Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
Malam kembali datang menyapa penduduk bumi, membentangkan selimut hitamnya di langit yang sepi. Suara kendaraan sayup-sayup terdengar di kejauhan, menjadi irama pengantar tidur Amara yang perlahan mulai memejamkan matanya.
Di kamar yang berbeda. Abimanyu duduk gelisah, pria itu beberapa saat lalu sudah merebahkan tubuhnya namun kembali bangkit dan akhirnya ia menyandarkan punggungnya ke belakang. Matanya lurus menatap langit-langit kamar, namun riuh kepalanya yang di penuhi bayang Amara tengah menggerutu karena tak diperbolehkan bekerja membuatnya jauh dari rasa kantuk.
Entah kenapa, setiap kali perempuan yang dipandangnya masih bocah itu merajuk membuat hatinya selalu gelisah. Gemas, kesal, dan takut bercampur menjadi satu. Takut istri bocahnya itu berubah dewasa karena pengaruh dunia luar, takut Amara tak lagi bergantung padanya apabila memiliki penghasilan sendiri.
Astaga, aku ini kenapa...
Abimanyu mengusak rambutnya sendiri kemudian mengembuskan napas dengan kasar. Aku harus tetap tegas supaya dia selalu dalam kendaliku.
Abimanyu bangkit, turun dari ranjang mengambil botol air mineral kemudian menenggak i-sinya hingga tandas. Tanpa disadari kakinya melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan, bukan televisi atau meja makan yang ditujunya sebagaimana orang yang biasa kesulitan tidur dan mencari sesuatu untuk mengganjal perut.
Pria itu melangkah ke arah kamar Amara seperti malam-malam sebelumnya, ia akan menyusul tidur di samping Amara setelah gadis itu terlelap.
Bersamaan dengan pintu yang ditutup Abimanyu, Amara menggeliat pelan. Samar-samar bibirnya bergumam tak jelas, Abimanyu seketika mengerutkan kening sembari menunduk menatap wajah istri bocahnya yang kembali tenang.
Senyum simpul terukir di bibir Abimanyu saat kakinya naik ke ranjang kemudian merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Amara. Entah kenapa, sejak malam itu dimana dirinya berhasil mengambil hak nya, tubuh Amara seolah menjadi candu yang selalu ingin ia dekap di tengah gelisah yang melanda.
-
-
Pagi datang dengan cahaya keemasan yang menyelinap malu-malu dari balik tirai, membelai wajah Amara hingga gadis itu perlahan mengerjap. Kelopak matanya berkedip beberapa kali, masih berat oleh sisa kantuk yang belum sepenuhnya pergi. Namun, ada sesuatu yang berbeda pagi itu.
Hangat.
Bukan sekadar hangat karena sinar mentari yang menyapa wajahnya dari celah gorden, melainkan kehangatan yang terasa begitu nyata membungkus tubuhnya dengan rasa aman dan nyaman yang sulit dijelaskan.
Amara bergerak menggesekkan hidungnya menghirup dalam-dalam aroma yang sangat familiar dan hangat menempel di wajahnya.
"Wangi banget sih, padahal sudah seminggu dipasangnya." Gumam Amara serak, tangannya bergerak teratur mengusap permukaan halus guling yang menempel di wajahnya.
"Em, kok makin hangat dan berbulu juga kayak dada om Abi yang..." Gumamnya kemudian membuka mata, seketika napasnya tertahan.
Entah sejak kapan, ia berada di dalam pelukan Abimanyu. Bahkan bantal hangat yang terasa lebih keras dari bantal yang biasa ia pakai ternyata lengan kiri Abimanyu. Sedangkan lengan kanan pria itu melingkar erat di pinggangnya, seolah tanpa sadar menjadikannya tempat paling nyaman untuk dipeluk sepanjang malam.
"O-om..." Lirih Amara bergetar, kemudian menggigit bibir bawahnya. Ia kembali memejamkan mata hendak berpura-pura tidur sampai Abimanyu bangun lebih dulu. Namun hingga beberapa saat Amara memejamkan mata, pria yang sudah pasti merasakan hembusan napas hangatnya itu tak kunjung bergerak.
Amara memberanikan diri kembali membuka matanya perlahan, tak ingin pergerakan kecilnya di ketahui Abimanyu. Untung dia masih tidur, jadinya aku gak terlalu malu sudah memeluknya. "Hufh" Amara mengembuskan napas kasar, ia sedikit menarik kepalanya kemudian mendongak menatap wajah tenang yang sama sekali tak terusik oleh pergerakannya.
Hal pertama yang dilihatnya selain wajah tampan khas pria matang, juga dada bidang Abimanyu yang menjadi sandaran dan membuatnya merasa tenang, sementara embusan napas pria itu yang teratur menyapu lembut pucuk kepalanya.
Jantung Amara berdebar begitu cepat hingga ia khawatir detaknya akan membangunkan Abimanyu. Wajahnya perlahan memanas, semburat merah muda menghiasi kedua pipinya. Ia tak berani banyak bergerak, takut mengusik tidur pria yang masih terlelap dengan wajah damai itu.
Untuk beberapa saat, Amara hanya diam. Menikmati kehangatan yang tak pernah ia sangka akan dirasakannya. Di dalam pelukan itu, untuk pertama kalinya, pagi terasa begitu menenangkan. Seolah dunia berhenti sejenak, membiarkan dua hati yang sama-sama keras kepala menikmati kedekatan tanpa sepatah kata.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama saat tanpa sengaja Amara menggerakkan pahanya, mata gadis itu membeliak merasakan ada sesuatu yang menegang kuat bak senjata laras panjang yang siap mengeluarkan timah panasnya.
