Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Makan Bersama Pertama
Usai makan siang bersama Kevin, Amora kembali ke unit apartemen dan memutuskan untuk beristirahat. Tubuhnya terasa sedikit lelah setelah sejak tadi sibuk dengan aktivitasnya. Ia pun merebahkan diri di atas ranjang dan tanpa sadar tertidur.
Tidurnya tidak berlangsung lama, hanya sekitar satu jam.
Ketika kelopak matanya kembali terbuka, cahaya matahari yang mulai condong ke barat menyelinap masuk melalui celah tirai, membalut kamar dengan semburat jingga yang hangat.
Amora mengucek pelan matanya sebelum bangkit dan duduk di sisi tempat tidur. Pandangannya beralih ke jam digital di atas nakas.
"Udah sore ternyata," gumamnya lirih saat melihat angka menunjukkan pukul setengah enam.
Ia merenggangkan tubuh sejenak, lalu melangkah menuju dapur. Begitu membuka pintu kulkas, deretan bahan makanan yang tadi dibelinya tertata rapi di dalamnya. Melihat kulkas yang kini tidak lagi kosong membuatnya tersenyum kecil.
"Hari ini masak aja, deh."
Sejak kecil Amora memang sudah terbiasa membantu Fina di dapur. Karena itulah, memasak bukan sesuatu yang sulit baginya. Justru kegiatan itu sering menjadi cara untuk mengisi waktu sekaligus menenangkan pikirannya.
Ia mengeluarkan beberapa potong dada ayam yang telah disimpan di chiller, lalu menyiapkan bayam, jagung, serta bumbu-bumbu yang akan digunakan.
Tangannya bergerak lincah. Bawang merah dan bawang putih diiris tipis dengan ukuran yang hampir sama, sementara cabai dipotong secukupnya. Ayam kemudian dimarinasi menggunakan kecap manis, sedikit madu, lada, dan beberapa bumbu lainnya.
"Masak yang sederhana aja," ucapnya pelan sambil menyalakan kompor.
Tidak lama berselang, suara gemerisik minyak panas mulai terdengar memenuhi dapur. Aroma bawang yang ditumis perlahan menyebar, disusul wangi saus tiram dan kecap yang berpadu dengan harum ayam yang sedang dimasak.
Di sisi kompor lainnya, panci kecil berisi sayur bening mulai mengeluarkan uap tipis. Potongan jagung dan bayam mendidih perlahan, menghadirkan aroma segar yang membuat suasana dapur terasa lebih hangat.
Desis wajan, dentingan spatula, dan suara air mendidih menjadi irama yang memecah kesunyian apartemen.
Amora benar-benar menikmati setiap kegiatan memasak yang ia lakukan. Meski sebenarnya ia sadar betul kalau makan malam itu kemungkinan besar hanya akan dinikmati seorang diri.
Ia tidak pernah berharap Atharazka akan pulang tepat waktu, apalagi duduk makan bersama. Hubungan mereka masih dipenuhi kecanggungan. Pernikahan yang baru berjalan beberapa hari itu belum cukup membuat keduanya benar-benar mengenal satu sama lain.
"Yang penting masakannya enak. Terserah Mas Razka nanti mau makan atau enggak,," gumamnya sambil membolak-balik ayam kecap hingga permukaannya berubah kecokelatan dan mengilap.
Bagi Amora, dapur bukan sekadar tempat memasak. Di tempat itulah ia merasa sedikit lebih tenang, seolah kesunyian apartemen tidak terlalu terasa selama tangannya sibuk mengolah makanan.
Tidak lama kemudian, semua hidangan selesai dimasak. Ia memindahkan ayam kecap ke piring saji, menuangkan sayur bening ke mangkuk, lalu melengkapi semuanya dengan sambal terasi yang baru saja diulek.
Meja makan ditatanya serapi mungkin. Tanpa sadar ia menyiapkan dua piring lengkap dengan dua gelas dan peralatan makan, meskipun dalam hati ia tahu kemungkinan besar hanya satu set yang akan digunakan.
Amora memandangi meja itu beberapa saat sebelum tersenyum tipis.
"Enggak sia-sia juga belanja tadi."
Setelah memastikan kompor telah dimatikan dan area dapur kembali bersih, ia melepaskan celemek yang dikenakannya. Hawa panas dari kegiatan memasak membuat beberapa helai rambutnya menempel di leher.
"Kayaknya mandi dulu lebih enak," gumamnya.
Ia kembali ke kamar untuk mengambil handuk dan pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi. Tidak lama kemudian, suara air hangat mengalir memenuhi ruangan.
Amora memejamkan mata sejenak, membiarkan air membasuh sisa rasa lelah yang menempel di tubuhnya. Perlahan pikirannya terasa lebih ringan.
"Besok coba masak menu lain, deh," bisiknya pelan. "Walaupun makannya sendirian juga enggak masalah."
Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang jauh lebih segar. Rambut panjangnya masih sedikit basah, sementara ia mengenakan kaus putih longgar dan celana pendek berbahan katun yang nyaman.
Aroma masakan masih memenuhi apartemen ketika ia melangkah menuju ruang makan. Langit di balik jendela kini mulai berubah gelap, menandakan malam segera tiba.
Amora berhenti di depan meja makan dan memandangi hidangan yang telah disiapkannya.
"Kayaknya Mas Razka lembur," gumamnya.
