Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Merobek Takdir Naga Bumi
Racun Yin di dasar Jurang Sembilan Kegelapan bukan sekadar racun. Kabut itu seolah memiliki kehidupan sendiri. Ia merayap masuk melalui luka di punggung Mo Xie dan terus menggerogoti dagingnya.
Tanpa Tulang Dao Bawaan sebagai penopang tubuh, keadaan Mo Xie semakin memburuk. Organ dalamnya mulai bergeser. Setiap tarikan napas terasa seperti meremas jantung dan paru-parunya.
Luka di sepanjang punggungnya telah menghitam. Pembusukan mulai merambat ke dalam tubuh.
Mo Xie tahu waktunya hampir habis.
Jika ia tidak segera menemukan tulang yang dapat menggantikan tulang punggungnya, tubuhnya akan segera hancur. Bahkan Seni Penempaan Tulang Surgawi tidak akan mampu menyelamatkannya dari kematian.
Namun Mo Xie tidak panik.
Orang yang masih berharap diselamatkan mungkin takut mati. Tetapi Mo Xie tidak lagi memiliki harapan.
Yang tersisa hanya naluri untuk bertahan hidup dan kebencian yang belum padam.
Dengan mengandalkan lengan kirinya yang kini telah berubah menjadi Kerangka Besi Hitam Kegelapan, Mo Xie mencengkeram bangkai Serigala bermata merah.
Cakar obsidiannya menembus daging.
Ia menyeret bangkai seberat ratusan kilogram itu melewati bebatuan tajam. Setiap langkah membuat luka di punggungnya terasa seperti kembali terkoyak.
Namun ia terus berjalan.
Darah dari leher serigala meninggalkan jejak merah di atas lumpur hitam.
Setelah menempuh setengah li, Mo Xie melemparkan bangkai itu ke sebuah cekungan yang dikelilingi pilar batu dan tulang-belulang raksasa.
Kemudian ia menyembunyikan tubuhnya di balik tulang rusuk purba yang telah membatu.
Ia menahan napas dan menekan denyut nadinya hingga hampir tak terasa.
Ia hanya perlu menunggu.
Tidak lama kemudian, tanah mulai bergetar.
Suara gesekan sisik terdengar dari balik kabut.
Sebuah bayangan besar perlahan muncul.
Seekor Ular Naga Bumi.
Panjangnya mencapai sepuluh meter dengan tubuh sebesar batang pohon tua. Sisiknya berwarna abu-abu kehijauan dan sekeras baja hitam. Sepasang mata kuningnya menatap bangkai Serigala dengan rakus.
Liur beracun menetes dari taringnya. Setiap tetes membuat batu di bawahnya mendesis dan meleleh.
Ular Naga Bumi ini bukan binatang Yin biasa.
Di dalam darahnya mengalir sedikit darah naga purba. Kekuatan tubuhnya jauh melampaui binatang biasa dan bahkan mampu menghancurkan pusaka spiritual tingkat rendah.
Ular itu melilit bangkai serigala lalu membuka rahangnya.
Saat taringnya menancap ke tubuh mangsa, tubuhnya mengendur sesaat.
Itulah saat yang ditunggu Mo Xie.
Bayangan hitam melesat keluar dari balik tulang purba.
Mo Xie menerjang tanpa ragu.
Ular Naga Bumi segera menyadarinya dan memutar kepalanya. Rahangnya terbuka, siap menyemburkan bisa.
Namun Mo Xie lebih cepat. Lengan kirinya menyambar seperti kilat.
Brak!
Cakar obsidian menghantam tepat di bawah rahang ular.
Sisik keras yang dibanggakan binatang itu langsung pecah.
Cakar Mo Xie menembus daging dan tulang hingga masuk ke pangkal tengkoraknya.
Darah panas menyembur dan membasahi tubuhnya.
Ular Naga Bumi meronta liar.
Ekornya menghantam batu-batu di sekelilingnya hingga hancur. Sebuah cambukan hampir mengenai dada Mo Xie, tetapi ia tetap bertahan.
Kakinya menghunjam lumpur. Cakarnya mencengkeram semakin dalam. Ia tidak akan melepaskan mangsanya.
Beberapa saat kemudian, gerakan ular itu melemah. Tubuh raksasanya akhirnya ambruk.
Mo Xie terengah-engah.
Paru-parunya terasa terbakar oleh Racun Yin. Namun ia tidak punya waktu untuk beristirahat.
