NovelToon NovelToon
Cintai Aku Sekali Saja

Cintai Aku Sekali Saja

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Askararia

Raisa meninggalkan rumah mertuanya di malam hujan, pernikahan yang kata suaminya "tanpa cinta" itu harus kandas setelah kedatangan saudara tirinya yang bernama Arni yang mana sebelumnya adalah mantan kekasih suaminya. Lima tahun bertahan dengan lelaki lumpuh yang memiliki temperamen buruk itu bahkan membuat Raisa kehilangan dirinya sendiri, malam itu disaat ia mengajukan perceraian pada Angga, ia pergi ke makam ayahnya untuk meluapkan seluruh isi hatinya sebab jika ia kembali kerumah ia hanya akan mendapat cacian dari ibu sambungnya. Namun seiring berjalannya waktu Raisa tak lagi mampu bertahan dengan semua penderitaannya. Apakah pada akhirnya suaminya akan mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Askararia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

"Pak, percaya sama saya kalau saya tidak melakukan hal itu kepada istri saya. Dia hanya menjebak saya saja agar reputasi saya hancur!" Seru Angga pada polisi yang sedang mencatat keterangannya.

"Iya, Pak. Saya dan anak saya memperlakukan menantu saya dengan sangat baik, dia tidak kekurangan apapun selama dia masuk kedalam keluarga kami" sahut Laluna dari samping Angga.

Namun sekeras apapun mereka mengelak polisi yang sedang menginterogasi Angga dapat menemukan kejanggalan dari ekspresi Steven setiap kali Laluna dan Angga berbicara. Ekspresi murung lelaki itu membuat lelaki berseragam polisi itu terdiam beberapa meski jemarinya terus menari diatas keyboard komputer.

Beruntung pengacara yang disewa oleh Laluna tiba disana dan mulai membantu mereka menjawab pertanyaan yang diajukan kepada Angga dan pada akhirnya Angga bisa pulang dengan syarat bahwa lelaki ini harus bersedia kapanpun ia dipanggil kesana.

"Ma, aku harus bicara dengan Raisa sekarang juga" ucap lelaki ini begitu mereka keluar dari kantor polisi.

"Jangan sekarang, biar kali ini Mama yang bicara. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Raisa ada benarnya juga, ini semua karena kamu bersikap terlalu kasar padanya, coba kalau kamu lembut sedikit pasti Raisa tidak akan senekat ini" ucap Laluna yang juga merasa kesal pada Angga.

"Kenapa Mama malah membela Raisa, selama ini memangnya siapa yang menghasut aku untuk bersikap buruk padanya? Mama juga kan?"

"Sudah, sudah Ma, Angga. Kalian mau kita dipanggil lagi kedalam?" Ucap Arni melerai keduanya.

"Benar kata Arni, sebaiknya kita sekarang kita pulang dulu ke rumah. Tenangkan pikiran masing-masing dan untuk Raisa, begitu dia bisa pulang baru kita bicara lagi!" Usul Steven yang pada akhirnya mampu membuat suasana menjadi sedikit lebih tenang.

Steven mengantar Arni pulang, dalam perjalanan lelaki ini hanya diam menatap fokus pada jalanan. Pikirannya selalu saja tertuju pada Raisa saat terbaring bersimbah darah dikamar Angga, kakak laki-lakinya tersebut.

"Sayang, kamu lagi mikirin apa?" Tanya Arni menepuk pundak Steven.

"Ohh, gak mikirin apa-apa sayang. Aku cuma ngantuk aja, soalnya semalam kan aku kurang tidur" jawab lelaki itu gugup.

"Karena kamu mabuk?"

"Hah? Engga, aku gak mabuk sayang. Kamu kan tahu sendiri kalau aku gak minum alkohol"

Arni tersenyum mengangguk pelan meski ia tahu Steven tengah membohonginya, sebab dari nafasnya saja masih berbau alkohol serta baju yang dipakai Steven masih menyimpan aroma rokok yang begitu menyengat.

"Kamu mau berbohong bagaimanapun aku tahu, sayang. Tapi tidak masalah karena aku selalu punya cara untuk membuatmu tunduk di hadapanku" batin gadis ini menatap calon suaminya kembali.

Begitu mobil Steven sampai di depan rumah Arni ia keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk calon istrinya tersebut.

