Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.
Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.
"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."
Lili kira bercanda.
Besoknya lamaran beneran datang.
Kontrak setahun 500 juta.
Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.
Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - KONTRAK SEUMUR HIDUP DITANDA TANGANI ULANG
Jam lima pagi, rumah biru sudah ramai.
Bukan karena atap bocor lagi. Tidak ada suara tok tok tok dari tetesan air, tidak ada tiga ember yang harus dipindahkan setiap kali hujan turun.
Atap seng baru sudah terpasang.
Kalau hujan, suaranya cuma SRRRRRRR.
Tidak ada ember. Tidak ada tikar darurat. Tidak ada lagi drama bangun tengah malam gara-gara air menetes tepat di jidat.
Namun, pagi ini seluruh penghuni rumah justru berkumpul di atas tikar.
Di tengah ruangan, terbentang kertas kado biru langit seharga lima ribu rupiah.
Di atasnya tertulis menggunakan pulpen biru murah:
KONTRAK LILI x DAMIAN SEUMUR HIDUP
Gaji: Rumah Biru + Bando Biru 18rb + Sup Buntut + Atap Tidak Bocor + Sapu Lidi Bulu Rontok Satu.
Pasal 1: Senin-Kamis di Jakarta, AC 16 derajat, selimut cuma satu.
Pasal 2: Jumat-Minggu di Balikpapan, SRRRRRRR, tikar pandan, Pak RT, dan kucing oren.
Pasal 3: Test pack di atas kulkas. JANGAN DIBUKA SAMPAI WAKTUNYA!
Aku duduk bersila memakai daster bunga pudar pinjaman Ibu. Bando biru seharga 18 ribu masih bertengger miring di kepalaku.
Damian duduk di sebelahku. Kaosnya yang seharga 35 ribu sudah dicuci lima belas kali, tetapi masih menjadi pakaian kesayangannya.
Mama dengan daster kuning duduk di sebelah kiri. Ibu dengan daster pudar duduk di sebelah kanan.
Papa memakai jas hitam tanpa dasi. Di tangannya ada kaleng cat kecil.
Sementara Pak RT datang membawa buku tulis dan materai sepuluh ribu.
"Lengkap semua?" tanyanya.
"Lengkap, Pak!" jawab kami serempak.
Pak RT melihat tulisan di kertas kado.
"Ini kontrak pernikahan atau daftar belanja warung?"
Damian langsung menjawab, "Dua-duanya, Pak. Kalau enggak ada sup buntut, saya keberatan."
Mama langsung melotot.
"Damian!"
"Iya, Ma. Bercanda."
Aku tertawa sampai bando biruku hampir terlepas.
"Pertama, kita periksa barang bukti," kata Pak RT serius.
Damian langsung menunjuk kulkas.
"Test pack aman?"
Mama mengangguk bangga.
"Tiga kotak masih dilakban. Tidak boleh ada yang membuka sebelum waktunya."
Aku menatap tiga kotak di atas kulkas. Tulisan merahnya besar sekali:
BUKAN GARAM! BUKAN IKAN ASIN! MILIK MAMA YUNI!
Semua itu dilakukan setelah kucing oren beberapa kali mencoba naik ke atas kulkas.
Sekarang kucing itu duduk di dekat pintu dengan tali rafia melingkar longgar di badannya.
"Kucingnya juga harus tanda tangan?" tanyaku.
Pak RT menggeleng.
"Dia cukup jadi saksi. Jangan sampai mencap kontrak pakai kaki berlumpur."
Kami tertawa.
"Berikutnya, bando!" kata Ibu.
Aku membetulkan posisi bando biru.
"Aman, Bu. Masih bertahan sampai sekarang."
Ibu mengangguk puas.
"Bagus. Itu sudah seperti pusaka keluarga."
Papa ikut mengangkat tangan.
"Atap juga aman. Tukangnya sudah memastikan."
Dari luar rumah terdengar suara tukang.
"AMAN, BOS! SRRRRRRR!"
Pak RT akhirnya membuka buku tulis.
"Kalau begitu, acara tanda tangan kontrak seumur hidup dimulai."
Aku memandang kertas kado biru itu.
Entah kenapa, dadaku terasa penuh.
Dulu, aku pernah menandatangani kontrak pernikahan senilai 500 juta rupiah.
Waktu itu aku masih perempuan yang hidup dalam ketakutan. Kontrak itu menggunakan map hitam, kertas mahal, dan pasal-pasal yang terasa dingin.
Aku menjadi istri seorang CEO dengan syarat tidak boleh jatuh cinta.
Tidak boleh mencium.
Dan pernikahan itu hanya berlaku satu tahun.
Sekarang, aku justru duduk di atas tikar pandan dengan kontrak buatan sendiri.
Tidak ada pengacara mahal.
Tidak ada ruangan mewah.
Hanya ada keluarga, Pak RT, kucing oren, dan pulpen yang tutupnya entah hilang ke mana.
"Aku duluan, Pak," kataku.
Aku mengambil pulpen.
Tanganku sedikit gemetar ketika menuliskan nama.
LILI.
Dulu aku menandatangani kontrak karena terpaksa. Sekarang aku menandatangani sesuatu karena memang menginginkannya.
Aku ingin tinggal bersama Damian.
Aku ingin rumah ini tetap ramai.
Aku ingin mendengar suara Mama dan Ibu bertengkar kecil soal masakan.
