Sekuel keempat dari buku Sebelumnya: 'Cinderela Ubi Rebus, Kutukan Mbah Golok Sakti dan Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO'.
Menghadapi operasi bedah jantung? dr. Rahsya ahlinya. Tapi dipaksa jadi bidan sapi persalinan tengah malam oleh preman kampung berkolor tali rafia? Itu bencana!
Liburan tenang Rahsya di Desa Ci Sepi berubah total menjadi arena pawai hantu sejak ia menolong seorang anak kecil bernama Nathan.
Di tengah kekacauan mistis dan hilangnya para warga secara tragis, hadir Amel—gadis berisik yang selalu merepotkan namun berhasil mengacaukan detak jantung dokternya. Bisakah sang dokter rasional bertahan hidup, atau jiwanya akan tertinggal di dimensi lain telaga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. PEMBALASAN KINAN
"Nama kamu cantik, Kinan. Cocok sama orangnya," puji Rehan sambil terus mengarahkan cahaya senter ke punggung Kinan.
Jakunnya naik-turun saat matanya mulai liar memperhatikan lekuk tubuh wanita di depannya. Aroma bunga melati yang sangat menyengat tiba-tiba saja menyeruak ke udara, namun Rehan yang sedang mabuk mengira itu hanyalah aroma parfum mahal orang kota.
"Sudah punya pacar belum?" tanya Rehan lagi, suaranya memberat karena gairah.
"Belum, Kang. Memangnya kenapa? Akang mau jadi pacar saya?" jawab Kinan tanpa menoleh ke belakang.
Suaranya kini terdengar jauh lebih merdu, namun anehnya, suara itu terasa sangat dekat di telinga Rehan, seolah-olah wanita itu sedang berbisik tepat di samping lubang telinganya padahal posisinya jelas berjalan di depan.
"Serius? Mau banget dong!" Rehan terkekeh girang.
Mereka akhirnya tiba di sebuah telaga luas yang airnya hitam pekat seperti tinta. Di bawah sebuah pohon beringin tua yang akar-akar gantungnya menjuntai sepeti rambut raksasa yang kusut, berdiri kokoh sebuah rumah kayu tua yang tampak rapuh dan kusam.
"Itu rumah saya, Kang. Masuk, yuk," ajak Kinan sambil menggandeng tangan Rehan.
Kulit tangan Kinan yang bersentuhan dengan kulitnya terasa sedingin es batu, sempat membuat bulu kuduk Rehan berdiri meremang sesaat.
Namun, gairahnya jauh lebih dominan mematikan akal sehatnya. Di dalam rumah yang hanya diterangi oleh sebatang lampu minyak temaram, Kinan menutup pintu depan dengan perlahan. Seketika, suasana berubah menjadi sunyi menekan yang sangat mencekam.
"Kang, mau minum apa?"
"Saya tidak butuh minum. Saya maunya kamu," ucap Rehan liar. Ia langsung menarik tubuh Kinan ke dalam pelukannya, menciumi leher wanita itu dengan rakus.
Namun, bau wangi melati yang pekat itu mendadak berubah menjadi bau busuk yang sangat menyengat, persis seperti bau bangkai hewan yang sudah berhari-hari terendam di dalam air.
"Sabar dong, Kang..." Kinan terkekeh pelan.
Namun, suara tawanya bukan lagi tawa wanita manis yang tadi, melainkan sebuah lengkingan tinggi bernada mengerikan yang menyakitkan gendang telinga.
Rehan dengan terburu-buru menanggalkan pakaiannya hingga hanya menyisakan kolor. Namun, saat tangannya hendak menyentuh bibir Kinan, sebuah keajaiban yang mengerikan terjadi tepat di depan matanya.
Krak!
Kepala Kinan mendadak terpelanting, lepas sepenuhnya dari leher dengan suara robekan otot dan urat yang sangat jelas. Kepala itu tidak jatuh berdebam ke lantai kayu, melainkan melayang-layang di udara dengan rambut panjangnya yang menjulur-julur aktif seperti tentakel predator. Darah hitam kental yang berbau busuk langsung mengucur deras dari lubang leher tubuh yang masih berdiri tegak di depan Rehan.
