Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Keira tidak langsung bergerak setelah mendengar kalung Bryan.
Ia berdiri di dekat gerbang kampus, ponsel di tangan, wajah tetap datar. Di depannya, Brandon masih tertawa bersama Bryan, tidak tahu bahwa kalung di leher sahabatnya baru saja menjatuhkan satu kalimat yang membuat darah Keira mendingin.
Membunuh sahabatnya sendiri.
Kalimat itu terlalu besar untuk diterima mentah-mentah.
Keira butuh lebih banyak.
Bryan menepuk bahu Brandon. "Gue cabut dulu. Ada urusan sebentar. Nanti malam jadi kan?"
"Jadi. Warnet lama?"
"Iya. Nostalgia."
Kalung Bryan langsung berbisik, "Nostalgia katanya. Padahal gang sebelah sudah disiapkan."
Keira menurunkan pandangan ke ponsel, pura-pura membaca pesan, lalu mengikuti mereka dari jarak aman ketika Brandon dan Bryan berjalan menjauh dari gerbang menuju jalan samping kampus.
Seline sudah lebih dulu masuk mobil pesanan online. Ia melambai lembut pada Brandon, wajahnya kembali rapuh manis. Brandon membalas dengan senyum, lalu berjalan bersama Bryan sambil membicarakan jadwal latihan Nova Esports.
Kalung itu terus berbicara.
"Kasihan Brandon. Dia pikir majikanku masih sahabat yang dulu bagi mi instan di warnet. Padahal majikanku sudah transfer uang."
Keira memperlambat langkah.
"Si Panjang sudah menunggu di gang dekat warnet. Mantan preman pasar, buronan polisi, tangannya panjang, pisaunya lebih panjang. Tugasnya bukan bunuh langsung. Cuma patahin tangan Brandon."
Napas Keira tertahan.
Patahkan tangan.
Bagi orang biasa, itu sudah kejahatan mengerikan.
Bagi Brandon, atlet esports dengan julukan Wild God, itu sama saja membunuh masa depannya.
Tangan Brandon pernah bergerak di keyboard seperti sesuatu yang tidak perlu dipikirkan lagi. Keira pernah melihat video highlight-nya di forum kampus, sekadar ingin memahami kenapa orang-orang memanggilnya dewa liar. Di layar, jari Brandon tidak tampak seperti milik anak impulsif yang sering salah percaya orang. Jari itu presisi, cepat, hidup.
Jika tangan itu patah, bukan hanya turnamen yang hilang.
Seluruh identitas yang ia bangun sendiri juga bisa runtuh.
Kalung melanjutkan dengan nada pahit. "Majikanku iri. Sepuluh tahun jadi bayangan. Brandon selalu pemain utama. Majikanku cadangan. Pelatih bilang refleksnya kurang sepersekian detik. Sepersekian detik itu cukup buat menanam dendam bertahun-tahun."
Di depan, Bryan tertawa keras.
"Bran, lu inget nggak dulu gue yang nyelametin lu pas kemah SMP?"
"Inget lah. Kalau nggak ada lu, gue udah kesasar di hutan."
"Makanya jangan lupa jasa gue."
"Gue traktir makan malam, puas?"
Bryan tertawa lagi.
Keira merasa perutnya mengeras.
Kalung berkata, "Jasa lama dipakai buat menutup niat baru. Hebat ya manusia."
Bryan berhenti di pertigaan. "Gue ambil motor dulu. Lu tunggu bentar?"
"Oke."
Bryan berjalan menuju parkiran samping.
Keira tidak menunggu lagi.
Ia mendekati Brandon dengan langkah cepat.
"Ko Brandon."
Brandon menoleh. Senyum di wajahnya langsung turun. "Ngapain lu ngikutin gue?"
"Jauhi Bryan."
Alis Brandon naik. "Apa?"
"Dia bukan orang baik. Dia mau nyakitin lo."
Ekspresi Brandon berubah dari bingung menjadi marah dalam satu detik. "Lo ngomong apa sih?"
Keira menatapnya. "Bryan menyewa orang bernama Si Panjang. Orang itu menunggu di gang dekat warnet. Targetnya tanganmu."
Brandon tertawa, tetapi tidak ada humor di dalamnya. "Gila. Sekarang lu fitnah temen gue?"
"Aku tidak fitnah."
