NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan di Tengah Hutan

"Tundukkan kepala Anda, Nona!"

​Teriakan melengking Odette memecah derak roda kayu yang beradu dengan jalanan berbatu. Detik berikutnya, sebuah anak panah berwarna hitam legam menembus jendela kabin kereta, melesat hanya beberapa sentimeter dari hidung Geneviève, dan menancap kuat di bantalan kursi beludru.

​Kuda penarik kereta meringkik panik. Kereta kayu sewaan itu berguncang hebat ke arah kanan, nyaris terbalik saat roda kirinya menghantam lubang lumpur yang dalam.

​Di luar kabin, kusir tua yang mereka sewa menjerit kesakitan. Sebuah anak panah lain baru saja menembus bahu kirinya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh dari kursi kemudi jika Odette tidak segera mendobrak pintu kabin depan dan menarik kerah bajunya.

​"Pegang tali kekangnya, dasar pak tua bodoh!" bentak Odette dengan panik. Ia berpegangan pada kusen pintu agar tidak terlempar. "Hamba tidak mau mati terkubur lumpur di hutan antah berantah ini!"

​Geneviève mencabut anak panah yang menancap di kursi dekat kepalanya. Ia menatap ujung besi panah tersebut yang berwarna sedikit kehijauan. Racun.

​Rasa frustrasi yang luar biasa pekat mendidih di dalam dada Geneviève. Ia baru saja berhasil mengamankan buku kas asli yang bernilai jutaan koin emas, dan sekarang beberapa preman rendahan berani merusak kereta sewaannya. Membayar kompensasi untuk kereta kuda yang hancur dan biaya pengobatan kusir yang terluka akan menjadi pengeluaran ekstra yang sangat merugikan. Ia sangat benci pengeluaran yang tidak direncanakan.

​Geneviève mengintip dari balik jendela kabin yang pecah. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus dahan pepohonan ek raksasa, ia bisa melihat empat bayangan hitam memacu kuda mereka dengan kecepatan penuh. Pasukan pembunuh bayaran itu menyusul dengan cepat. Mereka membawa obor dan pedang panjang yang berkilat memantulkan cahaya api.

​"Mereka Pasukan Anjing Hitam dari pesisir, Nona," lapor Odette seraya merangkak kembali ke dalam kabin. Tangannya berlumuran darah segar dari bahu sang kusir. "Kusir kita sudah setengah pingsan. Kuda kita kelelahan. Kita tidak akan bisa lari dari mereka di jalan lurus."

​Otak Geneviève bekerja dengan kecepatan maksimal. Ia menganalisis medan di sekitarnya. Mereka sedang berada di jalur Hutan Vaudémont. Jalanan tanah ini sangat sempit, hanya cukup untuk dilewati oleh satu kereta kuda berukuran sedang. Di sebelah kiri terdapat tebing batu yang curam, sedangkan di sebelah kanan terhampar barisan pohon ek berusia ratusan tahun yang jaraknya sangat rapat.

​Lari berpacu lurus adalah tindakan bunuh diri. Kuda penarik kereta yang membawa beban berat akan selalu kalah cepat dari kuda tunggangan yang gesit.

​"Odette, ambil alih tali kekangnya sekarang juga," perintah Geneviève dengan nada suara yang sedingin bongkahan es. Tidak ada kepanikan dalam nadanya, hanya perhitungan taktis yang mutlak.

​Odette membelalakkan matanya. "Nona, hamba adalah pelayan dapur dan tukang bersih-bersih. Hamba tidak pernah mengemudikan kereta kuda seumur hidup hamba."

​"Ini bukan waktunya untuk menolak pekerjaan tambahan, Odette. Naik ke kursi kemudi dan dengarkan aba-abaku," tegas Geneviève. Ia memasukkan buku kulit merah itu ke dalam bagian terdalam jubahnya dan mengikat sabuk kainnya erat-erat.

​Tanpa banyak berdebat lagi, Odette melompat ke kursi kemudi luar. Ia menendang tubuh kusir tua yang setengah pingsan itu agar masuk ke bagian bawah kursi supaya tidak terkena panah lagi. Odette meraih tali kekang kulit yang tebal itu dengan kedua tangan kecilnya.

​"Lalu apa yang harus hamba lakukan sekarang, Nona?" teriak Odette melawan suara angin malam yang menderu.

​Geneviève mencondongkan tubuhnya ke luar jendela kabin. Ia menoleh ke belakang. Para pembunuh bayaran itu sudah berada dalam jarak kurang dari dua puluh meter. Mereka mulai menarik busur panah mereka kembali.

