menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWA PERTAMA SENA
Langkah kaki Akira terasa begitu berhati-hati saat ia mendorong pintu depan rumah mereka di Meguro. Di lengannya, ia menggendong sebuah baby car seat berisi Sena Riyuma yang sedang terlelap pulas diselimuti kain rajut berwarna merah muda lembut. Di sampingnya, Yuki berjalan perlahan seraya memegangi tas perlengkapan bayi. Rumah yang selama ini tenang kini menyambut kehadiran sebuah nyawa baru—sebuah pendar kehidupan kecil yang resmi menjadi bagian dari keseharian mereka.
"Selamat datang di rumah barumu, Sena Riyuma," bisik Yuki pelan saat mereka melangkah masuk ke dalam ruang tengah.
Akira meletakkan car seat dengan tingkat kehati-hatian ekstra di atas sofa empuk, seolah barang yang ia bawa terbuat dari kaca yang paling rapuh di muka bumi. Sang Profesor lalu melepas kacamata hitamnya, menyapu peluh tipis di kening, dan menatap istrinya dengan raut wajah yang campur aduk antara rasa bahagia dan kesiapan penuh.
"Yuki, aku sudah menyusun jadwal piket malam kita," ucap Akira tiba-tiba dengan nada suara yang begitu serius.
Yuki berkedip bingung. "Jadwal... piket?"
Akira melangkah ke arah meja kerja di sudut ruang tengah, lalu mengambil sebuah papan jalan (clipboard) yang di atasnya sudah tersemat lembaran kertas grafik yang sangat rapi. Yuki mendekat, dan matanya seketika membelalak saat melihat apa yang tertulis di sana.
Di kertas tersebut, Akira telah membuat tabel rinci menggunakan penggaris dan pena tinta hitam:
* Kolom 1: Jam (interval 2 jam sekali dari pukul 22.00 hingga 06.00).
* Kolom 2: Volume ASI/Susu yang dikonsumsi (mililiter).
* Kolom 3: Durasi tidur dan grafik fase REM sleep bayi.
* Kolom 4: Pencatatan popok (kategori basah/kotor).
* Kolom 5: Penanggung jawab piket (Akira / Yuki).
"Akira... kamu sampai membuat grafik monitoring begini?" Yuki tak sanggup lagi menahan tawa renyahnya. Air mata kecil menggenang di sudut matanya karena terpingkal-pingkal melihat ulah suaminya. "Ini anak kita, Sayang, bukan sampel eksperimen laboratorium!"
Akira membetulkan letak kacamatanya dengan gaya khasnya saat mempresentasikan jurnal ilmiah, tidak merasa ada yang aneh sedikit pun. "Pola tidur bayi baru lahir sangat dipengaruhi oleh ritme sirkadian yang belum stabil, Yuki. Dengan data statistik ini, kita bisa memprediksi kapan Sena akan menangis sebelum ia merasa terlalu stres. Ini pendekatan efisiensi."
Yuki menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum manis, mengusap rahang tegas Akira dengan lembut. "Terserah Profesor Akira saja, deh. Yang penting Papanya Sena tidak pingsan karena terlalu teliti."
Namun, teori ilmiah di atas kertas selalu berbeda jauh dengan realita lapangan.
Pukul satu dini hari. Suasana kamar tidur utama yang gelap dan hening seketika dipecahkan oleh suara tangisan melengking yang nyaring:
OEEKKK! OEEKKK! OEEKKK!
Dalam hitungan detik, Akira langsung terduduk tegak di ranjang seolah-olah tombol darurat baru saja ditekan di dekat telinganya. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini mencuat ke segala arah, dan kacamatanya terpasang sedikit miring di wajahnya.
"Sena! Sena kenapa?" tanya Akira dengan mata setengah terpejam namun tubuhnya bertindak sigap. Ia melihat jam dinding. "Aneh... menurut grafikku, dia baru boleh bangun pukul dua lewat lima belas menit. Ini deviasi empat puluh lima menit dari estimasi!"
Yuki yang hendak bangun dari ranjang sambil menahan kantuk terkekeh pelan. "Akira, bayi tidak baca kertas grafikmu. Biar aku susui dulu."
"Tidak, kamu istirahat saja. Luka bekas persalinanmu belum sembuh total," potong Akira tegas. Ia bergegas bangun, mengangkat tubuh mungil Sena dari dalam boks bayi dengan gerakan yang sangat lembut dan canggung.
Akira memangku Sena di tangannya, menimang-nimang bayi mungil itu seraya berjalan berputar-putar di dalam kamar. "Shh... Sena, ini Papa. Mengapa variabel tangisanmu meningkat? Apakah popokmu basah? Atau suhu ruangannya terlalu dingin?"
