Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Hari yang panjang
*****
Pintu ruang meeting besar di lantai tiga puluh delapan terbuka, dan seketika seluruh orang yang sudah duduk menunggu di dalamnya berdiri serentak, menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat begitu Alex melangkah masuk, diikuti Sebastian yang membawa map tebal berisi bahan presentasi hari itu.
"Silakan duduk," kata Alex singkat, melangkah menuju kursi di ujung meja panjang, Sebastian mengambil tempat tepat di sampingnya.
Semua orang kembali duduk, suasana ruangan tetap tegang seperti biasa setiap kali rapat dipimpin langsung oleh Alex. Sebastian membuka mapnya, memeriksa daftar kehadiran sebelum memulai.
"Sebelum kita mulai, ada yang tidak hadir hari ini?" tanya Sebastian, matanya menyapu ruangan.
Della mengangkat tangan sedikit. "Lauren dari divisi administrasi izin hari ini, Pak. Kakinya cedera kemarin sore, ada insiden di ruang arsip lantai bawah tanah."
"Aku dengar dia kena rak yang roboh," sahut salah satu staf lain dari sisi meja, suaranya pelan tapi masih terdengar jelas di ruangan yang hening itu.
"Aku sempat lihat dia dibawa lewat lobi pakai kursi roda kemarin sore," tambah staf lain lagi, sedikit berbisik kepada rekan di sebelahnya, meski suasana rapat yang senyap membuat bisikan itu tetap terdengar oleh hampir semua orang di ruangan.
"Katanya dibawa ke ruang P3K juga," sambung satu suara lain, menambahkan detail yang membuat obrolan kecil itu semakin menyebar di antara peserta rapat.
Alex duduk diam mendengar semua itu, wajahnya tidak menunjukkan perubahan sedikit pun, meski di dalam dadanya sesuatu terasa semakin berat mendengar detail yang belum sepenuhnya ia ketahui sebelumnya, terutama soal Lauren yang dibawa lewat lobi di depan begitu banyak orang. Ia menahan diri sekuat tenaga, jarinya hanya mengetuk pelan permukaan meja, satu-satunya tanda kecil dari ketegangan yang ia simpan rapat-rapat di balik topeng ketenangannya.
"Cukup," kata Alex akhirnya, suaranya tetap datar namun cukup tegas untuk menghentikan obrolan kecil yang mulai menyebar itu. "Kita mulai rapatnya. Waktu kita terbatas."
Ruangan seketika hening kembali, semua orang kembali fokus, menyadari nada suara Alex yang meski tenang, tidak menyisakan ruang untuk berlama-lama dengan obrolan yang tidak perlu.
"Sebastian, siapa yang presentasi pertama hari ini?" tanya Alex, membuka map di depannya sendiri.
"Tim pemasaran, Pak," jawab Sebastian, memeriksa jadwalnya. "Mereka akan memaparkan hasil kampanye kuartal ini sebelum lanjut ke proposal strategi kuartal berikutnya."
Alex mengangguk sekali. "Silakan dimulai."
Kepala divisi pemasaran berdiri dari kursinya, membawa laptop kecil menuju layar proyektor di ujung ruangan, mulai menyiapkan materi presentasinya dengan tangan yang sedikit gemetar, menyadari betul betapa pentingnya kesan pertama di hadapan atasan yang terkenal tidak segan memberi kritik tajam atas kesalahan sekecil apa pun.
Selama presentasi berlangsung, Alex mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat sesuatu di buku kecil di depannya, wajahnya tetap terjaga profesional sepanjang rapat.
Rapat pagi itu berakhir tepat pukul sepuluh, satu per satu peserta rapat berdiri dan berpamitan, meninggalkan ruangan dengan tergesa menuju tugas masing-masing. Alex tetap duduk di kursinya, menunggu hingga ruangan benar-benar kosong sebelum akhirnya memberi isyarat kepada Sebastian untuk memanggil Damian.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Damian sudah berdiri di depan meja rapat, ekspresinya lebih serius dari biasanya, membawa sebuah tablet kecil di tangannya.