​"Jalanan di depan kita sedikit menikung dan menyempit," teriak Geneviève memberikan instruksi. "Saat aku menghitung sampai tiga, tarik tali kekang sebelah kiri sekuat tenaga. Tarik menggunakan seluruh berat badanmu."

​"Kita akan terbalik, Nona!"

​"Lakukan saja, Odette! Satu!"

​Kereta kuda itu melaju kencang melibas genangan lumpur basah. Suara tapak kuda para pembunuh bayaran terdengar semakin mengerikan di belakang mereka.

​"Dua!" Geneviève berpegangan erat pada kusen jendela kabin, menyiapkan tubuhnya untuk benturan hebat.

​"Tiga!"

​Odette memejamkan mata rapat-rapat. Ia melempar tubuhnya ke belakang sambil menarik tali kekang sebelah kiri dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Kuda penarik kereta itu meringkik nyaring karena tarikan paksa tersebut. Kuda itu berbelok tajam ke kiri secara mendadak.

​Roda kayu kereta tergelincir di atas tanah lumpur yang licin. Momentum kecepatan yang tinggi membuat badan kereta tidak bisa langsung berbelok. Alih-alih berputar dengan rapi, kereta kayu itu justru terseret menyamping dengan suara decitan yang memekakkan telinga.

​Poros roda belakang patah dengan bunyi patahan yang mengerikan. Badan kereta terguling ke samping dan menghantam batang pohon ek raksasa di sebelah kanan jalan.

​Kereta kuda itu kini tergeletak melintang dalam posisi horizontal, memblokir seluruh akses jalan sempit tersebut bagaikan sebuah tembok kayu raksasa.

​Taktik barikade dadakan itu bekerja dengan sangat mematikan. Para pembunuh bayaran yang memacu kuda mereka dengan kecepatan penuh di belakang tidak memiliki cukup ruang dan waktu untuk mengerem.

​Kuda pertama menabrak badan kereta yang melintang. Penunggangnya terlempar melayang ke udara dan menghantam tebing batu dengan suara tulang patah yang sangat keras. Kuda kedua dan ketiga bertabrakan satu sama lain saat mencoba menghindari puing-puing kereta, menyebabkan para pembunuh bayaran itu jatuh bergulingan ke dalam kubangan lumpur.

​Di dalam kabin yang kini miring, Geneviève terbatuk keras akibat debu kayu yang beterbangan. Kepalanya terbentur dinding kabin, tetapi ia tidak pingsan. Insting bertahan hidupnya membuatnya langsung menendang pintu kabin bagian atas hingga terbuka.

​"Odette, kau masih hidup?" panggil Geneviève seraya merangkak keluar dari puing-puing kereta. Jubah abunya kini robek di beberapa bagian dan sepenuhnya tertutup lumpur kotor.

​"Hamba masih bernapas, Nona, tetapi punggung hamba rasanya seperti baru saja diinjak gajah," rintih Odette dari balik puing-puing kursi kemudi.

​Pelayan kecil itu merangkak keluar sambil memegangi pinggangnya. Tangan kanannya sudah menggenggam erat kunci inggris besinya. Matanya berkilat penuh amarah menatap para pembunuh bayaran yang mulai bangkit berdiri dari kubangan lumpur.

​Tiga dari empat pembunuh bayaran itu masih bisa berdiri. Mereka mencabut pedang mereka. Wajah mereka tertutup lumpur, namun niat membunuh di mata mereka menyala terang. Mereka sangat marah karena dipermainkan oleh dua wanita.

​"Aku akan menguliti kalian hidup-hidup dan merebus daging kalian," geram salah satu pembunuh bayaran. Pria itu melangkah maju pincang, mengayunkan pedangnya ke arah Odette.

​Geneviève merogoh sakunya, namun kantong bubuk mericanya sudah tertinggal di balai kota. Ia tidak memiliki senjata fisik selain pengetahuannya. Ia bersiap menarik Odette mundur ke arah hutan gelap untuk mencari perlindungan.

​Namun, sebelum pembunuh bayaran itu bisa melangkah lebih dekat, suara derap langkah kuda yang sangat berirama terdengar menggema dari arah berlawanan. Suara itu bukan suara kuda liar atau kuda pembunuh bayaran. Itu adalah suara barisan kuda perang yang berlari dalam formasi militer yang sangat disiplin.

​Dari balik kegelapan hutan di seberang barikade kereta yang hancur, muncul sekelompok ksatria berbaju zirah hitam. Obor yang mereka bawa menyinari lambang singa emas di dada mereka. Ksatria elit Vaudémont. Hutan ini adalah wilayah terluar dari teritori penjagaan mereka, dan suara keributan serta debuman keras telah menarik perhatian pasukan patroli malam.