Ia kembali menggigit bibir dengan wajah yang memerah. Kenapa begitu, padahal orangnya masih merem. Batinnya bergumam membayangkan sesuatu yang sudah beberapa kali memasukinya, bahkan senjata itu tak jarang membuat otaknya traveling kemana-mana saat mengingatnya.
Tanpa Amara sadari, di tengah pikirannya yang sudah dipenuhi bayangan senjata panjang. Tangan kanan Abimanyu yang tadinya hanya melingkar di pinggangnya perlahan bergerak menyusup ke dalam piyamanya.
Tangan kekar itu merayap ke atas mengusap punggung halus Amara dengan gerakan pelan namun teratur, sedangkan lengan kirinya yang dijadikan bantal oleh Amara perlahan ikut bergerak mengerat mendekap tengkuk Amara supaya wajah gadis itu menempel di dadanya.
"O-om..." Panggil Amara, suaranya bergetar menahan sesuatu yang membuat tubuhnya panas dingin.
"Hem" Abimanyu cuma bergumam, namun tubuhnya bergerak mengurung tubuh kecil istri bocahnya. Kepalanya menunduk menempelkan wajahnya di ceruk leher Amara.
"Su-sudah si-siang om..." Lirih Amara bergetar, gadis itu menggigit bibir menahan supaya tak ada suara aneh yang keluar dari bibirnya.
Namun alih-alih menurut, Abimanyu seolah menulikan telinga. Pria itu terus bergerak dengan tangan yang semakin gencar, racauan Amara yang terus mengingatkan waktu hanya dianggap angin lalu karena hanya sebatas bibir. Sedangkan tubuh gadis itu terlihat pasrah menikmati sentuhan demi sentuhan yang dilakukannya.
"Om, nan-ti ber-rangkat kerjanya tel-lat!" Ucap Amara lagi, terus mengingatkan dengan suara yang putus-putus. Mendengar Amara yang terus berbicara, bukannya berhenti Abimanyu malah semakin liar. Dari semalam ia berusaha menahan diri sebab tak tega melihat Amara yang tidur dengan lelap. Namun saat ini tak ada alasan untuk dirinya menahan lagi, ia dan Amara pasangan sah dan halal melakukan apapun, kapanpun, dan di manapun.
"Om... Aku har-mpt" Seketika suara Amara mereda berganti decapan. Bahkan tanpa disadari gadis itu, piyamanya sudah tak lagi membungkus tubuhnya.
Abimanyu mengangkat kepala, matanya yang sudah berkabut penuh keinginan menatap wajah Amara yang memerah. Bahkan mata gadis itu terlihat sayu, mempertegas sisi wanitanya yang berhasil dibangkitkan seorang Abimanyu mantan bujang lapuk.
"Boleh?" Tanya pria itu serak sembari perlahan menunduk, menempelkan indera pengecapnya pada Amara bersamaan dengan senjatanya yang mulai menekan.
Bak anak kecil yang baru saja dikasih gulali, Amara mengangguk kecil sembari menggigit bibir bawahnya. "Pelan-pelan om."
bab ini sesuai maunya pembaca wkwkkw
dibuat mesem mesem berjamaah kita hihihi
ahhhhh pokonya syuukaaaa syekaleee💜
bab panjang, sepanjang jalan kenangan,
tapi beras singkat bgd bacanya tteh🤣
banyakin part gumussshhhh Om tua sama amara🫣
Jenny kelaut aja buang ke samudera Atlantik 🤣
bergetar dilanda kasmaran ❤️❤️❤️
Abi oh abimanyuu..akhirnyaaa jatuh sejatuh-jatuhnya sudah cintamu untuk Amara 🤣🤣🤣 dan Amaraaa..bentar lagii yaaa sabaar tunggu kejutan Abi yg berikutnya soal perasaan 🥰 ihhh aku kan jadi senyum-senyum gemassss 😍😍
teh lagiii ya tehhh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mau bobok beldua lagi soalnyaaa hihiihiiii 😆
siapaaaa ini dateng sekeluarga.
ditunggu bab berikut nya tteh tayankkk🌻
nanti semoga jd om tua bucin ya🤣
sahabat macam apa kau ini?
sahabat dah nikah mau diojok2in sama mantannya😏
badai apapun nanti kedepannya semoga tetap konsisten dg kata2 ini om tua..
perlahan lahan pikiran om tua isinya istri kecilnya,,
.
lama2 nanti ga bisa jauh2 dr Amara, wkwkwk (menantikan ini)
kamu sm Amara sama² perempuan, smg aja suamimu kelak juga baik² aja yaa ga ada sipengganggu, krn semua yg menanam pasti akan menuai hasilnya.
siapa yg datang pake satu keluarga segala pula ini.. apakah Jenny dan orang tuanya yaa mau meminang Abimanyu secara kontan 🤣 ohh Tidak bisaaa... tak tutuukk ntar duo melonmu klo macem² yaa Jenn 🙄🤣 tapii klo lain Jenny siapa yaaa 🤔🤔🤔 Teh oneeeeellll jangan digantunggg aku kasih kopiii nih cepet up lagiiii yaaaa ❤️