NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Panggilan yang Berdering dalam Hening

Lampu gantung kristal di ruang rapat utama Pratama Tower memantulkan cahaya putih terang yang terasa menusuk mata. Suhu ruangan diatur sedingin delapan belas derajat Celsius, sengaja dibuat rendah agar para eksekutif dan direktur yang hadir tetap fokus dalam diskusi panjang yang telah memakan waktu lebih dari tiga jam.

Di ujung meja panjang berlapis kayu mahoni gelap itu, Arka Pratama duduk dengan postur tegak. Jas hitamnya tergantung rapi di sandaran kursi, sementara kemeja putihnya digulung hingga siku, menampilkan lengan yang kokoh. Wajahnya tampak tegang, mencerminkan beban pikiran yang luar biasa besar. Di hadapannya, setumpuk dokumen kontrak kerja sama bernilai miliaran rupiah dengan investor asing terbentang lebar. Perjanjian itu adalah pertaruhan besar bagi masa depan perusahaan, sebuah proyek ambisius yang telah ia rintis selama berbulan-bulan demi memperkokoh dominasi keluarga Pratama di kancah bisnis nasional.

Di sebelah kanannya, Sinta duduk menyilang kaki dengan anggun. Wanita itu sesekali membisikkan catatan atau memberikan gestur setuju setiap kali perwakilan investor melontarkan argumen. Kehadiran Sinta di ruang rapat tertutup itu memang didasarkan kapasitasnya sebagai mitra strategis, namun bagi Arka, suara dan keberadaan Sinta hari ini terasa begitu bising di tengah kepenatan yang mendera kepalanya.

Pikiran Arka sebenarnya tidak seratus persen berada di dalam ruangan itu.

Sejak siang tadi, bayangan wajah Kirana terus berkelebat di benaknya. Kejadian semalam di meja makan—ketika Kirana mengucapkan kata-kata penutup yang begitu dingin di dekat lilin aromaterapi—masih menyisakan rasa ganjil yang menusuk relung hatinya. Ia tahu, di usianya yang kini memasuki bulan ketiga kehamilan, emosi istrinya sering kali menjadi sangat rapuh. Namun, ego seorang Arka Pratama terlampau tinggi untuk mengakui bahwa ia telah mengabaikan perempuan yang seharusnya paling ia lindungi. Ia terbiasa menyelesaikan segala sesuatu dengan logika, dingin, dan perhitungan mutlak, termasuk dalam menghadapi ketegangan rumah tangganya sendiri.

Ia hanya butuh waktu untuk mereda, batin Arka meyakinkan dirinya sendiri di tengah presentasi angka-angka statistik yang dibacakan oleh manajer keuangan. Nanti malam, setelah semua ini selesai, aku akan pulang dan bicara baik-baik.

Tiba-tiba, di tengah keheningan ruang rapat yang hanya diisi oleh suara paparan proyektor, sebuah getaran pelan tercipta di atas permukaan meja kayu.

Bzzzt... bzzzt...

Sebuah ponsel pintar berjenis flagship tergeletak di dekat tumpukan dokumen Arka. Layar benda pipih itu menyala terang, memecah fokus seisi ruangan untuk sepersekian detik. Di tengah layar yang berpendar, tertera sebuah nama pemanggil yang membuat rahang Arka mengeras seketika:

Istri

Arka menatap layar itu lekat-lekat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Di dalam benaknya yang dipenuhi tekanan pekerjaan, ia langsung menarik kesimpulan keliru. Panggilan itu pasti kelanjutan dari drama pagi tadi—keluh kesah, rengekan kecil, atau protes mengapa ia tidak kunjung pulang. Pikirannya yang sedang kalut oleh kontrak miliaran rupiah membuat toleransinya terhadap apa yang ia anggap sebagai "gangguan rumah tangga" berada di titik terendah.

Tanpa ragu, dengan gerakan tangan yang dingin dan penuh ketidak sabaran, Arka meraih ponselnya.

Bukannya mengangkat atau menggeser tombol hijau, ia justru membalikkan layar ponsel itu menghadap ke bawah meja, membungkam getaran dan deringnya dalam keheningan total. Ia menolak menjawab. Ia berasumsi Kirana hanya akan merengek dan menambah beban kepalanya di saat-saat paling krusial seperti ini.

Sinta, yang duduk di sampingnya, sempat melirik sekilas gerakan tangan Arka. Sebuah senyuman tipis dan penuh kemenangan tersungging di sudut bibir wanita itu, seolah mengonfirmasi bahwa urusan domestik Arka tidak lebih penting daripada meja perundingan tempat mereka duduk saat ini.

