NovelToon NovelToon
SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

SISTEM DI DUNIA KULTIVASI

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Time Travel
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.

Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.

Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.

Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.

Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29. Menata Wilayah

Berita menyebar bagai angin kencang di seluruh Benua Langit Biru — begitu cepat, begitu mengejutkan, hingga tidak ada yang berani mempercayainya di awal.

"Sekte Awan Tinggi... tunduk? Itu tidak mungkin! Mereka adalah penguasa Wilayah Timur, sudah berdiri ratusan tahun!" seru seorang tetua dari sekte kecil di wilayah itu, matanya terbelalak tak percaya.

"Benar! Bagaimana mungkin sekte yang baru berdiri tiga tahun bisa membuat mereka tunduk? Pasti ada yang salah..." gumam pemimpin sebuah faksi, tangannya gemetar memegang laporan itu.

Namun semakin banyak orang yang memastikan kebenarannya, semakin dalam mereka terperangah.

Utusan dari berbagai tempat melihat langsung — bendera biru Sekte Awan Tinggi yang dulu berkibar dengan angin sombong, kini tergantung lebih rendah.

Dan pesan resmi yang dikirim ke seluruh penjuru Wilayah Timur tidak bisa disangkal lagi: Sekte Awan Tinggi tunduk pada Sekte Surgawi Langit, dan akan mengirim upeti setiap tahun.

Berita itu tak berhenti di sana. Kabar itu terus merambat ke wilayah Selatan, Barat, dan Utara — hingga ke ujung benua.

Di sana, para penguasa wilayah lain pun terkejut mendengarnya, saling bertanya-tanya sekte mana itu dan dari mana asal kekuatan yang begitu dahsyat itu.?

Namun sejauh ini, mereka hanya mendengar dan memperhatikan — belum ada yang berani bergerak. Waktunya belum tiba.

Sementara itu di Wilayah Timur, kepanikan bercampur rasa takut melanda setiap kekuatan di sana.

Jika penguasa wilayah saja harus tunduk, bagaimana dengan mereka yang jauh lebih kecil dan lemah? Tidak ada yang mau menunggu sampai panggilan datang.

Mereka segera bergerak — sekte-sekte kecil, paviliun, faksi, bahkan Kerajaan Langit Biru yang berada di bawah pengaruh Sekte Awan Tinggi sekalipun.

Berbondong-bondong, mereka menaiki kapal terbang masing-masing untuk menuju Gunung Langit. Udara di atas awan penuh dengan bayangan kapal-kapal itu yang bergerak beriringan menuju satu arah — puncak tertinggi yang kini menjadi pusat kekuatan baru di Wilayah Timur.

Semua hadiah berharga — batu spiritual tingkat tinggi, senjata pusaka, kain sutra terbaik, buah-buahan langka, dan emas yang tak terhitung jumlahnya — telah tersusun rapi di dalam cincin ruang para pemimpin rombongan.

Saat kapal-kapal itu mendarat di atas gerbang giok Sekte Surgawi Langit, para utusan turun dengan tertib, tidak berani bersuara keras. Mereka berbaris rapi, menundukkan kepala sedikit, menunggu dengan penuh rasa hormat dan sedikit gemetar.

Dari balik gerbang, seorang Tetua penjaga gerbang melangkah keluar. Wajahnya tenang namun wibawanya membuat siapa pun yang melihatnya merasa segan. Ia berhenti di depan mereka, menatap barisan rombongan itu dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.

"Kalian datang dari seluruh penjuru Wilayah Timur," ucap Tetua itu suaranya tenang namun terdengar jelas di telinga setiap orang yang hadir. "Aku adalah Tetua penjaga gerbang Sekte Surgawi Langit. Sampaikan maksud kedatangan kalian."

Seorang tetua dari Sekte Pedang Ringan maju selangkah, tangannya meremas cincin ruang di jari — tempat semua hadiah tersimpan. "Kami dari Sekte Pedang Ringan! Kami datang untuk menyatakan tunduk dan setia di bawah kekuasaan Sekte Surgawi Langit! Di dalam cincin ruang ini terdapat hadiah tanda hormat kami — mohon Tetua berkenan menerimanya!"

Pemimpin Paviliun Bunga Bulan segera menyusul, mengangkat tangannya yang juga mengenakan cincin ruang. "Kami dari Paviliun Bunga Bulan! Kami bersedia menjadi sekte bawahan dan patuh pada setiap perintah! Semua persembahan kami tersimpan di sini — mohon terima!"

