Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.
Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.
Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.
Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Amanat Baru dan Langkah Awal Pengawal Muda
Prosesi pemakaman almarhum Pak Jhon berlangsung dengan khidmat dan penuh haru. Setelah seluruh rangkaian acara penghormatan terakhir selesai dilangsungkan di pemakaman, rombongan keluarga besar Sanjaya pun bergerak pulang.
Sesampainya kami semua di kediaman megah keluarga Sanjaya, suasana duka yang tenang masih tersisa di sudut-sudut ruangan. Baru saja aku menginjakkan kaki di area ruang tamu utama, seorang pelayan senior melangkah mendekatiku dengan sopan, menyampaikan pesan bahwa Pak Frans memanggilku secara khusus untuk segera menghadap beliau di ruang kerja pribadinya yang terletak di lantai dua.
Aku mengangguk patuh, merapikan kemeja hitamku sejenak, lalu mengayunkan langkah menaiki tangga melingkar menuju ruang kerja tersebut.
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
"Masuk, Arkan," sahut suara berat penuh wibawa dari dalam ruangan.
Aku memutar handle pintu kayu jati berukir tersebut dan melangkah masuk. Namun, begitu melintasi ambang pintu, aku agak terkejut karena ternyata aku tidak sendirian di dalam sana. Di hadapan meja kerja kayu yang megah, tampak Clara Adelin sudah duduk anggun di sebuah kursi kulit berwarna cokelat tua. Wajah cantiknya masih menyisa kesan lesu, namun matanya menatap tajam saat melihat keberadaanku.
Pak Frans menyunggingkan senyum tipis, mengisyaratkan aku untuk duduk di kursi kosong tepat di samping Clara.
"Duduklah, Arkan," tutur Pak Frans lembut.
"Baik, Pak Frans. Terima kasih," balasku seraya menarik kursi dan duduk dengan posisi tegap dan sopan.
Pak Frans menautkan kedua jemarinya di atas meja kerja, menatap aku dan Clara secara bergantian dengan pandangan mata yang sangat serius dan mendalam.
" Arkan... seperti yang sudah Bapak katakan di rumah duka tadi, ada sebuah tanggung jawab besar yang ingin Bapak percayakan sepenuhnya hanya kepada kamu," buka
Pak Frans dengan nada suara yang mantap. "Sejak kepergian almarhum Pak Jhon, keselamatan Clara menjadi prioritas utama yang harus segera Bapak pastikan. Oleh karena itu... Bapak mau menawarkan kamu pekerjaan untuk menjadi supir pribadi sekaligus pengawal khusus yang akan mendampingi dan menjaga Clara Adelin ke mana pun dia pergi."
Deg!
Meskipun Egi sudah memprediksi hal ini sebelumnya, mendengar kalimat itu terlontar langsung dari mulut sosok pengusaha besar seperti Pak Frans tetap saja membuat dadaku berdesir kencang! Prediksi Egi terbukti seratus persen tepat tanpa meleset sedikit pun! Aku resmi diminta menjadi supir dan pengawal pribadi untuk si nona muda cantik tapi berotak pendek yang berdiri di sampingku ini.
Untuk sejenak, timbul bisikan di dalam hatiku untuk menolak tawaran tersebut. Mengingat bagaimana hubungan kami di sekolah yang sering diwarnai adu mulut dan saling caci maki, bayangan harus mengawalnya setiap hari tentu terdengar seperti sebuah potensi sakit kepala berkepanjangan.
Namun, ketika aku memikirkannya lebih jauh dan menggunakan logika realistis, tawaran ini adalah sebuah kesempatan emas.
Menjadi supir sekaligus pengawal bukanlah pekerjaan yang terlalu berat jika dibandingkan dengan ketangkasan yang kumiliki. Lagipula, aku tersadar akan realita hidupku—aku hanyalah seorang pemuda miskin dari keluarga sederhana yang sangat membutuhkan pekerjaan tetap untuk membiayai kebutuhan hidup sehari-hari serta menabung demi masa depan.
Aku melirik ke arah Clara. Hal yang sangat mengejutkan adalah Clara tidak mengeluarkan protes atau penolakan sama sekali atas keputusan ayahnya! Gadis itu hanya diam membisu seraya mengulum senyum misterius di bibirnya. Dari pendar matanya yang licik, aku bisa merasakan ada sesuatu yang sedang ia rencanakan—sebuah niat jahat untuk menyiksa dan mempermainkanku saat aku sudah resmi bertugas sebagai supir pribadinya nanti.