"Sayang, aku tidak bisa mampir karena harus kembali kerumah, aku juga harus ke kantor siang ini" ucapnya yang hanya di jawab anggukan singkat oleh Arni.

Begitu Steven kembali ke mobil, Tina keluar dari rumah menatap Arni yang sedang mematung melipat kedua tangannya sambil terus menatap tajam kearah mobil yang semakin menjauh itu.

***

Tiga hari kini berlalu dan Angga tak pernah sekalipun menjenguk Raisa dirumah sakit, satu-satunya orang yang selalu datang menjenguknya adalah Steven yang menyempatkan diri sepulang dari kantor untuk mengantarkan makanan dan pakaian, dan tanpa memberitahu wanita itu kalau beberapa hari tersebut Angga yang telah menyiapkan pakaiannya.

"Huffff, kamu bahkan jauh lebih baik dari kakakmu. Seandainya saja aku menikah dengan mu dan Arni dengan Angga maka tak perlu ada korban di antara kita berempat!" Seru Raisa setelah keluar dari kamar mandi usai ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang baru saja dibawakan oleh Steven.

Lelaki yang tengah duduk di kursi itu tampak murung menatap layar ponselnya, sore ini Arni mengirimi ia pesan agar mereka segera melangsungkan pernikahan mereka dengan alasan takut Raisa akan membuat pernikahan mereka tertunda.

"Bagaimana ini? Aku bukannya tidak ingin pernikahan ku dengan Arni ditunda, tapi melihat keadaan Raisa yang seperti ini apa mungkin kami melakukan pesta sementara dia menderita? Bagaimanapun juga aku pernah menjanjikan hal yang sama padanya" batin Steven termenung menatap balon obrolannya dengan Arni.

Melihat lelaki itu tak merespon ucapannya membuatnya terpaksa menghampiri Steven, ia tak sengaja membaca pesan terbaru dari Arni yang mendesak lelaki itu untuk segera menikahinya.

"Kalau mau menikah ya menikah saja, kenapa harus bawa-bawa aku?" ucapnya menyadarkan lelaki itu dari lamunannya.

"Jangan suka mengintip privasi orang lain" ucap Steven menyimpan kembali ponselnya kedalam saku.

"Memangnya kamu ini orang lain?" Tanya Raisa menyusun pakaian miliknya kedalam paper bag.

"Dokter bilang hari ini aku sudah bisa pulang, jadi beritahu orang rumah untuk menyiapkan kamar untukku!" Titah Raisa membawa paper bagnya keluar dari ruangan tersebut.

Keduanya berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit yang panjang dan sepi itu, tiba-tiba dari arah parkiran Arni datang berlari penuh semangat lalu segera memeluk Raisa dihadapan semua orang.

"Kakak, akhirnya kamu bisa pulang juga" ucapnya.

Wanita itu tak bereaksi saat Arni memeluknya erat sebab ia yakin gadis itu pasti sedang menyembunyikan sebuah kelicikan dibelakangnya, setelah Arni melepaskan pelukannya Raisa segera melangkahkan kakinya serta wajahnya masih datar melewati Arni yang mematung cemberut menunggu Steven membujuknya.

"Sabar ya sayang, mungkin Raisa sedang kelelahan saja" ucapnya mengacak pelan ujung rambutnya.

"Kalian pacarannya nanti saja, setelah mengantarku pulang" ucap Raisa setengah berteriak sebelum ia masuk kedalam mobil milik Steven.

"Dasar perempuan sialan, berani-beraninya dia meneriaki ku" batin Arni menggertakkan deretan giginya.

Keduanya melangkah menghampiri Raisa menuju perjalanan pulang kerumah, tak banyak yang berubah usai Raisa menginjakkan kembali kakinya kerumah itu, begitu ia melangkahkan kakinya melewati pintu masuk ia disambut oleh Laluna yang membawa gelas kosong ditangannya, keduanya berdiri berhadapan membuat semua orang harus menelan ludah kasar, kecuali Arni.

"Dasar perempuan tidak tau diuntung!"

Gelas itu melayang di udara namun segera ditangkap oleh Raisa menggunakan salah satu tangannya, kakinya melangkah kecil mendekati mertuanya tersebut lalu mengembalikan gelas itu ke tangannya.

