**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**
Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.
Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.
Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.
Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.
Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...
**suamiku sendiri membunuhku.**
Aku pikir kematian adalah akhir.
Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.
Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.
Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.
Suamiku masih belum menjadi suamiku.
Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.
Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.
Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.
Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.
Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 - EMBARGO DARI PUNCAK MENARA
Fajar merekah di ufuk timur Jakarta dengan kilau keperakan yang dingin, membelah kabut tipis yang menggantung di atas deretan gedung pencakar langit kawasan SCBD.
Di lantai enam puluh griya tawang The Varell Residences, keheningan pagi terasa begitu terisolasi. Gemercik air dari pancuran marmer hitam di kamar mandi utama baru saja mereda, menyisakan uap hangat yang mengambang tipis dan aroma minyak esensial kayu cendana yang berbaur dengan wangi sabun bergamot maskulin.
Aku berdiri di depan dinding kaca setinggi enam meter yang menghadap langsung ke arah selatan.
Tubuhku terbalut jubah tidur sutra hitam bertali pinggang rapi, belahannya jatuh anggun di atas mata kaki, membungkus siluet tubuhku yang masih menyisakan sisa ketegangan dari medan karang Pulau Damar Barat kemarin. Rambut hitam panjangku yang lembap tersampir di bahu kiri.
Di tanganku, cangkir porselen hitam mengepulkan aroma kopi pahit pekat.
Setiap tegukannya membasuh sisa-sisa kantuk dan mengkristalkan fokus di dalam benakku. Di atas meja kerja marmer hitam di belakangku, kartu kunci logam berbalut cip kuantum Bank Pictet bernomor seri CH-009-VALOIS-PRIVATE berkilau tenang di samping stik memori platinum milik mendiang Gavin Zhou.
Dua instrumen penentu.
Satu untuk memutus urat nadi finansial musuh di Selat Malaka, dan satu lagi untuk menancapkan kekuatan tepat ke jantung dinasti pembangkang di Eropa.
Langkah kaki tanpa alas terdengar melintasi lantai marmer.
Sebelum aku sempat menoleh, sepasang lengan kokoh melingkari pinggangku dari arah belakang.
Adrian Varell menarik tubuhku merapat ke dadanya yang bidang. Pria itu baru saja keluar dari ruang bilas dengan handuk kecil tersampir di bahu dan celana panjang kain hitam santai. Hawa hangat yang memancar dari tubuhnya membentengi punggungku dari dinginnya kaca jendela raksasa.
"Kamu bangun terlalu pagi untuk seseorang yang baru saja memenangkan pertempuran penting, Nadia," bisik Adrian rendah tepat di lekuk leherku.
Suara baritonnya yang serak bergetar di dekat telingaku. Napas hangatnya menyapu kulit rahangku, mengirimkan sensasi intens yang menegaskan kembali dominasi dan kedekatan tanpa batas yang terbangun di antara kami.
Aku menyandarkan kepala ke bahu tegapnya, merasakan ritme napasnya yang stabil menopang tubuhku. Jemari kiriku bergerak menyentuh pergelangan tangannya yang kokoh.
"Pasar modal di Zurich tidak pernah tidur, Adrian," sahutku pelan. "Pukul sembilan pagi waktu Swiss berarti pukul dua siang di Jakarta. Kita punya sisa waktu beberapa jam sebelum Marcus Valois menerima laporan kliring harian dari Bank Pictet."
Adrian terkekeh rendah—getaran di dadanya merambat langsung ke tubuhku.
Lengannya di pinggangku mengerat perlahan, sebuah rengkuhan protektif yang sarat akan wibawa seorang penguasa bursa.
"Biarkan pihak di Prancis Selatan itu menikmati paginya untuk terakhir kali," bisik Adrian tenang namun dingin. "Begitu kamu menekan kode otorisasi DNA pada kartu kuantum itu, seluruh kapal tanker milik konsorsium Valois akan menerima perintah balik haluan di perairan internasional. Kamu tidak hanya menghentikan pasokan minyaknya; kamu melumpuhkan seluruh rantai industri perkapalan mereka di Eropa."
