NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misi Rahasia Bima

Pagi setelah kejadian rentenir, penthouse lantai 56 masih dalam mode siaga.

Dua bodyguard Rafael berjaga di depan lift private. Bu Ratna tidak berhenti membuatkan susu coklat untuk Bima yang masih trauma. Dinda tidak sekolah karena masih shock.

Dan Rafael? Rafael sudah kembali rapi dengan kemeja hitam lengan panjang untuk menutupi perban di tangannya, tapi wajahnya pucat. Ia duduk di ruang kerja, menatap laptop, tapi dari pantulan kaca, matanya terus melirik ke ruang tamu tempat Alya sedang menyuapi Bima.

Sejak semalam, ada yang berubah. Alya tidak lagi gemetar jika dekat dengan Rafael. Malah, setiap kali mengganti perban Rafael, tangannya tidak gemetar.

"Kak Alya," bisik Bima pelan saat disuapi, matanya melirik ke ruang kerja Rafael. "Kakak ganteng itu suami Kakak beneran, kan?"

Alya hampir tersedak. "Kenapa Bima tanya begitu?"

"Soalnya..." Bima berbisik lebih pelan, seperti agen rahasia. "Bima liat di sinetron, kalau suami istri itu tidurnya peluk-pelukan, terus ciuman sebelum bobok. Kakak sama Kak ganteng tidurnya pisah-pisah. Kayak Kak Dinda sama bonekanya."

Alya langsung panik dan menutup mulut Bima. "Sstt! Jangan ngomong keras-keras!"

Tapi Bima sudah terlanjur punya misi. Misi yang ia buat sendiri setelah melihat Kak Alya menangis di kontrakan dan diselamatkan Kak ganteng.

Misi itu bernama: _Operasi Bikin Kak Alya dan Kak Ganteng Jadi Suami Istri Beneran._

Siang harinya, saat Alya sedang membantu Bu Ratna di dapur, Bima menyelinap ke ruang kerja Rafael.

Rafael yang sedang video call dengan rekan bisnisnya dalam bahasa Rusia, langsung mematikan videonya saat melihat Bima masuk membawa kertas gambar.

"Apa?" tanya Rafael datar.

Bima naik ke sofa di sebelah Rafael tanpa takut dan menyodorkan kertas gambarnya. Di kertas itu ada gambar stickman: satu tinggi pakai jas, satu pakai dress, dan satu kecil di tengah. Di atasnya ada tulisan miring-miring: _KELUARGA BIMA._

"Ini Bima gambar keluarga," kata Bima bangga.

Rafael menatap gambar itu lama. Jari-jarinya yang biasanya menandatangani kontrak triliunan, kini memegang kertas gambar yang penuh coretan crayon.

"Bagus," katanya singkat.

"Kak ganteng," Bima menarik lengan kemeja Rafael. "Kenapa Kak ganteng gak pernah cium Kak Alya? Ayah Bima dulu sebelum sakit selalu cium Mama sebelum berangkat."

Pertanyaan polos itu membuat Rafael yang biasanya tidak pernah kehabisan kata-kata, terdiam total.

"Orang dewasa tidak seperti itu," jawab Rafael kaku.

"Bohong!" Bima cemberut. "Di TV cium! Kalau gak cium berarti bukan suami istri beneran! Bima gak mau Kak Alya dibohongin!"

Rafael menatap Bima yang cemberut. Ada rasa bersalah yang aneh muncul. Anak sekecil ini bisa melihat kebohongan yang bahkan dewan direksi Virel Corp tidak bisa lihat.

"Bima mau apa?" tanya Rafael akhirnya, suaranya lebih lembut.

"Bima mau lihat Kak ganteng cium Kak Alya! Sekarang! Biar Bima percaya Kakak sayang Kak Alya!"

Rafael memejamkan mata. Anak ini.

Di saat yang sama, Alya keluar dari dapur membawa nampan teh. "Bima, jangan ganggu Kak Rafael, ayo—"

Kalimat Alya terpotong karena Bima tiba-tiba berlari dan mendorong punggung Alya dengan sekuat tenaga kecilnya, tepat ke arah sofa tempat Rafael duduk.

Alya kehilangan keseimbangan dan jatuh...

...tepat di pangkuan Rafael.

Nampan teh jatuh ke karpet. Teh tumpah.

Posisi mereka sangat berantakan. Alya duduk di pangkuan Rafael, kedua tangannya bertumpu di dada bidang Rafael untuk menahan jatuh. Wajah mereka hanya berjarak 5 senti. Napas mereka bertaut.

Mata Alya membelalak. Mata Rafael juga membelalak, kaget dengan serangan mendadak Bima.

"Kak! Cium! Cium sekarang!" teriak Bima dari belakang sofa seperti sutradara cilik. "Kalau gak cium, Bima nangis!"

Dinda yang baru keluar dari kamar tamu langsung menutup mulutnya menahan jerit, "Ya ampun!"