"Bagaimana, Arkan? Apakah kamu bersedia menerima tanggung jawab ini?" tanya Pak Frans memecah keheningan.
Aku menarik napas panjang, menatap lurus mata Pak Frans dengan keteguhan hati. "Baik, Pak Frans. Suatu kehormatan besar bagi saya dipercaya oleh Bapak. Saya menerima pekerjaan ini dengan penuh rasa tanggung jawab."
Pak Frans tersenyum sangat puas, menepuk meja pelan. "Luas biasa! Terima kasih banyak, Arkan. Soal teknis dan kesepakatan, kita setujui bahwa kamu akan resmi mulai bekerja tepat setelah seluruh prosesi kelulusan sekolahmu tuntas secara resmi."
"Baik, Pak Frans. Terima kasih banyak atas kepercayaan ini," balasku penuh hormat.
Hari-hari yang ditunggu pun akhirnya tiba. Hari pengumuman dan perayaan kelulusan resmi siswa SMA Tiara Nusa dilangsungkan dengan amat meriah di aula utama sekolah.
Suasana haru dan gembira membuncah di seluruh penjuru aula saat pengumuman nilai terbaik dibacakan oleh Kepala Sekolah di atas panggung utama. Dan namaku—Arkan—resmi diumumkan keluar sebagai peraih Peringkat Pertama dengan nilai kelulusan tertinggi di seluruh angkatan!
Di barisan kursi undangan orang tua, Egi hadir berdiri menggantikan posisi orang tuaku. Mengenakan kemeja rapi dan jas yang gagah, Egi menatap ke arah panggung dengan raut wajah yang memancarkan rasa bangga dan haru yang tak terkira atas pencapaian sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri.
Setelah acara ceremonial dan sesi foto selesai, aku dan Egi melangkah berjalan menuju area parkir luar sekolah.
Egi merangkul pundakku dengan erat seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Arkan... dengan nilai semulus dan sesempurna ini, kamu itu sayang banget kalau cuma jadi supir pribadi, tahu enggak?!" seru Egi seraya mencoba merayu dan membujukku. "Ayolah... kamu kuliah saja ya? Biar semua biaya pendaftaran dan uang semesternya aku yang tanggung penuh! Sayang banget bakat dan kepintaran kamu kalau tidak dipakai di bangku universitas!"
Aku menoleh ke arah Egi, mengulas senyuman hangat penuh rasa terima kasih atas kebaikan hatinya, namun sengaja tidak terlalu merespon atau memberikan janji atas bujukannya tersebut. Aku tahu arah jalanku saat ini, dan aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri terlebih dahulu.
"Sudah, Gi... Jangan bahas itu dulu," kekehku pelan seraya menepuk lengannya. "Sekarang fokus kita adalah tugas baru."
Pulang dari acara kelulusan sekolah, Egi tidak langsung membawaku pulang ke rumah, melainkan mengemudikan mobilnya menuju sebuah butik pakaian pria ternama di pusat kota.
"Kita mau ngapain ke sini, Gi?" tanyaku heran saat kami melangkah masuk ke dalam butik yang mewah tersebut.
"Ya beli seragam kerjamu lah!" balas Egi cepat seraya menarik beberapa stel pakaian formal dari rak pameran.
"Kamu kan sekarang sudah resmi jadi pengawal pribadi dan supir khusus Nona Clara Adelin. Penampilan kamu harus gagah, elegan, dan terlihat berkelas. Enggak boleh kelihatan lusuh di depan keluarga Sanjaya!"
Di dalam butik tersebut, Egi memilihkan beberapa stel jas hitam eksklusif, kemeja putih pas badan, dasi, serta sepatu kulit mengilap untukku. Setelah mencoba stel jas utama yang pas melekat di tubuhku yang tegap, aku menatap bayangan diriku sendiri di balik cermin besar.
Sosok Ketua OSIS yang biasa berseragam putih-abu kini telah sepenuhnya berganti menjadi seorang pengawal pribadi yang gagah, dingin, dan siap menghadapi segala liku-liku tugas serta ulah jahil dari sang nona muda, Clara Adelin.