NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:994
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Kekhawatiran Ajkaro

​Layar monitor di hadapanku memancarkan rekaman visual resolusi tinggi. Pria paruh baya berpenampilan tegas mengamati berkas rekam jejak Vanguard dengan dahi berkerut dalam.

​Pria di dalam rekaman kamera pengawas yang kuretas secara diam-diam itu adalah Ajkaro. Pendiri sekaligus mantan penguasa absolut Vanguard Corp, ayah kandung dari Sakti.

​Aku duduk bersandar di kursi kerjaku yang sunyi. Jam digital di sudut layar menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah serangan siber beruntun dari Valmus, aku memutuskan untuk memperluas jangkauan pemantauan sistem A.U.R.A hingga ke kediaman pribadi keluarga utama. Aku tidak bisa mengambil risiko musuh menyusup melalui titik buta pengamanan.

​Namun, alih-alih menemukan jejak peretas bayaran tersebut, aku justru menemukan ancaman yang jauh lebih dekat dan lebih berbahaya.

​Ajkaro tidak duduk sendirian di ruang kerja mewahnya. Seorang pria dengan setelan jas rapi dan tas medis kulit duduk tegak di seberang meja kayu jatinya.

​Dokter Hindan. Pakar saraf tepercaya keluarga Sakti yang kini menangani ibuku.

​[Meningkatkan Volume Audio Eksternal. Memfilter Kebisingan Latar.]

​Rentetan teks hijau menyala di retinaku, menyinkronkan gerakan bibir kedua pria di layar dengan suara yang langsung disalurkan ke sistem pendengaranku.

​"Saya sudah meninjau seluruh pergerakan wanita bernama Tera itu," suara Ajkaro terdengar berat, penuh otoritas yang tidak menoleransi bantahan. "Kenaikan jabatannya terlalu cepat. Dia menyingkirkan Silamoy, meruntuhkan Dorko, dan menggagalkan kontrak Bernard hanya dalam hitungan minggu."

​Ajkaro melempar sebuah map tipis ke atas mejanya.

​"Tidak ada staf administrasi rendahan yang memiliki kapasitas analisis finansial dan hukum setajam itu. Saya curiga dia adalah mata-mata yang ditanam oleh Apex Dynamics. Hamdan terlihat terlalu tertarik padanya di malam Gala Bisnis."

​Aku mengepalkan tanganku di atas pangkuan. Ajkaro sedang menyusun teori konspirasi untuk menyingkirkanku.

​"Apa yang Bapak inginkan dari saya?" tanya Dokter Hindan dengan nada hormat. "Saya hanyalah seorang tenaga medis, Pak Ajkaro. Fokus saya saat ini adalah memulihkan kesehatan Ibu Busnah, ibu dari Nona Tera."

​"Gunakan akses medismu," perintah Ajkaro mutlak. "Cari tahu segalanya tentang struktur psikologis dan latar belakang Tera. Jika dia adalah seorang agen korporat yang terlatih, pasti ada jejak modifikasi kognitif atau riwayat trauma yang disembunyikan. Cari kelemahannya, Hindan."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Denyutan menusuk menghantam pelipisku secara mendadak.

​Rasa sakit luar biasa merambat ganas di belakang tempurung kepalaku, membuatku nyaris menjatuhkan diri dari kursi. Pandanganku mengabur sesaat sebelum layar antarmuka hijau berkedip liar dengan warna merah peringatan.

​[Peringatan Medis Darurat!]

​[Kelelahan Saraf Ekstrim Terdeteksi. Suhu Korteks Serebral Meningkat Melewati Batas Toleransi.]

​[Gejala: Migrain Vaskular Tingkat Empat. Risiko Kerusakan Sel Saraf Kognitif.]

​Aku mematikan monitor komputer secara paksa. Tanganku gemetar hebat saat merogoh laci meja untuk mencari obat pereda nyeri dosis tinggi yang kubeli beberapa hari lalu.