Mengingat sampai malam Atharazka belum juga pulang, Amora yakin kalau suaminya itu lembur. Atau... Atharazka sengaja pulang malam untuk menghindari dirinya?
Menjelang malam, suasana di kantor mulai lengang. Satu per satu karyawan meninggalkan gedung setelah menyelesaikan pekerjaan mereka. Hanya beberapa ruangan yang masih diterangi lampu, salah satunya ruang kerja Atharazka.
Pria itu masih duduk di balik meja kerjanya dengan perhatian penuh tertuju pada layar laptop. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, menyelesaikan beberapa laporan yang harus ditinjau sebelum hari berganti. Pantulan cahaya monitor menerangi wajahnya yang tetap datar, sementara dengungan pendingin ruangan menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruangan.
Saat jam digital di sudut layar menunjukkan pukul 18.15, Atharazka akhirnya menghentikan aktivitasnya. Ia menekan tombol simpan pada dokumen terakhir, lalu menutup laptop perlahan. Tubuhnya disandarkan ke kursi sembari mengembuskan napas panjang, melepas sedikit rasa lelah setelah seharian berkutat dengan pekerjaan.
Tatapannya beralih ke balik dinding kaca yang memperlihatkan gemerlap lampu Kota Jakarta di malam hari. Entah mengapa, tanpa diminta, sosok Amora tiba-tiba muncul dalam benaknya. Wajah perempuan itu, dengan sorot mata yang tenang dan cara bicaranya yang selalu lembut, terlintas begitu saja.
Atharazka segera mengerutkan kening.
"Apa, sih?" gumamnya lirih pada diri sendiri.
Ia menggeleng pelan, seolah ingin mengusir bayangan yang mengganggu konsentrasinya. Tanpa ingin memikirkannya lebih jauh, ia mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi, meraih kunci mobil, lalu meninggalkan ruang kerjanya.
~~
Sekitar 30 menit kemudian, Razka tiba di apartemen. Pintu unit terbuka setelah kartu akses ditempelkan pada panel. Baru selangkah memasuki ruangan, indra penciumannya langsung menangkap aroma masakan rumahan yang menggugah selera.
Langkahnya terhenti sesaat. Pandangannya langsung mengarah ke meja makan.
Di sana, Amora tengah duduk seorang diri. Perempuan itu mengenakan kaus putih longgar dipadukan dengan celana pendek berbahan katun. Rambutnya yang masih sedikit lembap menandakan ia baru selesai mandi belum lama ini.
Beberapa hidangan tersaji rapi di atas meja. Ada ayam tumis kecap yang masih mengepulkan uap tipis, semangkuk sayur bening, serta sambal terasi di wadah kecil.
Menyadari ada seseorang masuk, Amora mengangkat kepalanya.
"Mas Razka sudah pulang?" sapanya dengan suara pelan disertai senyum tipis yang sopan.
Atharazka membalas dengan anggukan singkat. Ia meletakkan tas kerja dan jasnya di dekat sofa, kemudian kembali melirik meja makan yang dipenuhi masakan sederhana itu.
Amora menggenggam sendoknya sesaat sebelum kembali membuka suara.
"Aku baru mau mulai makan," katanya hati-hati. "Kalau Mas Razka belum makan malam... kita makan bareng aja. Masakannya masih banyak."
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Amora sempat mengira laki-laki itu akan menolak seperti biasanya.
Namun di luar dugaan, Atharazka justru melangkah menuju meja makan. Ia menarik salah satu kursi dan duduk tepat di hadapan Amora.
"Boleh," jawabnya singkat.
Amora sedikit terdiam karena tidak menyangka ajakannya diterima. Meski begitu, ia segera bangkit mengambil piring dan sendok bersih dari dapur. Dengan gerakan cekatan, ia menyendokkan nasi hangat, lalu menambahkan ayam tumis, sayur bening, dan sedikit sambal sebelum meletakkannya di depan Razka.
"Silahkan, Mas."
"Hm."
Ucapan itu kembali dibalas dengan anggukan pendek.
Makan malam mereka berlangsung dalam keheningan. Tidak ada percakapan yang mengisi meja makan, hanya terdengar suara sendok yang sesekali menyentuh piring dan mangkuk.
Atharazka menikmati suapan pertamanya tanpa banyak menunjukkan ekspresi. .
Sesaat kemudian, pandangannya terangkat ke arah Amora. Perempuan itu makan dengan tenang, tanpa berusaha membuka percakapan ataupun mencari perhatian. Ia hanya menikmati makan malamnya sambil sesekali menunduk.
Razka kembali mengalihkan pandangan ke piringnya. Dalam hati, ia mengakui kalau masakan Amora ternyata sangat enak.
Bukan makanan mewah ataupun rumit, tetapi memiliki cita rasa yang membuatnya ingin terus makan.
Keheningan tetap menyelimuti ruang makan hingga keduanya selesai menyantap hidangan.
Amora segera membereskan piring dan mangkuk kotor, membawanya ke wastafel untuk dicuci. Sementara itu, Razka berdiri dari kursinya dan berjalan menuju ruang tengah tanpa mengucapkan apa pun.
Meski tidak ada percakapan panjang malam itu, suasana di antara mereka terasa sedikit berubah. Jarak yang selama beberapa hari ini begitu kaku memang masih ada, tetapi untuk pertama kalinya sejak tinggal bersama, apartemen itu tidak lagi terasa sedingin biasanya.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