NovelToon NovelToon
Your Obsession

Your Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Obsesi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chikaku_chiko

Namanya Raisha, seorang karyawan korporat cantik dan terkesan cuek. Dia belum mengenal debaran cinta seperti apa. Banyak tuntutan orang disekitarnya untuk memulai suatu hubungan dengan seorang pria. Meskipun enggan, Raisha melakukan semua tuntutan itu meskipun tanpa menggunakan hati. Satu pria, gagal. Dua pria, gagal. Hingga tak terasa beberapa pria Raisha mencoba mencari debaran itu, tapi gagal.

Hingga julukan 'Playgirl' menempel padanya.

Hingga datang seorang Aldo. Pria tampan dan maskulin, membuat Raisha merasakan debaran itu. Tapi ketika Raisha mulai mendekati Aldo, ada sesuatu dari diri Aldo yang janggal. Yang membuat Raisha merasakan debaran yang melayang tapi menyakitkan.

Bagaimana kisah cinta Raisha dan Aldo kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chikaku_chiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Batas Pertahanan yang Mengikis

Malam beranjak larut, tetapi ketenangan enggan mampir di kamar Raisha. Gadis itu termenung dalam hening, terbaring terlentang di atas kasurnya dengan pandangan lurus menatap langit-langit kamar yang temaram.

Benaknya berputar hebat, merekam ulang setiap kata, intonasi, hingga binar keputusasaan di mata Aldo saat mereka berada di kafe sore tadi.

Apakah mungkin Aldo benar-benar telah berubah? tanya Raisha pada dirinya sendiri. Apakah ketertarikannya sekarang murni karena perasaan suka yang sesungguhnya?

Raisha mencoba membedah situasi secara rasional. Jika ditarik garis lurus, logika sederhananya kini mulai berpihak pada Aldo. Dulu, Aldo hanya mendekati wanita yang sudah terikat hubungan dengan pria lain. Namun sekarang, Raisha sama sekali tidak berada dalam hubungan asmara dengan siapa pun.

Dia melajang, bebas, dan tak memiliki ikatan. Lantas, kalau bukan karena perasaan murni, untuk alasan apa lagi Aldo rela merendahkan egonya yang setinggi langit hanya demi mendekatinya secara terang-terangan? Raisha menarik napas panjang. Tak disangka, kalau hatinya akan merasakan perasaan campur aduk dalam beberapa bulan ini hanya karena seorang Aldo. Dengan segala tindakan 'spesial'-nya.

Pergolakan antara trauma masa lalu dan kenyataan hari ini membuat Raisha berada dalam fase galau yang luar biasa. Pikiran yang lelah akhirnya memaksa tubuhnya menyerah. Tanpa disadari, dalam gulungan ketidakpastian itu, Raisha perlahan memejamkan mata dan tertidur lelap.

Keesokan paginya, sinar matahari hangat menerobos sela-sela tirai jendela. Raisha terbangun dengan sisa-sisa kelelahan emosional semalam, namun tetap bersiap untuk berangkat kerja seperti biasa.

Setelah merapikan kemeja dan tas kerjanya, Raisha melangkah keluar menuju pintu keluar gedung apartemennya. Namun, baru saja dia melewati gate utama, langkah kakinya mendadak terpaku di atas paving blok.

Di sana, di dekat pos penjaga, Aldo sudah berdiri bersandar pada sepeda motor sport hitamnya yang mengkilap. Pria itu mengenakan jaket kulit gelap yang membungkus rapi kemeja kerjanya, tampak begitu mencolok di bawah sorotan matahari pagi.

Raisha melangkah mendekat dengan dahi berkerut penuh keheranan.

"Kamu ngapain di sini pagi-pagi?"

Aldo menoleh, lalu menyunggingkan senyum tipis yang hangat.

"Tentu saja jemput kamu. Apalagi?" jawab Aldo santai tanpa beban, seolah tindakannya adalah rutinitas yang sudah biasa dilakukan.

Raisha menggeleng pelan, tidak habis pikir.

"Kenapa nggak chat dulu kalau mau datang? Gimana kalau ternyata aku udah berangkat duluan dari tadi?"

Aldo terkekeh pelan, melepas helmnya sejenak.

"Feeling aja kalau kamu belum berangkat di jam segini. Dan ternyata benar, kan?" ujar Aldo, disusul sebuah senyuman manis yang begitu lepas, sebuah senyuman yang sangat jarang dia pamerkan di depan orang lain.