​Pemimpin barisan itu tidak membuang waktu untuk bertanya. Melihat ada wanita yang diserang oleh pria bersenjata tanpa lambang resmi, naluri ksatrianya langsung mengambil alih.

​Pria itu melompat dari atas pelana kudanya saat kudanya masih berlari. Ia mendarat di atas tanah berlumpur tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Jubah hitamnya berkibar menembus malam bagaikan sayap burung gagak.

​Itu adalah Gaspard. Ksatria bayangan Lucien de Vaudémont.

​Wajah pria itu sedingin batu pahatan. Tidak ada sedikit pun ekspresi ketakutan atau keraguan di matanya. Ia mencabut pedang kembarnya dalam satu gerakan halus yang menyilaukan mata.

​Dua orang pembunuh bayaran langsung berbalik dan menerjang Gaspard secara bersamaan. Itu adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal.

​Gaspard menunduk untuk menghindari tebasan pedang pertama. Dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata telanjang, pedang kiri Gaspard memotong pergelangan tangan sang penyerang. Di saat yang bersamaan, pedang kanannya menusuk celah baju kulit penyerang kedua, melumpuhkannya tepat di titik saraf tanpa membunuhnya secara langsung. Keduanya ambruk ke lumpur dalam hitungan detik.

​Pembunuh bayaran ketiga, yang berdiri paling dekat dengan Odette, merasa panik melihat teman-temannya tumbang begitu mudah. Ia mengayunkan pedangnya secara membabi buta ke arah kepala Odette untuk mencari celah melarikan diri.

​Odette tidak mundur. Pelayan bermulut pedas itu justru menunduk tajam. Ia mengayunkan kunci inggris besinya dari arah bawah ke atas dengan seluruh sisa tenaga di lengannya.

​"Jangan berani menyentuh majikan hamba dengan tangan kotormu, dasar preman bau tanah!" teriak Odette.

​Kunci inggris itu menghantam rahang sang pembunuh bayaran dengan bunyi retakan yang mengerikan. Pria itu terpelanting ke belakang, menjatuhkan pedangnya, dan pingsan seketika dengan mulut berdarah.

​Odette berdiri terengah-engah. Ia mengusap keringat dan lumpur dari dahinya menggunakan lengan bajunya yang kotor.

​Gaspard yang baru saja selesai membersihkan sisa darah dari pedangnya, berdiri mematung menatap pelayan wanita itu. Ksatria yang biasanya tidak pernah peduli pada hal lain selain perintah tuannya itu kini terlihat mengalami sedikit kebingungan sistem di dalam otaknya. Ia menatap kunci inggris di tangan Odette, lalu menatap pria besar yang pingsan dengan rahang hancur di atas lumpur.

​Gaspard menyarungkan pedangnya dengan kaku. Ia melangkah mendekati Odette. Posturnya tetap tegak lurus bagai robot militer.

​"Pukulan yang sangat efisien, Nona," ucap Gaspard datar, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan emosi. "Kekuatan ayunan Anda sangat mengesankan untuk ukuran wanita sipil. Namun, sudut ayunan Anda sedikit meleset di bagian bahu. Jika Anda menaikkan siku Anda dua sentimeter lebih tinggi, pria itu tidak akan hanya pingsan, tetapi tulang lehernya akan patah sepenuhnya."

​Odette melongo menatap pria berbaju zirah hitam di depannya. Mulutnya terbuka setengah. Dari semua hal yang bisa diucapkan oleh seorang ksatria penyelamat, pria kaku ini justru memberikannya evaluasi teknis cara memukul orang yang benar.

​"Siapa yang meminta evaluasi kinerja di tengah pertarungan, dasar ksatria kaku?" balas Odette dengan nada jengkel, meskipun ia diam-diam membenahi posisi sikunya tanpa sadar. "Apakah Anda tidak melihat kereta kami hancur? Bukankah seharusnya Anda menanyakan apakah kami terluka?"

​Gaspard menatap Odette lekat-lekat. Ia memperhatikan celemek putih pelayan itu yang kini berwarna cokelat kotor, serta rambutnya yang dipenuhi serpihan kayu. Telinga Gaspard perlahan berubah sedikit merah, meski wajahnya tetap datar. Ia benar-benar canggung menghadapi wanita yang baru saja memarahi dan meniru dewi perang secara bersamaan ini.

​"Anda terlihat masih bisa berdiri dan berbicara dengan sangat lancar. Menurut prosedur standar militer, itu berarti Anda tidak mengalami cedera fatal yang mengancam nyawa," jawab Gaspard harfiah.

