NovelToon NovelToon
Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Kalian Hidup Enak Atas Tanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: lisxone

Hana Untari seorang wanita yang baik dan cantik, diamenikah dengan laki‑laki bernama Dimas Prayoga. Hana tinggal dengan suami beserta keluarga suaminya. Namun, Dimas selama 3 tahun menjadi suami Hana tidak menafkahinya dengan layak, dia beralasan jika Hana juga mempunyai penghasilan yang cukup. Dimas menghabiskan uangnya untuk kebutuhannya sendiri, sedangkan untuk kebutuhan ibu dan kakak serta adiknya semua uang dari Hana. Perselingkuhan Dimas dengan orang terdekat Hana, membuat Hana tidak bisa memaafkan suaminya. Mampukah Hana menjalani biduk rumah tangga dengan Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisxone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Uang Buat Hana

" Sintia, kamu ini jangan cuma makan sama tidur saja, bantuin itu memasak atau beresin rumah. Ibu capek setiap hari mengerjakan semuanya sendiri !!."Seru ibu Sundari memarahi Sintia.

Begitulah Sintia, setiap hari hanya leha‑leha sambil memainkan ponselnya. Dan semua pekerjaan rumah ibu Sundari sendirian yang mengerjakannya.

" Apaan sih bu? Aku ini sedang hamil dan dokter bilang aku tidak boleh terlalu capek karena bahaya untuk kehamilanku. Jadi ibu kerjakan sendiri lah pekerjaan ibu, atau minta tolong sama Lastri. Sebelum dia berangkat kuliah suruh dia beres‑beres rumah dulu. Punya anak gadis jangan dimanja, nanti jadi pemalas."Seru Sintia dengan berani membantah ibu mertuanya.

Hhhaaiisss

Ibu Sundari terlihat geram dengan bantahan Sintia. Sebagai menantu Sintia memang pemalas, untuk mencuci bajunya sekarang juga dikerjakan ibu Sundari. Hanya beberapa hari saja dia mau membantu pekerjaan rumah, dan itupun karena paksaan dari Dimas.

Jauh seperti Hana, saat Hana masih menjadi istri Dimas. Ibu Sundari tidak pernah memasak dan mencuci pakaian, jangankan memasak? Mencuci piring kotor bekas makannya pun tidak pernah. Sintia juga dulu seperti itu, Hana yang dia jadikan pembatu gratisannya sekarang tidak ada Hana, ibu Sundari yang dia jadikan babunya.

Ibu Sundari tidak mau berdebat dengan Sintia, dia kembali ke dapur untuk mengerjakan pekerjaan yang tadi dia tinggalkan. Sekarang dia baru merasa jika kehadiran Hana sangat dia butuhkan.

" Coba kalau ada Hana, aku tidak akan bersusah payah memasak begini. Makan tinggal makan, tidak perlu capek masak.

Haahh... Coba kalau Dimas tidak berselingkuh dengan Sintia, pasti sekarang Hana masih menjadi istri Dimas dan mengerjakan semua ini."Ucap ibu Sundari menggerutu sembari mencuci peralatan memasak yang sudah dia tumpuk di wastafel dari pagi.

Brruumm Brrrummm

Suara motor Dimas berhenti di depan rumah, Sintia segera berlari ke depan untuk menyambut suaminya yang baru saja pulang dari bekerja. Meskipun hanya sebagai pelayan cafe, untuk saat ini Sintia tidak mempermasalahkannya. Sebab uang yang ada akan dipergunakan untuk membayar pengacara agar bisa memenangkan gugatan soal harta.

" Sayang, kamu sudah pulang? Aku sangat merindukanmu."Seru Sintia dengan manja.

" Baru juga ditinggal kerja sehari, kok sudah rindu saja."Seru Dimas merasa bahagia pulang kerja disambut hangat oleh istri tercintanya.

" Isshh,,, sayang nakal. Jangan menyentuh yang itu, itu untuk nanti malam saja."Seru Sintia saat tangan Dimas mendarat di dua gundukannya.

" Sekarang saja sih, sudah tinggi nih. Hitung‑hitung sebagai obat lelah mas sayang."Seru Dimas.

Sintia mengangguk setuju, sepasang suami istri itupun langsung masuk ke kamarnya. Mereka berolah raga di sore hari, suara desahan keduanya pun terdengar sampai di luar kamar. Ibu Sundari yang sedang menyapu ruang tamu hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Sintia mempunyai nafsu yang di atas rata‑rata, bahkan dia kuat bermain berjam‑jam. Dimas terkadang kualahan dengan permintaan Sintia, tak jarang Sintia yang sering mengambil alih permainan mereka dan bermain sampai dia benar‑benar puas.

" Apaan ini?."Seru ibu Sundari saat menyapu dan menemukan amplop putih di dekat pintu.

Ibu Sundari mengambil amplop putih itu dan membuka lalu membacanya.

