Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.
Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.
Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 3
BAB 3
Pagi harinya, Grand Ballroom Hotel Indonesia Juara diubah menjadi ajang jumpa pers dan pameran kurasi bagi jajaran finalis. Lampu-lampu sorot bersuhu hangat menembus kisi-kisi langit-langit gedung, memantul pada manekin-manekin yang memamerkan miniatur rancangan lima besar. Di barisan depan, para kritikus mode, wartawan, dan investor berkumpul dengan kacamata analisis mereka masing-masing.
Maya berdiri di samping manekin miliknya. Ia mengenakan gaun dari sutra lembut berwarna abu-abu asap, dengan potongan draping asimetris yang melengkung bagaikan pusaran air. Gaun itu adalah manifestasi dari filosofinya: cair, ekspresif, dan memeluk emosi manusia. Meskipun penampilannya tampak tenang, matanya sesekali melirik cemas ke arah lipatan pinggang gaunnya. Bayangan kertas berisi kalimat ancaman bertinta merah dari semalam masih terus membayangi pikirannya.
Namun, ketenangan Maya terus terusik oleh kehadiran satu orang yang berdiri tak jauh dari manekinnya. Rendra.
Pria itu hadir bukan sebagai kontestan busana, melainkan sebagai kurator aksesori dan perancang perhiasan pendukung yang diundang khusus oleh panitia.
Rendra berdiri tegap dengan kemeja tenun berlapis rompi kulit gelap. Jemarinya yang kasar—terbiasa menempa tembaga dan perak—terlipat di dada. Pandangannya lurus menatap gaun Maya, tanpa ada riak terpukau sedikit pun di wajahnya.
Saat sesi diskusi panel dibuka untuk umum, seorang kritikus senior melontarkan pujian pada kelembutan karya Maya. Namun, belum sempat Maya mengulas senyum penuh, Rendra melangkah maju satu pijakan di dekat mikrofon.
"Pendekatan estetika yang emosional, Maya," ujar Rendra, suaranya yang berat dan tenang mengudara, memotong riuh gumam pengunjung. "Tapi dari kacamata rekayasa struktur, bagian bahu kiri dan keliman draping di pinggang itu terlalu menggantungkan nasibnya pada elastisitas sutra. Jika model bergerak cepat di bawah terpaan angin luar ruangan, bentuknya akan runtuh dan kehilangan arah."
Suasana ruangan mendadak hening seketika. Beberapa wartawan berbisik-bisik, penanya sibuk menari di atas note catatannya.
Dada Maya berdesir panas. Psikologinya terpantik. Ia membenci bagaimana Rendra selalu bisa menemukan celah untuk mereduksi karya seninya menjadi sekadar perhitungan kalkulasi fisika. Maya menegakkan punggung, menatap Rendra dengan pendar mata yang menyala.
"Itu karena kau menilai karya seni busana seperti menilai kerangka jembatan," balas Maya ketus, membiarkan suaranya bergema menembus mikrofon. Dia tidak sadar jika Rendra yang sudah Maya kenal sejak masa kuliah, kini dalam posisi sebagai konsultan ahli yang diundang secara khusus oleh juri.
"Keindahan sutra ada pada gerakannya yang dinamis dan bernapas, bukan pada kekakuan yang ditahan oleh kawat atau pelat logam," tegas Maya lagi dengan tatapan tajam. "Pakaian diciptakan untuk memeluk tubuh manusia, bukan untuk mengurungnya dalam sangkar kaku!"
Rendra menyunggingkan senyum yang sangat tipis—sebuah gestur mikro yang hanya bisa ditangkap oleh mata Maya, dan itu makin membakar gengsinya.
"Tubuh manusia membutuhkan struktur untuk menegaskan kehadirannya, Maya," jawab Rendra tenang sambil melangkah mendekati manekin gaun Maya tanpa ragu. Tangannya menunjuk halus lipatan kain sutra di bagian bahu. "Karyamu ini sebenarnya bagus, namun tanpa kerangka presisi, keindahan yang ingin kau tonjolkan pada karyamu ini hanyalah gumpalan kain lemas yang kehilangan karakter saat diterpa realitas gerakan. Kau mengandalkan perasaan, tapi membutakan mata pada daya tahan."
"Perasaan adalah jiwa dari rancangan ini!" potong Maya cepat dengan nada suara mengencang. "Sesuatu yang tak pernah ada pada karya-karyamu yang dingin dan membatu itu!"
“Maaf saudari Maya. Pak Rendra berhak menyampaikan penilaiannya pada karya semua peserta. Beliau konsultan ahli yang sengaja kami para juri mengundang,” selak salah seorang juri dengan nada teguran keras.
Juri mempersilahkan Maya Kembali ke tempat duduknya. Maya meminta maaf atas responnya yang agresif, meski di dalam hatinya kekesalan itu masih bergolak hebat.
Di sudut ruangan, Clarissa Arum menyaksikan bentrokan itu seraya menyunggingkan senyum kepuasan. Di sampingnya, Victor—investor senior dengan jas mahal dan tatapan licik—menyesap kopinya perlahan.