"AAAAAAA!"
Rehan menjerit histeris. Ia merangkak mundur dengan cepat, seluruh persendian kakinya lemas seketika.
"Tolong! Pergi! Pergi lo!"
Kepala yang melayang itu berputar di udara. Wajah cantiknya kini telah berubah menjadi pucat pasi dengan struktur mulut yang robek lebar hingga ke batas telinga, menampakkan deretan gigi runcing yang menghitam penuh darah.
Hihihihi...
"Ayo, Kang Rehan... katanya mau sama saya. Kita lanjutin lagi, yuk..."
Suara itu menggema dari segala sudut ruangan rumah kayu, terdengar berat, parau, dan bergaung gaib.
Rehan menangis sejadi-jadinya. Celana kolornya mendadak basah karena ia mengompol akibat didera ketakutan yang luar biasa. Saat punggungnya menabrak dinding kayu rumah, tubuh tanpa kepala itu bergerak maju dengan gerakan kaku yang patah-patah. Jari-jarinya yang panjang dengan kuku-kuku hitam meruncing tajam terangkat ke udara.
"Kalau tidak mau saya ganggu... akui kesalahanmu! Tanggung jawab atas perbuatanmu pada wanita di telaga ini, Rehan!"
Rehan ingin berteriak meminta ampun dan bersujud, namun mulutnya seolah dikunci rapat oleh kekuatan gaib. Tubuh tanpa kepala itu mendadak melesat cepat, mencengkeram kuat leher Rehan hingga ia sulit untuk bernapas.
Kuku-kuku tajam itu menembus kulit tenggorokannya tanpa ampun.
Bles!
Daras segar menyembur keluar, membasahi dinding kayu tua rumah tersebut. Dengan satu sentakan brutal penuh tenaga, tangan hantu itu menarik kepala Rehan ke arah atas sekuat tenaga.
CRAT!
Bunyi pemutusan daging dan saraf leher terdengar sangat nyaring. Kepala Rehan terlepas dari tubuhnya, jatuh menggelinding kaku di atas lantai kayu yang dingin. Sepasang mata Rehan masih melotot ngeri, menatap tubuhnya sendiri yang ambruk bersimbah darah di tengah ruangan.
****
Sudah enam hari Rahsya menetap di Desa Ci Sepi. Besok adalah hari terakhirnya sebelum ia harus kembali ke Jakarta, menukar udara pegunungan yang segar dengan aroma antiseptik di rumah sakit besar milik orang tuanya. Pagi itu, Rahsya melangkah menuju ke garasi vila yang disulapnya menjadi klinik darurat sementara.
Baru saja tangannya menyentuh pinggiran rolling door besi yang dingin untuk mengangkatnya ke atas, raungan sirene ambulans tiba-tiba membelah kesunyian pagi.
Suaranya melengking tinggi, kian lama kian mendekat hingga akhirnya armada tersebut berhenti tepat di seberang vilanya, di tepian sawah. Tidak lama kemudian, dua buah mobil polisi menyusul di belakang dengan sorot lampu strobo merah-biru yang menyilaukan mata.
Rahsya menyipitkan matanya, menghalau silau terik matahari pagi. Ia terpaku diam saat melihat para petugas medis berhamburan keluar membawa brankar lipat, sementara polisi dan sekumpulan warga desa yang tampak tegang mulai memandu jalan menyusuri pematang sawah yang sempit.
Jiwa penasaran kedokteran Rahsya bergejolak. Ia melepaskan pegangannya pada pintu besi garasi dan berlari kecil menghampiri Pak Mamat, penjaga vila yang tengah sibuk memotong rumput di halaman depan.
"Pak! Pak Mamat!" panggil Rahsya setengah berteriak. "Itu orang-orang mau ke mana? Kenapa sampai ada ambulans dan polisi segala di tepi sawah?"
Pak Mamat segera menghentikan putaran mesin pemotong rumputnya. Suasana halaman mendadak sunyi, hanya menyisakan suara embusan angin di antara batang padi yang menguning. Ia menyeka keringat di dahinya dengan selembar handuk kusam, lalu menunjuk ke arah rimbun pepohonan di kejauhan.