Aku memutar tubuh perlahan di dalam dekapannya, meletakkan cangkir kopi ke atas meja konsol marmer di samping jendela.
Kini kami saling berhadapan. Mataku menatap lurus ke dalam iris hitam kelam Adrian yang tak pernah menyembunyikan intensitas gelapnya. Tangan kananku bertumpu di bahu kokohnya, menatap rahang tegas pria yang memilih berdiri di garis depan bersamaku.
"Apakah kamu siap dengan gejolak pasarnya, Adrian?" tanyaku dengan tatapan tajam. "Jika armada Trans-Oceanic Logistics mengubah rute, harga minyak mentah di bursa kawasan akan melonjak drastis. Jalur logistik Arlena Holding juga membutuhkan kepastian pasokan cadangan."
Adrian menatapku tanpa keraguan sedikit pun. Jempolnya menyentuh daguku, mengangkat wajahku agar pandangan kami terkunci sempurna.
"Varell Maritime memegang cadangan strategis empat belas juta barel di bunker bawah tanah Pulau Sambu," jawab Adrian dengan ketenangan mutlak. "Arlena Holding tidak akan kekurangan pasokan energi sedikit pun. Sementara fasilitas milik Sembilan Teratai di Jurong... akan berhenti beroperasi sebelum petang tiba."
Kesepakatan tanpa kata terpatri di antara kami.
Adrian menundukkan kepalanya, menyapukan kecupan yang dalam dan tegas di bibirku—sebuah penegasan kemitraan yang kini terikat oleh takdir dan ambisi yang sama.
Ketika ia melepaskan pagutannya, pandangan kami kembali terfokus pada medan tempur yang menanti.
"Bastian sudah bersiap di ruang kendali lantai bawah," ucap Adrian seraya merapikan kerah jubah sutraku. "Kenakan pakaianmu, Nadia. Hari ini... kita ubah peta kendali maritim dunia."
Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit pagi.
Ruang kendali taktis bawah tanah The Varell Residences beroperasi dalam keheningan mutlak. Dinding-dindingnya dilapisi panel komposit penyerap frekuensi elektromagnetik, mengisolasi ruangan dari penyadapan eksternal.
Di tengah ruangan, konsol berbentuk tapal kuda dikelilingi belasan analis intelijen finansial dan ahli kriptografi. Layar proyektor raksasa menampilkan peta navigasi maritim global secara real-time. Ribuan titik navigasi mewakili posisi kapal kargo dan tanker minyak yang melintasi Selat Malaka, Selat Sunda, hingga Laut Mediterania.
Aku duduk di kursi pimpinan utama.
Balutan setelan jas terstruktur berwarna putih gading membalut tubuhku, berpadu dengan kuncir kuda tinggi dan anting berlian hitam warisan mendiang ibuku. Di sampingku, Adrian duduk dalam setelan jas hitam tiga lapis, memancarkan aura otoritas yang mengendalikan ritme kerja seluruh ruangan.
Bastian melangkah maju, membawa perangkat pemindai biometrik portabel yang terhubung langsung dengan sistem satelit Bank Pictet di Jenewa.
"Koneksi aman melalui serat optik trans-Atlantik telah stabil, Nona Besar," lapor Bastian dengan disiplin tinggi. "Sistem verifikasi amanah Valois Private Trust meminta tiga parameter validasi: kode alfanumerik kartu kuantum, pemindaian retina mata, dan sampel DNA segar."
Aku mengambil jarum lanset steril dari atas baki logam yang disodorkan.
Tanpa ragu, aku menusuk ujung jari telunjuk kananku.
Setetes darah merebak di kulit jariku. Aku menekannya ke atas pelat pemindai kaca safir, seraya mengarahkan tatapan lurus ke lensa inframerah.
BZZT. KLIK.
Lampu indikator pemindai yang semula merah seketika berganti menjadi hijau terang.
