Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29 Dia bukan pencuri
Semua orang kembali tertawa.
Mereka tidak menganggap ucapan Lily serius. Mereka justru menertawakan Lily.
Lily mendekat.
Tatapannya begitu tajam memandang ke arah mereka.
Plak...
Lily melayangkan satu tamparan salah satu dari mereka.
"Aku sangat muak dengan orang-orang seperti kalian."Ujar Lily penuh amarah.
"Berani sekali kamu menampar ku."
Begitu Lily mendekat dan menatap tajam mereka. Nyali mereka tiba-tiba menciut.
Lily meninggalkan mereka dengan perasaan kesal.
Begitu keluar. Lily menghela nafas lega.
"Untung saja aku bisa membuat mereka takut."Lily tersenyum kecil.
Dia kembali ke meja kerjanya.
Lily mengedarkan pandangannya. Tidak ada Grace di sana.
Lily meraih ponselnya.
"Kamu di mana?"
Lily bertanya dengan panik.
"Aku sudah kembali. Aku tidak enak badan. Makanya aku kembali lebih awal. Maaf aku tidak sempat memberitahumu."
Lily menghela nafas lega.
"Tidak apa-apa. Setidaknya kamu baik-baik saja. Cepat sembuh."
"Terimah kasih Lily. Kamu yang terbaik."Lirih Grace dengan suara bergetar.
Lily mematikan teleponnya. Dia tahu jika Grace sedang tidak baik-baik saja.
"Kamu orang baik Grace. Tidak akan ku biarkan orang-orang merendahkan mu." Batin Lily.
Lily menyandarkan punggungnya.
Lily membuka tas miliknya.
ia membuka dompetnya.
Lily meraih kartu kredit di dalam tas miliknya. Entah keputusannya itu benar atau salah tapi dia akan membantu Grace.
Lily meraih kartu yang kebetulan memiliki isi 1 miliar. Kartu itu adalah pemberian Eldrick saat ia ulang tahun. Tapi Lily sama sekali belum menyentuhnya.
Setelah sempat ragu. Lily meraihnya dan memberikannya kepada Ana.
Ana terdiam.
Dia menatap kartu di hadapannya. Kemudian menoleh kepada Lily.
"Apa ini?"
"Bukankah kamu butuh uang 1 miliar. Aku yabg akan membantu Grace membayarnya."
Ana tertawa mengejek.
Mendengar Ana tertawa. Semua karyawan menoleh kepada mereka.
"Apa kamu sedang bermimpi? Kamu memberikan ku cek kartu kosong bukan?"
Ana menggeleng tidak percaya. Dia sama sekali tidak percaya jika Lily mampu membayar uang sebanyak itu.
"Kalau ragu, kamu bisa mengeceknya." ujar Lily dengan percaya diri.
Dia sangat tahu jika Ana pasti tidak percaya. Tapi di dalam kartu itu. Memang ada uang senilai 1 miliar.
"Hentikan Lily. Jangan mempermalukan diri mu sendiri."
"Kalau kamu tidak cek. Bagaimana kamu tahu jika kartu ini kosong."
Ana melihat sekeliling. Dia melihat jika para karyawan sedang memperhatikan mereka.
Ana akhirnya setuju.
"Baiklah."
"Biar kami yang cek."
Hanya beberapa menit. Semuanya telah terbukti.
"Bagaimana?" Ana menatap Amber dan Jane.
"Memang ada isinya."Lirih Amber.
Lily tersenyum puas. Dia bisa melihat kekecewaan Ana saat mengetahui jika kartu itu memang ada isinya.
"Sekarang semuanya telah selesai. Satu hal lagi. Kejahatan tidak akan selamanya terkubur. Suatu saat pasti akan terbongkar."Ujar Lily menatap Ana.
Ana mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia sama sekali tidak menyangka jika Lily memiliki uang sebanyak itu.
"Dari mana sebenarnya uang yang kamu pakai Lily? Aku tidak percaya jika suami mu mampu memberika uang sebanyak itu."Batin Ana.
Saat ini wanita itu benar-benar kesal. Dia tidak menyangka jika dia akan kalah oleh Lily lagi.
Lily kembali ke meja kerjanya.
Tepat jam pulang kantor. Dia meninggalkan meja kerjanya. Lily berdiri di depan kantor menunggu taksi yang dia pesan.
Beberapa menit kemudian.
