Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Ruang Rahasia (Expanded)
Setelah insiden sangkar tombak yang hampir membuat satu siswa kelas B menjadi sate, kelompok latihan lapangan diputuskan untuk beristirahat sejenak di persimpangan gua. Guru pendamping yang berlari dari pintu masuk setelah mendengar suara mekanisme perangkap itu, memeriksa sangkar tombak dengan wajah pucat dan berkata, "Ini bukan bagian dari desain latihan. Dungeon ini seharusnya sudah steril. Ini perangkap asli, perangkap tua."
Semua siswa lain diminta untuk kembali ke pintu masuk, tapi kelompok Yamada karena Yamada adalah orang yang menemukan perangkap itu diminta untuk menunggu, sambil guru pergi memanggil tim investigasi akademi.
Namun Yamada tidak menunggu. Selagi Elena dan Rian masih menatap sangkar tombak dengan ngeri, dan Aria masih menatap Yamada dengan tatapan penasaran yang belum hilang, Yamada sudah berjalan memutari sangkar tombak itu, menatap dinding batu di belakangnya.
[Danger Sense Lv.2: Hidden switch detected on wall, 1.5 meters above floor, behind moss.]
Yamada mengangkat tangan, menyingkirkan lumut tebal yang menempel di dinding batu yang lembab, dan di balik lumut itu, ada sebuah batu kecil yang bisa ditekan, dengan ukiran simbol bulan sabit yang sangat samar, simbol yang sama dengan yang ada di Requiem Flower.
Dia menekannya.
Klik.
Dinding batu di belakang sangkar tombak bergetar pelan, debu berjatuhan, dan perlahan bergeser ke samping, membuka sebuah celah gelap yang cukup untuk satu orang masuk.
Mereka menemukan ruangan tersembunyi di dalam dungeon, di balik perangkap tombak yang mematikan, ruangan yang tidak ada di peta akademi sama sekali.
Ruangan itu tidak besar, hanya sekitar 4x4 meter, berbentuk persegi, dengan dinding dari batu yang jauh lebih halus dan lebih tua daripada dinding dungeon di luar. Tidak ada lumut, tidak ada air, udara di dalamnya kering dan dingin. Dan di tengah ruangan, di lantai, terdapat sebuah lingkaran sihir yang besar, hampir memenuhi seluruh ruangan, yang menyala pelan dengan cahaya ungu keperakan yang redup, seperti napas seseorang yang sedang tidur.
Lingkaran itu tidak seperti lingkaran sihir yang diajarkan di akademi, yang rapi dan simetris. Lingkaran ini terlihat... hidup, berantakan, dengan simbol-simbol yang terus bergerak dan berubah, seperti cacing-cacing kecil yang terbuat dari cahaya.
Yamada langsung mengenalinya, bahkan sebelum sistemnya memberi notifikasi. Darahnya berdesir, kepalanya sedikit berdenyut, ingatan 13% yang ada di kepalanya bereaksi.
"Lingkaran Elaria. Lingkaran yang sama seperti yang ada di hutan. Yang ada di makamku. Yang dibuat perempuan rambut putih itu." Bisiknya pelan, dengan suara yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri dan oleh Aria yang berdiri tepat di sebelahnya.
Aria menatap lingkaran itu dengan mata ungu yang menyipit, dengan wajah yang biasanya tenang kini terlihat sedikit tegang. Dia mengangkat tangannya, mencoba merasakan mana di dalam ruangan, tapi mana di ruangan itu terasa... asing, bukan mana akademi.
"Kau pernah melihatnya? Lingkaran seperti ini? Di mana?" Tanya Aria, menoleh ke Yamada, dengan nada yang serius. Karena lingkaran seperti ini tidak ada di buku mana pun di perpustakaan akademi, bahkan di buku Teori Sirkuit Tingkat Lanjut miliknya.
"Ya. Pernah. Di hutan. Di tempat aku... mati." Jawab Yamada jujur, tapi pelan, agar Elena dan Rian yang masih di luar tidak mendengar.
