Apa jadinya jika pengetahuan kultivasi tingkat dewa dimiliki oleh jiwa pemuda modern
Qin Feng terbangun di dalam goa isolasi sebagai Master Legendaris Gu Tian. Namun, alih-alih bisa terbang membelah langit, musuh utamanya saat ini adalah encok, pinggang kram, dan jalur meridian yang kaku.
sang "Master Tua" berjiwa pemuda ini harus memutar otak agar tidak mati konyol untuk kedua kalinya di tengah kepungan musuh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Dari balik bayangan pepohonan rindang di tepi jalan, Gu Tian melipat kedua tangannya di dada, menyembunyikan auranya secara rapat-rapat. Matanya yang tajam mengamati pertempuran sengit yang sedang berlangsung beberapa puluh meter di hadapannya.
Beberapa kereta kuda berukir megah tampak hancur berkeping-keping. Di tengah lautan debu dan letupan Qi, belasan pria bertopeng hitam berpedang tengah mengepung sebuah rombongan. Dari lambang bunga teratai emas di jubah para pengawal yang terdesak, Gu Tian langsung mengenali identitas mereka: Rombongan Keluarga Hu dari Sekte Awan Hijau.
Namun, penglihatan tajam Gu Tian dengan cepat menangkap kejanggalan dalam pertempuran ini.
Para penyerang bertopeng itu tidak hanya menyerang dari luar, tetapi pergerakan formasi mereka tampak sangat memahami kelemahan pengawalan rombongan Keluarga Hu. Ini jelas bukan sekadar penyerangan oleh kelompok perampok biasa, melainkan pengkhianatan internal dan konspirasi gelap dari faksi keluarga pesaing—antara Keluarga Ji atau Keluarga Xi—yang sengaja ingin menyingkirkan tokoh penting Keluarga Hu secara diam-diam!
TRANG!
"Pergi dan lindungi Nona Muda!" berteriak salah seorang tetua pengawal Keluarga Hu yang tubuhnya sudah dipenuhi luka tebasan berdarah.
Di sudut lain, seorang gadis muda berusia belasan tahun dengan pakaian sutra merah muda tampak terpojok di bawah pohon besar. Wajahnya yang cantik penuh ketakutan saat empat pria bertopeng hitam melangkah mendekatinya dengan pedang terhunus. Keempat penyerang itu memancarkan aura yang sangat pekat—mereka semua adalah pakar Ranah Fondasi Puncak (Peak Foundation Establishment)!
"Mati kau, Kelinci Kecil Keluarga Hu!" bentak salah satu pria bertopeng seraya mengayunkan pedangnya deras menatap leher si gadis muda.
Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat, menjerit ketakutan.
Melihat momen tersebut, Gu Tian mengukir senyum tipis di balik penyamarannya. Ini adalah kesempatan sempurna untuk mendapatkan tiket masuk ke Sekte Awan Hijau, batinnya.
SWOOSH!
Tanpa ragu, Gu Tian melompat keluar dari balik semak-semak. Dengan gerakan kilat namun disesuaikan agar terlihat seperti kebetulan, dia menyambar sebuah pedang besi milik pengawal yang tergeletak di tanah, lalu meluncur cepat berdiri di depan gadis muda tersebut!
TRANG!
Bunga api memercik hebat saat pedang Gu Tian menangkis sabetan tajam pria bertopeng itu. Benturan energi membuat tubuh Gu Tian terpental mundur beberapa langkah dan lengannya bergetar—layaknya seorang kultivator Ranah Fondasi Tingkat Awal yang memaksakan diri menahan serangan pakar Ranah Fondasi Puncak.
"Siapa kau?!" bentak penyerang bertopeng itu terkejut melihat seorang pemuda asing tiba-tiba mencampuri urusan mereka.
Gu Tian berpura-pura menahan napasnya yang memburu, memasang raut wajah tegang namun penuh tekad membela keadilan, persis seperti pemuda polos pada umumnya. Gadis muda di belakangnya membuka mata pelan, menatap punggung pemuda berjubah abu-abu itu dengan mata membelalak tak percaya.
SWOOSH! SWOOSH!
Dua tetua pengawal Keluarga Hu yang sedang bertarung melawan musuh lain akhirnya berhasil membebaskan diri dan melompat mendarat di samping Gu Tian dan si gadis muda. Kondisi kedua tetua itu sangat memprihatinkan; jubah mereka robek dan napas mereka terengah-engah karena berada di ranah yang sama dengan para penyerang.
"Nona Muda! Anda tidak apa-apa?!" seru salah satu tetua cemas.
Tetua itu lalu menatap empat pria bertopeng di depan mereka, berteriak murka dengan mata memerah, "Kalian penjahat tidak tahu diri! Kalian tidak tahu siapa yang sedang kalian serang ini?!"
Pemimpin pria bertopeng itu tertawa dingin dan penuh ejekan. "Kami sangat tahu siapa dia! Justru karena dia adalah cucu kesayangan Ketua Sekte dan keponakan dari Nyonya Hu Mei, makanya dia harus mati hari ini! Serang! Habisi mereka semua!"
Keempat pakar Ranah Fondasi Puncak itu melompat bersamaan, mengayunkan pedang mereka untuk memusnahkan mereka dalam satu tebasan fatal!
Namun, tepat sebelum serangan itu mendarat...
"BERANI-BERANINYA KALIAN TIKUS-TIKUS KOTOR!"
Sebuah teriakan menggelegar bagaikan petir menyambar dari arah langit jauh di atas sana!