Alya panik ingin bangun, tapi tangan Rafael yang tidak terluka tiba-tiba menahan pinggangnya dengan kuat agar tidak jatuh lagi. Perban di tangan satunya terlihat.

"Jangan bergerak. Nanti jatuh lagi," bisik Rafael dengan suara berat, napasnya memburu karena menahan sakit di luka pinggangnya akibat gerakan mendadak Alya.

Alya bisa merasakan detak jantung Rafael yang kencang di balik kemejanya. Atau itu detak jantungnya sendiri? Ia tidak tahu.

"Bima... jangan..." Alya berbisik memohon pada adiknya.

Rafael menatap Alya yang berada di pangkuannya. Wajah Alya yang polos tanpa makeup, mata yang masih sembab karena menangis semalam, bibir yang bergetar karena panik. Dress rumah sederhana yang ia pakai. Gadis ini sangat berbeda dari Sinta dan semua wanita yang pernah mengejarnya.

Dan Bima terus berteriak, "Cium! Cium! Cium!"

Rafael adalah seorang pria yang tidak pernah kalah dalam negosiasi. Tapi hari ini, ia kalah oleh anak kelas 5 SD.

Dengan satu keputusan gila yang bahkan tidak ia rencanakan, Rafael mengangkat tangannya yang tidak diperban, meraih tengkuk Alya dengan lembut, dan menariknya mendekat.

Alya memejamkan mata karena takut, mengira Rafael akan marah.

Tapi yang ia rasakan adalah sesuatu yang lembut, hangat, dan singkat mendarat di keningnya.

Rafael mencium kening Alya.

Bukan bibir. Kening.

Ciuman pertama mereka. Di penthouse lantai 56, disaksikan oleh Bima yang bersorak, Dinda yang menjerit tertahan, dan Bu Ratna yang pura-pura tidak melihat sambil mengelap piring di dapur.

Ciuman itu hanya 3 detik, tapi bagi Alya, waktu berhenti.

Lembut. Dalam. Melindungi. Bukan ciuman nafsu seperti yang ia takutkan dari Pasal 3. Tapi ciuman yang membuat semua rasa takutnya selama 7 bab ini hilang.

Rafael melepasnya pelan.

"Sudah?" kata Rafael pada Bima dengan wajah datar, tapi telinganya merah. "Puas?"

Bima bersorak kegirangan dan melompat-lompat di sofa. "Hore! Kak Alya sama Kak ganteng udah jadi suami istri beneran! Bima mau gambar lagi!"

Bima berlari mengambil crayonnya.

Alya masih duduk di pangkuan Rafael, lemas. Wajahnya merah seperti tomat. Ia tidak berani menatap Rafael.

"Turun," kata Rafael pelan.

Alya langsung turun dengan gugup, merapikan dressnya.

Hening canggung yang sangat panjang.

Dinda dengan bijak langsung menarik Bima, "Bima ayo kita main di kamar! Kakak mau ngobrol sama Kak Rafael!"

Tinggal mereka berdua lagi di ruang tamu yang berantakan karena teh tumpah.

Alya memberanikan diri menatap Rafael. "Ma-maaf... Bima memang begitu..."

"Anak kecil," jawab Rafael singkat, tapi ia tidak terlihat marah. Ia malah menyentuh keningnya sendiri, tempat ia baru saja mencium Alya, seolah memastikan apa yang baru saja ia lakukan.

"Tadi... kenapa di kening?" tanya Alya dengan suara super kecil, hampir tidak terdengar.

Rafael berdiri, berjalan mendekat. Ia menatap Alya dalam-dalam.

"Karena kalau di bibir, kamu akan nangis lagi. Dan saya tidak suka lihat kamu nangis," jawabnya jujur, untuk pertama kalinya tanpa alasan bisnis atau kontrak.

Alya menunduk, air matanya malah menetes lagi karena kata-kata itu. Tapi kali ini bukan air mata takut.

Rafael menghela napas dan dengan gerakan kaku, ia menghapus air mata itu lagi dengan ibu jarinya, seperti semalam di RSCM.

"Jangan nangis terus. Pasal 2," bisiknya.

"Pasal 2 apa?" tanya Alya bingung.

Rafael tersenyum miring, senyum keempat yang Alya lihat, dan yang paling tampan sejauh ini.

"Pasal 2: Dilarang jatuh cinta. Kamu melanggarnya kalau nangis terus karena saya."

Alya terpaku. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia yakin Rafael bisa mendengarnya.

Di kamar tamu, Bima berbisik pada Dinda, "Kak, misi berhasil!"

Dan malam itu, batas bantal di ranjang utama akhirnya dibuang oleh Bu Ratna atas perintah tidak langsung dari Bima yang berkata, "Bu, bantalnya menghalangi jalan, Bima mau tidur tengah!"

Bersambung...

1
Renjana
🥰
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!