Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di sisi lain.
Atheos tak bisa tidur, menenangkan Athena yang rewel membuat dirinya akhirnya terlelap lebih dulu tapi tidak dengan Atheos.
Atheos masih terjaga karena matanya tak mengantuk sama sekali.
Ia kini ada diluar kamarnya. Matanya menatap pesan yang masuk ke ponsel Sari.
Saat ini Sari tidur di sofa dan belum sempat melihat pesan itu.
Atheos tersenyum kecil.
'Apa Mommy sungguh baik-baik saja? Aku akan melakukan apapun jika sampai Mommy terluka karena pria itu. Aku kesal dia mengambil Mommy dari kami. Bagaimana bisa pria itu memisahkan sosok Ibu dari Anak-anaknya?' ucap Atheos membatin.
Terlihat Atheos mengeluarkan ponsel miliknya sendiri, ia pergi dari dekat Sari lalu berjalan ke arah dapur.
Atheos duduk disana sambil memakan buah segar.
Di ponselnya ada pesan tentang banyak hal termasuk link baru lagi kembali masuk melalui pesan.
Tanpa ragu Atheos menekan link itu, ia masuk ke sebuah sistem pengaman.
Senyum Atheos terbit, ia bisa memasuki CCTV yang ada di sebuah kediaman mewah.
"Mommy." Gumamnya kecil melihat sosok Akila tidur di dalam pelukan seseorang.
Atheos memperbesar layar ponselnya hanya untuk melihat wajah pria yang kini memeluk Akila.
Untungnya CCTV yang ada di kamar itu mampu membuat wajah William terlihat dengan sangat jelas. Sudah pasti karena kualitas dari CCTV tersebut.
"Wajah pria ini..." Atheos terdiam.
Ia menyadari sesuatu. Wajah pria itu sangat mirip dengannya. Atheos menggeleng cepat. Ia tak mau memikirkan hal itu.
Atheos berhenti melakukan hal itu, ia pindah dan masuk ke dalam room chat online milik orang lain.
Tapi setelahnya ada pesan lagi yang masuk ke ponsel Atheos.
[Uang yang anda kirimkan masih kurang, jika mau saya melakukan sesuatu maka berikan yang lebih banyak.] Isi pesan itu membuat Atheos tersenyum senang.
Suara langkah kaki membuat Atheos tahu bahwa yang datang adalah Athena.
"Kenapa bangun?" Tanya Atheos masih dengan ponselnya.
"Aku memikirkan Mommy." Jawab Athena mengantuk.
Atheos menggeser ponselnya membuat Athena duduk di salah satu bangku itu.
"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Athena bingung.
Atheos tersenyum kecil.
"Bantu aku dapatkan uang, waktu itu kau menggunakan identitas orang lain untuk mengambil uang orang lain bukan? Uang untuk bayar orang melakukan sesuatu sudah habis." Ucap Atheos.
Athena meraih ponsel itu.
"Aku pakai identitas siapa? Uang siapa yang harus aku curi? Programnya ada di tablet." Ucap Athena paham maksud Atheos.
"Curi saja uang milik William Hartawan, jangan gunakan identitas siapapun. Biarkan orang jahat itu bingung mencari tahu siapa yang mencuri uangnya." jawab Atheos dengan sangat tenang.
Atheos mengambil ponselnya lagi dari tangan Athena lalu membuka CCTV yang sempat terlihat olehnya.
Athena terkejut, kantuknya hilang. Atheos paling bisa membuat Athena emosi sampai bersemangat menggali habis uang William.
"Aku cemas, bagaimana kalau Mommy menderita karena pria itu. Kita harus segera bawa Mommy kembali." Ucap Atheos.
Atheos tahu kalau Athena kini marah.
"Hmmm." Singkat Athena menatap William memeluk erat Akila sedangkan air mata Akila jatuh dan terlihat melalui CCTV itu.
Enak saja, bagi Athena saat ini William sedang memulai perang. Akila itu Mommy mereka artinya milik mereka bukan milik William.
---
BAB 20: Pagi yang Tak Biasa
---
Menjelang pagi barulah Athena tertidur karena kantuknya. Ada banyak hal yang ia lakukan tadi malam.