Yamada mendekat perlahan, satu langkah, dua langkah, ke tengah ruangan, menuju lingkaran sihir yang menyala redup itu. Setiap langkahnya, cahaya ungu itu berdenyut sedikit lebih terang, seolah-olah merespon kehadirannya, mengenali jiwanya.
Saat ujung sepatu botnya menyentuh garis luar lingkaran—
saat jarinya, dengan ragu, menyentuh cahaya ungu itu—
[Forbidden structure detected. Origin: Elaria Forest - Deep Sector. Classification: Soul Binding Circle - Type: Promise.]
[Memory fragment unlocked: 13% -> 18%]
[Warning: External soul link active.]
Dunia di sekitar Yamada menghilang. Suara tetesan air gua hilang, suara Elena yang memanggil dari luar hilang, cahaya obor hilang. Hanya ada kegelapan, dan kemudian cahaya ungu yang memenuhi seluruh penglihatannya.
Yamada melihat seorang anak laki-laki. Dirinya. Tapi bukan dirinya yang berusia 15 tahun yang ada di akademi, melainkan dirinya yang berusia 10 tahun, versi kecil, dengan wajah polos, dengan mata yang masih penuh air mata, berdiri di tengah lingkaran sihir yang sama persis seperti yang ada di ruangan ini, di tengah Hutan Elaria yang gelap.
Namun kali ini berbeda dari visi-visi sebelumnya yang hanya menampilkan anak itu sendirian dengan perempuan rambut putih kali ini, dia tidak sendirian.
Di samping anak laki-laki 10 tahun itu, berdiri seseorang. Seorang gadis kecil.
Rambut hitam panjang, hitam pekat seperti malam tanpa bulan, yang berkilau terkena cahaya ungu lingkaran sihir. Mata merah menyala, merah seperti darah, merah seperti mata monster bermahkota tiga tanduk, tapi di wajah gadis kecil itu, mata merah itu terlihat indah, tidak menakutkan, hanya sedih dan penuh janji.
Wajahnya tersenyum, senyum yang tulus, senyum yang hangat, senyum yang ditujukan hanya untuk anak laki-laki di sampingnya.
Gadis itu menggenggam tangan anak laki-laki 10 tahun itu, tangan kecil menggenggam tangan kecil.
"Aku akan menunggumu." Kata gadis itu, dengan suara yang lembut, suara anak kecil, tapi dengan intonasi yang dewasa. "Berapa pun lamanya. Lima tahun, sepuluh tahun, seratus tahun. Aku akan tetap menunggumu di sini. Jadi kembalilah. Janji ya?"
Anak laki-laki itu mengangguk, dengan air mata mengalir, "Janji. Aku akan kembali. Tunggu aku."
Gambaran itu bergetar, lalu pecah menjadi kepingan cahaya ungu, seperti kaca yang pecah.
Yamada membuka mata dengan paksa, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya, meskipun udara di ruangan rahasia itu dingin. Dia masih berlutut di tengah lingkaran sihir, tangannya masih menyentuh cahaya ungu yang kini sudah padam, kembali redup.
"Siapa dia? Siapa gadis itu?" Bisiknya pelan, dengan suara yang bergetar, pertanyaan yang ditujukan pada ingatannya sendiri, pada sistem, pada lingkaran itu.
Gadis rambut hitam mata merah, bukan rambut putih mata merah. Gadis yang berbeda dari perempuan yang membuat kontrak lima tahun. Gadis yang menunggu, bukan gadis yang mengambil.
Aria yang melihat Yamada tiba-tiba berlutut dan terengah-engah, langsung mendekat dengan cepat, berlutut di sebelahnya, memegang bahunya, dengan wajah khawatir yang jarang dia tunjukkan pada orang lain.
"Yamada? Yamada, kau kenapa? Apa yang terjadi? Apa yang kau lihat? Wajahmu pucat." Tanyanya, dengan suara yang pelan tapi panik, mengguncang bahu Yamada pelan.