Di layar proyektor utama, sistem enkripsi Bank Pictet Jenewa terbuka lapis demi lapis. Lambang singa bertongkat emas berpadu dengan bunga lili (Fleur-de-lis) muncul megah, diiringi notifikasi sistem:
[SYSTEM NOTIFICATION - BANK PICTET & CIE, GENEVA]
STATUS: IDENTITAS TERVERIFIKASI MUTLAK.
PEWARIS TUNGGAL: NADIA VALOIS-ARLENA.
HAK KUASA: KEPEMILIKAN 49% SAHAM HAK VETO TRANS-OCEANIC LOGISTICS RESMI DIAKTIFKAN.
SALDO DANA AMANAH: € 14.820.000.000 (EMPAT BELAS KOMA DELAPAN MILIAR EURO).
AKSES KOMANDO: VALOIS MARITIME DEFENSE RESMI DIBERIKAN.
Keheningan melanda seluruh ruangan.
Empat belas koma delapan miliar euro tunai, ditambah hak veto atas armada tanker terbesar di Samudra Hindia dan enam kapal fregat tempur berpeluru kendali.
Di masa lalu, keluarga Arkana memperlakukanku layaknya pion yang bergantung pada belas kasihan mereka. Mereka tidak pernah menduga bahwa garis keturunan yang mereka coba singkirkan memegang hak waris atas imperium maritim lintas benua.
"Instruksi pertama Anda, Nona Besar?" tanya kepala analis intelijen dengan takzim.
Aku menegakkan punggung, menatap armada tanker di layar navigasi dengan ketetapan hati yang dingin.
"Keluarkan Dekrit Darurat Alpha-Satu atas nama pemegang saham pengendali Trans-Oceanic Logistics," titahku dengan suara tenang yang menggema tegas.
"Pertama: Alihkan rute pelayaran dua puluh delapan kapal tanker bermuatan minyak mentah yang dijadwalkan merapat di fasilitas Jurong dan Batam milik Sembilan Teratai menuju tangki penyimpanan Varell di Pulau Sambu dan Cilegon."
"Kedua: Bekukan seluruh kontrak pengiriman logistik dengan entitas bisnis yang terafiliasi dengan nama Raymond Zhou, Gavin Zhou, dan Marcus Valois atas klausul pelanggaran integritas internasional."
"Ketiga: Aktifkan protokol pengawalan Valois Maritime Defense. Tempatkan Fregat V-01 Jeanne d'Arc dan V-02 Lafayette untuk mengamankan batas luar konsesi pelabuhan barat kita."
"Perintah dipancarkan melalui frekuensi satelit darurat!" lapor sang analis, mengetikkan instruksi ke konsol.
BZZT.
Di layar raksasa, garis-garis rute pelayaran kapal tanker di Selat Malaka serentak membelok tajam. Kapal-kapal berbobot ratusan ribu ton itu meninggalkan jalur perairan lama dan memusatkan koordinat mereka menuju fasilitas aliansi Arlena-Varell.
Langkah embargo telah berjalan sempurna.
Adrian melirik ke arahku, senyuman tipis terukir di wajah tegasnya. "Langkah awal yang terukur, Nadia Valois. Berita ini akan segera sampai ke pesisir Prancis Selatan."
Kastel Valois, Pesisir Nice, Prancis Selatan.
(Waktu setempat: pukul lima lewat empat puluh lima menit subuh).
Angin Mediterania bertiup kencang menerpa jendela kaca patri kastel tua bergaya Gothic yang bertengger di atas tebing Côte d'Azur.
Di dalam ruang kerja pribadi, seorang pria berusia empat puluh dua tahun dengan setelan jas sutra abu-abu berdiri mematung di samping telepon satelit.
Marcus Valois.
Wajah tirus dengan hidung mancung dan mata birunya tampak mengeras kaku. Cangkir kopi di tangannya bergetar hingga isinya tumpah ke atas karpet antik di bawah kakinya.
Di hadapannya, kepala penasihat hukum keluarga Valois di Jenewa berdiri dengan map bersampul merah berlogo Bank Pictet yang telah terbuka.