​Aktivitas memproses jutaan data, menangkal serangan Valmus, dan meretas kamera kediaman Ajkaro dalam waktu yang berdekatan rupanya menuntut bayaran yang sangat mahal dari tubuh fisikku. Sistem A.U.R.A telah berevolusi, tetapi sel-sel otak organiku masih memiliki batas maksimal.

​Aku menelan dua butir pil putih itu tanpa bantuan air. Aku memejamkan mata, memijat pangkal hidungku dengan keras, berharap rasa sakit yang seolah ingin membelah kepalaku ini segera mereda.

​Sakti tidak boleh tahu tentang kondisiku ini. Jika ia menyadari bahwa kemampuanku menuntut pengorbanan fisik yang menyiksa, pria itu pasti akan langsung melarangku menyentuh satu pun data perusahaan. Ia akan mengurungku kembali.

​Dan aku tidak akan membiarkan posisinya direbut oleh Bernard atau Ajkaro.

​[Mengkalkulasi Waktu Pemulihan Saraf: Dibutuhkan Istirahat Total Selama 12 Jam.]

​Aku mengabaikan saran sistem tersebut. Aku meraih tas tanganku, merapikan kerah kemejaku, dan memaksakan diri berdiri. Aku harus segera mengunjungi Ibu di rumah sakit. Aku harus memastikan Dokter Hindan tidak melakukan hal yang mencurigakan.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Lantai marmer rumah sakit spesialis itu berbunyi pelan saat hak sepatuku menyentuh permukaannya.

​Ruang rawat inap VIP Ibu terlihat tenang. Saat aku melangkah melewati pintu ganda, aku mendapati Dokter Hindan sedang memeriksa tekanan darah Ibu.

​Ibu memejamkan mata dengan damai, tertidur pulas akibat pengaruh obat-obatan pemulihan pasca operasinya.

​"Selamat malam, Nona Tera," sapa Dokter Hindan saat menyadari kehadiranku. Pria itu menyimpan stetoskopnya ke dalam saku jas putih.

​"Malam, Dokter," jawabku dengan nada netral. Aku berjalan mendekati ranjang, memperhatikan layar pemantau detak jantung Ibu yang menunjukkan grafik stabil. "Bagaimana kondisi Ibu hari ini?"

​"Pemulihannya sangat luar biasa. Respons jaringan organnya jauh melampaui prediksi awal kami," jelas Dokter Hindan.

​Pria itu memutar tubuhnya menghadapku. Matanya menatap wajahku dengan intensitas yang lebih tajam dari biasanya. Ia sedang menjalankan perintah Ajkaro.

​"Namun, saya justru lebih mengkhawatirkan kondisi Anda, Nona Tera," ucap Dokter Hindan perlahan.

​Pria itu melangkah mendekat. Ia mengeluarkan sebuah senter medis kecil dari saku jasnya.

​"Wajah Anda sangat pucat. Pupil mata Anda sedikit melebar, dan saya bisa melihat tremor halus pada jari-jari Anda saat Anda memegang pinggiran ranjang barusan."

​Aku segera menyembunyikan tanganku ke belakang punggung. "Saya hanya kelelahan akibat lembur kerja, Dokter. Itu hal yang wajar bagi asisten eksekutif."

​Dokter Hindan menyalakan senter medisnya. "Tolong tatap lurus ke depan. Biarkan saya memeriksa refleks pupil Anda."

​[Memindai Niat Subjek: Dokter Hindan.]

​[Status Emosi: Kuriositas Tinggi, Curiga. Subjek Sedang Mengumpulkan Data Biometrik Inang.]

​Aku membiarkan cahaya senter itu menyorot mataku selama beberapa detik. Aku mengatur ritme pernapasanku, memaksa otot-otot di sekitar mataku untuk tidak bereaksi berlebihan terhadap cahaya tersebut.

​Dokter Hindan mematikan senternya. Dahi pria itu berkerut dalam.