"Utusan Kerajaan Langit Biru!" seorang pangeran maju dengan busana kerajaan yang penuh hiasan permata, namun wajahnya penuh kerendahan hati. "Ayahanda Baginda Raja mengutus hamba untuk menyatakan bahwa seluruh kerajaan yang berada di Wilayah Timur tunduk dan setia kepada Sekte Surgawi Langit. Upeti tahunan akan kami kirimkan tepat waktu. Semua hadiah kerajaan tersimpan di dalam cincin ruang ini — mohon Tetua menerima dengan baik!"

Satu per satu mereka maju, menyatakan kesetiaan dan menyerahkan cincin ruang berisi hadiah. Tidak ada yang berani menuntut apa pun, tidak ada yang berani bertanya berlebihan. Mereka hanya ingin satu hal — diterima, dan diakui oleh penguasa baru Wilayah Timur.

Tetua penjaga gerbang menerima setiap cincin ruang dengan sopan namun tegas. Ia menyimpannya, lalu mengangguk pelan.

"Kalian datang dengan hati yang tulus dan kerendahan hati. Sekte Surgawi Langit menerima pernyataan kalian. Mulai hari ini, sekte, faksi, paviliun, dan kerajaan kalian yang berada di Wilayah Timur berada di bawah perlindungan kami. Selama kalian setia dan tidak berbuat jahat, kami tidak akan menindas kalian. Namun jika ada yang berani berkhianat atau menimbulkan kerusakan... ketahuilah — hukuman kami tidak akan seberat ini."

Suara itu tenang namun berat, membuat semua orang di hadapannya merasa lega sekaligus kagum. Mereka bersujud di depan gerbang itu, merasa sangat beruntung bisa diterima.

"Terima kasih! Terima kasih, Tetua!" seru mereka serempak dengan penuh syukur. "Kami akan setia sampai akhir hayat!"

...----------------...

Tiga hari berlalu sejak seluruh kekuatan di Wilayah Timur menyatakan tunduk. Di Aula Utama Sekte Surgawi Langit, para Tetua berkumpul untuk menyusun tata kelola wilayah yang kini berada di bawah perlindungan mereka.

Meja batu besar di tengah ruangan terbentang peta Wilayah Timur — batas-batasnya, nama sekte bawahan, kerajaan, hingga kota-kota besar tertulis dengan jelas.

Lin Yue duduk di kursi utama, wajahnya tenang namun penuh wibawa. Di sebelahnya berdiri Mo Yuan sebagai Tetua Agung, dan di kedua sisi aula berbaris para Tetua lainnya.

"Kita tidak bisa mengelola wilayah seluas ini dengan cara yang sama seperti saat kita baru berdiri," ucap Lin Yue pelan, suaranya terdengar lembut namun setiap orang di ruangan itu mendengarkan dengan saksama. "Kita butuh aturan yang jelas — agar tidak ada yang dirugikan, dan agar perlindungan kita sampai ke setiap pelosok wilayah."

Mo Yuan mengangguk setuju, lalu membuka lembaran daftar aturan yang telah disusun bersama para Tetua. "Kami telah merancang beberapa aturan dasar. Mohon Ketua Sekte berkenan menilainya."

Ia melangkah maju, lalu membacakan satu per satu dengan suara yang jelas dan tegas.

"Pertama — Setiap sekte, faksi, paviliun, dan kerajaan yang tunduk wajib mengirimkan laporan tahunan dan upeti setiap musim semi. Jumlah upeti disesuaikan dengan kemampuan masing-masing, tidak boleh memberatkan rakyat, namun juga tidak boleh kurang dari batas minimum yang ditetapkan."

"Kedua — Sekte Surgawi Langit berhak mengirimkan pengawas untuk memeriksa keadilan dan ketertiban di wilayah bawahan. Jika ada yang menindas rakyat, merampas harta, atau melakukan kejahatan besar, pengawas berhak menindak sesuai hukum."

"Ketiga — Selama tidak melanggar hukum dasar, sekte dan kerajaan bawahan tetap berhak mengatur urusan dalam wilayah masing-masing. Kami tidak akan campur tangan secara berlebihan."

"Keempat — Jika ada serangan dari luar wilayah atau bencana besar, seluruh kekuatan bawahan wajib membantu satu sama lain di bawah komando Sekte Surgawi Langit."

"Kelima — Setiap orang di wilayah bawahan berhak melapor ke Sekte Surgawi Langit jika merasa diperlakukan tidak adil oleh pemimpinnya. Kami akan meninjau dan memutuskan dengan adil."

Setelah Mo Yuan selesai membacakan, suasana di aula menjadi hening sejenak. Tidak ada yang merasa aturan itu terlalu berat, namun juga tidak ada yang merasa terlalu ringan — semuanya seimbang.

"Aturan ini bagus," ucap Bai Yuan dengan nada setuju. "Tidak menindas, namun juga tidak membiarkan mereka berbuat sesuka hati."