"Mereka mau ke arah telaga, Den," jawab Pak Mamat pendek. Suaranya terdengar berat dan sedikit gemetar menahan ngeri.
Rahsya mengernyitkan dahi. Dugaannya mulai terasa tidak enak. "Mau ngapain ke telaga pagi-pagi begini, Pak?"
Pak Mamat menatap Rahsya dengan tatapan mata yang pias. "Aden belum tahu berita terbaru? Semalam warga di sini digemparkan sama penemuan mayat di tepi telaga, Den. Katanya... kepalanya copot dari lehernya. Mengenaskan sekali kondisinya."
Pak Mamat menjeda kalimatnya sejenak, menarik napas dalam sebelum melanjutkan, "Dan yang bikin geger seluruh desa, itu mayat anak tetangga kita sendiri, Den."
Rahsya tertegun mematung. Otaknya mencoba memproses informasi dari Pak Mamat yang terdengar begitu nyata dan mengerikan di pagi hari yang cerah ini.
"Anak tetangga yang mana, Pak?" tanyanya datar.
Jarang mengunjungi vila pribadi ini membuat Rahsya merasa sangat asing dengan silsilah penduduk Desa Ci Sepi.
"Itu lho, Den. Anaknya Pak Trisna sama Bu Lilis, adiknya Pak Rahman yang kerja di kota. Namanya Rehan," jelas Pak Mamat sambil menyandarkan mesin pemotong rumputnya ke pilar pagar. Wajahnya tampak semakin pucat.
Rahsya hanya mengerutkan keningnya. Nama-nama penduduk lokal itu sama sekali tidak memancing memori apa pun di kepalanya.
"Rehan?" gumamnya mencoba mengingat-ingat.
"Iya, Rehan. Cowok bajingan yang tadi malam mau melecehkan aku di pasar malam, Kak. Dia anggota geng motor yang kabur sendirian itu," sambung sebuah suara cempreng yang sangat akrab di telinga Rahsya.
Rahsya menoleh ke belakang dan mendapati Amel sudah berdiri tegak di ambang pintu masuk vila. Penampilan gadis itu tampak sangat kontras dengan suasana duka dan ketegangan di luar; ia terlihat segar bugar dengan mengenakan sweter berwarna merah muda cerah dan rok jins selutut. Aromanya yang wangi bunga melati (yang ironisnya entah mengapa mirip dengan aroma Kinan semalam) langsung menyerbu indra penciuman Rahsya.
"Kamu mau ke mana pagi-pagi sudah berpakaian rapi begini?" tanya Rahsya dengan tatapan menyelidik. Matanya menyapu penampilan Amel dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Emm, aku lupa mengabari Kak Rahsya kalau nanti siang aku mau pulang ke rumah orang tua aku di kota," jawab Amel sambil memainkan ujung sweternya, kepalanya sedikit menunduk menyembunyikan rona wajah.
"Oh, begitu? Bagus, deh," sahut Rahsya cepat.
Ia berbalik badan, melanjutkan langkah kakinya yang tertunda ke garasi, lalu menyentak pintu rolling door besi itu hingga terbuka sepenuhnya.
"Biar saya bisa tenang tinggal di sini. Akhirnya tidak ada lagi makhluk berisik yang mengganggu dan merepotkan saya terus-menerus."
Amel merengut kesal. Ia segera mengekor di belakang punggung Rahsya, masuk ke dalam area klinik darurat yang masih agak remang-remang.
"Ngomongnya kok begitu sih, Kak? Apa Kakak tidak sedih sama sekali kalau aku pergi nanti siang? Yakin tidak bakal kangen?"
Rahsya mendengus keras. Tangannya bergerak lincah menyambar selembar lap kain. Ia mulai menyapu debu di atas meja kayu dengan gerakan yang sengaja dibuat berlebihan, seolah-olah meja berdebu itu adalah hal terpenting di dunia saat ini bagi profesinya.
"Idih, ngapain saya harus sedih? Justru saya bersyukur sekali. Kalau perlu, hari ini saya bikin nasi tumpeng besar buat merayakan kepergian kamu dari vila ini,"