"A-apa maksud laporan ini, Jean?!" suara Marcus meninggi, memecah keheningan fajar di kastel itu. "Siapa yang mengaktifkan rekening nomor sembilan?!"
"Nadia Valois-Arlena, Tuan Marcus," jawab sang pengacara dengan suara tertahan. "Putri kandung mendiang Helena Arlena dan Tuan Arthur Valois. Sampel genetiknya terverifikasi mutlak dengan data Tuan Arthur di Jenewa. Hak veto atas Trans-Oceanic Logistics telah disahkan oleh komite bursa Zurich."
"Tidak masuk akal!" geram Marcus seraya meletakkan cangkirnya dengan kasar ke meja. "Helena sudah tiada bertahun-tahun lalu! Bagaimana mungkin ada ahli waris yang memegang kartu kuantum paman saya?!"
"Gavin Zhou gagal, Tuan," lanjut pengacara itu cepat. "Kapal kargo MV Leviathan karam di perairan barat. Gavin Zhou telah dilumpuhkan. Dan rekening penampung Konsorsium Sembilan Teratai dibekukan oleh otoritas moneter berdasarkan dokumen forensik yang diserahkan pihak Nadia."
Marcus Valois terhuyung mundur hingga pinggulnya membentur meja kayu ek.
Rencana pengambilalihan yang ia susun rapi bertahun-tahun—meracuni pamannya secara sistematis, menekan Helena, dan memanfaatkan jaringan di Jakarta untuk menguasai jalur timur—terancam runtuh dalam hitungan hari.
"Bagaimana dengan armada tanker di Selat Malaka?!" tanya Marcus dingin.
"Nadia telah memerintahkan pengalihan rute total, Tuan," sahut pengacara itu. "Dua puluh delapan tanker dialihkan ke fasilitas Varell Group. Jika kita gagal menyuplai minyak mentah ke mitra industri di Asia Timur, penalti wanprestasi miliaran euro akan jatuh tempo. Posisi likuiditas konsorsium di Eropa terancam defisit parah."
Marcus menatap dingin ke arah laut lepas di balik jendela kaca.
Di lantai atas kastel ini, Arthur Valois masih terbaring dalam pengawasan medis, tak sadar bahwa putrinya telah bangkit menuntut kembali garis kekuasaannya.
"Siapkan penerbangan ke Singapura," desis Marcus dengan rahang mengeras. "Hubungi dewan tetua yang tersisa. Saya sendiri yang akan memastikan persoalan di Jakarta ini dihentikan sebelum merambat lebih jauh."
Jakarta, Rumah Tahanan Cipinang, Blok Isolasi Khusus.
(Pukul tiga belas lewat tiga puluh menit siang).
Lantai semen dingin menyambut aroma lembap di sel isolasi berukuran dua kali tiga meter. Cahaya temaram lorong menembus jeruji besi berkarat, menyinari sosok pemuda yang duduk meringkuk di sudut ruangan.
Ryan Arkana.
Pakaian tahanan oranye yang dikenakannya tampak kusam dan kusut. Wajahnya dipenuhi lebam keunguan, sementara perban di dadanya menahan nyeri dari tulang rusuknya yang cedera akibat insiden di jembatan layang.
KREEEKKK.
Pintu gerbang besi blok isolasi berderit terbuka.
Suara langkah sepatu berhak tinggi berketuk teratur di atas lantai semen, meredam suara-saara bising dari sel sekitar.
Ryan mendongak dengan susah payah. Dari celah jeruji besi, ia melihat siluet seorang wanita melangkah mendekat, dikawal oleh dua perwira berseragam yang melangkah dengan sikap hormat.
Setelan jas putih gading tanpa noda. Anting berlian hitam yang memantulkan temaram lampu lorong. Dan sepasang mata tajam yang menatapnya dengan ketenangan mutlak.
Nadia.
Ryan tersentak. Rasa sakit di tubuhnya sejenak tenggelam oleh rasa gentar yang merayap naik ke tenggorokannya.
