SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Neraka di ?
BAB 34: "NERAKA DI DERMAGA UMWELT"
Matahari pagi di kawasan pelabuhan utara Jakarta tertutup oleh kepulan asap hitam tipis yang membumbung dari balik tumpukan kontainer pelabuhan. Suasana di Dermaga 04 terasa sangat mencekam. Di dalam sebuah gudang logistik tua berdinding seng berkarat, Bimo terdengar merintih pelan dengan tangan dan kaki terikat erat di atas kursi kayu tua. Di hadapannya, sebuah kotak detonator digital dengan lampu merah berkedip-kedip cepat memancarkan angka hitung mundur: 00:15:42... 00:15:41... waktu terus berjalan menuju kehancuran total.
Di sudut ruangan, Viktor Vance—pimpinan tentara bayaran faksi Veritas—berdiri mengenakan setelan jas taktis abu-abu sambil menyesap kopi hitam dari cangkir kertas. Wajahnya yang bermata tajam dengan bekas luka tipis di pipi kiri tampak sangat tenang menikmati penderitaan korban sanderanya.
"Anak muda yang berisik," cibir Viktor dalam bahasa Inggris beraksen khas Eropa Timur seraya melangkah mendekati Bimo. "Teman-temanmu dari Zurich pasti sedang panik setengah mati di atas pesawat, terbang kembali ke sini hanya untuk menyaksikan sisa-sisa abu dari teman bodoh mereka."
Bimo meludah ke lantai beton di dekat sepatu boots Viktor. Walau wajahnya babak belur dan bibirnya pecah, Bimo mendongak dengan tatapan penuh kebencian. "Lu... lu pikir lu hebat nyulik gue? Begitu Langit sama Ratu dateng, lu bakal tahu rasanya diinjak-injak sama anak Jakarta!"
Viktor tertawa kecil, melayangkan tamparan keras ke pipi Bimo hingga kepala pemuda itu terhuyung ke samping. "Anak-anak jalanan murahan tidak punya kesempatan melawan pasukan elit kontra-intelijen dunia!"
VROOOOOMMM!
Tiba-tiba, suara deru puluhan mesin motor sport berkapasitas besar membahana memecah keheningan pagi pelabuhan, mengguncang dinding seng gudang hingga berderit nyaring! Suara itu begitu dekat, seolah menghantam langsung ke pelataran depan gudang.
BRAKKK!
Pintu besi utama gudang setinggi empat meter itu mendadak dihantam dari luar oleh sebuah truk kontainer kecil yang dikemudikan Galang bersama pasukan inti Averus! Pintu besi itu ambruk seketika, menciptakan debu dan kepulan asap putih yang memenuhi ruangan.
Viktor membelalak kaget, refleks mencabut pistol dari balik pinggangnya. "Penyusup! Habisi mereka!"
Belasan tentara bayaran Veritas yang berjaga di dalam dan luar gudang langsung mengangkat senjata otomatis mereka. Namun, sebelum pelatuk sempat ditarik, hujan peluru karet dan granat asap kejut ditembakkan serentak dari luar oleh Kenzo dan pasukan Averus yang mengambil posisi strategis di atas tumpukan kontainer.
BAM! TRANG! RAT-TAT-TAT!
Pertempuran jarak dekat yang brutal meletus seketika di area dermaga. Kenzo dan Galang memimpin barisan luar, melumpuhkan penjaga Veritas satu per satu dengan koordinasi taktis yang sempurna.
Di tengah kekacauan asap dan desing peluru, dua sosok bayangan melesat masuk melewati reruntuhan pintu besi.
Langit Biru Adhitama berjalan di depan dengan langkah lebar, mata hitamnya memancarkan aura membunuh yang begitu pekat hingga membuat beberapa tentara Veritas yang mencoba mendekat terpaku ketakutan. Di sampingnya, Aira Shena melangkah lincah dengan senapannya, menembak tepat sasaran melumpuhkan tangan dan senjata musuh tanpa ampun.
"Viktor Vance!" teriak Langit menggelegar, suaranya membelah kebisingan gudang.
Viktor yang melihat kedatangan mereka langsung berbalik. Alih-alih panik, Viktor justru menyunggingkan senyuman licik. Dia melangkah mundur mendekati kursi tempat Bimo diikat, lalu menempelkan pistolnya tepat di pelipis Bimo.
