NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang Pasar Gelap

Simon terus mengayunkan pedangnya di bawah terik matahari yang mulai meredup, menyelaraskan setiap gerakan ototnya.

Fokusnya tidak terganggu, seolah dunia di sekitarnya menghilang, menyisakan hanya bilah baja dan jalur serangannya.

[ Teknik Pedang Silang +2 ]

Saat Simon sedang mengatur napas untuk putaran berikutnya, sebuah tangan besar dan kasar menepuk bahunya dengan mantap.

Simon menoleh dan mendapati Kapten Jon berdiri di sampingnya dengan tatapan penuh penghargaan.

"Istirahatlah sejenak, Simon," kata Jon dengan nada yang berat.

"Bakatmu dalam memahami aliran teknik pedang ini benar-benar membuatku terkesan. Kau tidak hanya menggerakkan tangan, tapi kau menggerakkan seluruh tubuhmu selaras dengan napasmu."

Simon membungkuk tipis, menatap Jon dengan tenang.

"Terima kasih, Kapten. Saya menyadari bahwa sebagai rakyat jelata, saya hanya memiliki kerja keras untuk menebus ketertinggalan saya dari para bangsawan."

Mendengar itu Jon terkekeh pelan.

"Rakyat jelata atau bukan, di medan perang hanya ada yang hidup dan yang mati. Teruslah asah ketajamanmu."

Hingga hari mencapai sore, Simon tidak berhenti.

Ia kembali ke tengah lapangan, mengayunkan pedangnya terus-menerus. Bilah pedangnya membelah udara secara diagonal, membentuk simbol 'X' yang presisi.

Keringat membanjiri wajahnya, jubah hitamnya yang compang-camping berkibar mengikuti gerakannya yang semakin luwes dan mematikan.

[ Teknik Pedang Silang +1 ]

Setiap tebasan disertai dengan desisan halus dari napasnya. Simon merasakan bagaimana Kekuatan Riak mulai terbentuk di ujung senjatanya, meski masih sangat tipis.

[ Teknik Pedang Silang +1 ]

Simon berhenti sejenak dan melihat panel pribadinya.

Nama: Simon Blake

Pekerjaan: Ksatria Magang Tingkat 1

Keterampilan: Pernafasan Ular Hitam (Dasar): 185/200, Pedang Silang (Pemula): 33/100 .

Di sisi lain lapangan, Tomi, Jack, Gogo, dan Shade tampak sangat kelelahan.

Napas mereka tersengal-sengal, baju zirah mereka terasa berkali-kali lipat lebih berat akibat kelelahan otot.

Kapten Jon yang memperhatikan mereka akhirnya mengangkat tangannya.

"Cukup untuk hari ini! Semuanya berhenti dan beristirahatlah. Kalian tidak akan bisa menyerap teknik ini jika otot kalian sudah mati rasa," perintah Jon tegas kepada anak buahnya.

Saat mereka bersiap untuk kembali ke mes, Jack Dawn menghampiri Simon dengan merangkul pundaknya, ada kesan mesum yang tidak dapat disembunyikan"

"Hei Simon, jangan terlalu kaku! Malam ini ikutlah denganku ke tempat bordir di pusat kota. Ada banyak wanita cantik di sana, aku bisa memperkenalkan salah satunya kepadamu agar kau bisa 'melemaskan' ototmu yang tegang itu." Jack menatap ke selangkangan Simon.

Gogo langsung menyambar dengan antusias, "Bordir? Kedengarannya seperti rencana yang bagus untuk merayakan kelulusan tes kita!"

Sementara itu, Shade Flet hanya diam, menyarungkan pedangnya tanpa sepatah kata pun.

Simon menggelengkan kepalanya pelan. "Terima kasih atas ajakannya, Jack. Tapi aku lebih suka pergi keluar untuk melihat-lihat kota sendirian," jawabnya dingin.

"Cih, dasar membosankan. Ayo Gogo, kita bersenang-senang!" ajak Jack sembari berlalu pergi bersama Gogo yang tertawa giran.

.....

Simon berjalan menyusuri jalanan Kota Baron Brent yang mulai diselimuti kegelapan malam.

Saat ia baru saja keluar dari gerbang barak, seorang anak kecil dengan pakaian lusuh tiba-tiba menabraknya dengan keras.

"Ma-maafkan saya, Tuan!" teriak anak itu sembari bangkit dan segera melarikan diri ke dalam kerumunan.

'Ada yang aneh dengan bocah itu?'

Simon terdiam sejenak.

Ia menyentuh pinggangnya dan menyadari bahwa kantung uang yang berisi koin jarahannya telah lenyap.

'Sudah ku duga bahwa anak itu mempunyai pikiran yang tidak baik!.'

Matanya yang merah menatap punggung kecil yang menghilang di ujung jalan dari kejauhan.

......

Anak itu masuk ke sebuah gang sempit yang gelap, napasnya terburu-buru karena gembira.

Ia memainkan kantung kulit berat di tangannya, lalu membukanya perlahan.

"Astaga... Aku tak menyangka akan mendapatkan uang sebanyak ini! Kepingan emas dan perak..." bisiknya dengan mata membelalak tak percaya.

'Dengan ini, aku tidak perlu mencuri selama setahun!' matanya penuh kemenangan.

"Kembalikan uang itu."

"Ah!?"

Sebuah suara dingin muncul tepat di belakangnya, membuat jantung anak itu hampir melompat keluar.

Sebelum ia sempat melarikan diri, sebuah tangan yang kuat telah mencengkeram pergelangan tangannya dengan erat.