" Surat dari pengadilan agama? Ini surat cerai Sintia dan Bayu? Jadi Bayu dan Sintia juga sedang proses cerai?."Seru ibu Sundari.

Surat itu sebenarnya sudah Sintia terima dari 5 hari yang lalu dan kemarin itu jadwal sidangnya. Namun baik Sintia maupun Bayu sudah mantap untuk bercerai dan sepakat tidak datang ke pengadilan agar proses perceraian cepat selesai.

" Kenapa nasib anak‑anakku jadi seperti ini?."Ucap Ibu Sundari dengan sedih.

" Lastri, kamu sudah pulang nak?."Tanya ibu Sundari melihat kedatangan Lastri dengan wajah manyun nya.

" Lastri capek bu, jadi jangan banyak tanya."Ucap Lastri ketus.

Lastri langsung masuk kamar dan menguncinya. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu menangis dengan wajah dia tutup bantal. Saat ini dia mempunyai masalah yang besar, selain Dimas yang sudah tahu dia bolos kuliah selama 1 bulan ini ternyata Lastri masih mempunyai masalah yang lebih berat lagi.

Hana belanja sayuran di tukang sayur keliling yang memang sudah menjadi langganan ibu‑ibu komplek.

" Tumben belanja mbak, Hana? Biasanya bik Jamilah yang belanja?."Tanya ibu Rt dengan ramah.

" Iya bu, mumpung libur kerja dan kebetulan bik Jamilah kalau hari libur begini saya liburkan."Jawab Hana tidak kalah ramah sambil memilih‑milih sayuran yang hendak dia beli.

Di komplek tempat tinggalnya, Hana terkenal baik dan sopan. Tidak ada ibu‑ibu yang menceritakannya buruk. Kejadian beberapa minggu lalu mengundang prihatin dari para ibu‑ibu. Wanita sebaik Hana, secantik Hana dan seramah Hana kalah dengan wanito sombong dan pemalas seperti Sintia.

" Sekarang keluarga mantan suami mbak Hana tinggal di mana?."Tanya salah satu ibu‑ibu.

" Mereka tinggal di komplek samping bu, dekat kok bu. Cuma 15 menit dari sini, ada apa bu? Apa mantan ibu mertua saya ada hutang sama ibu? Kalau memang ada hutang datengin saja bu, mereka tinggal di kontrakannya pak Haji Udin."Ucap Hana bicara dengan detail.

" Eemm.. soal hutang sama saya sih tidak ada, mbak Hana. Hanya saja dia ada arisan sama kita‑kita dan ibu Sundari itu sudah dapat. Dan ini masih ada 8 orang lagi yang belum dapat, kan kasihan sama yang belum dapat mbak."Seru ibu Rumi.

Hhhaahhhh

Kalau sudah seperti ini, Hana juga ikut kasihan dengan ibu‑ibu yang belum dapat. Ibu Sundari memang ikut arisan dengan ibu‑ibu komplek dan arisan itu 200 ribu setiap bulannya. Dan ada lagi arisan 300 ribu setiap bulannya dengan para teman‑teman sosialitanya. Dulu Hana lah yang menanggung uang arisan ibu Sundari, tapi sekarang dia tidak akan mau lagi. Jika pun harus membayarkannya, mungkin arisan dengan ibu‑ibu komplek saja. Bagaimanapun Hana kasihan dengan mereka, terlebih mereka juga tetangga dengan Hana.

" Untuk arisan ibu Sundari nanti biar Hana saja yang bayar bu. Tapi jangan bilang sama ibu kalau Hana yang sudah membayarnya, ibu datang saja ke kontrakannya dan pura‑pura menagih uang arisan. Jika dapat, masukkan saja ke dalam kas Rt."Ucap Hana dengan serius.

" Mbak Hana serius? Kalau begitu terima kasih ya mbak, ibu Sundari dan Dimas pasti akan menyesal sudah menyia‑nyiakan mbak Hana yang baik seperti ini. Kami doakan semoga mbak Hana mendapat pengganti yang lebih baik dari Dimas."Ucap ibu itu dengan tulus.

" Aamiin. Terima kasih atas doanya ibu‑ibu, ehh mang maaf jadi di tinggal ngobrol. Punya saya tolong dihitung mang."Ucap Hana sambil tersenyum.

Hana merasa bersyukur mempunyai tetangga yang baik dan tidak memandang sebelah mata statusnya yang sebentar lagi akan menjadi janda. Ibu‑ibu itu justru mengsuport Hana dan mendoakan Hana agar mendapat pengganti yang lebih baik dari Dimas.

" Totalnya 86 ribu, mbak Hana."Ucap mamang sayur setelah menghitung belanjaan Hana.

Hana mengangguk lalu mengeluarkan uang 100 ribu dari dalam dompetnya dan dia berikan kepada mamang sayur.

" Kembaliannya untuk mamang saja."Seru Hana.

" Terima kasih mbak Hana, semoga rezeki mbak Hana semakin lancar."Seru mamang sayur dengan tulus.