Yamada menoleh, menatap Aria, menatap mata ungu Aria yang khawatir, tapi di dalam kepalanya, yang terbayang adalah mata merah gadis rambut hitam tadi.
Namun sebelum Yamada sempat menjawab, sistem yang tadinya hanya menampilkan Memory unlocked, kini menampilkan sesuatu yang baru, sesuatu yang membuat darah Yamada benar-benar berhenti mengalir, notifikasi dengan warna ungu yang sama seperti saat pertama kali mendeteksi Aria di kereta.
[Warning.]
[Soul resonance detected. Resonance level: 27% and increasing.]
[Source of resonance: Aria Luvellia - In front of host.]
[Resonance Type: Familiar Soul - Past Promise Link Detected.]
Yamada membeku, menatap tulisan itu, lalu menatap Aria yang masih memegang bahunya, yang masih menatapnya dengan khawatir.
"Aria..." Suaranya serak, hampir tidak keluar.
"Hm? Apa? Kau butuh air? Obat?" Aria langsung mendekat, menyodorkan botol air minumnya.
"Kita pernah bertemu sebelumnya? Sebelum kereta? Sebelum akademi? Lama sekali, waktu kita masih kecil?" Tanya Yamada, dengan pertanyaan yang tiba-tiba, pertanyaan yang tidak masuk akal bagi orang lain.
Aria terlihat bingung, alis tipisnya berkerut, mata ungunya menatap Yamada dengan bingung yang tulus, bukan pura-pura.
"Kurasa tidak. Aku baru pertama kali ke desa-desa sekitar Elaria. Aku tinggal di ibu kota seumur hidupku. Kenapa kau tanya begitu?" Jawabnya jujur.
Yamada menatap matanya dalam-dalam, mencoba mencari kebohongan, mencoba mencari ingatan, mencoba mencocokkan mata ungu di depannya dengan mata merah di dalam visi tadi. Warna matanya berbeda, warna rambutnya berbeda, tapi... senyumnya, cara dia menatap khawatir, cara dia menggenggam bahu...
"Benarkah? Kau yakin tidak pernah ke Hutan Elaria? Tidak pernah menunggu seseorang di dalam lingkaran sihir?" Tanya Yamada lagi, dengan suara yang lebih pelan, lebih dalam.
Aria tersenyum, senyum tipis yang sedikit dipaksakan karena bingung, tapi senyum itu... senyum itu sama persis dengan senyum gadis rambut hitam di dalam visi tadi, senyum yang hangat dan penuh janji.
"Benar. Aku tidak pernah. Tapi..." Dia berhenti, menatap wajah Yamada yang pucat, menatap mata Yamada yang terlihat seperti sedang melihat orang lain di dalam dirinya. "...entah kenapa, sejak pertama kali melihatmu di kereta, aku juga merasa... familiar. Seperti sudah lama mengenalmu. Seperti sudah lama menunggumu."
Namun jauh di dalam dirinya, di dalam hatinya yang paling dalam, di dalam jiwanya yang bahkan dia sendiri tidak mengerti sepenuhnya...
sesuatu terasa familiar. Sesuatu berdenyut pelan, seperti janji yang dibuat lima tahun lalu, di bawah cahaya ungu lingkaran Elaria, oleh seorang gadis kecil berambut hitam yang berjanji akan menunggu, meskipun harus mengubah warna rambut dan warna matanya, meskipun harus menunggu lima tahun di ibu kota.
Dan lingkaran sihir di bawah mereka, yang tadinya redup, kini menyala sedikit lebih terang, seolah-olah merespon dua jiwa yang akhirnya bertemu kembali setelah lima tahun terpisah.
[Memory Reconstruction: 18%]
[Soul Resonance with Aria: 27% -> 32%]
[Hidden Quest Updated: Discover who Aria really is.]
Yamada menatap lingkaran yang menyala itu, menatap Aria, dan untuk pertama kalinya sejak bereinkarnasi, dia merasa bahwa kemalasannya mungkin tidak akan cukup untuk menghindari takdir yang sudah ditulis lima tahun lalu, jauh sebelum dia mati ditabrak truk.