Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Surat peringatan pertama
Siang itu, kantor Ardi tidak ubah seperti kapal yang bocor di tengah badai. Ruang kerja Ardi dipenuhi oleh asap rokok yang mengepul pekat. Laki-laki itu mondar-mandir di belakang meja kerjanya dengan dasi yang sudah dilonggarkan dan kancing kerah atas yang terbuka. Rasa bersalah dari kejadian semalam dengan Tyas masih membekas, tetapi rasa takut akan kebangkrutan jauh lebih mendominasi pikirannya saat ini.
Tok! Tok! Tok!
Pintu ruang kerjanya diketuk dengan tergesa-gesa. Sebelum Ardi sempat menyahut, pintu sudah terbuka dan menampilkan wajah panik dari salah satu staf administrasi depannya, diikuti oleh dua orang pria paruh baya yang mengenakan kemeja batik formal dan membawa map kulit tebal.
"Maaf, Pak Ardi. Beliau-beliau ini dari pihak bank bagian restrukturisasi dan kurator penjaminan aset. Mereka bersikeras untuk langsung menemui Bapak," ucap staf itu dengan suara cicit yang ketakutan.
Jantung Ardi mencelos. Dia langsung mematikan rokoknya di asbak dengan kasar. "Silakan duduk," ucap Ardi, mencoba mengontrol suaranya agar tidak terdengar gemetar.
Kedua pria itu duduk di hadapan Ardi tanpa senyuman. Salah satu dari mereka membuka map kulit dan mengeluarkan selembar surat dengan kop resmi bank yang berwarna merah menyala di bagian sudut atasnya.
"Langsung saja, Pak Ardi," ucap pria berkacamata yang bertindak sebagai juru bicara bank. "Karena permohonan dana darurat Anda ditolak pagi tadi, dan melihat posisi likuiditas perusahaan Anda yang minus akibat penarikan dana sepihak dari Mega Group, pihak komite kredit kami telah memutuskan status akun perusahaan Anda."
Pria itu menggeser kertas tersebut ke hadapan Ardi. "Ini adalah Surat Peringatan Pertama (SP 1) sekaligus pemberitahuan pembekuan seluruh aset bergerak dan tidak bergerak yang terdaftar sebagai agunan jaminan kredit modal kerja Anda. Jika dalam waktu tujuh hari kerja tidak ada kompensasi dana yang masuk, kami akan memulai proses lelang aset."
Mata Ardi membelalak menatap tulisan tebal di kertas itu: SURAT PERINGATAN DAN PENYITAAN JAMINAN.
"Tujuh hari?! Anda bercanda?!" bentak Ardi, emosinya langsung meledak. Dia menggebrak meja kerja kayunya. "Proyek saya ini bernilai miliaran! Ini hanya masalah keterlambatan teknis karena investor lama menarik dana! Beri saya waktu satu bulan, saya pasti bisa menutupinya!"
"Maaf, Pak Ardi. Ini adalah perintah langsung dari sistem pusat kami. Rekomendasi pengetatan kredit ini keluar karena ada laporan valid mengenai risiko tinggi pada stabilitas finansial pribadi dan perusahaan Anda. Kami hanya menjalankan prosedur," jawab pria itu dengan wajah datar, tanpa kompromi.
Setelah memberikan penjelasan singkat dan meminta tanda tangan tanda terima yang ditolak oleh Ardi, kedua orang dari bank itu pamit undur diri, meninggalkan Ardi yang langsung ambruk di kursi kebesaran dengan tubuh lemas tanpa tulang.
Pandangannya kosong menatap langit-langit ruangan. Tujuh hari. Dalam waktu satu minggu, semua yang dia bangun dengan kesombongan selama ini—mobil mewah, kantor ini, bahkan rumah megah yang ditinggali ibunya—bisa hilang begitu saja.
Di saat yang sama, Sarah sedang berada di sebuah kafe mewah yang terletak tidak jauh dari kantor pusat Mega Group. Di hadapannya, seorang pengacara senior berpakaian necis menyerahkan sebuah map dokumen berwarna biru tua.
"Semua draf gugatan cerai sudah selesai dan rapi, Nona Sarah. Alasan yang kita masukkan adalah ketidakcocokan yang mendalam serta bukti-bukti penelantaran psikologis selama lima tahun terakhir," ucap pengacara itu dengan sangat sopan. "Apakah kita akan langsung mendaftarkannya ke pengadilan?"
Sarah menyesap jus jeruknya perlahan, lalu menggelengkan kepala dengan tenang. Dia menutup map biru itu dan menggesernya kembali ke arah sang pengacara dengan gerakan perlahan.
"Jangan dulu, Pak. Tolong simpan dan amankan dulu berkas ini di kantor Anda," ujar Sarah dengan nada suara yang teramat tenang namun dingin. "Jangan sampai ada satu lembar pun yang bocor atau terkirim ke rumah atau kantor Ardi saat ini."
Pengacara itu mengangguk paham. "Tentu, Nona. Tapi kalau boleh saya tahu, mengapa kita menundanya?"
"Kalau Ardi tahu saya ingin bercerai sekarang, posisinya yang sedang terdesak akan membuat dia menciptakan drama baru. Dia pasti menolak keras untuk bercerai, entah karena gengsinya yang tinggi atau karena dia masih butuh saya untuk melayani ibu dan kakaknya di rumah saat dia sedang bangkrut," jelas Sarah, matanya berkilat penuh rencana. "Biarkan dia fokus menghadapi kejutan dari pihak bank terlebih dahulu. Surat cerai ini akan menjadi hantaman terakhir saat dia sudah benar-benar kehilangan segalanya dan tidak punya kekuatan lagi untuk menolak."
"Rencana yang sangat matang, Nona. Saya akan memegang dokumen ini sampai Anda memberikan perintah untuk mendaftarkannya," jawab pengacara itu patuh, lalu memasukkan kembali map tersebut ke dalam tas kerjanya.
"Terima kasih, Pak. Tolong pantau terus perkembangannya."
Sarah bangkit berdiri, merapikan tasnya dan bersiap untuk pulang. Malam ini, dia harus kembali ke rumah Ardi. Dia akan tetap memakai topeng istri yang manis, penurut, dan polos. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana rapuhnya suaminya yang angkuh itu saat pulang membawa kabar bahwa bisnis yang diagungkannya sudah berada di ujung jurang.