Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.
Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudut Nyaman Yang Baru
Yeza mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap pintu kayu jati unit 10A di seberangnya dengan pandangan tidak percaya. Jarak antara pintu unitnya, 10B, dengan unit pribadi Max tidak lebih dari lima langkah kaki orang dewasa.
"K-Kak Bram... ini serius?" tanya Yeza memastikan, suaranya sedikit bergetar karena terkejut. "Maksudku, Max benar-benar tinggal di sebelah sini?"
Bram tertawa lepas melihat ekspresi Yeza yang tampak seperti orang yang baru saja melihat hantu. "Seratus persen serius, Yeza. Max memang sengaja memilih unit ini untukmu. Katanya, biar koordinasi kerja kalian lebih mudah kalau ada jadwal subuh atau rapat mendadak."
Bram menepuk pundak Yeza dengan pelan untuk menenangkannya. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo masuk dulu, kamu pasti suka tempat ini."
Bram mendorong pintu unit 10B hingga terbuka lebar. Begitu melangkahkan kaki melewati pembatas pintu, Yeza kembali dibuat terpaku.
Interior di dalam apartemen itu sangat luas dan mewah, didominasi oleh warna-warna hangat seperti krem, abu-abu muda, dan sentuhan kayu alami. Jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah lanskap kota Jakarta membuat ruangan itu terasa sangat terang dan lapang. Udara di dalam ruangan terasa sejuk dengan aroma wangi melati yang lembut dan menenangkan—aroma kesukaan Yeza yang entah bagaimana bisa terpasang di sana.
"Wah... ini sangat indah," gumam Yeza tanpa sadar, melangkah masuk perlahan sambil menyentuh permukaan meja dapur berbahan marmer yang bersih mengilat.
"Semua ini sudah disiapkan khusus untukmu sejak kemarin," ujar Bram sambil mulai memindahkan koper-koper Yeza dari troli ke dekat ruang tamu. "Semua sudut sudah dibersihkan, sprei sudah diganti baru, dan kulkas juga sudah diisi penuh dengan bahan makanan segar oleh tim kebersihan atas perintah Max langsung."
Yeza berjalan mendekati kulkas dua pintu di sudut dapur dan membukanya. Matanya membelalak melihat deretan susu kotak, buah-buahan segar, sayuran, dan beberapa bahan makanan siap masak yang tertata sangat rapi di dalamnya.
Rasa haru yang luar biasa tiba-tiba membuncah di dada Yeza. Perhatian yang diberikan Max tidak main-main. Pria itu tidak hanya memberinya tempat tinggal, tetapi benar-benar memastikan bahwa ia akan hidup dengan sangat nyaman dan layak di sini.
"Max benar-benar menyiapkan semua ini sendiri?" tanya Yeza lirih, menatap Bram dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
"Tentu saja. Malahan, dia sangat detail memberikan instruksinya kemarin malam," jawab Bram dengan senyum penuh arti. "Jadi, nikmati saja fasilitas ini dengan baik, Yeza. Kamu sangat layak mendapatkannya."
Bram meletakkan kunci akses apartemen berupa kartu magnetik dan kunci fisik di atas meja marmer dapur. "Ini kartu aksesmu. Aku harus pamit sekarang untuk menjemput Max dari tempat latihan fisiknya. Istirahatlah dulu hari ini, rapi-rapi barangmu, dan biasakan diri dengan rumah barumu."
"Iya, Kak Bram. Terima kasih banyak atas bantuannya hari ini. Hati-hati di jalan," ucap Yeza tulus sambil mengantar Bram sampai ke depan pintu.
Setelah pintu apartemen kembali tertutup rapat dan terkunci secara otomatis, keheningan yang damai langsung menyelimuti Yeza. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu, menarik napas dalam-dalam untuk menghirup aroma melati yang menenangkan di dalam ruangan.
Hanya terpisah satu lorong sempit dengan Maxemilian, Yeza tahu kehidupan kerjanya mulai besok tidak akan pernah sama lagi.
Setelah mengunci pintu rapat-rapat, Yeza memutuskan untuk menjelajahi tempat tinggal barunya. Unit 10B ini memiliki tata ruang yang sangat lapang. Selain area dapur bersih dan ruang tengah yang elegan, terdapat dua kamar tidur yang posisinya saling berseberangan di koridor dalam apartemen.
Kamar pertama berukuran sedang, tampak minimalis namun fungsional. Sementara kamar kedua adalah kamar tidur utama (master bedroom) yang ukurannya jauh lebih besar. Begitu Yeza membuka pintu kayu kamar utama tersebut, ia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.
Kamar utama itu dilengkapi dengan jendela kaca besar yang menyuguhkan pemandangan langit kota yang menakjubkan. Sebuah ranjang berukuran king size berpakaian sprei abu-abu lembut yang tampak sangat empuk berdiri megah di tengah ruangan. Di sudut kamar, terdapat meja rias minimalis dengan cermin bulat besar yang dilengkapi lampu LED hangat—sebuah detail yang sangat memanjakan matanya sebagai seorang penata rias. Kamar ini juga memiliki kamar mandi dalam yang mewah dan lemari pakaian tanam (walk-in closet) yang luas.
Tanpa ragu-ragu, Yeza memilih kamar utama ini sebagai tempat peristirahatan pribadinya.
"Luar biasa... tempat ini bahkan jauh lebih mewah dari yang kubayangkan," gumam Yeza pelan sembari menarik koper-kopernya masuk ke dalam kamar.
Yeza mulai membuka koper pakaiannya. Satu per satu baju hangat, kaos, dan gaun kasualnya ia gantung dengan rapi di dalam lemari pakaian yang harum. Proses merapikan baju tidak memakan waktu lama karena barang pribadinya memang tergolong praktis dan ringkas.
Bagian yang paling membutuhkan waktu dan ketelitian justru saat Yeza mulai menata dua koper besar berisi alat-alat makeup-nya. Bagi Yeza, kosmetik dan kuas-kuasnya adalah harta paling berharga. Dengan sangat hati-hati, ia mengeluarkan deretan palet perona mata, berbagai macam alas bedak, lipstik, kuas-kuas yang lembut, hingga cairan pembersih dari koper.
Satu per satu ia susun di atas meja rias barunya. Yeza mengelompokkan kuas berdasarkan ukuran, menyusun lipstik berdasarkan gradasi warna, dan menata palet makeup di laci-laci meja rias agar mudah dijangkau saat ia ingin berlatih atau membuat konten nanti.
Setelah hampir dua jam sibuk menata barang hingga kamarnya terlihat sangat rapi dan estetik, Yeza akhirnya mengembuskan napas lega. Ia merebahkan tubuh mungilnya ke atas kasur empuk yang langsung menyelimutinya dengan kehangatan dan kelembutan.
Aroma melati yang menenangkan dari luar ruangan lamat-lamat terhirup hingga ke dalam kamar. Yeza menatap langit-langit kamar barunya dengan perasaan campur aduk—ada rasa tidak percaya, haru, sekaligus antusiasme yang membuncah.
Di sinilah, di kamar utama lantai sepuluh ini, lembaran baru kehidupannya bersama Maxemilian akan benar-benar dimulai.