"Selamat datang, Penguasa Jalanan Jakarta," sapa Viktor dengan nada mengejek. "Kalian terlambat lima menit. Lihat kotak di sebelah sandera itu? Waktu mundur tinggal empat menit lagi sebelum seluruh gudang ini meledak rata dengan tanah bersama kalian semua!"
Aira menghentikan langkahnya. Matanya menatap tajam ke arah kotak detonator digital yang angka merahnya terus berkedip cepat: 00:03:12... 00:03:11...
Bimo menggelengkan kepalanya dari kursi, berteriak panik lewat mulut yang disumpal kain.
"Bos! Ratu! Jangan ke sini! Ini jebakan!"
Langit mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, amarah di dadanya membara hebat. Namun, tepat di saat Viktor bersiap menarik pelatuk ke kepala Bimo—
CENG!
Sebuah pisau lipat taktis melesat secepat kilat dari tangan Aira, menembus udara dan menancap telak tepat di pergelangan tangan Viktor yang memegang pistol!
ARGHHH!
Viktor menjerit histeris saat pisau itu menembus kulit dan otot pergelangannya, membuat pistol di tangannya terlepas jatuh ke lantai!
Sebelum Viktor sempat bereaksi menahan rasa sakitnya, Aira sudah melesat maju bagaikan kilat melintasi ruangan! Dalam hitungan detik, Aira melompat dan mendaratkan tendangan putar berkekuatan penuh yang menghantam rahang Viktor hingga pria Eropa itu terpental menabrak tumpukan peti besi dan pingsan seketika!
"Bawel banget dari tadi," dingin suara Aira, berdiri di atas tubuh Viktor yang tak berdaya.
Langit langsung berlari mendekati Bimo, merobek ikatan tali di tangan dan kaki sahabatnya itu serta melepas kain penutup mulutnya.
"Lu gak apa-apa, Mo?" tanya Langit sambil membantu Bimo berdiri.
"Gue... gue hampir jantungan, Bos!" ringis Bimo sambil memegangi pipinya yang lebam. "Tapi untung Ratu lempar pisaunya pas banget!"
"Udah, gak usah drama pelukan!" potong Aira cepat, matanya melirik tajam ke arah kotak detonator yang kini menunjukkan angka: 00:00:45... 00:00:44... Waktu tersisa kurang dari satu menit!
Kenzo dan Galang yang baru saja masuk ke dalam gudang langsung berteriak panik dari pintu. "Ra! Lang! Waktu tinggal di bawah satu menit! Kabelnya banyak, kita gak punya waktu buat nge-hacking manual!"
Langit melangkah mendekati kotak detonator tersebut. Kabel-kabel kecil berwarna merah, biru, dan kuning berkedip rumit di balik tutup transparan. Menjinakkan bom militer bukanlah keahlian sembarangan; satu salah potong, maka semuanya akan meledak berkeping-keping.
Aira melangkah maju berdiri tepat di samping Langit. Cewek itu tidak menunjukkan secuil pun keraguan di matanya. Dia menatap angka merah yang berkedip: 00:00:20... 00:00:19...
"Potong yang mana, Kanebo?" tanya Aira tenang, tangannya sudah memegang pisau kecil.
Langit menatap Aira sejenak, lalu tersenyum tipis—senyuman penuh kepercayaan mutlak di antara hidup dan mati. "Yang merah."
SREK!
Aira menyabet kabel merah tanpa ragu sedikit pun!
BZZZZT...
Angka merah di kotak detonator itu mendadak berhenti di angka 00:00:03, lalu mati total bersamaan dengan padamnya lampu indikator.
Seluruh isi gudang menghela napas panjang secara bersamaan. Bimo terduduk lemas di lantai karena terlalu lega, sementara Kenzo dan Galang di luar tersenyum lebar.
Langit langsung merengkuh pinggang Aira, menarik cewek itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat-erat di tengah sisa kepulan asap pelabuhan.
"Lu gila, Shena... lu motong kabel itu tanpa mikir dua kali," bisik Langit, suaranya sedikit bergetar karena rasa lega yang teramat sangat.
Aira menyandarkan kepalanya di dada Langit, menyunggingkan senyuman savage khasnya yang paling indah. "Gue percaya sama pilihan lu,
Langit. Dari dulu sampai kapan pun."
Badai terakhir dari faksi internasional Veritas resmi runtuh hari ini di dermaga pelabuhan Jakarta. Di bawah terik matahari pagi yang cerah, tidak ada lagi musuh yang berani mengusik ketenangan mereka. Dunia baru ini sepenuhnya adalah milik mereka berdua.
see you next bab 35
jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?