Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap di Meja Perundingan
Pagi itu, suasana di ruang rapat lantai 48 Perkasa Tower berubah menyerupai arena pertarungan tanpa senjata. Udara bertemperatur rendah dari pendingin ruangan terasa begitu menusuk, dipenuhi ketegangan dari belasan pasang mata berjas gelap. Di satu sisi meja konferensi marmer sepanjang sepuluh meter, Julian Vance duduk dengan gaya angkuh, dikelilingi oleh lima pengacara top berpaspor Singapura dan Inggris.
Di sisi lain, aku duduk di singgasana Executive Chairperson dengan gaun blazer berpotongan tajam berwarna merah darah sebuah warna yang sengaja kupilih untuk menyuarakan dominasi. Liontin blue sapphire di leherku membiaskan pendar biru pekat yang dingin di bawah lampu LED ruangan, sementara cincin canary yellow di jari manisku berkilau menantang.
Di sebelah kananku, Raymond berdiri tegak. Ia sengaja tidak duduk, memilih menatapi rombongan dari Singapura itu dengan gestur predator yang siap menerkam kapan saja.
"Selamat pagi, Clarissa... Raymond," Julian membuka percakapan dengan senyuman tipis penuh celaan, menepuk berkas tebal berlogo Pengadilan Niaga di atas meja. "Aku harap kalian sudah membaca surat perintah pembekuan likuiditas yang diajukan tim hukumku kemarin. Dalam tiga jam ke depan, seluruh akses transaksi Project Serpent di Kalimantan dan Halmahera akan lumpuh total."
Aku menyunggingkan senyuman paling anggun—sebuah senyuman yang menyembunyikan bisa paling mematikan.
"Anda datang terlalu jauh dari Singapura hanya untuk memamerkan kertas yang sudah tidak berguna, Mr. Vance," balasku jernih, suara hak tinggi sepatuku menyapu tipis lantai saat aku menegakkan posisi duduk.
Julian menyipitkan matanya, menghentikan ketukan jarinya di atas meja. "Apa maksudmu?"
Pak Herman melangkah maju, meletakkan lima rangkap dokumen bersampul emas di hadapan Julian dan tim hukumnya.
"Sesuai wewenang mutlak Executive Chairperson yang disahkan kemarin sore," sambungku dingin, "seluruh likuiditas, izin operasional, dan kepemilikan aset fisik Project Serpent telah secara resmi ditransfer ke dalam holding company baru—Perkasa Nusantara Investama."
Para pengacara Julian berbisik panik. Mereka dengan terburu-buru membuka berkas emas tersebut, membolak-balik halamannya dengan raut wajah yang mendadak pucat pasi.
"Ini tidak sah secara hukum!" bentak salah satu pengacara senior Julian dengan aksen Inggris yang kaku. "Klausul konsorsium Singapura melarang pengalihan aset tanpa persetujuan pemegang saham minoritas!"
"Klausul itu berlaku jika pemegang saham utamanya adalah mendiang ayahku," potongku tegas, menatap lurus ke dalam mata kelabu Julian yang mulai memancarkan kemarahan. "Tetapi di bawah hukum investasi Indonesia yang baru, pengalihan aset privat yang terindikasi manipulasi asing dapat dilakukan secara sepihak oleh ahli waris tunggal bertanda tangan basah dan itu adalah aku."
Julian membanting telapak tangannya ke atas meja marmer. Bunyi benturan keras itu bergema menakutkan di dalam ruang rapat.
"Kamu pikir kamu sangat cerdas, anak kecil?!" geram Julian dengan suara rendah yang sarat ancaman. "Ayahmu berutang puluhan juta dolar padaku untuk memulai Project Serpent! Tanpa uangku lima tahun lalu, tempat ini bahkan tidak akan pernah ada!"
"Dan utang itu sudah lunas saat kamu mencoba menjebak ayahku dengan dokumen palsu," suara bariton Raymond memotong tajam dari sisiku.
