Warning! Reverse Harem!!
Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:
Jangan mencolok.
Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.
Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.
Menahan analisis yang terlalu dalam.
Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.
Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.
Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis yang akhirnya berubah
Waktu terus berjalan.
20 menit.
Kemudian...
15 menit.
10 IPS 1 masih bertahan.
Bukan karena mereka lebih kuat. Bukan pula karena mereka tidak melakukan kesalahan. Mereka hanya berhasil mempertahankan satu poin yang sejak awal diperjuangkan dengan susah payah.
10 Bahasa 2 pun juga beberapa kali mencoba menerobos, tetapi formasi pertahanan yang sudah diperkuat Rio, Michel, Jevan, Kadek, dan Rachel membuat setiap serangan mereka selalu kandas.
Sementara itu, penyerang dari 10 IPS 1 beberapa kali berhasil melakukan serangan balik dengan kombinasi dan koordinasi dari Angga. Pengalihan fokus oleh Melody, Andito, dan Rendy. Juga kecepatan lari dari sang Finisher Ega juga beberapa kali mengancam menara tongkat itu.
Namun hingga waktu tersisa tinggal 10 menit lagi, tidak ada lagi yang berhasil menyentuh benteng.
PRITTTT!!
Peluit panjang akhir menggema di seluruh stadion. Pertanda berakhirnya pertandingan dengan skor akhir:
10 IPS 1 (1 : 0) 10 Bahasa 2
Pertandingan selesai. Ditandai oleh Pak Firman mengangkat tangannya.
"PEMENANG! KELAS 10 IPS 1!"
Sejenak...
Hening.
Kemudian tribun 10 IPS 1 meledak.
"WOAAAAAAAHHHH!"
"IPS SATU!"
"IPS SATU!"
Spanduk bergoyang cepat. Beberapa siswa bahkan melemparkan topi ke udara bagaikan melempar toga wisuda saking bersemangatnya.
"WOI TOPI GUA!"
Angel dan Yohanna berteriak sampai suara mereka serak. Sedangkan Putri tertawa lebar sambil menunjuk ke lapangan.
"MELODY!"
Dari tengah lapangan, seluruh anggota tim 10 IPS 1 langsung bersorak.
Andito sudah terduduk lemas di atas rumput. Angga memegang kedua lututnya sembari mengusap peluh di dahinya. Ega bahkan sudah terkapar di lapangan dengan dada yang bergerak naik turun.
Namun di tengah kegembiraan itu, yang paling terasa begitu penat adalah Melody. Ia berdiri dengan wajah kelelahan dan rambut yang sudah berantakan. Sampai ikatan rambutnya sudah tak berbentuk ponytail lagi.
"Hah..."
Ia mengusap keringat di dahinya.
"Capek banget..."
Kemudian tiba-tiba—
SRET!
"Hah?"
GREP!
Dua tangan langsung menyambar tubuhnya dari kedua sisi.
"Kalian mau ngapain ini, woi?!"
Rio dan Michel mengangkat tubuh Melody bersamaan. Lalu menggendongnya bersisihan di pundak mereka berdua.
"WOAAAAAAAH!"
"TOP SCORER! NIH, GUYS!"
Mereka mengguncang tubuh gadis itu ke atas dan ke bawah sembari bersorak.
Melody langsung panik. Kuku-kukunya berwarna kemerahannya refleks mencengkeram kerah baju kedua cowok itu. Hingga tanpa sengaja meninggalkan bekas cubitan di tengkuknya.
"WOI! WOI! TURUNIN!"
Namun dua cowok itu justru semakin bersorak.
"GOOD GAME, MELODY!"
"TOP SCORER KITA!"
Melody mulai menjewer telinga Rio sembari meronta penuh kepanikan.
"LEPAS!"
Michel ikut kena jewer.
"ADUH!"
Melody bahkan menjambak rambut mereka bergantian.
Srett...
Kepala Rio sampai mendongak ke belakang.
"LEPAS WOI!"
Namun Rio justru tertawa.
"Demi es teh jumbo!"
"DUA BIJI!" sambung Michel.
Melody menggeliat semakin keras.
"APANYA DEMI ES TEH?!"
Tubuhnya terus diguncang. Kepalanya mulai terasa berputar.
"Woi..."
Ia menelan ludah.
"Serius..."
Guncangan kembali terjadi.
"Pusing gua..."
Wajahnya mendadak pucat.
"Eugh..."
Rio masih tertawa.
"HAHAHA!"
"Huekk..."
Michel baru menyadari sesuatu.
"Eh?"
Melody menutup mulut. Matanya berair.
"Huekk..."
"WOI!"
Kedua cowok itu akhirnya sedikit menurunkan tubuhnya.