" Aamiin.Terima kasih atas doanya mang, ibu‑ibu saya duluan ya. Permisi, duluan ya bu, Rt."Ucap Hana dengan ramah dia pamit dengan ibu‑ibu.

" Iya mbak."Jawab bu Rt dengan ibu yang lainnya.

" Cantik seperti itu kok dikhianati, katarak itu mata si Dimas. Mana selingkuhannya istri kakaknya sendiri, laki perempuan itu sama saja. Sama‑sama gatal."Seru ibu Rt masih geram dengan kelakuan Dimas dan Sintia.

[ Hana, bagaimana kabarmu? Maaf kalau saya mengganggu mu. Han, meskipun sebentar lagi kamu sudah tidak menjadi istri Dimas lagi, aku harap silahturahmi kita tidak terputus.]

Hana membaca pesan yang lumayan panjang yang dikirimkan oleh Bayu. Sejak kejadian malam itu, ini pertama kali Bayu mengiriminya pesan.

[Alhamdulillah kabar Hana baik mas. Tidak ada alasan Hana untuk memutus silahturahmi kita, mas Bayu tidak salah. Yang salah itu Sintia dan Dimas.]

Tidak berselang lama, pesan balasan Hana langsung centang dua biru.

[Terima kasih, Han. Aku minta nomor rekeningnya kamu, Han.]

Haahhh?

Hana heran membaca pesan balasan dari Bayu. Nomor rekening? Hana bertanya‑tanya untuk apa Bayu meminta nomor rekeningnya?

[Untuk apa, Mas?.] Balas Hana masih diliputi rasa heran.

[Ada sesuatu yang ingin aku kembalikan padamu, tolong jangan menolak. Karena ini hak kamu.]

Hana masih belum paham dengan arah pembahasan pesan dari Bayu tersebut. Namun Hana tidak berfikir macam‑macam, sehingga dia pun mengetik balasan berupa nomor rekeningnya.

[231×××××× Bank Sendiri atas nama Hana Untari.]

Setelah itu sudah tidak ada balasan lagi dari Bayu.

Ting

Justru ada notifikasi sms dari banking. Hana terkejut saat ada transferan masuk sebesar 50 juta dari rekening Bayu. Cepat‑cepat Hana menghubungi Bayu untuk menanyakan uang tersebut.

[Mas, itu uang apa?.]

[Itu uang kamu, Han. Uang sebagai ganti nafkah yang selama 3 tahun ini kamu keluarkan untuk Sintia serta ibu dan Lastri. Maaf jika aku hanya bisa menggantinya segitu.]

[Ya Allah, mas Bayu. Kenapa mas Bayu menggantinya? Aku ikhlas mas, mas tidak perlu menggantinya seperti ini. Aku transfer balik ya mas.]

[Tidak Hana, itu sudah menjadi hak kamu. Tolong terima, jika kamu tidak menerimanya justru itu akan menjadi beban untukku.]

Haahhhhh

Hana membuang nafas dengan kasar. Bayu memaksanya, mau tidak mau Hana pun menerimanya.

[Baiklah mas, uangnya aku terima.]

[Terima kasih, Han. Sudah dulu ya Han, ini teman‑teman ngajak jalan‑jalan mumpung lagi libur.]

[Iya mas, terima kasih kembali.]

Sambungan telepon pun sudah Hana matikan. Saat ini Hana sedang berfikir, untuk apa uang yang barusan di transfer Bayu.

" Ohh ibu kan ada arisan sama ibu‑ibu komplek dan tadi aku sudah bilang yang akan membayarnya. Hemm aku bayar pakai uang pemberian mas Bayu ini saja, biar aku lunasi sekalian."Ucap Hana bicara pada dirinya sendiri.

1
Heni Setiyaningsih
haaddeeuuh...alamat ini mah modelan suami mokondo/Left Bah!//Left Bah!//Left Bah!/
Anonim
hah dimas?? enggak ngerti nih cerita nya
Anonim
woy BISA NULIS GA SIH
Ma Em
Heran ya sama Bu Sundari dan menantu sintingnya si Sintia ga punya otak masa arisan dirumah orang , Hana buat mereka semua kapok agar TDK berani ganggu kamu lagi Hana bila perlu laporkan saja ke polisi agar tdk ganggu Hana lagi .
Anonim
BUNUH SAJA SEKALIAN SEMUANYA BUNUH
Anonim
BUNUH SEMUA NYA
Anonim
KAU YANG HARUS MATI ANJING
Ma Em
Akhirnya Hana berpisah juga dgn Dimas tanpa uang sepeserpun uang yg Dimas terima untuk permintaan Dimas yg katanya harta gono gini , benalu minta bagian harta sedangkan Dimas dan keluarganya Hana yg tanggung biaya hdp nya bahkan Domas tdk pernah memberikan nafkah untuk Hana , dasar Dimas muka tembok tdk punya malu Dimas cuma modal mokondo .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!