Raymond melangkah satu senti lebih dekat ke meja, menundukkan tubuhnya sedikit hingga tatapan mata hazel-nya yang pekat sejajar dengan Julian. Pria 35 tahun itu memancarkan aura mengintimidasi yang membuat dua pengacara di samping Julian bergidik mundur secara refleks.
"Aku membiarkanmu bermain-main di pasar saham selama dua minggu ini, Julian," ujar Raymond rendah, nada suaranya begitu dingin hingga sanggup meledakkan keberanian musuhnya. "Aku membiarkanmu membeli saham-saham kosong di anak perusahaan Perkasa Group... karena aku membutuhkan uang tunai dari konsorsiummu untuk membiayai pengalihan aset Project Serpent ke tangan Clarissa."
Julian tersentak hebat. Wajah peraknya yang tadi dipenuhi rasa percaya diri kini membeku total. "Apa?!"
"Kamu yang membiayai transaksi pengalihan aset ini tanpa kamu sadari," imbuhku halus dengan kekehan dingin yang menusuk. "Saham minoritas yang kamu beli dengan harga melambung tinggi di pasar gelap lusa lalu... adalah saham buatan yang sengaja dilepas oleh tim keuangan Raymond. Terima kasih atas suntikan dana lima puluh juta dolarnya, Mr. Vance."
Keheningan yang amat pekat menyelimuti ruang rapat. Belasan pasang mata saksi dari pihak Perkasa Group menatap skenario pembalasan ini dengan rasa takjub yang tak tersembunyikan.
Julian berdiri dari kursinya secara mendadak hingga kursi kulit itu terdorong ke belakang. Mukanya merah padam oleh kombinasi rasa malu, amarah, dan kekalahan telak. Pria serigala tua dari Singapura itu menyadari bahwa ia tidak sekadar kalah dalam sengketa hukum—ia telah digiring masuk ke dalam perangkap finansial yang dirancang secara sempurna oleh pasangan penguasa baru Jakarta.
"Kalian berdua..." bisik Julian dengan napas terengah gusar, menunjukku dan Raymond dengan jarinya yang gemetar. "Ini belum berakhir! Aku akan membawa kasus ini ke mahkamah arbitrase internasional di Jenewa!"
"Silakan bawa sampai ke ujung dunia, Julian," sahut Raymond datar, meletakkan tangannya secara posesif di atas bahuku, mengeklaim hak kepemilikan dan kemenangan mutlak kami di depan semua orang. "Tapi saat kamu sibuk berurusan dengan pengacara di Jenewa... aku pastikan seluruh izin operasional konsorsiummu di Asia Tenggara sudah dicabut oleh otoritas terkait."
Raymond memberikan tanda pada Pak Herman. "Pak Herman, kawal Mr. Vance dan rombongannya keluar dari gedung ini. Pintu Perkasa Tower resmi tertutup untuk mereka selamanya."
Julian menatapku untuk terakhir kalinya dengan kilatan benci yang membara, sebelum akhirnya memutar tubuh dan melangkah pergi keluar ruangan dengan langkah yang lunglai dan hancur, diikuti oleh para pengacaranya yang tertunduk malu.
Saat pintu ganda ruang rapat tertutup rapat, gemuruh tepuk tangan dan desah napas lega meledak dari para komisaris Perkasa Group.
Aku menyandarkan punggungku pada kursi Executive Chairperson, mendongak menatap Raymond yang masih berdiri di sisiku. Pria itu menundukkan kepalanya, menyunggingkan senyuman dominan yang begitu tampan dan sarat akan rasa bangga.
"Permainan yang sangat indah, my queen," bisik Raymond parau di dekat telingaku, jemarinya yang hangat merengkuh daguku, membimbing bibir kami untuk menyatu kembali di atas puncak kejayaan yang kini sepenuhnya berada di dalam genggaman kami.