Namun terlambat.
Melody sudah benar-benar kehilangan tenaga. Tubuhnya terkulai. Namun dengan sigap berhasil ditangkap oleh kedua pelaku itu.
"MELODY! JANGAN PINGSAN!"
Dari tribun, supporter 10 IPS 1 sudah berlari turun ke lapangan untuk menghampiri tim kesayangan mereka. Disertai sorakan yang terus memenuhi lapangan.
"IPS SATU! IPS SATU!"
"MENANG!"
"GOOD GAME!"
Namun dalam pendengaran Melody, suara-suara di sekelilingnya hanyalah seperti dengungan yang panjang di kejauhan.
Kepalanya pening.
Perutnya mual.
Dan satu-satunya hal yang masih bisa ia pikirkan hanyalah—
"Aku... cuma mau istirahat..."
....
Di antara kerumunan siswa yang berlari menuju tengah lapangan dan kepanikan sebab pingsannya Melody, Yuna berjalan paling akhir dengan langkah tenang, anggun, dan pandangan lurus menatap Melody yang sudah terkulai tak berdaya.
Gadis itu mulai di evakuasi oleh Rio dan Michel. Namun raut wajah teman-temannya disekitar bukannya menunjukkan wajah khawatir atau cemas, justru pada terkikik geli karena gadis itu benar-benar sudah kehabisan bensin tenaga es teh.
Yuna menghela napas kecil. Kemudian berjalan pelan ke arah Andito.
"Kalian luar biasa," gumamnya.
Andito yang berada tidak jauh di depannya seketika menegakkan punggungnya lebih lurus dari sebelumnya. Tangannya bahkan bergerak cepat merapikan bagian depan seragam olahraganya.
Namun sebelum sempat mengatakan sesuatu—
"Itu pun juga gara-gara strategi dari seseorang, kok."
Suara Angga terdengar dari samping.
Yuna dan Andito refleks menoleh.
Di belakang mereka berdua, Angga mendadak ikut nimbrung sembari tersenyum tipis. Meski napasnya masih terdengar sedikit terengah.
Yuna yang melihat penampilan sang kapten tim tampak begitu memprihatinkan pun langsung angkat bicara.
"Tapi kalian benar-benar luar biasa, kok. Aku tak menyangka..."
"Nggak ada."
Andito langsung menyela. Dirinya mendadak berjalan mendekat ke samping Angga. Kemudian menunjuk ke tepat ke arah lubang hidungnya.
"Kalau semua diatur sama orang ini..."
Angga berkedip. Kemudian ikut menunjuk dirinya sendiri.
"Gue?"
Andito menyeringai.
"Semua bakal kacau dan lari-larian tanpa arah. Tau nggak?"
Alis Angga langsung menajam. Tangannya diturunkan. Kemudian langsung berkacak pinggang.
"Enak aja! Gue tadi yang koordinasi, kan? Semua juga tahu!"
"Eleh."
Andito mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Angga.
Namun cowok itu bahkan tak bergeming. Bahkan menatap balik dengan tatapan yang sama tajamnya.
"Yang mancing perhatian lawan tadi siapa hah?"
Andito menunjuk dirinya sendiri.
"Gue, kan?"
Angga masih diam dengan menatap tajam.
Andito semakin mendesak.
"KAN?"
Angga langsung menyahut.
"Tapi itu tetap bagian dari koordinasi tau!"
"Alah!"
Perdebatan kecil itu kembali memanas.
Yuna yang berjalan di tengah mereka hanya memejamkan mata sebentar.
Menghela napas panjang.
Kemudian...
Grep.
Tangan kanannya meraih jemari Andito.
Tangan kirinya meraih jemari Angga.
Keduanya langsung terdiam.
"Hah?"
Yuna menarik mereka.
"Ayo."
"Loh, loh?"
Andito yang sama sekali tidak siap hampir saja kehilangan keseimbangan.
"Woi—"
Tubuhnya sedikit terhuyung.
Angga yang melihatnya refleks memegang bahunya agar tidak jatuh.
"Keliatan capek banget, Dit?" sindir Angga disela larinya.
"Enak aja. Gue kesandung gundukan tanah, Kocak!"
Yuna terus berjalan sembari jemarinya menarik tangan mereka berdua. Mengabaikan keributan kecil di belakangnya.
"Kalian semua hebat."
Yuna menoleh setengah. Suaranya terdengar lembut.
"Kerja bagus, teman—"
Kalimatnya terputus.
Yuna mengerjap sekali Seolah otaknya sedang mencari kata yang tepat.
"M-maksudku..."
Ia menelan ludah.
"Guys."
Dua cowok yang masih berlari di sampingnya langsung saling pandang.