"Mari kita lanjutkan ke pasal ketujuh mengenai klausul pembagian resiko," ucap Arka dengan suara berat dan datar, mengalihkan kembali perhatian para direktur ke lembar dokumen di hadapan mereka, seolah panggilan di ponselnya tadi tidak pernah terjadi.

Namun, Arka tidak pernah tahu—dan tidak akan pernah menyangka—bahwa panggilan yang ia abaikan dengan begitu dingin di atas meja rapat itu adalah detik-detik terakhir ketika suara Kirana masih bisa ia dengar. Ia tidak tahu bahwa pada saat ia memilih untuk membalikkan layar ponselnya, istrinya baru saja melangkah keluar dari lobi Pratama Tower, menerobos badai hujan dengan hati yang telah terkikis habis, membawa serta rantang makanan yang tidak tersentuh dan sebuah amplop putih berisi keputusan final yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

Waktu di dalam ruang rapat terus berjalan merayap. Jam dinding marmer menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit. Diskusi bisnis yang melelahkan itu akhirnya mencapai kata sepakat, ditandai dengan jabat tangan formal dan senyuman puas dari para perwakilan investor asing.

"Kerja bagus, Arka. Keputusanmu hari ini sangat visioner," puji salah seorang direktur senior sambil menepuk pundak Arka sebelum beranjak meninggalkan ruangan.

Satu per satu peserta rapat membereskan berkas mereka dan keluar, menyisakan Arka seorang diri di kursi kepala meja. Ruangan itu kini terasa sangat lengang, jauh lebih lengang daripada saat perdebatan sengit terjadi beberapa menit yang lalu.

Arka menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Ia mengambil ponselnya yang tadi ia telungkupkan, membalikkannya kembali menghadap ke atas.

Layar ponsel itu gelap. Tidak ada panggilan tak terjawab yang lain, tidak ada pesan teks susulan. Yang ada hanya notifikasi sunyi dari sistem.

Tiba-tiba, pintu ruang rapat diketuk dua kali dengan sopan. Sekretaris utamanya melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang tampak pucat dan tidak biasa, napas wanita itu sedikit tersengal seolah habis berlari dari lantai bawah.

"Tuan Arka... maaf mengganggu waktu Anda," ucap sang sekretaris dengan suara bergetar ragu.

Arka mendongak, menatap tajam bawahannya. "Ada apa? Apakah ada masalah dengan berkas investor?"

"B-bukan, Tuan..." sang sekretaris menelan ludah, mencengkeram erat buku catatan di dadanya. "Tadi siang... sebelum rapat tertutup dimulai... Nyonya Kirana datang ke lobi kantor. Beliau basah kuyup karena hujan, membawakan rantang makanan untuk Anda... tapi resepsionis dan Ibu Sinta melarang beliau naik..."

Dada Arka mendadak terasa dihantam palu besar. Udara di dalam ruangan seolah tersedot habis. Seluruh otot di tubuhnya mendadak membeku.

"Apa yang kamu katakan?" suara Arka berubah parau, nyaris tidak terdengar di telinganya sendiri.

"Nyonya Kirana menitipkan rantang itu di meja resepsionis, lalu... beliau pergi begitu saja setelah mendengar perkataan dari Ibu Sinta," lanjut sang sekretaris dengan kepala tertunduk dalam. "Dan... dan baru saja saya mendapat kabar dari Bi Inah, pengurus rumah tangga Anda... Nyonya Kirana telah meninggalkan rumah membawa koper beliau, setelah meninggalkan dokumen perjanjian di atas meja..."

Arka bangkit berdiri dengan kasar dari kursinya hingga kursi di belakangnya terdorong mundur dan membentur dinding kaca. Ponsel di genggamannya bergetar hebat—bukan karena panggilan, melainkan karena tangannya sendiri yang kehilangan kendali atas rasa panik dan teror yang tiba-tiba merayap naik, mencengkeram jantungnya tanpa ampun.

Panggilan yang ia abaikan dalam hening tadi siang kini berbalik menghantamnya, menuntut bayaran atas keangkuhan dan kebisuan yang telah ia pelihara terlalu lama. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Arka Pratama menyadari bahwa benteng es yang ia bangun di sekeliling rumah tangganya bukan lagi melindunginya, melainkan telah meruntuhkan segalanya tanpa sisa.

1
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!