Calon suaminya tak datang saat hari H pernikahan, Pevita menangis dan malu sekali. Ditambah amarah sang papa sangat terlihat jelas, keluarga dokter dipermalukan sampai begini tentu tak terima.
Keajaiban justru datang dari Kalandra, keponakan ibu tiri Pevita, dengan berani maju, berniat menggantikan sang pengantin pria. Jelas saja Pevita tak mau, tapi melihat kesungguhan Kalandra, papa Pevita pun menerima.
"Kamu tuh bocil, kenapa sok-sok an mau menikahiku segala sih?" protes Pevita setelah rangkaian pernikahan selesai malam itu.
"Namanya juga jodoh, tidak akan salah alamat kan," Pevita hanya memutar bola mata malas mendengar ungkapan hati sang suami yang terpaut usia 2 tahun lebih muda darinya.
Dunia Pevita siap gonjang-ganjing karena pemuda brondong ini. Alamak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUNTUTAN NENEK
Papa Adi kaget setengah mati, beliau akan pulang tapi mampir dulu ke UGD, beliau kaget saat melihat Mamang didorong masuk ke salah satu bed UGD. "Ini sopir saya," ucap Papa Adi kaget. "Ada apa ini?" tanya beliau pada salah satu perawat.
Belum sempat perawat menjelaskan, masuk lagi pasien didorong, dan papa Ady mendelik, sang menantu dengan pelipis, sudut bibir serta hidung berdarah. Beliau langsung mengambil alih bankar sang menantu, meminta para perawat IGD bergerak cepat dan memanggil dokter Rahman.
"Siapa yang mengantar mereka kemari?" tanya papa Adi sembari memeriksa tekanan darah, dan juga mata sang menantu.
"Ada ibu-ibu di luar, dokter yang mengantar dua pasien ini menggunakan taksi online!" lapor sang perawat.
"Kamu temui ibu-ibu itu, biar aku yang menangani putramu! Switch," ujar dokter Rahman. Papa Adi pun bertukar tempat dan segera menemui para ibu di luar ruang tindakan.
"Kami mohon maaf karena kami tahu pengepungan mereka, tapi kami gak berani melerai, khawatir mereka membawa senjata tajam dan melukai kami," salah satu ibu menjelaskan dengan gemetar.
"Berapa orang?" tanya papa Adi.
"Sekitar 8 orang, menggunakan 4 motor dan helm teropong! Mobil Masnya di daerah kami sudah dijaga oleh warga sekitar, mohon maaf sebelumnya! Ini ponsel Masnya, sudah rusak mungkin dibanting oleh pelaku, maaf kalau saya masukkan plastik begini," ujar beliau tulus, dan Papa Adi mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.
Beliau tidak menyalahkan keputusan para warga untuk melerai pengeroyokan, karena melindungi diri mereka juga. Mungkin panik dan ingin tahu, jadi tak segera menelepon polisi. Papa Adi memberikan beberapa lembar uang merah, awalnya tak mau, tapi sebagai ucapan terimakasih dan ongkos pulang akhirnya ibu tersebut mau menerimanya.
Papa Adi kemudian kembali ke pemeriksaan Kala dan Mamang. Untuk mamang hanya pingsan saja, dan lebam bagian punggung yang terkena pukulan benda tumpul tersebut.
Kala perlu dirongten khawatir ada cidera di tangan, dan kaki serta badan lain sekaligus CT scan. Papa Adi dengan sabar melihat segala tindakan medis yang dilakukan untuk menantunya. Tak lupa menghubungi sang istri dan Pevita.
Segala pemeriksaan telah selesai, dan syukur Alhamdulillah tidak ada pendarahan dalam otak atau cidera lain, memang luka luar cukup parah, bahkan area mata lebam. Pevita langsung meluncur bersama bunda ke rumah sakit, begitu ia tiba, Kala sudah dipindahkan ke kamar inap dan sudah sadar. Spontan melihat kondisi wajah sang suami yang memprihatinkan, Pevita langsung menangis dan memeluk Kala.
"Yang, jangan peluk dulu, masih ada nyeri-nyerinya," ucap Kala dengan terbata dan mendesis nyeri.
"Maaf,maaf!" ucap Pevita menjauhkan diri.
"Ternyata ada kejadian begini yang bikin kamu posesif sama aku, makasih ya!" ucap Kala dengan memaksakan senyum. Pevita makin mewek, kondisi sudah sakit begini tapi Kala berusaha tampil baik-baik saja.
"Aku tuh khawatir sama kamu, Acil, aku, aku," Pevita sampai gak bisa berkata-kata, air mata mengalir deras tak tega melihat wajah ganteng dan imut sang suami babak belur.