"Lihat dia," bisik Clarissa pada Victor dengan nada meremehkan. "Maya selalu saja membiarkan emosinya menguasai kepala. Sama persis seperti masa-masa kuliah dulu. Dia pikir idealismenya bisa menutupi kelemahan teknisnya."
"Justru itu yang kita butuhkan, Clarissa," jawab Victor berbisik dingin. "Semakin dia emosional dan merasa diserang, semakin mudah matanya dibutakan oleh bantuan manis yang akan kita tawarkan nanti."
Maya menahan napas. Ia tahu perdebatan itu seharusnya berhenti sampai di sana. Namun, tatapan Rendra yang tetap tenang justru membuat dadanya semakin panas. Seolah-olah pria itu tidak sekadar mengkritik gaunnya, tetapi sedang menantang sesuatu yang jauh lebih pribadi.
Ia memalingkan wajah, lalu merapikan ujung kain pada manekinnya dengan gerakan yang lebih keras dari seharusnya. Di hadapannya, karya para finalis lain masih menjadi pusat perhatian. Namun, mata Maya justru tertahan pada salah satu manekin di ujung ruangan. Karya Ren—sang pemuncak klasemen—memadukan kain lembut dengan detail kerajinan tembagayang kokoh. Perpaduan itu tampak begitu alami, seolah kedua material yang berlawanan tersebut memang diciptakan untuk saling menguatkan.
Maya menghela napas panjang.
“Indah sekali...” gumamnya. Lalu ia kembali teringat pada Rendra. Entah mengapa, semakin ia berusaha mengabaikan pria itu, semakin kuat pula kegelisahan yang tertinggal di dalam dirinya. Sekali lagi Maya menghela napas Panjang sebelum akhirnya ia meninggalkan area kompetisi.
Tak sanggup lagi menahan tekanan yang bertubi-tubi, Maya memutuskan untuk bergegas menuju sebuah kedai kopi di luar hotel. Di sana, seorang wanita berkacamata dengan pakaian formal sudah menunggunya. Dia adalah Tari, sahabat karib Maya sejak SMA yang kini berprofesi sebagai praktisi hukum.
"Wajahmu pucat sekali, Maya," tegur Tari saat Maya mendudukkan dirinya dengan lemas. "Ada apa? Soal debatmu dengan konsultan juri tadi? Aku sempat lihat potongannya di media sosial."
"Bukan cuma itu, Tar," bisik Maya, suaranya bergetar. Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan menyerahkan kertas lusuh berbekas tinta merah yang ia simpan rapat-rapat. "Semalam aku dapat teror. Ada yang menyelipkan kertas ini di balik pinggang gaun utamaku di backstage."
Tari membaca kertas itu, lalu dahinya berkerut dalam. "Ini sudah masuk ancaman pidana dan intimidasi mental, Maya. Orang ini tahu persis celah keamanan di lokasi kompetisi."
"Aku harus bagaimana, Tari? Aku tidak mungkin lapor polisi sekarang, media sedang menyorot kompetisi ini. Kalau berita ini bocor, reputasi studioku bisa hancur sebelum sempat bertanding," ceracau Maya panik.
Tari memegang jemari Maya yang dingin. "Dengar. Kalau kamu belum mau melibatkan pihak berwajib, langkah pertama yang wajib kamu lakukan adalah mendiskusikan hal ini secara terbuka dengan tim intimu. Orang-orang tepercaya di studiomu harus tahu. Kalian harus memperketat pengawasan manekin dan ruang rias secara bergantian."
Saran Tari meresap perlahan ke benak Maya. Benar, ia tidak bisa menanggung beban ketakutan ini seorang diri. Ia butuh dua sahabat karib sekaligus tim intinya—Nia dan Dito—yang saat ini memang sudah menunggunya di lounge eksklusif area backstage.
Dengan napas yang diatur perlahan, Maya berpamitan pada Tari. Ia menyimpan kertas ancaman bertinta merah itu rapat-rapat ke dalam tasnya, lalu bergegas kembali menembus area kompetisi hotel.
Namun, saat langkahnya memotong kerumunan, matanya tanpa sengaja menangkap sosok Rendra yang berdiri di kejauhan. Pria itu sedang dikelilingi oleh dua wartawan media mode. Tatapan Rendra yang dingin dan kaku mendadak bergeser, terkunci lurus ke arah Maya. Ada kerutan tipis di dahinya—sebuah tatapan penuh intimidasi yang seolah terus menghakimi kelemahan gaun rancangannya.
Dada Maya seketika berdesir panas. Tekanan dari pesan teror bertinta merah yang masih membakar emosinya, membuat kepala Maya makin pening. Rasa sesak dan emosi yang menumpuk di dadanya sudah sampai di batas ambang.
Ia memutar badannya dan mempercepat langkah. Maya mengacuhkan semua pandangan orang di sekitarnya, berjalan kencang menembus koridor menuju lounge eksklusif. Ia butuh tumpuan, dan ia harus segera meluapkan seluruh emosi konyol ini di hadapan Nia dan Dito.