"Kau bilang minggu lalu, tim sedang menyelidiki siapa dalang di balik penyergapan yang hampir dua tahun yang lalu," kata Alex, suaranya rendah, nada yang biasa ia gunakan hanya untuk urusan yang paling serius. "Ada perkembangan?"
Damian mengangguk, membuka tabletnya, menyerahkannya kepada Alex. "Kami akhirnya dapat konfirmasi, Pak. Bukan Volkov yang bergerak sendiri seperti dugaan awal. Ada pihak ketiga yang membiayai operasi itu."
Rahang Alex mengeras, matanya menyusuri layar tablet itu, menampilkan foto seorang pria berjas rapi, wajahnya familiar meski tidak bisa langsung Alex tempatkan di mana ia pernah melihatnya.
"Siapa dia?" tanya Alex, suaranya semakin dingin.
"Namanya Gregor Aldric," jawab Damian. "Salah satu investor senior di beberapa perusahaan yang bersaing langsung dengan divisi properti Nozer Holdings. Dia kehilangan tender besar ke perusahaan kita tahun lalu, kerugian yang menurut sumber kami cukup untuk membuatnya nekat mengambil langkah ekstrem."
Alex menatap foto itu lebih lama, mengingat kembali detail malam penyergapan itu, rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, dan sosok gadis asing yang menolongnya tanpa tahu siapa dirinya. Semua itu ternyata berakar dari kekalahan bisnis biasa, bukan dari dendam pribadi yang lebih kompleks seperti yang selama ini ia duga.
"Kau yakin ini akurat?" tanya Alex, ingin memastikan sebelum bertindak lebih jauh.
"Kami sudah verifikasi lewat tiga sumber berbeda, Pak. Termasuk salah satu orang dalam yang terlibat langsung malam itu, yang sekarang bersedia bicara setelah kami tangkap minggu lalu di gudang."
Alex menyandarkan punggungnya ke kursi, jarinya mengetuk pelan permukaan meja, pikirannya berputar cepat menyusun langkah selanjutnya. "Di mana Gregor sekarang?"
"Masih di London, Pak. Kantornya ada di distrik keuangan, tidak jauh dari sini. Dia tidak tahu kita sudah mengendus jejaknya."
"Bagus," kata Alex, suaranya turun satu oktaf, dingin dan penuh perhitungan. "Jangan bergerak dulu. Aku ingin tahu semua koneksinya, siapa saja yang membantunya, sebelum kita ambil tindakan. Aku tidak mau ada kejutan lain setelah ini selesai."
"Baik, Pak. Saya akan siapkan laporan lengkap dalam beberapa hari."
"Dan satu lagi," lanjut Alex, matanya menajam, "pastikan pengamanan di sekitar gedung ini dan kediamanku ditingkatkan. Kalau Gregor sudah berani menyerang sekali, aku tidak mau menganggap remeh kemungkinan dia mencoba lagi, terutama sekarang dia tahu operasinya mulai terendus."
Damian mengangguk serius, mencatat instruksi itu dalam ingatannya. "Saya juga akan tingkatkan pengawasan untuk orang-orang di sekitar Anda, Pak. Termasuk staf dan siapa pun yang dekat dengan Anda belakangan ini."
Kalimat terakhir itu membuat sesuatu di dalam diri Alex menegang, pikirannya langsung melompat ke satu nama yang selama ini selalu berhasil menembus dinding pertahanannya. Kalau Gregor benar-benar nekat sejauh itu delapan bulan lalu, tidak ada jaminan ia tidak akan menggunakan cara yang sama, mengincar orang-orang terdekat Alex sebagai senjata untuk menekannya.
"Lauren," gumam Alex, hampir tanpa sadar, suaranya nyaris tidak terdengar.
Damian menatapnya sejenak, memahami arah pikiran atasannya tanpa perlu penjelasan lebih jauh. "Saya akan pastikan dia juga mendapat pengawasan ekstra, Pak, tanpa membuatnya sadar."
Alex mengangguk, rahangnya masih mengeras, menyadari bahwa dunia gelap yang selama ini ia jaga jauh dari kehidupan Lauren, kini berisiko menyeretnya masuk lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan, sesuatu yang tidak akan pernah ia biarkan terjadi, apa pun harganya.
