Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Beberapa ada yang tersenyum, beberapa pula ada yang mengucapkan pujian. Namun, Aisyah tidak benar-benar mendengarnya. Tatapannya hanya tertuju pada satu orang, Ammar. Dan pada saat yang sama, tanpa sengaja ia melihat sesuatu yang membuat dadanya kembali terasa nyeri. Sejak tadi, Ammar sama sekali tidak melihat ke arahnya.
Tatapan laki-laki itu justru berhenti pada Salsa. Perempuan yang berdiri disampingnya yang saat ini tengah mendampinginya menuju pelaminan. Tatapan itu bukan tatapan seorang laki-laki kepada perempuan lain, melainkan tatapan penuh kekhawatiran kepada istri yang sangat dicintainya.
Aisyah yang langsung memahami semuanya, akhirnya menundukkan wajahnya perlahan.
"Tentu saja." batinnya lirih. "Mas Ammar sedang mengkhawatirkan Kak Salsa, bukan aku."
Dan memang seharusnya begitu. Bukankah sejak awal, pernikahan ini bukanlah keinginan Ammar? Bukan pula keinginannya. Air mata kembali menggenang namun cepat-cepat Aisyah menarik napas panjang. Tidak, ia tidak boleh menangis. Bukan hari ini, apalagi di depan Salsa. Ia tidak ingin kakaknya merasa semakin bersalah.
Perlahan, di balik cadar yang menutupi wajahnya, Aisyah memaksakan diri untuk tetap tersenyum kecil, meski senyum itu sama sekali tidak sampai ke matanya. Sesampainya di hadapan keluarga Adhitama, Pak Wira berdiri. Tatapannya penuh wibawa.
"Nak Aisyah."
"Iya, Pa."
"Mulai hari ini Ammar adalah suamimu." Aisyah menganggukkan kepala pelan dan ia kembali berkata, "Laksanakan kewajibanmu sebagai seorang istri." Aisyah kembali mengangguk. "Lalu..." Pak Wira melirik tangan putranya. "Cium tangan suamimu."
Kalimat itu membuat napas Aisyah tercekat.
Untuk sesaat ia hanya mematung. Selama ini, Tangan itu selalu ia salami sebagai bentuk hormat kepada kakak iparnya. Namun sekarang, maknanya telah berubah. Kini ia menciumnya sebagai bentuk bakti kepada suaminya. Perlahan dengan tangan yang gemetar, Aisyah melangkah mendekati Ammar. Ammar masih berdiri diam. Tatapannya akhirnya turun kepada Aisyah.
Untuk pertama kalinya hari itu, Mata mereka benar-benar bertemu. Tak ada kata-kata, hanya dua orang yang sama-sama dipaksa menerima takdir yang tidak pernah mereka pilih. Aisyah perlahan mengulurkan kedua tangannya. Dengan penuh hormat, Ia menggenggam tangan kanan Ammar. Tangannya terasa dingin, begitu pula tangan Ammar. Perlahan Aisyah menundukkan tubuhnya lalu membawa punggung tangan suaminya ke dahinya kemudian menciumnya dengan penuh takzim.
Beberapa tamu tersenyum melihat pemandangan itu, namun tak seorang pun tahu bahwa dibalik cadar pengantin putih itu, air mata Aisyah kembali jatuh tanpa suara.
Sedangkan Ammar hanya mampu berdiri membeku. Dadanya terasa sesak. Ia tidak menarik tangannya, namun juga tidak mampu melakukan apa pun sampai akhirnya suara ayahnya kembali terdengar.
"Ammar."
"Iya, Pa."
"Letakkan tanganmu di kepala istrimu." Ammar membeku. "Doakan dia. Itu sunah yang harus dilakukan seorang suami setelah akad."
Tempat pelaminan kembali hening. Ammar memejamkan kedua matanya sesaat lalu dengan napas yang terasa begitu berat, Ia perlahan mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya ke atas kepala Aisyah, tepat saat seluruh tamu menunggu doa pertama yang akan keluar dari bibir seorang suami kepada istri yang baru saja Allah halalkan baginya. Tempat pelaminan kembali hening, membuat semua mata tertuju kepada Ammar.