"Lain kali lemparnya lebih dekat lagi ya, Ma" bisiknya.

Laluna tentu tak terima atas perlakukan menantunya tersebut namun ia tak dapat membalasnya sebab Steven sudah lebih dulu menahan tangannya. Raisa menekan kenop pintu kamar suaminya dan mendapati Angga tengah duduk bersandar diatas tempat tidur sambil memegang sebuah buku berjudul "control your emotion" yang sengaja ia angkat tinggi setelah istrinya membuka pintu kamarnya.

Raisa menyunggingkan bibirnya saat melihat hal tersebut, setelah menutup pintu ia melangkah kearah meja kecil milik Angga, melihat ponselnya yang semula ia tinggalkan merekam kejadian beberapa hari lalu kini tengah diisi saya oleh suaminya membuat wanita ini menganggukkan kepalanya beberapa kali.

"Kenapa?" Tanya Angga cuek namun Raisa hanya mengangkat bahunya.

Raisa berjalan ke sisi lain kasur lalu berbaring menyeret selimut untuk menutupi badannya, tak lupa ia juga menggeser bantal guling diantara keduanya sebagai pembatas. Melihat istrinya tak menjelaskan apapun membuat Angga harus menutup bukunya lalu menyeret bantal guling itu dari Raisa.

"Kau tidak ingin mengatakan apapun?" Tanyanya mengerutkan keningnya.

Raisa yang masih berbaring mengangkat satu tangannya menutupi matanya, "mengatakan apa?" tanyanya.

"Alasan kamu kenapa kamu melukai dirimu sendiri dan mengkambinghitamkan aku dihadapan semua orang?" pekiknya meneriaki istrinya tersebut.

Wanita ini menepuk-nepuk telinganya beberapa kali seolah ia terganggu mendengar suara teriakan suaminya, ia lalu duduk perlahan menatap suaminya yang kini berada tepat di sampingnya.

"Menurut mu kenapa?" Tanyanya mendekatkan wajahnya pada lelaki itu.

Namun bukannya marah Angga malah terdistraksi dengan bulu mata lentik Raisa, alisnya yang tebal dan tajam juga warna bibir istrinya yang pink kemerah-merahan, ia meneguk ludahnya pelan lalu mendorong wajah Raisa menjauh dengan menyentuh dahi wanita itu.

"Nafasmu bau" ucapnya menyamarkan kegugupan.

Suami istri ini lalu saling mengalihkan pandangan mereka kearah lain, beberapa menit keduanya sama-sama melipat kedua tangan mereka di dada sambil bersandar pada divan.

"Kau mau balas dendam padaku?"

"Sudah tahu, kenapa masih bertanya?"

"Bukan begitu caranya, Raisa!"

"Lalu bagaimana, Angga?"

Lelaki itu kembali menatap wajah Raisa dari samping, untuk kali pertama ia menatap wajah istrinya lebih dekat sebab Raisa kini sudah berani menentangnya terang-terangan.

"Kau berkata kau ingin bercerai denganku, lalu kenapa kau tidur diatas kasurku?" Tanyanya.

"Memangnya kamu tidak mengingat apa yang aku katakan beberapa hari lalu? Hari dimana kamu menusuk ku dengan pisau buah diatas meja?" wanita itu membalikkan pertanyaan juga melirik buah diatas meja, namun kali ini buah diatas piring sudah terpotong rapi.

"Jangan bicara seperti itu, Raisa. Orang bisa mengira kalau aku benar-benar melakukan itu, padahal kamu tahu kalau kamu sendiri yang melukai dirimu sendiri"

"Kamu, kamu yang melukaiku, bukan dengan pisau yang ada dalam benakmu, tapi dengan perkataanmu yang bahkan lebih tajam dari pisau yang baru saja di asah. Kamu lupa? Saat kamu mengatakan kalau kau berharap aku mati?"

Lelaki ini mengingat kembali saat dimana ia mengatakan hal yang sama pada istrinya, ia sadar bahwa ia sudah sangat keterlaluan dan itu semua terjadi karena hatinya terlalu diselimuti oleh rasa dendam pada Arni yang tak bisa ia balaskan dan justru Raisa lah yang jadi sasaran dari kemarahannya.

"Kita akan bercerai, Angga. Cerai mati!" Ujar Raisa mengancam suaminya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!