Yuna mencoba tersenyum untuk memecah kecanggungan.
"Kalian semua hebat. Kerja bagus, guys."
Kalimat itu memang terdengar sederhana.
Namun dari mulut Yuna, entah kenapa terdengar sedikit kaku. Seperti seseorang yang baru saja mencoba menggunakan bahasa pergaulan setelah mempelajarinya dari buku.
Angga menahan senyum.
"Agak aneh dengernya, Yun?"
Yuna langsung tersipu.
"A-apa?"
"Biasanya kamu nggak ngomong kek gitu."
Wajah Yuna semakin memucat.
"Eh, m-maksudnya..."
Namun Andito sudah lebih dulu menyahut.
"Apa sih, Ga?"
Ia tersenyum kecil.
"Meskipun agak aneh..."
Tatapannya beralih kepada Yuna.
"Dia tetap Yuna yang kita kenal, kok."
Yuna terdiam.
"Iya, kan?" sambung Andito.
Di depannya, Yuna tidak menjawab. Melainkan masih menundukkan wajahnya sedikit.
Kemudian—
Ia buru-buru melepaskan jemarinya dari tangan Andito dan Angga.
"Eh..."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Yuna langsung berlari kecil menuju kerumunan dan meninggalkan kedua cowok itu di belakang.
Andito memandang tangannya sendiri.
Kemudian menoleh kepada Angga yang sama-sama sedang memandangi tangannya.
"Lu sih!"
Angga langsung menunjuk balik.
"Lu juga!"
Mereka saling senggol.
Sementara di depan mereka, Yuna sudah semakin dekat dengan kerumunan teman-temannya. Sembari ikut membantu mengevakuasi Melody yang masih lemas setelah pertandingan.
Rio dan Michel yang tadi mengangkatnya kini justru berjalan lebih hati-hati. Sementara beberapa teman perempuan yang lain ikut mengerubungi sambil memastikan gadis itu baik-baik saja.
Di antara mereka, Yuna berlari kecil. Rambut bobnya bergoyang lembut. Kemudian menepuk kedua bahu Angel ketika sampai di belakangnya.
Angel pun tersentak kecil. Lalu di balas tawa ringan oleh Yuna.
Andito dan Angga yang masih tertinggal beberapa langkah hanya bisa memandangi punggungnya.
Gadis yang beberapa bulan lalu saat pertama kali mengikuti MPLS, bahkan masih terlihat seperti seseorang yang selalu menghitung setiap kata sebelum keluar dari mulutnya.
Kaku.
Bahkan terkesan terlalu hati-hati.
Namun sekarang, Yuna mulai mengobrol dengan Angel dan Putri. Sesekali ikut menanggapi percakapan teman-temannya yang lain.
Dan sekarang...
Ia lebih sering tersenyum.
Meski senyum itu memang masih sedikit terlalu formal. Masih terasa seperti sesuatu yang masih dipelajari. Namun kali ini terlihat berbeda.
Tak seperti senyum yang dipaksakan agar terlihat normal. Tak seperti ekspresi yang dibuat untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Senyum itu terasa...
Lebih manis.
Andito terdiam cukup lama. Kemudian memandang tangan yang tadi digenggam Yuna.
Tanpa sadar, ia menggosokkan ujung telunjuknya dengan jempol. Sensasi itu, masih menyisakan perasaan hangat yang terasa aneh.
Setelahnya, ia segera memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Angga yang berdiri di sampingnya menoleh.
"Kenapa?"
"Nggak ada."
Andito kembali memandang ke depan.
"Cuma... aneh aja."
Mereka akhirnya diam.
Di depan mereka, Yuna sudah benar-benar menghilang di antara kerumunan teman-temannya.
Tidak lagi berjalan sendirian. Tidak lagi berdiri kaku di pinggir kelompok. Hanya berjalan beriringan dengan mereka.
Sesekali tertawa oleh celotehan Angel.
Sesekali menoleh ketika bahunya ditepuk oleh Amanda.
Bahkan beberapa kali ikut menyela percakapan Yohanna dan Rachel yang sebenarnya tidak terlalu ia pahami.
Namun ia tetap di sana.
Bersama mereka.
Keduanya memandang punggung gadis itu dari kejauhan dalam diam. Karena merasa untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi melihat Yuna sebagai seseorang yang sedang berusaha keras untuk menjadi normal.
Mereka hanya melihat...
Ratu Ahimsa Yunanda.
Gadis yang perlahan mulai membuka pintu yang selama ini selalu ia tutup rapat.
Dan tanpa mereka sadari...
mereka berdua sudah terlalu dekat untuk sekadar menjadi teman.