Laki-laki itu masih berdiri dengan tangan kanannya yang berada di kepala Aisyah. Dadanya naik turun menahan begitu banyak perasaan yang saling bertabrakan. Perlahan ia memejamkan kedua matanya. Dalam diam, ia menarik napas panjang lalu dengan suaranya yang terdengar pelan namun sarat beban, Ammar membaca,
"Allahumma inni as'aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha 'alaihi. Wa a'udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi. Ya Allah, Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau tanamkan pada dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan yang Engkau tanamkan pada dirinya."
Suara Ammar sedikit bergetar ketika mengucapkan doa itu. Ia membacanya dengan penuh kekhusyukan. Bukan karena ia menginginkan pernikahan ini, melainkan karena ia tidak ingin menjadikan syariat Allah sebagai sesuatu yang dilakukan dengan setengah hati. Kalau Allah telah menghalalkan perempuan yang kini berdiri di hadapannya menjadi istrinya, maka ia ingin mengawali semuanya dengan doa yang baik meski hatinya sendiri masih dipenuhi luka. Di bawah telapak tangan itu, Aisyah menangis dalam diam. Ia mengamini setiap doa yang keluar dari bibir suaminya.
"Aamiin." Lirih Aisyah yang hampir tidak terdengar.
Di balik cadarnya, air mata kembali mengalir. Ia tahu doa itu bukan lahir dari laki-laki yang sedang jatuh cinta kepadanya, bukan pula doa yang dipanjatkan dengan kebahagiaan. Namun Aisyah tidak mempermasalahkan itu.
Baginya, selama doa itu dipanjatkan dengan ikhlas kepada Allah, ia akan mengaminkannya sepenuh hati.
"Ya Allah..." batinnya bergetar. "Kalau memang ini takdir-Mu, jadikanlah aku perempuan yang mampu menjaga amanah ini. Jangan jadikan aku sebab hancurnya hati Kak Salsa. Jangan jadikan aku sebab renggangnya rumah tangga mereka." Air matanya kembali jatuh. "Dan kalau memang suatu hari nanti Mas Ammar bisa menerima keberadaan ku sebagai seorang istri, biarlah itu datang karena Engkau yang melembutkan hatinya. Bukan karena paksaan siapa pun. Aamiin..."
Perlahan, Ammar menurunkan tangannya setelah doanya telah selesai. Suasana tetap sunyi, beberapa tamu tampak mengusap sudut mata mereka yang ikut berkaca-kaca melihat prosesi itu. Tak sedikit yang mengira mereka sedang menyaksikan pasangan pengantin yang begitu sakinah. Padahal, tak seorang pun mengetahui bahwa dua orang yang baru saja berdoa bersama itu sedang berusaha menyembunyikan luka mereka masing-masing. Belum sempat Ammar menarik napas lega, suara Pak Wira kembali terdengar.
"Ammar."
"Iya, Pa."
Pak Wira mengangguk pelan.
"Bagus." Lalu pria itu berkata dengan nada yang tetap tegas. "Sekarang cium kening istrimu."
Kalimat itu seolah menghentikan waktu. Ammar langsung membeku sementara kedua matanya membelalak pelan.
"Apa?"
Pak Wira menatap putranya.
"Cium kening Aisyah. Itu tanda bahwa kamu menerima dia sebagai istrimu di hadapan semua orang."
Jantung Ammar berdetak semakin keras. Tanpa sadar kepalanya langsung menoleh ke arah samping. Tatapannya mencari satu orang, Salsa. Perempuan itu berdiri tidak jauh dari pelaminan mengenakan gaun cantik berwarna biru sembari tersenyum meski senyum itu begitu dipaksakan. Mata mereka bertemu dan dalam satu detik itu, Ammar merasakan dadanya seperti diremas. Bagaimana mungkin ia mencium kening perempuan lain sementara perempuan yang paling ia cintai sedang berdiri menyaksikannya beberapa langkah di depannya? Tidak, Ia tidak sanggup. Ammar langsung menggeleng pelan.
"Pa..." Suara itu terdengar berat. "Ammar rasa, Ammar tidak perlu melakukan itu, cukup sampai doa saja."
Pak Wira mengernyit.
"Apa maksudmu?"
"Ammar tidak bisa dan Ammar tidak mau melakukan itu." Ujar Ammar yang membuat Pak Wira menatap tajam.
"Kenapa?"
Ammar menarik napas panjang.
"Salsa ada di sini." Kalimat itu membuat suasana kembali hening. "Ammar tidak mungkin melakukan itu di depan istri Ammar sendiri."