Dengan susah payah, Ryan menyeret langkahnya mendekati jeruji besi.
"N-Nadia..." bisik Ryan serak. "Nadia... tolong aku... jangan biarkan aku membusuk di sini..."
Aku berhenti tepat satu langkah di depan jeruji selnya.
Tatapan mataku tertuju lurus padanya—sosok yang di masa lalu menorehkan pengkhianatan paling kelam dalam hidupku.
Di sampingku, Bastian menyerahkan selembar surat kabar nasional edisi siang ini melalui celah jeruji, membiarkannya jatuh di hadapan Ryan.
Tiga tajuk utama terpampang jelas di halaman depan:
[PENGADILAN NIAGA MENYATAKAN DINASTI ARKANA GROUP PAILIT TOTAL]
[DARMAWAN ARKANA MENINGGAL DUNIA DI RS POLRI AKIBAT KOMPLIKASI STROKE]
[KONSORSIUM LOGISTIK SELAT MALAKA RESMI DIALIHKAN KE NADIA VALOIS-ARLENA]
Ryan membaca kabar kejatuhan keluarganya dengan napas tercekat.
"P-Papa... meninggal...?" bisik Ryan terguncang. Tangannya mencengkeram jeruji besi yang dingin. "Nadia... kamu... kamu yang menghancurkan semuanya!"
Aku menatapnya tanpa riak emosi sedikit pun.
"Bukan saya yang menghancurkan keluargamu, Ryan," ucapku datar dan dingin. "Ketamakan kalian sendirilah yang membawa kalian ke titik ini."
Aku melangkah maju setengah tapak.
"Kamu ingat kata-katamu di kafe lobi tempo hari?" suaraku mengalun tenang. "Kamu mengira saya hanyalah orang yang bisa kamu permainkan demi menyelamatkan saham keluargamu."
Ryan membeku, tak mampu menyusun kata-kata sanggahan.
"Hari ini, nama keluargamu resmi terhapus dari jajaran dewan bursa," lanjutku tanpa keraguan. "Selena Marvia sedang menjalani proses hukumnya, Gavin Zhou telah kehilangan kendalinya di perairan barat, dan kamu... kamu akan mempertanggungjawabkan perbuatanmu di sini."
"Nadia... tolong..." rintih Ryan seraya menundukkan kepala di balik jeruji. "Aku bersalah... cabut laporannya... aku lakukan apa pun asal aku keluar dari sini..."
Aku menarik pandanganku perlahan dari sosoknya yang terpuruk di lantai semen.
"Tidak ada ruang untuk kompromi, Ryan," bisikku tenang. "Pertanggungjawabkan seluruh tindakanmu di hadapan hukum."
Aku berbalik tanpa menoleh lagi, melangkah meninggalkan koridor blok isolasi yang kembali sunyi.
Langkah kakiku berdentum mantap menuju gerbang utama, meninggalkan masa lalu yang kini telah resmi terkunci di balik dinding tahanan.
Di luar gerbang Rutan Cipinang, sedan lapis baja Varell telah menunggu di bawah terik matahari siang. Adrian Varell berdiri di samping pintu mobil, membukakannya untukku seraya mengamati langkahku dengan ketenangan seorang mitra sejati.
"Selesai dengan urusan di dalam, Nadia?" tanya Adrian saat aku melangkah masuk ke dalam kesejukan kabin mobil.
Aku duduk bersandar, menatap layar tablet di tanganku yang memantau pergerakan radar internasional.
"Pion lama di Jakarta telah selesai, Adrian," sahutku seraya membalas tatapannya. "Kini kita bersiap menyambut pergerakan berikutnya dari Eropa."
Adrian tersenyum tipis, menutup pintu mobil dengan rapat.
Kendaraan melesat meninggalkan kawasan rutan, membelah arus lalu lintas ibu kota menuju pusat kendali aliansi kami.
Babak baru telah dimulai. Dan kali ini, seluruh armada dan jalur kekuasaan berada di bawah genggaman kami.
Bersambung...