Anak itu menoleh dan mendapati siluet jubah hitam Simon yang tampak mengerikan di kegelapan.

"T-Tuan! Maafkan saya! Saya terpaksa melakukannya... saya belum makan selama tiga hari ini!" isak anak itu sembari gemetaran, air mata mulai mengalir di wajahnya yang kotor.

Simon mengambil kembali kantung uangnya dengan wajah acuh.

"Jika kau ingin punya uang, maka bekerjalah dengan benar. Tidak perlu menjadi pencuri," kata Simon dengan nada datar yang menusuk.

"Ingatlah, tidak semua orang sebaik aku. Jika kau berurusan dengan orang lain, mungkin hari ini kau sudah menjadi mayat di gang ini."

Simon kemudian merogoh sakunya, lalu melemparkan 30 koin perak ke atas tanah di depan anak itu.

"Tuan sekali lagi saya minta maaf!" Bocah itu berlutut.

Tanpa menunggu ucapan terima kasih, Simon segera berbalik dan pergi meninggalkan gang tersebut.

Anak itu memunguti koin-koin tersebut dengan tangan gemetar sembari menatap punggung Simon yang menghilang dalam bayang-bayang.

........

Setelah keluar dari gang gelap, Simon melihat sebuah kedai yang sangat ramai meskipun hari sudah larut malam.

Papan nama kayunya bergoyang ditiup angin, memperlihatkan kerumunan petualang dan tentara bayaran yang sedang berpesta di dalam.

Simon masuk dan mencari tempat duduk yang agak sepi di sudut ruangan, menghindari perhatian.

Seorang pelayan wanita muda menghampirinya dengan senyum profesional.

"Selamat malam, Tuan. Anda ingin memesan apa?" tanyanya sopan

"Berikan aku satu porsi stek daging sapi dan segelas anggur," pesan Simon sembari meletakkan beberapa keping perak di meja.

"Tentu, Tuan. Mohon tunggu sebentar," jawab si pelayan sebelum pergi.

Sambil menunggu makanannya tiba, Simon duduk bersandar, merenungkan kehidupannya di dunia sebelumnya yang telah ia lalui.

Ia teringat kembali saat ia masih menjadi Agus, pemuda yang tewas mengenaskan akibat pinjol. Kini, di dunia lain yang kejam ini, ia telah berubah menjadi Ksatria yang mampu membunuh manusia tanpa ragu.

'Dunia ini tidak mengenal belas kasihan. Tanpa kekuatan mutlak, aku hanya akan berakhir menjadi budak kembali,' ia memperhatikan debu yang menari di bawah cahaya lampu minyak.

Pendengarannya yang tajam bergetar ketika ia mendengar sekelompok petualang di meja depannya berbicara dengan nada yang kebinggungan.

"Sialan, benda ini terlalu mencolok. Aku tidak bisa menjualnya ke pedagang umum di kota ini tanpa dicurigai oleh penjaga." keluh salah satu petualang bertubuh kekar

"Kenapa tidak kau jual di pasar gelap saja?" timpal temannya dengan suara rendah.

Telinga Simon bergetar, ia memfokuskan pendengarannya ke depan.

"Kau benar, Pasar Gelap Lune. Di sana kau bisa memperjualbelikan barang yang tidak bisa lewat di publik, dan pastinya dengan harga yang sangat tinggi," lanjut petualang itu.

Simon yang tertarik segera berdiri dan menghampiri meja mereke.

"Permisi, kawan. Aku tidak sengaja mendengar kalian berbicara tentang tempat untuk menjual dan membeli barang secara bebas. Bisakah kalian ceritakan lebih lanjut padaku?" tanya Simon dengan nada yang ramah namun tetap berwibawa.

Petualang itu mendongak, melihat simon.

"Hoo? Seorang anak muda yang ingin tahu? Baiklah, duduklah. Aku akan memberitahumu sedikit," kata petualang itu sembari memberi isyarat agar Simon duduk.

"Dengar, Nak. Pasar Gelap Lune yang kamu bicarakan, terletak di wilayah selatan yang cukup jauh, sekitar lima jam berjalan kaki dari sini."

"Wilayah itu adalah tempat yang kacau, zona bebas di mana-mana , tidak ada bangsawan yang berani mengklaim wilayah tersebut sebagai miliknya. Segala macam transaksi ilegal, dari ramuan hingga teknik pernapasan rahasia, berputar di sana setiap hari," jelas sang petualang dengan nada serius.

"Apa?! Teknik pernafasan juga?" Simon terkejut.

"Iya, memang ada teknik pernafasan di sana , tapi kami menyarankan untuk tidak membeli secara sembarangan, teknik pernafasan yang di jual di sana sangat berbahaya jika di praktikan, hampir semuanya palsu yang di buat-buat." Cemoh petualangan itu.

'Jadi begitu....' pikir Simon.

Setelah itu Simon mencatat setiap detail lokasi tersebut di benaknya.

Akhirnya gadis pelayan yang tadi datang membawakan pesanan steknya, Simon segera berkata,

"Nona, berikan empat porsi makanan dan anggur yang sama lagi untuk teman-teman baru saya di sini.

"Ahahha kamu memang orang yang baik nak!" Petualang itu menepuk bahu Simon.

"Mati kita bersenang-senang!"

Melihat Simon mentraktir mereka, para petualang itu tertawa gembira dan menyambut Simon dengan sangat baik.

Simon menghabiskan malam itu dengan mengobrol panjang lebar bersama mereka, menyerap setiap informasi tentang rute dan faksi yang berkuasa di Pasar Gelap Lune.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!