NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2_Harapan untuk Rani

"Aku akan berusaha berubah." ucapnya pelan. Sorot matanya dipenuhi harapan, meski di balik itu tersimpan luka yang begitu dalam.

Arga tertawa pelan.

"Berubah?" tanyanya sinis. Alisnya terangkat, sementara bibirnya melengkung meremehkan.

"Iya." jawab Rani singkat. Ia mengangguk perlahan dengan wajah yang masih tertunduk.

"Dengan uang siapa?" sindir Arga. Tatapannya menusuk, sementara senyum mengejek masih menghiasi wajahnya.

Rani tidak mampu menjawab. Karena memang benar. Ia bahkan tidak pernah memiliki uang sendiri. Semua kebutuhannya bergantung pada pemberian Arga yang sangat pas-pasan.

Keesokan paginya...

Rani pergi ke pasar. Ia menghitung uang belanja berkali-kali. Seorang pedagang sayur memperhatikannya.

"Bu Rani, kok dihitung terus?" tanya pedagang itu ramah. Wajahnya dipenuhi senyum hangat.

"Takut kurang, Bu." jawab Rani pelan. Bibirnya tersenyum tipis, tetapi sorot matanya tampak cemas sambil terus menghitung lembaran uang di tangannya.

"Suami belum gajian ya?" tanya pedagang itu lagi dengan nada iba. Alisnya terangkat pelan, sementara senyumnya mulai memudar.

Rani hanya mengangguk pelan.

Selesai berbelanja, ia melewati sebuah toko kosmetik. Di etalase depan terpajang paket skincare yang sudah lama ia inginkan.

Diskon besar.

Rani berhenti. Matanya berbinar sebentar. Namun setelah melihat isi dompetnya... Ia tersenyum getir.

"Lain kali saja..." gumamnya lirih. Ia menghela napas panjang, lalu memalingkan wajah dengan senyum pahit yang dipaksakan.

Baru beberapa langkah meninggalkan toko... Seorang wanita berpakaian rapi menghampirinya.

"Permisi..." sapa wanita itu lembut. Wajahnya tersenyum sopan, sementara sikapnya terlihat tenang dan percaya diri.

Rani menoleh.

"Iya?" jawabnya bingung. Alisnya sedikit berkerut, sementara matanya menatap wanita asing itu dengan hati-hati.

Wanita itu tersenyum ramah.

"Maaf mengganggu." ucapnya sopan. Senyumnya hangat, membuat suasana terasa lebih nyaman.

"Ada apa ya?" tanya Rani ragu-ragu. Bibirnya mengerucut pelan, sementara tangannya otomatis menggenggam erat kantong belanja.

"Saya dari sebuah perusahaan kecantikan." jelas wanita itu. Wajahnya tetap ramah, sementara matanya menatap Rani dengan penuh ketertarikan.

Rani tampak bingung.

"Kami sedang mencari beberapa ibu rumah tangga untuk mengikuti program perubahan penampilan." lanjut wanita itu. Senyumnya semakin lebar, seolah ingin meyakinkan Rani.

Rani menggeleng pelan.

"Saya nggak punya uang." jawabnya cepat. Wajahnya langsung canggung, sementara matanya menunduk malu.

Wanita itu tersenyum.

"Program ini gratis." katanya tenang. Ekspresinya tetap santai, seolah hal itu bukan masalah besar.

Rani terdiam.

"Gratis?" tanyanya tidak percaya. Suaranya terdengar lirih, sementara sorot matanya mulai dipenuhi harapan kecil.

"Iya." jawab wanita itu sambil mengangguk lembut. Senyumnya tulus dan menenangkan.

"Kenapa saya?" tanya Rani pelan. Wajahnya masih ragu, sementara jemarinya mencengkeram tali tas dengan gugup.

Wanita itu memperhatikan wajah Rani beberapa detik.

"Karena kami melihat sesuatu yang berbeda." ucapnya perlahan. Senyumnya tipis, tetapi matanya berbinar penuh keyakinan.

"Apa?" tanya Rani makin bingung. Alisnya terangkat, sementara napasnya terasa tertahan menunggu jawaban.

"Kami melihat perempuan yang sebenarnya cantik... tetapi kehilangan rasa percaya dirinya." kata wanita itu lembut. Tatapannya hangat, tanpa sedikit pun nada mengejek.

Jantung Rani berdegup lebih cepat.

Belum pernah ada orang yang mengatakan dirinya cantik. Apalagi setelah bertahun-tahun mendengar hinaan suaminya.

Namun sebelum Rani sempat menjawab... Terdengar suara yang sangat dikenalnya.

"RANI!" bentak seseorang dari kejauhan. Suaranya menggelegar penuh amarah, sementara wajahnya memerah dengan rahang yang mengeras.

Tubuh Rani langsung membeku. Ia menoleh perlahan.

Arga berdiri beberapa meter di belakang mereka. Wajah pria itu merah padam dipenuhi amarah. Sorot matanya tajam menatap wanita asing di depan Rani.

"Kamu ngobrol sama siapa?!" bentaknya. Rahangnya mengeras, sementara kedua tangannya mengepal kuat.

Rani langsung gugup.

"Mas... ini tadi..." ucapnya terbata-bata. Bibirnya bergetar, wajahnya pucat pasi, sementara matanya bergantian menatap Arga dan wanita itu dengan panik.

Belum selesai menjelaskan...

Arga menarik lengan Rani dengan kasar hingga kantong belanjaannya jatuh berserakan di jalan.

Sayuran, cabai, dan tomat menggelinding ke mana-mana. Orang-orang mulai memperhatikan mereka.

Wanita berpakaian rapi itu langsung maju.

"Pak, tolong jangan kasar." ucapnya tegas. Tatapannya lurus menatap Arga, sementara ekspresinya tetap tenang tanpa menunjukkan rasa takut.

Arga menatap tajam ke arahnya.

"Kamu jangan ikut campur urusan rumah tangga saya!" bentaknya. Wajahnya semakin merah, napasnya memburu, sementara telunjuknya menunjuk tepat ke arah wanita itu.

Rani menahan sakit di lengannya.

"Mas... lepaskan..." pinta Rani lirih. Suaranya bergetar, matanya memohon, sementara bibirnya gemetar menahan rasa sakit dan malu karena menjadi tontonan banyak orang.

Namun Arga justru menggenggamnya semakin erat. Di saat itulah wanita asing itu mengeluarkan sebuah kartu identitas dari tasnya.

"Kalau Bapak tetap melakukan kekerasan di tempat umum..." ucapnya tenang dengan tatapan tajam, "maka saya tidak akan diam."

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!