Melihat senyuman tulus itu, sudut bibir Raisha tanpa sadar tertarik membentuk senyum kecil. Ada perasaan aneh yang mendadak hinggap dan menelusuri dadanya.

Namun di saat yang sama, rasa gusar yang amat sangat melingkupi pikirannya. Raisha sadar, benteng pertahanan kokoh yang selama ini dibangunnya dengan susah payah untuk membendung Aldo, kini mulai terancam dan mengikis sedikit demi sedikit.

"Yaudah, ayo naik. Nanti malah kena macet," tawar Aldo seraya menyodorkan helm cadangan.

Raisha menatap helm itu sejenak, lalu menarik napas panjang. Mengingat Aldo sudah terlanjur berdiri di depan apartemennya dan waktu terus berjalan, Raisha akhirnya menerima tawaran tersebut. Dia naik ke jok belakang motor sport Aldo, membiarkan angin pagi membelah perjalanan mereka menuju kawasan perkantoran.

Derum mesin motor Aldo berhenti mulus di area drop-off gedung kantor. Saat Raisha turun dan menyerahkan kembali helmnya, beberapa karyawan yang baru tiba di pelataran gedung langsung menoleh.

Kombinasi antara Aldo yang biasanya dingin dan eksklusif dengan Raisha yang belakangan ini menjadi pusat perhatian, jelas menciptakan atmosfer berbeda. Beberapa pasang mata menatap mereka dengan tatapan penasaran, menangkap ada aroma-aroma asmara yang mulai tercium kuat di antara keduanya.

Aldo tidak memedulikan tatapan orang-orang; dia justru menanti Raisha berjalan di sisinya menuju lif dengan gestur protektif yang halus.

Namun, tidak semua orang menikmati pemandangan tersebut.

Di sudut lobby, Mita berdiri mematung dekat tiang penyangga. Wajahnya yang tampak kusut pasca menerima Surat Peringatan (SP) keras dari pihak HRD kemarin, kini makin memerah padam karena amarah yang membakar. Matanya menyalang menatap kebersamaan Raisha dan Aldo yang terlihat begitu serasi.

Rasa malu akibat ulahnya sendiri ternyata tidak membuat Mita sadar. Hatinya yang diliputi dengki semakin tidak bisa menerima kenyataan bahwa Aldo, pria yang begitu dipuja dan dikejarnya setengah mati—kini justru bertekuk lutut dan bertindak seakan sepenuhnya dimiliki oleh Raisha. Tangannya mengepal erat di samping tubuh, menyimpan dendam yang makin pekat.

Begitu tiba di lantai lima dan melangkah menuju kubikelnya, Raisha langsung disambut oleh Siska yang sudah menunggunya dengan wajah sarat akan rasa kepo yang membuncah.

Siska segera memutar kursinya, memajukan tubuhnya begitu Raisha mendaratkan tubuhnya di kursi kerja.

"Raisha! Jujur sama aku!" bisik Siska setengah memekik, matanya berkilat-kilat penuh selidik.

"Tadi aku lihat sendiri kamu turun dari motor sport-nya Pak Aldo di depan gedung! Ketinggalan bus apa emang sengaja berangkat bareng, nih?" pertanyaan menelisiknya Siska kadang membuat Raisha bingung memberi jawaban yang pas. Jawaban yang tidak menimbulkan rumor baru.

Raisha mendesah pelan, merapikan letak komputernya.

"Dia mendadak nunggu di depan apartemenku, Sis. Udah terlanjur di sana, ya udah aku ikut aja."

Siska memegang dadanya dengan raut wajah dramatis, lalu menyunggingkan senyum goda.

"Aduh, alasan klasik! Tapi serius deh, Sa... ada bau-bau asmara yang menyengat banget di antara kalian berdua belakangan ini. Sebenarnya hubungan kamu sama Aldo tuh sekarang kayak gimana, sih? Jangan bilang kalian udah jadian diem-diem?"

Raisha menatap temannya itu dengan pandangan lelah namun ada rona tipis yang coba disembunyikannya di pipi.

"Nggak ada jadian-jadian, Siska. Kita cuma... lagi mencoba saling memahami aja sebagai rekan kerja."

"Rekan kerja mana yang jemput pagi-pagi pakai motor sport terus pasrah ditatap manis gitu?" kejar Siska tak mau kalah, diiringi tawa kecil yang membuat Raisha hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik berkas laporan.

Meski Raisha berusaha mengelak, dalam hatinya dia tahu... hubungannya dengan Aldo memang tak lagi sama seperti dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!