"My lovely brondong jadi lebam begini, arghh," rengeknya sembari menangis, sampai bunda menggelengkan kepala.
Sedangkan papa sudah otw ke tempat kejadian, mengamankan dashcam untuk mencari pelaku. Beliau sudah menghubungi rekannya yang menjadi polisi dan janji temu di TKP.
Pevita dengan sabar menyuapi Kala, benar-benar tak mau jauh. "Te, jangan bilang mama!" pinta Kala, dan Tante Lily mengangguk paham. Kondisi ini jangan sampai terdengar keluarga Kala apalagi nenek, bisa ngamuk beliau cucu kesayangannya babak belur begini.
"Kalian ada rival kah?" tanya Tante setelah Kala makan.
"Ada," ucap Pevita.
"Tidak ada," ucap Kala. Tentu Tante Lily bingung, mana yang harus dipercaya. Kala mengerutkan dahi. "Siapa, Yang?" tanya Kala.
"Feelingku Andro!"
"Balas dendam kemarin?" tebak Kala.
"Mungkin, karena aku sudah diberitahu Kaffa kalau anak BEM gak mau ikut campur, apalagi mereka tahu Andri yang lebih dulu nonjok kamu!" jelas Pevita.
"Sebentar, ada apa ini sebenarnya?" tanya Tante Lily. Pevita pun menjelaskan pesan yang dikirim Andro padanya dan diam-diam Kala menghubungi Andro yang mengakibatkan kakak tingkat Pevita itu masuk rumah sakit.
"Ya kemungkinan dia, cuma harus ada bukti. Kalau papa tahu bisa diusut sampai anak itu di do," ucap Tante Lily. Kala dan Pevita saling pandang, tak menyangka perkara chat bisa sepanjang ini.
Selesai pengakuan Pevita, nenek tiba-tiba video call pada Tante Lily. Tentu saja beliau langsung memberi kode pada anak menantu untuk diam. "Kamar berapa?" tanya beliau to the point. Ketiga orang di kamar itu langsung menahan nafas. Berniat keep, beliau malah tanya kamar berapa. Tahu dari mana coba?
"Kalian gak usah menyembunyikan ya, nenek ke rumah kamu, Ly. Mbak ART bilang semua ke rumah sakit kecuali Dio, Kala kecelakaan kata Mbak. Ini gimana sih, semenjak nikah kok Kala seperti ketiban sial terus," oceh nenek tak peduli Pevita dengar atau tidak. Tante Lily langsung menatap Pevita.
Kala langsung menggenggam tangan sang istri sedangkan Pevita menunduk sedih. Ia sudah berpikir nenek akan datang sebentar lagi, dan bakal mengatakan hal yang menyakitkan, hatinya belum siap.
"Ly, kok diam saja! Awas kalau kamu bohong! Cepat bilang Kala di kamar apa, 10 menit lagi kita sampai!" Tante Lily tak enak hati, melihat wajah putri tirinya sudah sedih begitu. Tapi mengelabui nenek juga percuma. Dengan sangat terpaksa Tante Lily menyebutkan nomor kamar VVIP tempat Kala dirawat.
"Mbak, jangan diambil hati ya, Mbak," Tante Lily menasehati Pevita.
"Pevita takut, takut melawan nenek, Bun!" ucap Pevita, karena dia kalau semakin disalahkan akan berontak.
"Santai saja, nanti nenek aku omeli!" Kala berusaha melapangkan hati sang istri.
Begitu knop pintu dibuka, menampilkan kedua orang tua Kala dan nenek, ketiganya tegang setengah mati. Bahkan nenek sampai berlari mendekati cucu kesayangannya. Memastikan kondisi Kala. Tatapan tajam beliau beralih pada Pevita yang memasang wajah datar, bahkan Pevita lupa tak menyambut keluarga Kala dengan salim, saking tegangnya.
"Kamu gak becus jadi istri. Kenapa Kala sampai begini hah?" semua orang langsung kaget nenek menunjuk Pevita.
"Nek, bukan salah Pevita!" mama Kala meredam amarah ibu mertuanya. Meski beliau sendiri tak tahu kenapa Kala sampai babak belur begini.
"Nek, aku lagi sakit loh. Bisa gak jangan ngomel dulu!" pinta Kala ikut melindungi sang istri.
"Kalian masih rela Kala menikah dengan perempuan ini, menikah baru seumur jagung saja sudah dibuat babak belur begini. Apalagi kalau setahun, kalian mau Kala pulang hanya nama. Sengsara banget cucuku setelah menikahi dia! Lebih baik cerai saja!" ucap beliau yang langsung disambut teguran oleh kedua orang tua Kala, Tante Lily dan juga Kala.
"NENEK!"
yuk bisa yuk kita lakban bntar aja
besok jadwal latihan Zumba lo