Yuki yang menyaksikan momen itu dari atas ranjang hanya bisa menyandarkan kepalanya di bantal, menatap suaminya dengan rasa hangat yang memenuhi dada. Sosok ilmuwan yang disegani di dunia akademis itu kini berjalan bolak-balik di kamar memakai piyama dengan rambut berantakan, membisikkan rumus-rumus sains dan lagu pengantar tidur yang sumbang demi menenangkan putri kecil mereka.
"Coba periksa popoknya dulu, Profesor," bisik Yuki penuh godaan manis.
Akira membawa Sena ke meja ganti popok. Dengan jemari kekarnya yang biasanya memegang tabung reaksi dan Mikroskop Elektron, Akira mem Buka perekat popok bayi dengan kehati-hatian yang luar biasa tinggi. Namun, saat perekat dibuka, sebuah 'kejutan' kecil terjadi—Sena tiba-tiba menyemprotkan sedikit air seni yang mengenai lengan kemeja piyama Akira.
Akira membeku seketika. Matanya membelalak menatap lengannya yang basah, lalu menatap Sena yang kini justru menghentak-hentakkan kaki mungilnya di udara.
Yuki di atas ranjang seketika meledakkan tawa yang ditahan-tahan sampai menutupi wajahnya dengan bantal. "Selamat datang di kehidupan nyata seorang Ayah, Akira!"
Akira menarik napas panjang, menatap bayinya yang kini berhenti menangis dan malah menatap sang Ayah dengan mata bulatnya yang jernih. Perlahan, gumpalan kekakuan di wajah Akira mencair. Sebuah senyuman pasrah yang sangat tulus dan manis terbit di bibir sang Profesor.
"Poin untukmu, Sena Riyuma," gumam Akira lembut, mengusap pipi gembul bayinya.
Tiga minggu berlalu sejak malam heboh itu. Rumah Meguro kini telah menemukan ritmenya sendiri. Grafik milik Akira tetap ada di atas meja, namun kini penuh dengan coretan stiker bunga berwarna-warni yang ditempelkan oleh Yuki sebagai bentuk kejahilan manis.
Siang itu, udara hangat musim panas bertiup lembut menerobos tirai jendela ruang tengah. Pintu depan rumah berbunyi, menyuarakan genta kecil saat Akira kembali dari laboratoriumnya lebih awal.
Akira melepaskan jas kerjanya, menggantungnya di rak, lalu melangkah menuju ruang tengah. Di atas karpet empuk, Yuki sedang duduk berselonjor memangku Sena yang mengenakan gaun terusan mungil berwarna merah muda.
"Kamu sudah pulang, Akira?" sapa Yuki dengan binar mata bahagia.
"Iya, aku memajukan jadwal analisis data agar bisa pulang sebelum jam empat," jawab Akira. Sang Profesor berlutut di samping istrinya, menatap putri kecilnya yang kini berusia hampir satu bulan.
Sena yang mendengar suara papanya seketika mengalihkan pandangannya. Mata bulatnya yang hitam dan jernih berkedip beberapa kali, menatap wajah Akira yang membungkuk di atasnya.
"Halo, Putri Papa..." bisik Akira lembut, mengulurkan jari kelingkingnya yang besar ke arah telapak tangan mungil Sena.
Jemari mungil Sena seketika menggenggam erat jari kelingking Akira. Dan tepat pada detik itu, untuk pertama kalinya sejak lahir, bibir mungil Sena melengkung lebar ke atas. Sebuah senyuman tanpa gigi yang begitu murni, polos, dan menggemaskan terukir jelas di wajah bayi cantik itu.
Gugguu... suara kecil yang mungil keluar dari tenggorokan Sena.
Kesunyian seketika menyelimuti ruang tengah.
Akira membeku sepenuhnya. Genggaman tangannya pada jemari Sena gemetaran pelan. Dada sang Profesor bergemuruh hebat—sebuah sensasi meledak-ledak yang jauh lebih dahsyat daripada penemuan rumus ilmiah mana pun di dunia.
"Yuki... kamu lihat itu?" suara Akira bergetar parau, matanya tak sanggup berpaling dari senyuman bayinya. "Dia... dia tersenyum padaku."
Yuki tersenyum haru, menyandarkan kepalanya di bahu lebar Akira. "Iya, Akira. Sena tahu siapa Papanya. Dia sangat menyukaimu."
Akira membungkuk lebih dalam, mendaratkan kecupan yang sangat lama dan penuh rasa cinta di dahi mulus Sena, lalu beralih mengecup kening Yuki dengan lembut. Air mata kebahagiaan yang hangat menggenang di sudut mata sang Profesor.
Segala rasa lelah karena begadang tiap malam, pakaian piyama yang terkena noda popok, hingga grafik-grafik rumit yang ia buat seketika melebur tanpa bekas. Di dalam ruangan yang hangat itu, didekap oleh dua wanita paling berharga dalam hidupnya, Akira tahu bahwa ia telah menemukan jawaban paling sempurna atas seluruh pencarian hidupnya.