Luka di punggungnya semakin parah.
Ia segera membalikkan bangkai Ular Naga Bumi.
Cakar obsidiannya membelah sisik dari pangkal leher hingga ekor. Ia mengoyak daging tebal yang menutupi tulang belakang tanpa memedulikan darah panas yang membasahi tubuhnya.
Tak lama kemudian, tulang belakang naga terlihat di hadapannya.
Tulang itu tebal dan berat. Energi Yin liar masih mengalir di dalamnya. Sumsum keunguan berdenyut seperti memiliki kehidupan sendiri.
Mo Xie menggenggamnya dengan kedua tangannya.
Lalu ia menarik.
Krek!
Tulang itu tercabut dari tubuh Ular Naga Bumi.
Mo Xie memotong bagian yang berlebih hingga ukurannya mendekati tubuh manusia.
Ia tidak punya waktu untuk ragu.
Mo Xie menjatuhkan tubuhnya ke tanah.
Ia menempatkan pangkal tulang naga tepat di atas luka pada tengkuknya.
Kemudian ia menggigit batu di antara giginya.
Tulang itu ditekan masuk ke dalam punggungnya.
Kengerian yang sebenarnya baru dimulai.
Saat sumsum Tulang Naga Bumi menyentuh sarafnya, rasa sakit meledak di dalam Lautan Kesadarannya.
Mo Xie memuntahkan darah.
Tubuhnya mengejang.
Ia segera mengerahkan sisa Qi Yin dari Dantian yang retak. Qi itu berubah menjadi benang energi merah gelap yang bergerak di sepanjang tubuhnya.
Benang-benang itu menjahit meridian yang putus dan mengikat dagingnya pada tulang naga.
Daging yang terkoyak kembali menyatu.
Namun tepat saat tulang naga mulai berakar, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Tulang Iblis Harimau Kegelapan di lengan kirinya bereaksi.
Harimau iblis dan naga bumi adalah musuh alami.
Sisa niat membunuh yang tersimpan di tulang harimau bangkit. Qi Yin buas dari lengannya mengalir melalui meridian dan menyerang Qi naga yang baru menyatu dengan tubuhnya.
Dua kekuatan buas bertabrakan di dalam tubuh Mo Xie.
Tubuhnya menjadi medan pertempuran.
Kulitnya retak.
Cahaya merah gelap dan ungu memancar dari celah-celah tubuhnya. Meridian utamanya mulai bergetar dan perlahan terkoyak.
Mo Xie menggertakkan giginya.
Jika kedua kekuatan itu terus bertarung, tubuhnya akan meledak.
Ia harus menundukkan keduanya. Tetapi bagaimana?
Mo Xie hampir kehilangan kesadaran.
Saat itulah perubahan terjadi di atas tebing.
Racun Yin perlahan tersibak.
Sebuah sosok ramping berdiri di puncak karang hitam.
Wanita itu mengenakan jubah merah tua yang berkibar diterpa angin kematian. Kulitnya seputih salju dan matanya tenang hingga terasa mengerikan.
Ia menatap Mo Xie dari kejauhan.
Namanya Xue Ling'er.
Ia adalah Penenun Darah Yin Agung, seorang wanita yang telah diasingkan ke Sembilan Kegelapan karena mempelajari seni darah terlarang.
Untaian benang darah merah menjuntai dari ujung jarinya.
Benang-benang itu bergetar mengikuti aura pembantaian yang memenuhi tubuh Mo Xie.
Xue Ling'er memiringkan kepalanya.
Sudah bertahun-tahun ia tinggal di tempat terkutuk ini. Namun ia baru kali ini melihat seseorang yang begitu gila.
Seorang manusia yang merobek tulangnya sendiri.
Seorang kultivator yang menggunakan tulang iblis sebagai pengganti tubuhnya.
Dan sekarang, ia bahkan berani mencampurkan kekuatan Harimau Kegelapan dengan darah naga bumi.
Xue Ling'er tersenyum tipis.
“Tubuh yang begitu hancur.” Tatapannya menjadi semakin tertarik. “Tapi tekadmu sungguh menarik.”
Benang darah di ujung jarinya mulai bergerak.
Xue Ling'er melangkah maju.
Tubuhnya melayang turun dari tebing dan menuju dasar Jurang Sembilan Kegelapan.
Menuju pemuda yang sedang mempertaruhkan nyawanya untuk menempa tubuh baru.