​"Respons pupil Anda terlalu cepat untuk ukuran manusia yang sedang kelelahan ekstrim," analisis Dokter Hindan secara profesional. "Dan Anda sering menekan bagian pelipis kanan Anda. Apakah Anda mengalami serangan migrain hebat secara berkala?"

​"Saya baik-baik saja," balasku tegas, memotong evaluasi medisnya.

​"Migrain kronis yang dipicu oleh beban kerja otak berlebihan bisa menyebabkan kerusakan saraf permanen, Nona Tera," peringat Dokter Hindan. "Jika otak Anda dipaksa memproses informasi melampaui kapasitas strukturalnya, sistem saraf Anda bisa mengalami kelebihan beban."

​Perkataan Dokter Hindan sangat akurat. Pria ini adalah pakar saraf terbaik. Ia tidak membutuhkan tes laboratorium yang rumit untuk membaca gejala kerusakan yang sedang kualami akibat sistem A.U.R.A.

​"Saya menghargai perhatian Anda, Dokter," ucapku dengan senyum formal yang sangat kaku. "Tapi saya ulangi, saya baik-baik saja. Fokuskan saja keahlian Anda pada pemulihan Ibu saya."

​Dokter Hindan mengangguk pelan. Ia meraih tas kulitnya dari atas sofa.

​"Saya akan melaporkan kondisi Ibu Anda kepada Pak Sakti besok pagi," kata Dokter Hindan sebelum melangkah menuju pintu. Pria itu berhenti sejenak dan menoleh ke arahku. "Dan saya sarankan Anda mengambil cuti medis. Tubuh Anda sedang memberikan sinyal bahaya, Nona Tera."

​Pintu ruangan tertutup rapat. Aku menghela napas panjang, bersandar pada dinding di dekat ranjang Ibu.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Sistem di dalam kepalaku langsung memproses percakapan barusan.

​[Menganalisis Laporan Medis Subjek Dokter Hindan.]

​[Peringatan: Data Indikasi Kelelahan Saraf Inang Telah Terekam Oleh Subjek. Probabilitas Penyerahan Data Kepada Subjek Ajkaro: 95%.]

​Rasa sakit di kepalaku kembali berdenyut, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Aku harus menggigit bibir bawahku agar tidak mengerang kesakitan.

​Ajkaro sangat cerdik. Jika ia tidak bisa menemukan bukti bahwa aku adalah mata-mata kompetitor, ia akan menggunakan rekam medisku sebagai senjata.

​Ajkaro akan membuktikan kepada Sakti dan dewan direksi bahwa otakku memiliki kelainan saraf. Ia akan membangun narasi bahwa kemampuanku tidak stabil dan sangat berbahaya bagi perusahaan.

​Layar ponsel di dalam tas tanganku bergetar singkat.

​Aku mengambil ponsel tersebut. Sebuah pesan teks masuk dari nomor tak dikenal.

​Isi pesan itu sangat singkat, tegas, dan membawa ancaman mutlak dari penguasa tertinggi keluarga Vanguard.

​"Jauhi putraku, atau aku yang akan memastikan kau tidak akan pernah bisa bekerja di perusahaan mana pun lagi. Ajkaro."

​Aku meremas ponsel itu kuat-kuat. Ajkaro telah memutuskan turun tangan secara langsung untuk menyingkirkanku dari kehidupan putra tunggalnya.

​Pria tua itu tidak akan menggunakan metode halus. Jika aku menolak mundur, ia akan menggunakan seluruh kekuasaan, uang, dan pengaruhnya untuk menghancurkan hidupku.

​[Menyusun Opsi Pertahanan Terhadap Ancaman Eksternal Subjek Ajkaro.]

​Teks hijau bermunculan memberikan berbagai taktik negosiasi, namun aku menepis semuanya. Aku menatap layar ponsel yang perlahan meredup.

​Sakti telah mempertaruhkan segalanya untuk melindungiku dan membiayai pengobatan Ibuku. Aku tidak akan membalas perlindungannya dengan sikap pengecut.

​Ajkaro ingin berperang. Dan aku akan meladeninya.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!