"Bryan itu sahabat gue sepuluh tahun." Suara Brandon meninggi. "Lo baru kenal gue berapa lama? Bahkan hubungan kita juga nggak bagus. Terus sekarang lo mau gue percaya Bryan mau nyakitin gue?"
Keira menahan napas. "Aku tahu ini sulit dipercaya."
"Sulit? Ini tolol."
Beberapa mahasiswa di sekitar halte menoleh.
Brandon tidak peduli.
"Bryan pernah nyelametin gue waktu kemah SMP. Gue hampir jatuh ke jurang kecil, dia yang narik gue. Waktu gue pertama masuk Nova dan semua orang bilang gue cuma anak kaya yang beli slot, dia yang nemenin latihan sampai pagi."
Keira diam.
"Dia yang tahu gue sebelum semua orang manggil gue Wild God. Dan lu sekarang bilang dia mau patahin tangan gue?"
"Iya."
"Atas dasar apa? Insting aneh lu?"
Kalimat itu mengenai tempat yang sudah sering dipukul orang.
Keira tetap berdiri.
"Atas dasar informasi yang tidak bisa kujelaskan sekarang."
Brandon mencibir. "Tukang fitnah selalu bilang begitu."
Di mata Brandon, Keira masih orang luar yang tiba-tiba masuk ke rumahnya, merebut perhatian keluarganya, lalu sekarang mencoba merusak salah satu hubungan paling lama dalam hidupnya. Keira bisa melihat semua prasangka itu bergerak di wajahnya.
Yang paling membuatnya frustasi, ia mengerti kenapa Brandon marah.
Jika seseorang datang dan berkata Ko Kevin akan mengkhianatinya, Keira pun mungkin tidak langsung percaya.
Tetapi bahaya tidak menunggu seseorang siap percaya.
Untuk sesaat, Keira benar-benar ingin menyeretnya ke kantor polisi, mengikatnya di kursi, lalu membiarkan semua kalung, sepatu, dan motor di sekitar mereka bersaksi sampai anak itu berhenti keras kepala.
Tetapi ia tidak punya waktu.
Bryan bisa kembali kapan saja.
Si Panjang sudah menunggu.
"Terserah lo," kata Keira akhirnya. "Gue udah kasih tahu."
Ia mundur satu langkah, lalu mengeluarkan ponsel.
Brandon menatapnya dengan mata penuh luka dan amarah. "Jangan ganggu hidup gue lagi."
Keira tidak menjawab.
Ia membuka WhatsApp Ko Kevin dan mengetik cepat.
`Ko, darurat. Brandon kemungkinan diserang malam ini. Pelaku rencana: Bryan Sutanto, teman Nova. Eksekutor: Si Panjang, buronan/mantan preman pasar. Lokasi gang dekat warnet lama Brandon. Target tangan Brandon.`
Pesan terkirim.
Hampir bersamaan, pesan dari Edric masuk.
`Naira. Kamu terlambat malam ini?`
Keira menatap layar dua detik.
Di satu sisi, Grand Orchid menunggu dengan satu-satunya sunyi yang bisa menyelamatkan kepalanya.
Di sisi lain, adik bungsu Tanuwijaya yang masih membencinya sedang berjalan menuju jebakan.
Keira menekan layar ponsel lebih kuat dari perlu.
Malam-malam tanpa suara membuatnya ingin egois, hanya sekali saja. Tetapi Ratih benar. Semua hubungan di dunia ini bukan pinjaman orang lain. Kalau Brandon adalah keluarga Tanuwijaya, maka kekhawatiran ini juga miliknya, meskipun anak itu belum mau menerimanya.
Keira membalas Edric lebih dulu.
`Ada urusan keluarga. Saya mungkin terlambat. Jangan tunggu di pintu.`
Balasan Edric datang singkat.
`Aku tetap tunggu.`
Keira tidak sempat memikirkan kenapa kalimat itu membuat dadanya sakit hangat.
Ia menatap status pesan untuk Ko Kevin yang sudah centang dua, lalu ke arah Brandon yang masih berdiri marah di bawah lampu jalan kampus yang mulai berkedip pelan sekali.
Ponselnya berdering.
Ko Kevin.
Keira langsung mengangkat.
Suara Kevin terdengar lebih tajam daripada biasanya. "Kei, lo serius soal buronan ini?"
"Serius."
"Gue cek dulu. Tapi kalau benar..." Di seberang, terdengar suara kursi didorong dan langkah cepat. "Gue butuh waktu dua jam buat kerahkan unit."
semangat thor💪