BOOOOOOOOOOM!
Sebuah gelombang tekanan aura yang sangat dahsyat dan tak tertandingi menyapu turun dari udara. Keempat pria bertopeng yang sedang melompat itu seketika tersentak hebat, muntah darah di udara, dan terlempar menghantam tanah hingga meluncur belasan meter!
Aura ini... adalah aura dari pakar Ranah Inti Emas (Golden Core Realm)!
"Cetak sial! Bantuan mereka datang!" seru pemimpin bertopeng dengan wajah pucat pasi di balik topengnya. "Berpencar dan kabur sekarang!"
Keempatnya langsung membalikkan badan dan melesat ke arah hutan yang berbeda untuk menyelamatkan diri.
Namun, tentunya tidak semudah itu untuk melarikan diri dari cengkeraman seorang pakar Ranah Inti Emas. Dari balik awan, seorang pria paruh baya berambut keperakan meluncur turun membendung udara dengan pedang keemasan di tangannya. Dalam hitungan detik, dia mengejar para penyerang itu satu per satu ke dalam hutan. Suara jeritan tertahan terdengar sebentar sebelum keheningan kembali menyelimuti area tersebut.
Tak lama kemudian, pria paruh baya itu kembali melayang mendarat di tengah jalan dengan wajah dingin.
"Bagaimana, Tetua?" tanya salah satu pengawal cemas.
Pria paruh baya itu menggelengkan kepala dengan gusar. "Sialan... tikus-tikus itu sudah menyiapkannya. Saat aku melumpuhkan mereka untuk diinterogasi, mereka langsung menelan racun mematikan yang disembunyikan di dalam gigi mereka. Mereka semua mati seketika."
Pria paruh baya itu menghela napas panjang, lalu membalikkan badannya. Kedua tetua pengawal Keluarga Hu dengan cepat menyilangkan kedua tangan di depan dada, membungkuk hormat.
"Menyapa Tetua Hu Qin!" panggil kedua tetua pengawal itu penuh khidmat.
Tetua Hu Qin menganggukkan kepala singkat, lalu pandangan matanya yang tajam beralih menatap gadis muda yang selamat dan sosok pemuda berjubah abu-abu yang berdiri di depannya.
Gadis muda itu—Hu Yan'er—segera melangkah maju sambil mengusap air matanya. "Paman Qin... untung Paman datang tepat waktu..."
Tetua Hu Qin menepuk lembut kepala keponakannya itu dengan lega, lalu menatap Gu Tian secara mendalam.
"Anak muda," ujar Tetua Hu Qin dengan suara penuh wibawa namun hangat. "Aku melihat tindakan beranimu tadi. Kau rela mempertaruhkan nyawamu di Ranah Fondasi Tingkat Awal untuk menahan serangan pakar Puncak demi melindungi Yan'er. Atas nama Keluarga Hu, aku mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya padamu."
Gu Tian menyilangkan kedua tangannya di dada, membungkukkan badannya sedikit dengan sikap penuh sopan santun khas pemuda biasa.
"Anda terlalu memuji, Tetua Qin," jawab Gu Tian dengan tenang. "Saya hanya bertindak sesuai naluri keadilan saat melihat seorang gadis dalam bahaya. Tidak ada hal besar yang patut dipuji."
"Hahaha!" Tetua Hu Qin tertawa terbahak-bahak, matanya berkilat kagum melihat sikap rendah hati pemuda di hadapannya. "Memang anak muda yang sangat luar biasa! Tidak sombong dan memiliki keteguhan batin! Siapa namamu, Anak Muda?"
Gu Tian termenung sejenak, memutar otaknya berpura-pura memikirkan nama yang cocok untuk identitas penyamarannya ini.
"Melapor Tetua Qin... nama hamba adalah Tian Gu," jawab Gu Tian lancar, membalikkan namanya sendiri dengan tenang.
"Tian Gu...?" Tetua Hu Qin mengulang nama itu, lalu tersenyum lebar seraya menepuk bahu Gu Tian dengan keras. "Hahaha! Nama yang sangat dominan dan gagah! Bagus, sangat bagus!"
Tetua Hu Qin kemudian menyapu pandangannya pada penampilan Gu Tian yang sendirian di tengah jalan belantara.
"Ngomong-ngomong, Tian Gu... hendak ke manakah tujuan perjalananmu ini?"
Gu Tian memasang raut wajah penuh kesungguhan. "Melapor Tetua, hamba sebenarnya sedang dalam perjalanan menuju Sekte Awan Hijau. Hamba mendengar kabar bahwa sekte Anda sedang membuka penerimaan murid baru dengan kualifikasi minimal Ranah Fondasi. Hamba bermaksud untuk mengadu nasib di sana."
Mendengar hal itu, mata Tetua Hu Qin seketika menyala terang penuh kegembiraan. Dia menepuk bahu Gu Tian sekali lagi dengan lebih erat.
"Bagus sekali! Sungguh sebuah kebetulan yang luar biasa!" seru Tetua Hu Qin gembira. "Dengan bakat dan keberanian yang kau miliki, kau tidak perlu khawatir! Ayo, bergabunglah dengan rombongan kami dan berangkat bersama ke Sekte Awan Hijau!"
Gu Tian membungkuk hormat dengan senyum tipis terukir di wajahnya.
"Terima kasih banyak atas kebaikan dan undangan Anda, Tetua Qin."
Terima kasih sudah membaca cerita ini /Smile//Smile/