"Tambahkan satu hal," ucap Lin Yue pelan namun tegas. "Siapa pun yang berani melanggar kesetiaan, berkhianat, bekerja sama dengan musuh, atau menimbulkan kerusakan yang besar, akan dihukum berat. Sekali saja mereka memilih jalan itu, tidak ada maaf kedua kalinya."

"Baik, akan segera ditambahkan," jawab Mo Yuan sambil mencatat.

Lin Yue berdiri perlahan, tatapannya menyapu seluruh wajah para Tetua. "Sekarang, mari kita bagi tugas. Mo Yuan sebagai Tetua Agung akan mengurus urusan dalam sekte dan seluruh laporan dari wilayah bawahan. Bai Yuan dan Shen Wu akan memimpin pasukan pengawas — berkeliling ke seluruh penjuru Wilayah Timur untuk memastikan ketertiban dan menindak pelanggaran. Tetua lainnya akan bertugas mengelola puncak, mengajar murid, serta menjaga formasi pertahanan."

"Baik, kami terima perintah!" seru para Tetua serempak sambil menangkupkan tangan penuh hormat.

Setelah rapat selesai, Lin Yue kembali ke Puncak ke-10. Ia duduk di bawah naungan Pohon Roh Abadi, lalu mengeluarkan peta benua yang menjadi salah satu hadiah dari Sistem.

Peta itu tampak biasa di permukaannya, namun saat Lin Yue menyalurkan sedikit energi roh, peta itu bersinar lembut — titik-titik cahaya muncul di berbagai tempat, menandakan lokasi sumber daya yang belum pernah diketahui orang lain.

Di sana terlihat jelas: lembah yang kaya akan batu spiritual tingkat tinggi, gua yang memancarkan energi roh murni, hutan tanaman obat langka, hingga tambang logam untuk membuat senjata pusaka. Semuanya tersebar di Wilayah Timur — wilayah yang kini menjadi miliknya.

"Jika sumber daya ini dikelola dengan baik," gumam Lin Yue pelan sambil menatap peta itu, "Wilayah Timur akan berkembang pesat. Kekuatan setiap orang di bawah perlindungan kita akan meningkat berkali-kali lipat. Dan itu akan menjadi fondasi sebelum kita melangkah ke wilayah lainnya."

Ia kemudian memanggil dua murid inti — Xiao Tian dan Su Ling — yang kini sudah tumbuh menjadi pemuda dan pemudi yang tangguh dan berbakat. Mereka datang dengan penuh rasa hormat.

"Guru," sapa mereka serempak sambil menundukkan kepala.

Lin Yue menyerahkan peta itu kepada Xiao Tian. "Kalian berdua membawa beberapa orang murid dalam lainnya. Pergilah ke lokasi-lokasi yang ditandai di peta ini. Catat kondisinya, laporkan kembali kepadaku. Jangan sampai ada orang lain yang mengetahui keberadaan tempat-tempat ini sebelum kita siap mengelolanya."

Xiao Tian menerima peta itu dengan kedua tangan, matanya berbinar penuh semangat sekaligus tanggung jawab. "Baik, Guru! Kami akan berhati-hati dan melaporkan semuanya dengan benar!"

"Pergilah," ucap Lin Yue pelan. "Ini adalah awal dari pembangunan. Setiap batu, setiap pohon, setiap sumber daya — semuanya akan menjadi fondasi kekuatan kita di masa depan."

Su Ling menatap Lin Yue dengan tatapan penuh kekaguman. "Kami tidak akan mengecewakan Guru!"

Keduanya berbalik dan pergi dengan langkah mantap. Baru beberapa hari yang lalu mereka berniat minta izin untuk keluar cari pengalaman. Tak disangka, kesempatan itu malah datang sendiri.

Lin Yue kembali menatap ke arah cakrawala, di mana langit berwarna keemasan dan ungu bercampur menjadi satu.

Wilayah Timur sudah di tangan. Aturan sudah dibuat. Sumber daya sudah diketahui. Semuanya berjalan sesuai rencana.

Namun di kejauhan, di luar batas wilayah itu, masih ada tiga wilayah besar — Selatan, Barat, dan Utara. Di sana, kekuatan-kekuatan lain masih berdiri tegak, menunggu, dan memperhatikan.

"Belum saatnya," gumamnya.

Angin sore berhembus lembut, menggoyangkan daun Pohon Roh Abadi yang berkilau lembut.

Di puncak tertinggi itu, Lin Yue berdiri sendirian — sosok yang kini menjadi penguasa Wilayah Timur, namun hatinya tetap tenang dan tidak sombong. Ia tahu, perjalanan ini masih sangat panjang. Dan ia siap melangkah, satu langkah pada satu waktu.

.

.

.

1
Alia Chans
Hadirr Thor
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!