​Geneviève mengabaikan interaksi aneh antara pelayannya dan ksatria bayangan tersebut. Ia sibuk membersihkan sisa lumpur dari jubahnya dan memastikan buku kulit merah di balik pakaiannya masih berada di tempat yang aman. Hatinya merasa sangat lega. Setidaknya mereka selamat, dan ia tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk menyewa pengawal dalam perjalanan kembali ke ibu kota. Pasukan Vaudémont ini bisa dimanfaatkan sebagai pelindung gratis.

​Namun, kelegaan Geneviève langsung menguap ke udara malam ketika barisan ksatria elit yang tersisa mulai membuka jalan.

​Derap langkah seekor kuda perang yang jauh lebih besar dan lebih gagah terdengar mendekat. Kuda berwarna hitam legam itu berjalan dengan tenang melintasi puing-puing kereta yang hancur.

​Di atas pelana kuda tersebut, duduklah Lucien de Vaudémont.

​Pria itu tidak mengenakan kemeja kerah tinggi yang biasa ia pakai di istana. Ia mengenakan zirah kulit perak ringan dengan jubah tebal yang menutupi bahunya. Rambut hitamnya sedikit tertiup angin malam. Rahang tegasnya memancarkan dominasi absolut sebagai penguasa wilayah ini.

​Geneviève berdiri kaku di tempatnya. Logikanya kembali memproses situasi dengan tingkat kehati-hatian tertinggi. Pertemuannya dengan Lucien pagi tadi berakhir dengan pengusiran dan pembatalan pertunangan yang sangat kasar. Pria itu pingsan karena menahan amarah, atau setidaknya itulah yang Geneviève asumsikan. Bertemu kembali di tengah hutan belantara dalam kondisi baju gembel penuh lumpur sama sekali bukan bagian dari rencananya.

​Lucien menarik tali kekang kudanya hingga berhenti tepat di depan Geneviève. Pria itu melompat turun dengan gerakan yang sangat elegan.

​Suasana di jalanan sempit itu mendadak hening. Para ksatria Vaudémont sibuk mengikat para pembunuh bayaran yang pingsan, sementara Odette berdiri di depan Geneviève dengan sikap waspada, bersiap membela majikannya jika Duke kaku ini mulai melontarkan hinaan lagi.

​Lucien menatap Geneviève dari ujung kepala hingga ujung kaki.

​Ia tidak melihat wanita bangsawan berpakaian sutra merah mencolok yang biasanya mengejarnya sambil merengek. Di depannya berdiri seorang wanita tangguh dengan jubah wol abu-abu yang robek dan kotor oleh lumpur. Wajah wanita itu terdapat goresan kecil akibat debu kayu, dan rambut gelapnya berantakan tertiup angin hutan.

​Namun, mata cokelat terang Geneviève sama sekali tidak memancarkan ketakutan atau rasa malu. Wanita itu berdiri tegak, mendongak menatap Lucien dengan tatapan yang sangat tajam, menantang, dan dingin. Tangan Geneviève terlihat memeluk erat sebuah benda bersampul merah di balik jubahnya, melindunginya seolah benda itu jauh lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

​Dada Lucien berdesir hebat. Ruang kosong yang menyiksa di dalam hatinya sejak tadi siang tiba-tiba kembali beresonansi saat melihat wanita ini. Rasa benci yang diperintahkan oleh sihir di dalam otaknya perlahan memudar, tergantikan oleh rasa penasaran yang luar biasa kuat dan sebuah insting perlindungan yang tidak masuk akal.

​"Apa yang kau lakukan di wilayah hutanku pada jam selarut ini, Nona Montmirail?" tanya Lucien. Suaranya tidak lagi menggelegar penuh amarah seperti siang tadi. Baritonnya terdengar berat, serak, dan menyimpan emosi rumit yang bahkan ia sendiri tidak bisa memahaminya.

​Geneviève mengangkat dagunya. Ia tidak akan membiarkan pria ini merendahkannya, meskipun kondisinya saat ini terlihat seperti pengemis jalanan.

​"Saya sedang menyelesaikan urusan bisnis keluarga, Tuan Duke," jawab Geneviève dingin. "Dan tampaknya, Hutan Vaudémont tidak seaman reputasi penjagaannya. Saya harap Anda tidak keberatan untuk meminjamkan satu kuda Anda agar saya dan pelayan saya bisa kembali ke ibu kota dengan cepat. Saya memiliki sebuah dokumen yang sangat penting untuk menghancurkan beberapa orang besok pagi."

​Lucien terdiam menatap kilat tekad di mata wanita itu. Pria yang selama ini menganggap Geneviève sebagai penjahat gila pencari perhatian itu kini menyadari satu fakta absolut. Wanita yang berdiri berlumuran lumpur di depannya ini menyimpan rahasia besar yang tidak pernah ia ketahui. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Lucien sangat ingin mencari tahu rahasia tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!