Tak ada tablet ataupun ponsel lagi di tangan Anak itu karena Atheos sudah menyimpannya.
Bukan hanya Athena saja yang lelap, Atheos pun juga terlelap di jam yang berbeda beberapa menit setelah Athena lebih dulu tidur.
Tapi Athena tidur dengan nyenyak sejak malam.
Kini mata Anak itu terbuka dan rasa rindunya tetap sama seperti kemarin.
"Mommy." Gumamnya begitu pilu.
Wangi rambut Akila dan dekapan hangat Akila memang hal yang tak bisa Athena lepaskan. Bagi Athena dunianya akan hancur tanpa Akila.
"Akhhh! Aku rindu sekali dengan Mommy, aku rindu!" Ucapnya menendang selimut yang menutup tubuhnya.
Mood baik Athena hilang, saat ini ia sedang uring-uringan berharap Akila datang lalu mengucapkan selamat pagi bahkan meninggalkan banyak kecupan di wajahnya.
Beberapa saat setelahnya tangis Athena pecah, air matanya mulai berderai dengan banyak. Rindunya makin membesar.
Bagaimana tidak, Akila itu adalah sosok paling hangat yang pernah Athena temukan saat ia terlahir ke dunia ini. Tak akan ada yang bisa menggantikan Akila dalam hidup Athena.
Tangis yang kian membesar membuat Atheos perlahan membuka matanya.
"Diamlah Athena." Ucap Atheos pelan.
Athena turun dari ranjangnya lalu naik ke ranjang Atheos, baju Atheos ditarik pelan oleh Athena.
"Bangunlah, aku merindukan Mommy. Aku tak akan sarapan kalau tidak Mommy yang suapi. Kalau aku sakit bagaimana? Atheos, temukan Mommy. Aku tak bisa tidur tanpa Mommy, Atheos bangun!!! Rengek Athena.
Begitulah lelahnya Atheos menjaga bocah semenyebalkan Athena saat Akila tak ada.
"Aku mengantuk Athena, kita bicara nanti setelah aku tidur." Ucap Atheos.
Tangis Athena menjadi-jadi.
"Kalau kau tak bangun maka aku akan menangis sampai kau bangun. Aku tak akan berhenti sebelum kau..."
"Jangan menangis. Kita akan temui Mommy nanti, akan aku ceritakan banyak hal padamu. Jadi biarkan aku tidur." Ucap Atheos.
Athena menarik nafasnya, ia berhenti menangis usai mendengar ucapan Atheos.
"Kau benar-benar akan membawaku pada Mommy kan? Kau berjanji kan?" Tanya Athena.
"Hmm." Balas Atheos seraya memejamkan matanya.
Athena mendekati wajah Atheos.
"Sungguhan kan?" Tanya Athena lagi.
Atheos membuang wajahnya ke arah lain, Athena memang menyebalkan sekali.
---
Di sisi lain - Mansion William
William terbangun karena ketukan pintu, posisi tidurnya masih sama seperti tadi malam bahkan pagi ini tubuh Akila menghadap ke arahnya. Wajah Akila ada di dada William.
Ada apa ini? Tiba-tiba William merasa suka dan tak berniat menjauh dari Akila.
Ketukan kembali terdengar membuat William terpaksa menjauh dari Akila.
Pelukan terlepas, Akila masih tertidur dengan lelap. Bisa jadi tubuh Akila terlalu lelah karena menghadapi William yang benar-benar sangat menguras emosi itu.
William membuka pintu kamarnya, ada Reno disana.
"Kenapa kau berisik sepagi ini Reno? Apa kau tak berpikir bahwa kau sangat mengganggu waktuku." Ucap William membuat Reno menunduk takut.
Tak biasanya William marah hanya karena ketukan pintu. Lagipula mana pernah William bangun hingga telat seperti ini.
Ini cukup aneh tapi awal yang baik saat Reno melihat sedikit melalui celah pintu yang terbuka. Tampaknya Akila terlelap di atas ranjang tidur William.
"Saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai perkembangan Perusahaan milik Tuan, maaf jika saya mengganggu waktu tidurnya Tuan." Ucap Reno.
William menghela nafas berat.
