yang sudah disukai tidak mudah. Hanya dengan melihatnya, pipinya sudah memerah dan jantungnya berdebar. Bahkan sekarang, saat membicarakan pekerjaan, matanya tanpa sadar sering melirik ke arahnya.
Jadi, untuk menguatkan tekadnya, dia hanya bisa memilih cara yang paling menyedihkan: menghindari Raksa dan sebisa mungkin tidak bicara dengannya.
"Nggak ada lagi, kamu boleh keluar." Raksa memberi isyarat agar Sana pergi, lalu kembali bekerja.
Dia tahu apa yang dipikirkan Sana. Sana merasa ini cara terbaik bagi mereka untuk bergaul saat ini, dan dia tidak berniat merusaknya untuk sementara.
"Baik!" Begitu mendapat izin, Sana segera meninggalkan ruang Presdir dan kembali ke ruang sekretaris, tempat dia harus mengurus semuanya sendirian.
Sementara itu, di ruang Presdir, di luar pandangan Sana, Raksa tiba-tiba menghentikan pekerjaannya dan diam-diam mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari laci.
Dia memeriksa kotak itu dengan cermat, dan senyum penuh rahasia muncul di wajahnya.
Walau Sana menghindarinya seperti menghindari wabah, Raksa yakin selama dia tidak menyerah, Sana pasti akan sadar bahwa "rintangan" yang dia khawatirkan sebenarnya bukan masalah sama sekali.
"Pak Presdir, Ibu Sheila sudah tiba di bawah. Apakah..." Resepsionis di lantai bawah menghubungi saluran khusus Raksa untuk melaporkan kedatangan Sheila.
"Suruh dia naik! Tapi lain kali jangan panggil dia Bu Presdir. Sekarang dia cuma Sheila Maheswari."
Raksa menyimpan kotak beludru itu, dan wajahnya langsung muram. Kedatangan Sheila merusak suasana hatinya yang baik.
Sudah lebih dari setahun sejak perceraian. Dia tidak hanya tidak punya perasaan apa pun pada Sheila, dia juga makin tidak menyukainya.
Apa yang dulu dia anggap kebaikan, kelembutan, dan keahlian bergaul, kini tampak seperti kepura-puraan dan kemunafikan.
Dulu dia jatuh cinta pada Sheila hanya dalam sebulan. Pernikahan mereka bertahan empat atau lima tahun sebelum berakhir setelah sifat serakah dan egois Sheila terbongkar.
Alasan penting lain dia menceraikan Sheila adalah karena Sheila bersekongkol dengan para eksekutif perusahaan saingan untuk merebut Hanggara Group, yang dia bangun dengan susah payah.
Saat mengingat semua hal tentang Sheila, senyum ceria Sana tiba-tiba terlintas di kepala Raksa. Mata Sana yang jernih, sifatnya yang baik dan suka menolong, dan caranya yang selalu memperjuangkan kasih sayang seorang ayah untuk Langit.
Kalau keduanya dibandingkan, semua orang tahu mana yang pantas dibela. Raksa mengetuk meja dengan jarinya. Jawaban di hatinya sudah jelas.
"Raksa, kamu sibuk? Langit bilang dia mau beli mainan sepulang sekolah hari ini. Kita pergi bareng, yuk?" Suara Sheila terdengar dari dekat lift, bahkan sebelum dia masuk ke ruangan.
Dia tahu hanya Raksa dan Sana yang ada di lantai ini, jadi dia sengaja bicara keras agar Sana bisa mendengarnya.