Taksi berwarna kuning berhenti di depannya. Lily melangkah masuk ke dalam mobil.
Dari kejauhan Ana mengawasi Lily. Bahkan Ana mengikuti ke mana mobil Lily pergi.
Hingga mereka memasuki perumahan kawasan Elit. Ana membeku di tempatnya.
Lily berhenti di depan sebuah kawasan Elit.
Melihat hal itu. Ana mengepalkan tangannya.
"Ada apa ini? Bukankah suami Lily seorang sopir?Dia tidak mungkin tinggal di sini."Gumam Ana.
Ana mulai tenggelam dengan lamunannya. Begitu hendak membuka pintu.
Netra Ana menangkap sesuatu yang berbeda. Wanita itu mulai tersenyum kecil.
Ana meraih ponselnya. Dia mulai memotret Lily dengan seorang pria tua.
"Pantas saja dia punya uang. Ternyata dia menjadi simpanan lelaki tua."Gumam Ana.
Beberapa potret Lily sudah di amankan oleh Ana. Ana tersenyum mengejek.
"Baiklah Lily. Kamu tidak akan selamat kali ini. Aku pikir bisa menyingkirkan sahabat mu tapi ternyata aku salah. Tapi kali ini aku pasti menyingkirkan mu." Ana tersenyum puas.
Ana melaju meninggalkan tempat itu. Dia kembali ke mansion miliknya.
Setibanya di mansion miliknya. Ana turun dari mobilnya. Wanita itu bersenandung ria melangkah masuk ke dala mansion.
"Apa suasana hatimu sedang baik sayang?"
Ana menoleh.
Mamahnya berdiri di hadapannya sambil tersenyum kecil. Wanita paruh baya itu menelisik ekspresi putrinya.
Ana mendekat.
"Aku sudah menemukan rahasia Lily mah. Ternyata dia simpanan pria tua.Pantas saja dia punya uang."
"Apa kamu yakin?"
"Tentu saja mah. Tapi kenapa aku merasa jika pria tua ini familiar."Gumam Ana.
Dia meraih ponselnya di dalam tasnya dan menunjukkan foto Lily dan pria tua itu.
"Bukankah ini tuan Hermawan? Dia salah satu orang terkaya di kota ini yang berasal dari indonesia."Ujar mamah Ana.
Ana tersenyum.
"Kalau dia orang penting maka ku pastikan Lily akan hancur berkeping-keping kali ini. Jika istri tuan Hermawan tahu maka ku pastikan ini akan semakin seru."
Mamah Ana tersenyum kecil.
"Mamah dengar jika istri tuan Hermawan cukup berpengaruh juga. Dia terkenal galak."Timpal mamah Ana.
"Baguslah.Aku hanya perlu mencari tahu informasinya dan bertemu dengannya."
Ibu dan anak itu tertawa bahagia. Kali ini mereka akan benar-benar menghancurkan Lily.
Di sisi lain. Lily baru saja selesai membersihkan diri. Dia berdiri di balkon kamarnya.
"Sayang."
Lily menoleh kepada suaminya yang baru saja selesai membersihkan diri.
"Kamu baik-baik saja sayang? Aku dengar ada keributan di tim mu."
Lily menghembuskan nafas kasar.
"Ana minta uang ganti 1 miliar. Aku yang membayarkan ganti rugi Grace. Aku tidak tahu apa Grace akan senang atau tidak tapi aku sudah mengatakannya kepadanya."
Lily terlihat sendu.
Eldrick mendekat dan memeluknya.
"Jangan khawatir sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Apa kamu yakin jika bukan Grace pelakunya?"
"Bukan Grace pelakunya. Meski kami baru saja kenal. Tapi aku yakin bukan dia pelakunya. Aku tahu Ana sengaja melakukan hal itu. Dia tahu jika aku tidak akan tinggal diam. Tapi dia salah karena aku punya uang membayarnya."
Lily tersenyum kecil mengatakan semua itu. Eldrick hanya tersenyum kecil.
"Kamu puas dengan hal itu?"
"Aku sangat puas."Jawab Ana tersenyum kecil.
Lily melerai pelukannya. Dia berjalan ke kamar. Dia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sementara Eldrick berjalan masuk ke dalam walk in closet.
Lily menelpon Grace. Entah mengapa Lily merasa khawatir.
"Kamu baik-baik saja Grace."Gumam Lily meletakkan ponselnya saat panggilan teleponnya.
"Ada apa sayang?"