******
Beberapa jam kemudian, Matahari mulai turun, langit biru berubah menjadi oren.
Lauren berbaring di sofa ruang tamu, kakinya yang dibalut perban disandarkan di atas beberapa bantal, sebuah mangkuk kecil berisi kompres es sudah mulai mencair di sampingnya.
Televisi menyala pelan, menayangkan acara memasak yang sebenarnya tidak terlalu ia perhatikan, lebih berfungsi sebagai suara latar untuk mengusir kesunyian apartemen yang terasa lebih sepi dari biasanya tanpa Ivy di rumah.
Ia meraih ponselnya, menggulir media sosial sebentar, mencoba mengalihkan pikiran dari rasa bosan yang mulai menjalar. Sudah hampir tiga jam ia terjebak di sofa yang sama, hanya berpindah sesekali ke kamar mandi dengan bantuan kruk yang masih terasa canggung digunakan.
Ponselnya berdering, menampilkan nama Della di layar. Lauren buru-buru menjawabnya, senang mendapat gangguan dari kebosanan yang mulai membuatnya gelisah.
"Halo, Della?"
"Hei, bagaimana kakimu? Masih sakit?" tanya Della, suaranya terdengar khawatir dari seberang telepon.
"Lumayan, tapi sudah agak mendingan dibanding tadi pagi," jawab Lauren, mencoba terdengar seceria mungkin. "Terima kasih sudah sampaikan izinku kemarin."
"Tentu saja. Semua orang di sini nanya kabarmu, lho. Bahkan orang-orang yang tidak pernah kau ajak bicara langsung ikut penasaran," Della tertawa kecil. "Rapat pagi tadi juga sempat ramai membahas soal insidenmu, sampai Pak Alex harus menghentikan obrolannya biar rapat bisa lanjut."
Lauren mengerutkan kening mendengar itu, sedikit tidak nyaman membayangkan namanya jadi bahan pembicaraan di rapat besar seperti itu. "Semoga tidak terlalu heboh."
"Tidak terlalu, tenang saja," kata Della, mencoba menenangkan. "Cuma rasa penasaran wajar dari orang-orang, kau kan karyawan yang cukup dikenal sekarang."
Mereka mengobrol sebentar lagi, membahas pekerjaan yang tertunda, beberapa berkas yang perlu Lauren selesaikan begitu ia kembali masuk kerja nanti, sebelum akhirnya Della harus menutup telepon karena harus kembali bekerja.
Lauren meletakkan ponselnya, menghela napas panjang, kembali menatap layar televisi tanpa benar-benar menontonnya. Rasa bosan mulai terasa lebih berat dari rasa sakit di kakinya sendiri, tidak terbiasa dengan hari-hari kosong tanpa rutinitas yang biasa mengisi waktunya.
Ia mencoba bangkit dari sofa, meraih kruknya, memutuskan untuk sekadar berpindah ke dapur mengambil segelas air, sekadar mencari alasan untuk bergerak sedikit dari posisi yang sama sejak pagi. Langkahnya masih canggung, kruk itu berdecit pelan di lantai kayu setiap kali ia melangkah, tapi setidaknya rasa sakitnya sudah jauh berkurang dibanding pagi tadi.
Sesampainya di dapur, ia menuangkan air ke gelas, menyandarkan diri sejenak ke meja counter, menatap keluar jendela kecil yang menghadap gang sempit di belakang apartemen mereka. Hari itu terasa begitu lambat, jauh berbeda dari ritme kerja yang biasa mengisi harinya sejak beberapa bulan terakhir.
"Semoga besok sudah bisa jalan lebih normal," pikirnya, meneguk airnya perlahan. "Aku tidak terbiasa diam saja seharian seperti ini."
Ia kembali ke ruang tamu, duduk kembali di sofa, mengangkat kakinya ke atas bantal seperti sebelumnya, memutuskan untuk mencoba tidur siang sebentar, berharap waktu akan berjalan lebih cepat begitu ia terbangun nanti.