Aku ingin melihat Papa mengecat tembok meskipun hasilnya kadang belepotan.
Dan aku ingin tetap menjadi perempuan yang bisa tertawa meskipun hanya punya bando delapan belas ribu.
Damian mengambil pulpen setelahku.
Dia menandatangani namanya di sebelah tanda tanganku.
DAMIAN.
Aku melirik tulisannya.
"Mas, tulisan kamu jelek banget."
Dia menoleh.
"Memangnya tulisan kamu bagus?"
"Lebih bagus daripada tulisan kamu!"
"Sudah, Bu Damian. Jangan ribut di hari bahagia."
Aku langsung mencubit lengannya.
Mama menjadi orang ketiga yang menandatangani kontrak.
Ibu menyusul.
Kemudian Papa.
Uniknya, Papa tidak menggunakan pulpen.
Dia malah mencelupkan ujung kuas kecil ke dalam kaleng cat.
"Pa, kenapa pakai kuas?" tanyaku.
Papa tersenyum.
"Supaya kontrak ini tidak gampang luntur. Biar catnya ikut melekat."
"Ini kontrak atau tembok rumah, Pa?"
"Pokoknya awet!"
Kami kembali tertawa.
Terakhir, Pak RT membubuhkan materai sepuluh ribu rupiah.
Setelah itu, semua orang menempelkan cap jempol.
Pak RT mengangkat buku tulisnya.
"Atas nama warga dan saksi yang hadir, saya nyatakan kontrak ini..."
Dia sengaja berhenti.
Kami semua menunggu.
"SAH!"
Tepuk tangan langsung memenuhi rumah biru.
Kucing oren bahkan mengeong keras seolah ikut memberikan persetujuan.
Mama segera membuka rantang besar.
"Sudah, sekarang makan! Sup buntutnya keburu dingin!"
Di dalam rantang ada sup buntut jumbo. Satu bagian untuk keluarga, satu untuk Pak RT, dan satu lagi sudah disiapkan untuk dibawa Damian ke Jakarta, tepatnya ke pantry lantai dua belas.
Ibu juga mengeluarkan nasi kuning dan gorengan sisa syukuran atap baru.
Aku mengambil satu gorengan.
"Bu, ini enak sekali."
"Ya jelas. Ibu yang bikin."
Damian duduk di sampingku sambil menikmati sup buntut.
Tiba-tiba Papa mengangkat kaleng cat kecil.
"Ngomong-ngomong, sisa cat ini mau dipakai buat apa?"
Damian menelan makanannya.
"Buat menulis nama kita di atap, Pa."
Papa mengernyit.
"Untuk apa?"
"Biar kalau hujan turun dan atap bunyi SRRRRRRR, nama keluarga kita ikut terdengar."
Aku tertawa sampai hampir tersedak.
"Mas, aneh banget!"
"Tapi romantis, kan?"
"Romantis dari mana?"
"Daripada dulu romantisnya cuma kontrak 500 juta."
Aku terdiam sebentar.
Lalu menatapnya.
"Mas, kontrak 500 juta itu sudah selesai?"
Damian mengangguk.
"Sudah. Lunas."
"Terus kontrak yang ini?"
Dia menggenggam tanganku.
"Baru dimulai."
Aku menatap wajahnya.
"Gajinya apa?"
Damian tersenyum.
"Rumah yang selalu punya tempat buat kamu. Sup buntut setiap kali kamu mau. Dan aku yang akan menemanimu sampai tua."
Aku menunduk, menyembunyikan mata yang mulai basah.
Ternyata kebahagiaan tidak selalu harus dibeli dengan uang ratusan juta.
Kadang, kebahagiaan justru ada di rumah sederhana, di antara orang-orang yang menerima kita apa adanya.
Aku menyandarkan kepala di bahu Damian.
Di atas kulkas, tiga test pack masih terbungkus lakban hitam.
Di atas kepala, atap seng baru siap menghadapi hujan.
Di kepalaku, bando biru delapan belas ribu masih miring.
Dan di tengah tikar pandan, kontrak seumur hidup sudah ditandatangani.
Malamnya, kami kembali tidur di atas tikar pandan.
Aku, Damian, Mama, Ibu, dan Papa berkumpul di bawah selimut bunga bolong.
Pak RT yang tadinya pamit pulang ternyata ikut ketiduran setelah makan nasi kuning.
Kucing oren tidur di dekat pintu.
Hujan turun pelan.
SRRRRRRR.
Aku membuka mata sebentar.
Tidak ada suara air menetes.
Tidak ada ember yang harus dipindahkan.
Tidak ada lagi ketakutan menghadapi hari esok.
Aku tersenyum dalam gelap.
Rumah biru ini mungkin tidak semewah gedung milik Damian.
Tetapi di sinilah aku menemukan sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli dengan kontrak 500 juta.
Keluarga.
Aku menggenggam tangan Damian di bawah selimut.
"Mas..."
"Hmm?"
"Jangan sampai kontrak ini berakhir."
Damian mengecup keningku.
"Tenang. Kontrak ini tidak punya tanggal kedaluwarsa."
Aku memejamkan mata.
Di luar, hujan semakin deras.
SRRRRRRRRR.
Itu suara rumah kami.
Rumah yang pernah hampir roboh, tetapi akhirnya menjadi tempat semua orang pulang.
KONTRAK SEUMUR HIDUP.
Dan kali ini, tidak ada satu pun dari kami yang ingin membatalkannya.