"Katakan itu nanti Reno, aku harap besok kau tak mengusik waktu pagi ku lagi. Bicara mengenai perusahaan atau pekerjaan itu katakan saat aku tak sibuk." Ucap William membuat Reno mengangguk paham.
Reno mengangguk merasa bersalah.
"Maafkan saya Tuan, kalau begitu saya..."
"Apa ini hal penting?" Tiba-tiba William penasaran.
Reno mengangkat kepalanya.
"Iya Tuan. Pagi ini saham Perusahaan menurun, ada kerugian besar bahkan beberapa rekan mendadak menarik dana investasinya." Ucap Reno.
Hal seperti itu belum pernah terjadi.
William mengernyitkan dahinya menatap wajah Reno.
"Lanjutkan." Ucap William.
"Ada beberapa data perusahaan yang bocor bahkan sistem pengamanan perusahaan juga sedang di hack hingga program perusahaan tidak bisa berjalan dengan lancar." Ucap Reno lagi.
Tangan William terkepal.
Bahkan hal seperti ini juga belum pernah terjadi sebelumnya.
"Apa yang dikerjakan oleh bidang IT jika hal seperti ini saja menjadi kacau? Dasar bodoh! Cermati dengan baik dan lakukan pencarian pada hacker gila itu. Tangkap saja, dan tutup kembali sistem keamanan Perusahaan." Perintah William membuat Reno mengangguk mengerti.
William memberi kode agar Reno menjauh. Seperginya Reno, mata William kembali terarah pada Akila yang masih betah tidur.
'Sial, kenapa aku ingin tersenyum melihat wajah tenang perempuan ini?' ucap William membatin.
Anehnya, wajah tenang milik Akila seakan mengundang kebahagiaan di hati William.
Sialan!
William mengumpat di dalam hati berkali-kali. Tampak William menutup pintu kamarnya lalu masuk ke arah kamar mandi.
Sepertinya otak William sedikit kacau pagi itu.
---
Setengah jam berlalu.
Akila membuka matanya, ia tersadar kalau saat ini adalah hal terburuk dalam hidupnya.
"Bagaimana bisa aku tertidur? Padahal tadi malam aku tak mengantuk sama sekali." Ucap Akila.
Perlahan Akila duduk, rasanya ia mau keluar kamar dan masuk ke kamar Anak-anaknya.
'Mommy merindukan kalian. Saat ini apa kalian sudah makan?' tanya Akila membatin.
Suara Athena, bahkan wangi rambut Anak-anaknya membuat Akila ingin menangis. Rindu di hati Akila membuat dadanya sesak.
"Aku harus pergi dari tempat ini sesegera mungkin. Aku tak mungkin terus ada ditempat ini lebih lama karena ini adalah penjara yang mengerikan." Ucap Akila.
Akila turun dari ranjang itu, ia membuka pintu yang sepertinya adalah balkon di kamar itu.
Akila dapat merasakan angin pagi yang langsung menyentuh kulitnya.
Dibawah sana Akila menatap banyak para penjaga milik William, jika Akila berpikir ingin kabur, kemana arah yang akan membawa ia bisa keluar dari tempat ini? Dulu Sari memberikan wine berisi obat tidur pada para penjaga bahkan William hingga ia dan Sari bisa kabur, namun apa boleh Akila melakukan hal yang sama? Tapi dari mana Akila mendapatkan obat tidur itu?
Ah, semakin banyak berpikir maka semakin sakit kepala Akila.
"Ini memuakkan sekali." Ucap Akila dengan pelan.
Suara langkah kaki membuat Akila tahu bahwa sosok yang datang itu adalah William.
Pandangan William kini melihat ke arah Akila yang diam saja. Siluet tubuh Akila memang sangat cantik bahkan saat dilihat dari belakang.
"Apa dia berpikir bisa kabur dariku?" Tanya William bermonolog.
William mulai mendekati Akila sampai ke balkon itu.
"Mandilah." Ucap William.
Akila memilih diam.
William semakin mendekat lalu menelusupkan pelukan di belakang Akila.
Tangan William melingkar di perut Akila membuat kepala Akila menunduk. Ia cukup terkejut saat William malah memeluknya.
"Apa yang kau pikirkan? Apa kau berniat kabur dari ku?" Tanya William.
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .